Duda Nackal

Duda Nackal
Ngeeng.... Ngeeng....


__ADS_3

Agas


Tari menatapku dengan sangat menyeramkan. Wajahnya memerah karena menahan kesal dan amarah dalam waktu bersamaan. Bagaimana tidak, anak kami yang baru berusia 2 tahun sudah mengenal cewek cantik dan seksi. Pasti ini ada campur tangan Abi-nya.


"Kenapa Wira bisa jadi anak kecentilan kayak gitu?" interogasi Tari setelah cewek-cewek cantik dan seksi itu melewatiku dan Tari.


"Bukan aku, My. Bener deh!"


"Pasti Abi ngajarin yang enggak-enggak deh sama Wira! Ayo ngaku!" omel Tari.


"Bukan Abi. Mungkin Wira dengar dari yang lain. Masa sih Abi ngajarin anak Abi sendiri hal yang enggak bener? Enggak mungkin-lah!" elakku.


"Tapi ini udah sampai tahap dimana Wira mengenal mana yang cantik dan seksi, dan mana yang enggak. Pasti Abi nih ngajarin macam-macam!" tuduh Tari.


"Ya Allah, My. Masa sih Abi begitu? Beneran enggak!" sengaja aku tidak menyebut kedua sahabatku. Bisa habis mereka kalau Tari sampai tau.


"Sudah, Wira biar Mommy yang gendong saja!" Tari mengulurkan tangannya hendak mengambil Wira dari gendonganku namun aku cegah.


"Jangan, My. Mommy lupa kalau Mommy lagi hamil? Wira berat loh, My. Bisa kram nanti perut Mommy!" bisa bahaya juga kalau Wira godain cewek lagi depan Tari.


"Yaudah! Awas aja Wira kalau diajarin yang enggak bener lagi!" ancam Tari.


Sumpah ini nakutin banget. Rasanya deg-degan. Wira tuh kayak bom yang kapan saja bisa meledak dan duaarrrr... habislah aku!


"Es klim!" Wira melihat toko es krim dan teringat janjiku membelikannya es.


"Ayo kita makan es krim!" ajakku. Semoga kali ini aman.


Aku menggendong Wira dan antri es krim, sementara Tari mendorong stoller dan menunggu di tempat duduk yang disediakan.


"Wira mau yang mana?" tanyaku.


"Cotat!"


"Oke. Abi juga mau cokelat. Mommy apa ya? Kayaknya vanilla deh." yang kuajak bicara malah asyik memperhatikan hal lain.


Ternyata...


Wira memperhatikan cewek di sampingku. Cewek seksi dengan belahan dadanya yang menggoda.

__ADS_1


Wah... Gawat!


Tak tahukah dia kalau anakku sensitif melihat hal seperti itu?


"Nen... Nen...." kata Wira seraya menunjuk cewek di sampingku.


"Ih lucu banget adek bayinya!" kata cewek yang Wira tunjuk.


"He...he... Nen... Nen..."


"Oh suara motor ya Nak? Ngeng... Ngeng..." kusamarkan suara yang Wira katakan. Jangan sampai ada yang tersinggung dibuatnya.


"Nen... Nen...."


Aduh anak ini! Malah diulangin lagi!


"Nanti kita ngebut ya Nak! Nguengg.... tin tin..." aku sibuk sendiri mengalihkan perhatian Wira. Matanya terus melihat pemandangan indah itu. Aku saja tak berani. Takut satpam di belakang melihat.


Cepat-cepat aku pesan es krim dan membayar pesananku. Anak ini tak boleh dekat-dekat dengan cewek seksi! Bahaya!


Aku meminta es krim dibawakan pelayan toko. Aku membawa Wira dan duduk di samping Tari. Terlihat Tari sedang sibuk dengan Hp miliknya.


"Kita langsung ke rumah Oma aja ya, Bi. Biar langsung dikasih kadonya!" ajak Tari.


"Ciap Putli!" Wira juga mengikuti yang kulakukan.


Tari tersenyum. "Kalau ikutin kayak gini kan lucu. Jangan ngikutin kelakuan Abi kamu yang ajaib ya Wira! Nanti kamu nackal!"


"Wila endak nakal! Abi nakal!" jawab Wira.


"Enak aja! Abi udah enggak nackal! Wira tuh yang centil!" kataku meledek Wira.


