Duda Nackal

Duda Nackal
Apa Kamu Punya Teman?


__ADS_3

Kubiarkan Tari menangis di dada bidangku. Tubuhnya terasa begitu kecil saat kupeluk.


Aku menepuk punggungnya dengan lembut dan berusaha menghibur perasaannya.


"Dulu, aku pikir melihat Tara hidupnya berantakan dan rumah tangganya dengan Damar kandas adalah keinginanku, ternyata saat itu semua terjadi aku malah kepikiran kamu di rumah. Aku belum pulang, pasti kamu nungguin. Lalu aku pulang ke rumah, tak tahu kenapa,"


"Mungkin aku takut kalau aku tergoda dengan Tara, rumah tangga kita bisa berantakan. Nanti nasib kamu gimana? Kalau kamu sampai bertemu dan diancam lagi sama Bapak tiri kamu gimana? Pokoknya aku lagi banyak pikiran sampai enggak lihat ada kucing lewat, reflek aku banting stir dan nabrak pohon. Alhamdulillah aku enggak kenapa-napa."


Tari memelukku makin erat. "Makasih ya Om. Om udah sayang sama Tari, selama ini hanya Ibu dan Ayah yang sayang sama Tari. Tari bahagia Om sayang sama Tari."


Sayang?


Jadi yang kurasakan ini bukan lagi rasa peduli melainkan sayang?


Apakah aku ada kemajuan sekarang?


Dari semula acuh, peduli, sayang apakah selanjutnya... cinta?


Aku jadi teringat dengan niatku untuk bertanya tentang kehidupan pribadinya lebih mendalam.


"Kamu bilang yang sayang sama kamu cuma aku, Ibu dan Ayah kamu. Bagaimana dengan teman-teman kamu? Bukankah kalau anak perempuan itu sahabatnya banyak?" tanyaku


Tari tak lagi memelukku. Ia menyandarkan kepalanya ke lenganku dan menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih.


"Teman Tari ya cuma pemilik warung soto dan pemilik warung seafood. Oh iya, tetangga yang minta dicuciin bajunya sama Tari juga masuk kategori teman deh." Ia menghitung jumlah temannya dengan jari tangannya.


"Bukan teman itu maksud aku. Teman-teman sekolah kamu!"


Tari menunduk dan menautkan kedua jari tangannya. "Tari enggak punya, Om."


"Yang bener? Kok bisa?" tanyaku tak percaya. "Cerita dong sama aku. Aku kan ingin lebih tau tentang kehidupan kamu yang lain bukan tentang Bapak tiri kamu yang stress aja."


Tari tersenyum. "Iya sih Bapak memang stress hihihi."


Tari kembali menatap langit-langit rumah sakit. Tatapannya seakan sedang membuka luka lama yang sudah Ia kubur dengan erat.


"Semua bermula saat aku sekolah SD. Aku bersekolah di tempat Ibu mengajar. Disana aku sekelas dengan anak orang kaya yang pintar. Kami bersaing untuk jadi peringkat satu di kelas,"


"Aku dulu banyak waktu luang, jadi banyak belajar. Makanya aku berhasil mengalahkan temanku itu. Sayangnya, rasa iri dan terbiasa dimanjakan oleh orangtuanya membuat Ia tak terima dan menyebarkan rumor kalau aku pintar karena dibantu oleh ibuku yang seorang guru. Satu per satu teman-temanku dihasut untuk membenciku."

__ADS_1


"Kamu enggak melawan?" tanyaku.


"Mana ada sih Om keadilan untuk orang kecil macamku? Aku malah masuk ruang BP karena dia mengadu ke Bapaknya yang kaya kalau aku mencontek jawaban ujiannya. Jadilah aku kena hukum dan harus mengulang ujian di sekolah lagi." jawabnya sambil tersenyum getir.


"Kamu bilang Ibu kamu dong!" protesku.


"Ibu sudah banyak pikiran, Om. Ibu kan juga dibully sama keluarga Ayah karena tak juga punya anak sehabis mengadopsiku. Mereka mikirnya aku diadopsi sebagai pancingan agar Ibu segera punya anak, nyatanya Ibu tak juga hamil dan hidup tertekan. Sama seperti yang dialami Mbak Tara. Aku jadi teringat Ibu kalau melihat Mbak Tara tertekan karena belum bisa hamil."


Ya Allah anak ini, sudah tau kalau Tara adalah saingannya eh malah peduli dengan penderitaannya Tara. Baik sekali jadi manusia.


"Lalu kamu pendam sendiri masalah itu? Sampai kapan?" aku kembali menanyakan tentang kehidupan sekolahnya.


