Duda Nackal

Duda Nackal
Pembukaan Cafe


__ADS_3

Utari


Akhirnya hari yang kunanti-nantikan tiba. Aku bisa membuka cafe. Hal yang selama ini aku impikan dan kupikir hanya impian kosong belaka sekarang menjadi kenyataan. Semua karena Om eh Abi.


Suamiku tersayangku kini sedang mengemudikan mobil menuju cafe kami. Acara pembukaan cafe rencananya pukul 11 siang. Aku dan Abi sudah berangkat sejak selesai sholat subuh.


Karyawanku pun aku minta untuk datang pagi khusus hari ini. Rencananya aku mau memanggang kue langsung di cafe. Tujuannya agar harum kue yang baru matang bisa membuat pengunjung datang ke cafeku hari ini.


Hari sabtu, biasanya keluarga suka jalan-jalan ke luar. Menikmati waktu kebersamaan setelah seminggu penuh bekerja.


Waktu yang tepat sekali membuka cafe di hari sabtu, jalanan depan cafe akan ramai dan hiasan pembukaan cafe pasti sudah bisa terlihat dari jauh dan menarik pengunjung untuk datang.


Kesan pertama begitu penting, aku memang mengajarkan karyawanku untuk membuat kue di cafe. Fresh from the oven, begitu yang aku mau. Rasa kue lebih enak saat baru disajikan.


Jadi konsepnya adalah, kue untuk cemilan ada yang sudah ready dan ada juga yang baru dibuat. Kalau makanan, ada chef di cafe yang akan memasak langsung. Aku akan membuatkan bahan pokoknya di rumah, chef yang melakukan sisanya.


Bukan chef kelas atas yang kupekerjakan. Hanya anak-anak lulusan sekolah boga. Aku yang training mereka yakin kalau mereka bisa menghandle cafe ini. Yang penting rasa masakan mereka enak.


Aku sampai di cafe sekitar jam 6. Baru aku dan Abi yang datang. Abi membuka pintu cafe dan membantuku membersihkan cafe.


Barulah sekitar jam setengah tujuh, satu persatu karyawanku mulai berdatangan. Kami meeting pagi sebelum akhirnya melakukan pembagian tugas.


"Pembukaan cafe hari ini sangat penting. Kesan pertama akan menentukan keberhasilan cafe ini nantinya. Ingat, keberhasilan cafe ini adalah masa depan kalian juga!" ujar Abi memberi semangat untuk karyawannya. "Kita harus bekerjasama untuk kemajuan cafe ini. Bukan tidak mungkin, jika cafe ini membuka cabang nantinya salah satu diantara kalian bisa memimpin cabang yang baru. Kalian siap?"


"Siap, Pak!" jawab semua karyawanku dengan kompak.


Aku tersenyum melihat Abi berkata dengan begitu bijak. Anak buahku pasti juga merasakan jiwa kepemimpinannya yang kuat. Pantas saja Abi bisa memiliki banyak showroom di usia yang masih terbilang muda.


"Sebelum kita mulai, mari kita berdoa demi kemajuan dan keberhasilan cafe ini. Berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing dimulai!"


Setelah berdoa kami pun kembali ke tanggung jawab kami masing-masing. Aku bersama chef dan karyawan bagian dapur sibuk memasak.

__ADS_1


Abi mewanti-wanti kalau aku tak boleh capek. Aku tak merasa capek, aku senang melakukan semua ini.


Jam 11 para tamu undangan mulai berdatangan. Aku pun sudah berdandan rapi untuk pembukaan cafe impianku ini.


Pak Adi mengajak guru-guru di tempat kursus untuk mampir. Acara pembukaan dan pemotongan pita berlangsung lancar. Pengunjung yang datang lumayan ramai.


Aku dan para karyawanku mulai sibuk dengan pesanan yang membludak. Pembeli mengantri di luar cafe karena ada promo setiap pembelian kopi free donut.


"Menu andalan kami adalah nasi tim. Kami membuatnya dari bahan berkualitas dan rasa kaldu alami yang terasa gurih dan nikmat meski tanpa MSG." kataku mempromosikan salah satu menu andalan kami pada pembeli yang sedang melihat menu.


"Wah boleh deh, Mbak. Aku mau coba untuk anakku!" ujar salah seorang pengunjung.


Ini yang membuatku senang. Promosi yang kulakukan berhasil. Aku lalu meminta chef membuat nasi tim yang hanya tinggal dikukus saja. Bahan-bahan sudah aku siapkan agar semua mudah.


