Duda Nackal

Duda Nackal
Saran Papa


__ADS_3

Aku kini merasa kalau nasib Tari berada dalam genggamanku. Akan menjadi apa Ia kelak, semua aku yang menentukan.


Tari menjadi gadis polos atau menjadi gadis binal semua keputusan di tanganku. Berat memang memutuskan semuanya di saat aku juga harus mengorbankan diriku dalam pernikahan yang tak kukehendaki.


Tanpa sadar aku malah menelepon Hp Papa. Dalam dering ketiga Papa mengangkat panggilanku.


"Kenapa Gas?" tanya Papa.


"Hm... Tentang Tari."


"Tari? Yang melihat kamu di toilet? Si gadis pengantar soto?" kenapa Papa harus membahas berkali-kali kalau Tari melihatku sedang bersenang-senang dengan Cici sih? Suka sekali mengungkit-ungkit kenakalan anaknya!


"Iya. Tari yang itu." jawabku dengan enggan.


"Kenapa dengan Tari?" tanya Papa.


"Dia... Lagi menginap di rumahku."


Terdengar suara Papa yang tiba-tiba terbatuk mendengar pengakuanku.


"Tari nginep di rumah kamu? Sejak kapan?" tanya Papa setelah sudah cukup tenang.


"Ya sejak Papa dan Mama pulang-lah!" jawabku.


"Iya. Papa tau. Kenapa dia bisa menginap di rumah kamu?" tanya Papa.


Kuceritakan pada Papa awal mula aku hampir menabrak Tari sampai cerita tentang Bapak tiri Tari yang nekat mencariku di showroom.


"Keterlaluan sekali sih Bapak tirinya itu? Masa sih anak sendiri mau dijual? Dasar enggak ada otak!" omel Papa dari seberang sana.


Aku heran deh, kenapa Tari bisa secepat itu dekat dan mengambil hati Papa. Dulu saja Tara tak begitu dekat dengan Papa saat menjadi menantunya. Ini baru ketemu sekali dan mereka langsung dekat. Pesona apa yang Tari miliki sampai Papa yang killer bisa luluh?


"Ya namanya juga orang suka judi dan mabok, apapun akan dijual asal bisa memenuhi kebutuhannya akan judi dan minuman, Pa." jawabku.


"Lalu rencana kamu ke depan apa?" tanya Papa.


"Entah. Karena itu Agas menelepon Papa. Apa yang harus Agas lakukan, Pa? Mengembalikan Tari ke Bapak tirinya kok Agas enggak tega ya?"


"Itu kamu sudah tau jawabannya! Kalau kamu tak tega ya sudah nikahi saja dia! Tari anak yang baik. Papa yakin Ia bisa menyembuhkan trauma kamu akan pernikahan." Papa terdengar mengambil nafas sejenak sebelum menasehatiku lagi panjang lebar. "Gas, mau sampai kapan kamu seorang diri? Papa dan Mama tak mungkin selamanya ada di dunia ini untuk melindungi kamu. Mau sampai kapan kamu hidup di dunia yang palsu dan penuh kepura-puraan seperti yang kamu jalani saat ini?"


Aku terdiam.

__ADS_1


Papa benar. Duniaku memang penuh kebahagiaan tapi bukan kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan palsu dan akan memudar nantinya.


"Harus ya Agas nikahi?" tanyaku lebih kepada diriku sendiri.


"Tentu. Mau kamu jadikan dia pasangan kumpul kebo kamu? Tara saja yang berselingkuh pada akhirnya memutuskan menikahi selingkuhannya, kenapa kamu malah mau kumpul kebo dengan Tari?" inilah Papa dengan kata-kata pedasnya namun banyak benarnya.


"Bukan begitu, Pa. Kenapa juga Papa harus membandingkan aku dengan Tara? Kami berbeda, Pa." aku menghela nafas pelan. "Mama gimana? Bukannya Mama tak setuju?" kupakai Mama sebagai topeng berlindung.


"Mama kamu urusan Papa. Cepat kamu urus pernikahan kamu dan Papa akan kirim pengacara untuk menyelesaikan konflik dengan Bapak tirinya Tari. Jangan sampai pemabuk itu menjelekkan nama kamu di kantor!" putus Papa.


"Tapi Pa-"


"Jangan kebanyakan mikir! Kasihan anak orang yang begitu bergantung sama kamu! Atau kamu mau Papa yang nikahi Tari?!" ancam Papa.


"Ih apaan sih! Mama gimana? Masa sih Tari jadi ibu tiri aku? Enggak... enggak! Jangan ngaco deh Papa!" ini baru ancaman yang menakutkan.


"Makanya jadi laki-laki harus tegas! Kalau kamu enggak mau, Papa yang maju! Papa kasihan anak baik seperti Tari akan menjadi wanita malam nantinya!"