"Aku kira setelah lulus SD dan masuk SMP semua permasalahanku akan selesai, nyatanya tidak. Aku satu SMP lagi dengan temanku itu. SMP favorit dimana banyak siswa cerdas disana. Dia sangat populer karena cantik, aku yang sederhana begini mana bisa melawannya. Lagi-lagi dia menyebarkan rumor tentangku kalau aku punya orang dalam makanya selalu dapat nilai bagus. Aku memilih tak punya teman saja kalau begitu. Toh semua teman yang kupunya juga tak ada yang membelaku,"


"Mulai saat itu aku asyik sendiri. Tak ada teman dan kalaupun ada tugas kelompok aku selesaikan sendiri. Siapapun yang jadi kelompokku akan enak karena tugasnya sudah selesai."


"Kamu pasti takut ya saat itu?" aku mengelus rambutnya yang kini sudah kering. "Kamu masih terlalu kecil untuk menerima perlakuan seperti itu."


"Sudah biasa, Om. Makanya aku jadi orang yang tertutup. Sampai aku lulus SMA aku lebih suka menyendiri. Tak ada teman dan asyik dengan buku-buku yang kubaca untuk nambah ilmu."


"Kamu satu SMA lagi sama 'teman' kamu itu?"


Tari menggeleng. "Dia enggak masuk SMA tempatku. Aku hanya sekolah di SMA biasa karena aku harus merawat Ayah yang mulai sakit-sakitan. Gantian sama Ibu. Ayah meninggal dan Ibu mulai sedih. Ibu kembali ceria saat Bapak mendekatinya. Aku tak mau Bapak tapi bisa apa aku? Ibu sudah jatuh hati."


"Dih begitu aja bangga! Kalau Om terkenal sebagai seorang penghafal Qur'an yang punya banyak usaha showroom baru keren!" balasnya.


"Ih dibales lagi! Udah berani ya?" aku mengelitikinya sampai kegelian.


"Udah, Om. Ampun. Ih Om kayaknya pura-pura sakit nih! Dari tadi tenaganya kayak orang sehat dan segar bugar!"


"Kamu enggak lihat nih kepalaku ada bekas lukanya? Pokoknya sampai di rumah kamu harus merawat aku loh!"


"Iya... Iya... Tari rawat dengan sepenuh jiwa dan raga."


"Bisa banget ya ngegombalnya sekarang. Kamu beli makan dulu sana! Nanti kamu lapar. Sekalian beliin aku cemilan. Disini walau kelas VVIP bagiku enakkan masakan kamu!"


Tari tersenyum, "Nanti kalau Om pulang, akan Tari masakkin yang lebih enak lagi."


"Janji?"

__ADS_1


"In sha Allah."


****


"Kamu enggak pergi kursus?" tanyaku keesokan harinya.


"Nanti Om siapa yang jagain?" tanya balik Tari.


"Sudah, jangan pikirin aku! Kamu kursus saja biar tambah pinter. Tapi inget ya, pulangnya harus langsung kesini dan jangan numpang mobil cowok lain!"


Tari tersenyum dan berjalan menghampiriku. Dia mengecup pipiku dengan penuh kasih. "Om cemburuan banget ya orangnya?"


"Cemburu? Enggaklah! Aku sih orangnya santai kayak di pantai!" elakku.


"Masa sih? Padahal Tari suka loh liat Om cemburuan kayak gini. Makin merasa kalau Om tuh sayang banget sama Tari."


"Ah kamu aja cemburuan kalau aku nguping Tara!" balasku.


"Ya itu karena Tari sayang banget sama Om. Tari pergi kursus dulu ya! Nanti kalau di kursus makanannya boleh Tari bawa, akan Tari bawa deh."


"Cium dulu!" pintaku dengan manja.


"Tadi udah."


"Itu di pipi. Di sini belum!" aku menunjuk bibirku.


"Malu kalau ada yang datang, Om!" protes Tari.


"Kunci pintunya!" perintahku.


Tari pun menurut. Ia mengunci pintu kamarku dan mencium bibirku, aku membalas ciumannya.


Ciuman yang singkat tak membuatku puas. Baru saja Tari melepaskan ciumannya aku kembali menyambarnya. Aku menciumnya dengan penuh gairah. Setiap dekat dengannya kenapa aku selalu menginginkan lebih?


"Om..." protesnya saat aku mencium lehernya dengan tanganku yang me rem as buah sintal miliknya.


"Aku pengen nih! Yuk kita buat yang versi di rumah sakit!" ajakku.


"Kalau ketahuan gimana? Kemarin kan sudah di kamar mandi!" protesnya.

__ADS_1


"Itu beda. Sekarang aku mau kamu!" kutarik Tari ke atas ranjang dan mulai memancingnya. Anak pintar ini pun mulai melakukan tugasnya. Wow sensasi kali ini lebih mendebarkan. Rasanya lebih beda lagi.


****


__ADS_2