"Mm... Lezat sekali! Saya mau pesan lagi 2 porsi untuk di rumah ya, Mbak!" ujar pengunjung yang sudah mencoba enaknya nasi tim.


Meja sebelahnya yang melihat pembeli pertama menyukai nasi timku juga memesan menu yang sama. Alhasil aku meminta chef membuatkan sepuluh nasi tim dalam waktu bersamaan.


Abi tersenyum melihat promosiku berhasil. "Kamu pintar, Sayang! Tapi inget ya, jangan kelelahan! Sekarang gantian aku yang melayani. Kamu duduk saja!"


Aku duduk di kamar yang Abi sediakan. Kamar ini begitu nyaman meski ukurannya tak sebesar kamar tamu di rumah Abi. Tak lama Abi datang sambil membawa segelas susu hangat dan cemilan untukku.


"Jangan sampai perut kamu kosong!" ujar Abi penuh perhatian.


"Abi udah makan belum? Abi juga tadi belum makan?!" tanyaku dengan penuh khawatir.


"Aku mah gampang! Dari tadi di dapur aku cemilin aja apa yang bisa aku makan. Ada lebihan porsi aku makan juga he..he...he... Enggak sempat makan, tamu sejak tadi tak ada habis-habisnya!"


Aku tersenyum mendengarnya. "Alhamdulillah! Semoga besok-besok kita makin konsisten dengan jumlah pengunjung ya, Bi."


"Aamiin! Abi ke depan dulu ya! Jangan lupa dihabiskan!" Abi menunjuk nampan berisi cemilan dan susu yang Ia bawa.

__ADS_1


"Iya! Setengah jam lagi aku keluar."


Sehabis Abi pergi, aku menghabiskan makanan dan minuman yang Abi bawakan. Istirahat sebentar dan sholat lalu ke depan untuk bergabung dengan yang lain.


Aku berbelok ke toilet untuk pipis dulu, aku mendengar percakapan di toilet yang dilakukan dua orang pengunjung cafe.


"Katanya cafe ini didirikan oleh anak kursus yang belum lulus kursus loh! Lalu chef disini hanya lulusan sekolah boga biasa. Tamatan SMA!" cibir pengunjung pertama.


Aku deg-degan mendengarnya, takut rumor berkembang makin kencang dan akhirnya menjatuhkan cafe yang baru aku buka ini.


"Ah masa sih? Tapi makanannya enak loh! Menurutku enggak masalah lulusan dari mana chefnya, selama masakannya enak tak masalah toh? Lagi juga chef internasional kalau masakannya tak cocok di lidah kita bukannya percuma ya?" bela pengunjung kedua.


Aku hampir bersorak kegirangan mendengar ada yang membela cafe milikku.


"Iya sih. Aku akui memang enak masakannya. Dibanding cafe sebelumnya jauh berbeda. Apalagi nasi timnya. Enak banget!" pengunjung yang pertama malah berbalik memuji cafeku, alhamdulillah. Aku sudah deg-degan saja akan berakhir seperti apa nanti.


Aku keluar dari toilet setelah kedua pengunjung keluar duluan. Aku melanjutkan kegiatanku di cafe yang semakin ramai saja. Bahkan kata karyawanku, cafe ini sampai membuat kemacetan lalu lintas saking banyak yang ingin berkunjung.


"Maaf Mbak, nasi timnya habis. Mau coba menu yang lain?" aku menyampaikan pesan chef kalau menu nasi tim habis.


"Yang rekomen apa ya, Mbak?" tanya pengunjung padaku.


Kulihat pengunjung itu pergi bersama keluarganya. "Mbak bisa mencoba menu seafood. Ada udang saus Padang yang rasanya mantap dan juga ada kangkung balacan yang dibuat langsung oleh chef kami. Pasti lebih enak menikmati masakan yang baru matang bukan?"


Pengunjung itu mengangguk-angguk membenarkan perkataanku. "Boleh deh, Mbak. Untuk anak-anaknya gimana ya?"


"Ada cumi goreng tepung dan ikan tuna goreng tepung yang tidak pedas. Makan ikan bagus loh untuk anak, Mbak. Bisa tambah pintar!" kataku menambahkan.


"Baiklah. Saya pesan udang saus Padang, kangkung balacan, cumi goreng tepung dan ikan tuna goreng tepung!"


Aku tak menyangka kalau lagi-lagi rekomendasiku akan disetujui oleh pengunjung. "Baik, akan saya pesankan! Mohon ditunggu!"

__ADS_1


Aku tersenyum saat Abi mengacungkan jempol memuji caraku melayani pembeli.


****


__ADS_2