
"Ada tempat yang mau kamu tuju enggak?" tanyaku setelah membayar pesanan kami. Pemilik warung seafood sih menolak uangku karena katanya mau traktir Tari. Tapi aku tak mau. Berapa sih modalnya? Makanan kami malam ini lumayan mahal loh.
Akhirnya setelah aku paksa, pemilik warung seafood mau menerimanya. Kulebihkan uangnya sekaligus sebagai uang tip karena sudah mempekerjakan Tari selama ini.
Tari terdiam. Ia memilin ujung blouse yang dikenakan. Mungkin takut mengatakan keinginannya padaku.
"Katakan saja, kamu mau kemana? Hari belum terlalu malam. Mau ke hotel pun masih bisa he...he...he..." godaku.
Tari memanyunkan bibirnya mendengar godaan recehku itu. "Mau ke satu tempat, Om mau antar?"
"Tentu! Mau kemana?"
"Ke rumah Ibu."
Aku mengernyitkan keningku. "Mau apa?"
"Tari pernah bilang sama Om, Tari mau mengambil foto Ibu kalau masih disimpan. Boleh, Om?" Tari menatapku dengan tatapan puppy eyes yang membuatku luluh dalam sekejap.
Aku mengangguk. "Ayo kita kesana. Sekalian ambil ijazah kamu kalau masih ada. Kalau enggak ada nanti kita urus."
Matanya langsung berbinar disertai senyumnya yang merekah. Wajahnya terlihat cantik dengan senyum itu. "Makasih, Om! Ayo!"
Kami keluar dari warung seafood setelah Tari berpamitan dengan pemilik warung. Tari menggandeng lenganku menuju arah sebaliknya dari mobil yang kuparkirkan.
"Enggak ngambil mobil dulu?" tanyaku.
"Kita jalan kaki aja, Om. Enggak jauh kok. Sekalian Om lebih mengenal lingkungan tempat Tari dibesarkan."
Kami berjalan kaki melewati IndoFebruari lalu warung soto dan berbelok di salah satu gang kecil yang hanya muat dilewati dua motor saja.
Saat ada dua motor bersisipan jalan, kami sebagai pejalan kaki harus mengalah. Memberi mereka jalan terlebih dahulu.
Gang kecil itu melewati sebuah jembatan yang dibawahnya ada kali berwarna hitam yang tercium aroma tak sedapnya.
"Kalau hujan banjir enggak?" tanyaku.
"Alhamdulillah kalau rumah Tari enggak Om karena letaknya agak diatas. Kalau disekitar sini sih banjir."
__ADS_1
"Lalu kalau disini banjir, kamu lewat mana?"
"Ada jalan agak memutar sih Om diatas. Begitulah pengorbanan tinggal di lokasi padat penduduk kayak gini Om. Sistem pembuangan airnya tak bagus. Tak ada resapan air. Setiap hujan deras sedikit hati tak tenang takut banjir. Saat musim kemarau hati juga tak tenang karena mata air kering."
"Kalau kering gimana mandinya?" Tari mengajakku melewati tanjakan yang agak tinggi. Sepertinya kami sudah mau sampai ke rumahnya.
"Numpang sama tetangga yang punya sumur pompa atau ke tetangga yang berlangganan air PAM. Cuma harus tau diri, kasih uang untuk membayar tagihannya yang pasti membengkak."
Kami pun berhenti di sebuah rumah dengan sedikit halaman di depannya. Rumah tersebut disinari cahaya lampu yang menandakan ada orang di dalamnya.
"Ternyata beneran udah dijual, Om." ujar Tari dengan wajah yang berubah sedih dalam waktu singkat.
"Tenanglah. Kita coba sapa dulu. Siapa tau barang-barang kamu belum dibuang! Ayo! Aku temani!" kuperat pegangan tanganku untuk memberi Tari semangat.
Tari mengangguk. Ia pun mengetuk pintu rumah seraya mengucap salam.
"Assalamualaikum!" ujar Tari.
Belum ada yang menjawab salam karena suara Tari yang pelan.
"Assalamualaikum!" ujarku dengan suara kencang.
"Tuh! Makanya yang kenceng!" ujarku.
Pemilik rumah itu lalu membukakan pintu untuk kami. Tari terkejut mendapati siapa yang menempati rumahnya saat ini.
"Pak RT?" tanya Tari tak percaya.
"Eh Tari!" Pak RT juga sama terkejutnya dengan Tari.
"Jadi Pak RT yang membeli rumah Ibu?" tanya Tari lagi.
"Iya. Bapak kamu juga punya utang sama saya, Ia bilang membayarnya pakai rumah ini. Yaudah saya bayari sekalian. Eh kok malah ngomong di luar? Ayo masuk dulu!"
