Duda Nackal

Duda Nackal
Musibah


__ADS_3

Rumah tangga Tara dan Damar kandas?


Mereka akan bercerai?


Bukankah ini yang aku mau?


Bukankah ini yang aku harapkan sejak dulu?


Lalu kenapa saat mendengarnya aku merasa biasa saja?


Lalu kenapa saat Tara menawarkan untuk kembali bersamaku, aku tak lagi menginginkannya?


Aku teringat dengan doa yang Tari panjatkan di malam hari waktu itu. Betapa dia sangat takut kehilanganku. Betapa dia meminta dengan sungguh-sungguh pada Allah agar aku tak jatuh lagi ke pelukan Tara.


Apakah akhirnya doa yang Ia panjatkan terkabul?


Aku memang ingin melihat Tara dan Damar menderita karena mengkhianatiku. Tapi aku tak mau kembali pada Tara. Aku malah memikirkan Tari di rumah.


Kutambah kecepatan mobilku. Aku mau cepat sampai rumah. Hari semakin malam. Jalanan semakin sepi.


Tari pasti menunggu aku di rumah. Maaf, aku sudah janji tak akan ke diskotek lagi tapi aku mengingkarinya.


Aku mencoba menelepon Tari. Ia tak mengangkat panggilanku. Apa masih marah?


Saat aku mengangkat wajahku, aku melihat seekor kucing yang sedang menyebrang. Aku reflek membanting stir dan...


Ckiiiiitttttt


Braakkkkkkk


****


Utari


Sudah malam dan Om Agas belum pulang juga. Ini sudah pasti dia bersenang-senang ke diskotek!


Kenapa sih susah sekali menyadarkan Om-om nackal itu?!


Umur makin tua, kelakuan makin menjadi saja!


Kutunggu Om Agas pulang sampai jam 10 malam. Belum pulang juga. Ini sih sudah fix kalau Om Agas ke diskotek!


Nyebelin!


Bukannya minta maaf sudah menyakiti hatiku lagi dengan tuduhannya kalau aku menyukai laki-laki lain malah menghibur dirinya sendiri!


Kalau Om Agas kembali terpikat dengan cewek-cewek cantik lainnya gimana dong? Huaaaaa.... Aku enggak mau kehilangan Om Agas...


Aku menunggu Om Agas sampai ketiduran di ruang tamu. Jam 1 dan Om Agas masih belum pulang juga. Mobilnya tak ada di garasi.


Kulihat Hp-ku dan ada panggilan tak terjawab dari Om Agas satu kali. Aku pun meneleponnya balik.


Beberapa kali dering telepon tak diangkatnya. Aku tak putus asa. Aku terus meneleponnya sampai akhirnya ada yang mengangkat.


"Hallo, Om dimana?" tanyaku langsung.


"Hallo." jawab seorang perempuan.


Deg...

__ADS_1


Siapa yang mengangkat teleponku? Bukan suara Om Agas ini!


"Ini siapa ya? Ini benar Hpnya Om Agas kan?" tanyaku lagi. Kupastikan kalau yang aku hubungi memang nomor Om Agas.


"Saya perawat di RS Kesehatan Keluarga Itu Penting, boleh tau ini dengan siapanya Pak Agas ya?"


Rumah sakit?


"Saya istrinya!" jawabku cepat.


"Bapak Agas mengalami kecelakaan dan kini sedang berada di IGD RS Kesehatab Keluarga Itu Penting."


Om Agas kecelakaan? Ya Allah Om...


"Baik saya datang. Bisa beritahu alamat lengkapnya?"


Aku mencatat alamat yang diberikan oleh perawat tadi. Kuambil jaket dan dompet lalu memesan taksi.


Sepanjang jalan, pikiranku terasa kalut. Bagaimana kalau Om Agas tidak selamat? Bagaimana kalau Om Agas kenapa-napa?


Ya Allah kenapa aku harus marah sama Om Agas?


Kenapa aku ngambek?


Seharusnya sejak awal aku lebih sabar sama Om Agas.


Bukankah aku yang berniat akan mengubahnya menjadi lebih baik? Kenapa justru aku jadi orang yang tak sabaran?


Ya Allah Om.... Maafin Tari...


Seharusnya Tari tetap sabar dan menerima segala hal tentang Om. Seharusnya Tari menambah stok sabar Tari dan bukan malah ikut terbawa emosi.


Kalau Om selamat, Tari janji akan lebih sabar lagi menghadapi Om Agas. Tari janji!


Setelah membayar uang taksi, aku berlari menuju IGD. Sambil berderai air mata, aku menanyakan dimana keberadaan Om Agas.


"Permisi, saya istrinya Pak Agastya Wisesa. Saya dapat kabar kalau suami saya kecelakaan." kataku sambil menghapus air mata yang terus mengalir di wajahku.


"Silahkan, Bu!"


Aku lalu diantarkan menuju tempat Om Agas. Om Agas sedang tertidur dengan kepala yang diperban.


"Ya Allah, Om!" sambil menangis aku memeluk suamiku tercinta.


Om Agas yang tertidur pun bangun mendengar suaraku.