"Tapi kita bisa membantunya tanpa Agas harus menikahinya kan Pa?" negoku.


"Kamu pikir Bapaknya akan diam saja? Tidak Gas, kalau kamu menikahinya, Ia milik kamu! Berani dia menjual istri kamu, urusannya hukum!" alasan Papa memang logis.


Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Papa tanyakan Mama aja deh! Agas ikut keputusan Mama." aku menyerah. Apa yang Papa katakan benar adanya. Nasib Tari di tanganku, atau di tangan Papa dan aku tak mau Tari jadi ibu tiriku!


****


Aku tak mau rasa iba terus menghinggapiku. Tak mau kalau aku akhirnya mengambil keputusan atas dasar rasa kasihan semata.


Tari menyambut kepulanganku dengan senyum di wajahnya. Ia membukakanku pintu dan menyediakan aku teh manis hangat.


"Tumben pulangnya malam, Om." ujar Tari seraya berjalan mengekori langkahku.


"Kayak kamu tau aja jadwal pulangku kapan!" cibirku.


"Biasanya Om kalau pulang dari showroom enggak pernah sampai semalam ini. Aku kan suka lihat mobil Om kalau pergi ninggalin showroom." jawabnya penuh percaya diri.


"Sok tau! Aku punya beberapa showroom dan tadi aku pergi mengunjungi showroomku yang lain!" jawabku. Aku mencuci tanganku dan hendak makan malam baru mandi.


Rupanya di meja makan sudah terhidang masakan. Aku menduga kalau pembantuku yang masak.


"Ayo makan!" ajakku. "Aku udah lapar nih!"

__ADS_1


"Iya. Tari ambilkan piring dulu ya Om." dengan cekatan dan seakan sudah tau dimana letak barang-barang di rumahlku, Tari mengambil piring, gelas dan sendok untukku.


Ia bahkan mengambilkan nasi untukku, seperti saat Tara dulu menjadi istriku. "Segini cukup, Om?" tanyanya.


"Cukup." aku mengambil lauk yang terhidang dan langsung memakannya bersama nasi.


Dalam suapan pertama aku tau ada yang berbeda dengan masakan Mbak Inah. Masakannya jauh lebih enak dan lebih berani bumbu.


"Ini siapa yang masak?" tanyaku.


"Tari, Om. Kenapa? Enggak enak ya, Om?"


Aku gengsi memuji masakannya enak. Lebih enak malah. Aku memilih menyembunyikan faktanya. "Pantesan beda."


"Beda gimana Om? Enggak enak ya?" kembali Tari bertanya.


"Sudah makanlah! Aku lapar!" aku tak menjawab pertanyaannya dan memakan makan malamku yang lezat ini.


"Kenapa kamu yang masak? Memangnya Mbak Inah tidak masak?" tanyaku memecah kesunyian.


"Tari bosen, Om. Daripada suntuk lebih baik Tari masak aja. Niatnya Tari mau kembali kerja di warung soto-"


"Jangan!" aku memotong ucapannya. "Tadi Bapak tiri kamu datang ke showroom dan bertanya mencari saya. Untung dia tidak kenal siapa saya dan security sudah mengamankannya."


"Bapak nyari Tari? Wah kalau Bapak nyari Tari sampai kesini gimana Om?" Ia tak meneruskan makannya dan terlihat ketakutan.


"Tenanglah! Tak semudah itu masuk ke komplek ini kalau tidak ada ijin. Securitynya ketat. Kamu tenang saja dan kunci pintu rumah. Nanti aku bilangin security untuk lebih ekstra berjaga." kataku menenangkan Tari.


Namun Tari tak langsung tenang dengan perkataanku. Ia masih mengacak-acak makanan dalam piringnya.


"Mau sampai kapan Tari harus bersembunyi seperti ini, Om?"


Aku menjauhkan piringku yang sudah kosong karena aku makan dengan cepat dan lahap.


"Tenanglah. Papa akan mengirim pengacara untuk menyelesaikan masalah kamu." kataku.


"Apa Om yakin Bapak akan tunduk begitu saja? Iya nurut sih tapi hanya di depan pengacara. Nanti kalau kalian tak peduli dengan Tari lagi, maka bukan tidak mungkin Tari akan dijual kembali ke mucikari bukan?" mata Tari kini sudah berlinang air mata. Sebentar lagi mata indah itu akan menumpahkan semua air mata miliknya.


Ini yang membuatku tak tega dan malas berlama-lama berada di dekatnya. Ia bisa sekali membangkitkan rasa tak tega dalam diriku.


"Tak akan. Aku pastikan bapakmu tak akan berani menjualmu. Apalagi nanti statusmu adalah istriku." kataku tanpa pikir panjang lagi. Huft... Akhirnya aku membuat keputusan ini. Huft...

__ADS_1


*****


__ADS_2