Pak RT mempersilahkan kami masuk dan menyuruh istrinya membuatkan minuman untuk kami. Istrinya juga terkejut mendapati keberadaan Tari.
"Kalau boleh tau, ada urusan apa ya Tari kesini?" tanya Pak RT.
__ADS_1
"Jadi begini Pak, Tari mau mengambil surat-surat penting milik Tari dan mau mengambil foto Ibu. Itu pun kalau Pak RT masih menyimpannya!" terselip nada penuh harap dalam suara Tari. Kasihan Tari. Nasibnya sungguh malang!
"Tentu! Saya masih menyimpannya. Saya curiga sih saat Bapak kamu menjual rumah ini beserta isinya. Lalu saya sama istri saya mikir, kamu gimana? Keberadaan kamu kayak hilang ditelan bumi. Terakhir saya dengar kamu kecelakaan tapi enggak ada kabar lagi." cerita Pak RT.
"Iya Mbak Tari. Untung saya inisiatif menyimpan semua surat-surat penting dan foto yang ada di kamar Mbak Tari. Saya yakin suatu hari nanti Mbak Tari akan datang kesini untuk mengambilnya." ujar istri Pak RT yang datang sambil membawakan teh manis hangat dan biskuit.
"Ya Allah, Bu. Terima kasih sekali! Waktu itu Tari memang pergi dari rumah, karena Pak RT tau sendiri gimana Bapak. Ternyata Tari dengar kalau rumah Ibu sudah dijual. Kebetulan Tari lagi ada di dekat sini jadi sekalian mau nanya apakah surat-surat penting milik Tari masih ada apa enggak? Alhamdulillah masih rejeki." Tari tersenyum penuh kelegaan.
"Saya ambilkan dulu ya. Nanti Tari bisa bawa saja." ujar istri Pak RT yang langsung masuk kembali ke dalam.
"Boleh tau ini siapanya Tari ya?" tanya Pak RT seraya melihat ke arahku.
"Saya suaminya Tari, Pak." jawabku seraya mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Agas."
"Saya RT di lingkungan Tari tinggal. Wah Tari sudah menikah ya? Syukurlah! Tari bisa lepas dari Bapaknya Tari. Kita disini juga sudah resah dengan kelakuan Bapak tirinya Tari. Terlalu banyak hutang disana sini membuat Tari yang dikejar-kejar para penagih utang. Kalau Tari sudah menikah kita disini semua senang. Biar Tari ada yang melindungi." pesan Pak RT.
Aku tersenyum. "Iya, Pak."
Tak lama Ibu RT pun keluar dengan membawa satu tas berisi surat-surat penting milik Tari dan juga bingkai foto Ibunya Tari, "Kalau baju-baju kamu, waktu itu Bapak kamu bawa sekalian sama isi rumah yang masih bisa dia jual. Sisanya sih ditinggal semua disini kayak surat-surat ini. Katanya nggak penting. Pas saya lihat, ternyata ada Ijazah kamu, akta kelahiran dan fotocopy KTP. Itu kan penting makanya saya simpan."
"Alhamdulillah Ibu masih menyimpannya untuk saya. Terima kasih banyak, Bu. Saya enggak ngebayangin gimana cara mengurus semua ini kalau misalnya semua dibuang sama Bapak." ujar Tari seraya menerima tas yang Ibu RT berikan.
"Sama-sama Tari. Maaf tak bisa menyelamatkan lebih banyak karena diluar kuasa kami." ujar Bu RT .
"Tak apa, Bu. Ini saja sudah cukup."
****
Wajah Tari sejak pamit dari rumah Pak RT terlihat cerah. Aku membawakan tas berisi ijazah dan surat-surat penting miliknya, sedangkan Tari memeluk figura foto milik Ibunya.
Kebahagiaan Tari receh. Hanya ingin figura Ibunya. Tak lebih.
Aku jadi merasa tersentil. Selama ini aku merasa hidupku serasa paling menderita sendiri, padahal masih banyak orang lain yang hidupnya lebih menderita dariku.
Mengeluh, marah, frustasi dengan keadaan yang menimpa diriku. Menyalahkan Tuhan atas semua takdir buruk dalam hidupku.
Padahal kalau saja aku mau membuka mata sedikit, ada Tari yang hidupnya jauh lebih menderita dariku. Menikahi Tari membuatku belajar arti mensyukuri keadaan.
__ADS_1
Aku tersenyum menatap wanita polos di sampingku seraya dalam hati berterima kasih padanya telah mengajarkanku arti bersyukur.
****