"Udah... Udah... Es krimnya datang tuh!" Tari menunjuk pelayan yang membawakan kami es krim.


"Yey... Es klim! Wila mau es klim!" ujar Wira tak bisa diam di kursi bayi miliknya.


"Iya. Sabar ya Nak. Wira penyabar bukan?" tanya Tari dengan lembut.


"Iya My. Wila penyabal!" nurut sekali dia kalau Tari yang ajak bicara. Kalau denganku? Huh.... Masih ngeyel!

__ADS_1


Pelayan toko lalu menaruh pesanan es krim kami di atas meja. Wira makan dengan semangat sampai wajahnya belepotan es krim.


"Jadi Sony kapan nikah sih, By? Kalau ditanya cengar-cengir aja!" tanya Tari seraya menikmati es krim vanilla miliknya.


"Entah kapan, My. Jodohnya sudah dipinang laki-laki lain. Kasihan dia."


"Yang bener, Bi! Kasihan banget. Belum jodoh namanya!"


Telat banget Neng tau-nya. Wira saja sudah tau sejak lama. Kamu baru tahu sekarang. Inilah akibat terlalu sibuk belajar dan mengurus rumah tangga serta bisnis. Jadi kurang update.


Tari jadi hobby kursus berbagai masakan. Hasil belajarnya Ia modifikasi dan Ia masukkan dalam menu di cafe miliknya. Alhasil, Tarbi Cafe semakin maju saja di tengah persaingan bisnis cafe yang semakin ketat.


Tak sia-sia memang Tari belajar. Ia jadi bisa mengajari orang-orang di sekitarnya. Karyawannya sudah jago membuat menu yang Ia modifikasi dan kini Tari hanya tinggal kursus yang lain saja untuk menambah ilmunya.


Walau sibuk, Tari tetap mengurus keluarga. Ia tak pernah melupakan kewajibannya. Tari juga mengajari Wira tentang sopan santun dasar untuk anak kecil, seperti mengucapkan terima kasih, mengucap kata tolong jika minta bantuan orang lain dan tentunya mengucap salam.


Tari juga nengurus segala kebutuhanku. Menyiapkan pakaian untukku dan melayani hasratku yang selalu membara.


Jadi, meski Tari wanita karir Ia tetap mengurus keluarga tanpa melupakannya. Karena itu aku tak pernah melarangnya mengejar cita-cita yang Ia impikan selama kewajibannya sudah Ia penuhi.


"Belum jodoh, Sayang. Mau gimana lagi? Kita beli kue juga enggak buat Oma? Siapa tau Oma mau tiup lilin gitu?" tanyaku.


"Iya juga ya, Bi. Aku enggak kepikiran. Kita beli cake dulu deh. Enggak enak kesana enggak bawa apa-apa. Oma kalau bawa makanan dan mainan buat Wira banyak sekali. Kayak bakalan habis sama kita saja, padahal ujung-ujungnya kita bagi-bagikan juga."


"Yaudah kalau udah selesai makan es, kita langsung ke toko kue ya!" kuusap kepala Wira yang masih asyik dengan es krim miliknya sampai mulutnya belepotan es krim.


Kuambil tisu basah dan membersihkan wajahnya yang belepotan. "Makan yang rapi. Nanti kalau belepotan begini enggak keliatan ganteng! Gimana cewek-cewek pada suka coba?"


"Wila ganteng! Wila ganteng!" protes Wira.


"Kenapa harus ngomong gitu sih Bi sama Wira. Jadi Wira tuh orientasinya cewek cantik terus! Kebiasaan ih Abi! Jangan dididik kayak gitu ah!" omel Tari.


"Aku kan cuma becanda aja, Sayang! Biar Wira jadi anak yang rajin dan bersih. Semacam motivasi gitu!" kataku beralasan.


"Enggak gitu, Bi. Kayak gini nih!" Tari lalu bicara pada Wira. "Wira mau sering makan es krim enggak? Kalau mau, sekarang makan yang rapi. Kalau berantakan nanti Mommy enggak ajak makan es krim lagi mau?"


Wira menggelengkan kepalanya. Cepat-cepat diambilnya tisu basah dan mengelap wajahnya agar bersih. "Wila mau es klim lagi!"


"Tuh lihat kan? Caranya kayak gitu, Bi. Jangan membuat Wira jadi penerus Abi loh!" ancam Tari.

__ADS_1


"Iya... Iya...."


***


__ADS_2