"Kamu... siapa ya?" tanyanya.


"Om enggak kenal Tari? Ini Tari istri Om. Gimana hidup Tari kalau Om enggak ngenalin Tari? Huaaa...."


Kuhapus air mataku dan tetap tenang. "Tari tanya dokter dulu. Om Agas pasti sembuh!"


Baru saja aku berdiri, Om Agas menarik tanganku. Ia tersenyum dan berkata. "Aku ingat lah sama kamu. Tadi aku cuma ngerjain kamu doang."


Aku memanyunkan bibirku. "Enggak lucu! Tari tuh udah khawatir banget Om sampai kenapa-napa! Om beneran ya! Jahat banget sama Tari!"


"Habisnya kamu marah melulu sama aku! Udah jangan ngambek! Kamu urus administrasinya! Kita pindah ke kamar VVIP saja! Aku enggak suka lama-lama disini. Banyak pasien yang bikin aku jadi tambah inget Allah!" jawabnya.


"Bagus dong! Justru lebih baik Tari bikin lama aja Om disini!" balasku.

__ADS_1


"Ih nih anak malah dibales omongan suaminya! Cepetan urus!"


"Iya... iya!"


Aku pun mengurus administrasi dan Om dipindahkan ke kamar VVIP sesuai yang Ia mau. Dokter sempat memberitahu keadaan Om Agas yang mungkin masih pusing karena benturan di kepalanya. Untunglah Om tidak apa-apa. Hanya gegar otak ringan.


Kamar VVIP ini seperti berada di hotel. Mewah. Berapa ya semalam berada di rumah sakit ini?


"Om, semalam di kamar kayak begini berapa? Pasti mahal, Om! Buang-buang uang saja!" protesku.


"Biarin aja! Uang juga uangku! Ini tuh aku dicover asuransi. Hanya bayar kekurangannya aja! Kamu bukannya nanya keadaan aku malah protes aja dari tadi! Bales omongan aku lagi!" gerutu Om Agas panjang lebar.


"Tadi dokter udah jelasin sama Tari keadaan Om bagaimana. Makanya Tari enggak nanya lagi sama Om." jawabku.


"Itu kan kata dokter. Dia enggak tau kalau kepala aku pusing. Tuh kumat lagi pusingnya!"


"Pusing? Mau Tari panggilin perawat sama dokter?" lagi-lagi Om menarik tanganku.


"Enggak usah! Kamu bacain doa aja!" Om menepuk sisi tempat tidurnya yang kosong. "Sambil duduk disini!"


Aku menurut seperti biasa. Aku mengangkat tanganku dan mendoakan suamiku tercinta.


"Habis didoain diusap-usap kepalanya." perintahnya.


Aku menurut, meski takut malah membuat Om makin kesakitan karena usapanku.


"Kepala bawah enggak diusapin juga?" godanya.


"Lagi sakit ya sempet-sempetnya! Sebel Tari tuh sama Om!" tanpa sadar aku memukul dadanya sampai Om mengaduh.


"Aduh! Ini juga sakit! Kasar banget ih sama suaminya!"


"Maaf Om... Tari minta maaf. Mana yang sakit?" aku mengusap dadanya yang kupukul seraya meniup-niupnya seperti mengobati anak kecil yang sakit karena jatuh.


Om malah menarikku ke pelukannya. "Sini kamu bobo di sebelah aku!"


"Tapi kalau ketahuan dokter gimana?"


"Memang kita ngapain? Aku cuma mau tidur sambil meluk kamu doang! Udah beberapa hari nih enggak meluk kamu. Aku jadi susah tidur. Sini peluk aku!" rengek Om Agas dengan manja.


Benarkah Om Agas tak bisa tidur tanpa pelukanku? Hatiku jadi berbunga-bunga mendengarnya.


Aku pun menurut dan berbaring disebelahnya. Beda ternyata ranjang kelas 3 dengan kelas VVIP. Waktu Ibu sakit dulu ranjangnya keras dan bantalnya tipis. Ini nyaman sekali. Uang memang tidak bohong.


"Maafin aku ya. Aku udah banyak menyakiti hati kamu. Aku sadar kalau aku belum bisa move on. Aku juga tak menyangka kalau rasa sakit hatiku begitu besar. Bukannya mengikhlaskan yang sudah terjadi aku malah membuat kamu sakit hati dengan perbuatan aku. Kamu mau kan maafin aku?"


Ya Allah... Om Agas menyadari kesalahannya. Bukan hanya sekedar minta maaf saja. Mimpi apa aku semalam?


"Maafin Tari juga ya, Om. Tari udah marah dan enggak sabaran menghadapi Om. Tari janji akan lebih sabar lagi menghadapi Om. Meskipun Om menyebalkan sekalipun."


"Aku makan nih kalau kamu ngomong begitu!" Om Agas mencium pipiku dengan mesra. Kueratkan pelukanku padanya dan tertidur pulas.


****


Hi Semua...


Udah senin nih...


Yuk dukung Om Agas dengan Vote, like dan komen ya.. Maacih 🥰🥰🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2