Duda Nackal

Duda Nackal
Kamu Itu Belanda


__ADS_3

"Om... Mm..." Tari mendesah dan terus bergerak diatasku.


"Kamu pintar, ya... terus..."


Gila. Ini hal paling gila yang pernah aku lakukan.


Aku bercinta di dalam salah satu mobil di showroom yang aku miliki. Hal paling gila yang pernah kulakukan.


Peluh kami dan wajah penuh gairah bercampur jadi satu. Seakan kami tak pernah puas mengecap kepuasan masing-masing.


Mobil yang bergoyang menjadi saksi penyatuan diri kami yang melebur bersama hasrat menggelora. Aku bebas melakukannya. Tari istriku. Aku tak perlu mengkhawatirkan hal yang selama ini aku khawatirkan.


Jujur saja, kebebasanku selama ini membuatku sering dihinggapi rasa takut. Aku takut tertular penyakit kelamin yang berbahaya. Aku takut sampai meninggal karena penyakit memalukan karena kebiasaanku bersenang-senang dengan berganti-ganti pasangan.


Itulah alasan kenapa selama ini aku selalu bermain aman menggunakan pelindung. Dengan Tari, aku bisa memuaskan hasratku tanpa khawatir.


Tari masih suci dan aku sendiri yang merenggut kesuciannya. Tak perlu diragukan kalau masalah kesehatan. Aku bisa bebas melakukan penyatuan tanpa perlu memakai pelindung. Mau berapa kali pun terserah.


Kalau Tari hamil ya sudah! Mau bagaimana lagi? Aku sendiri tak yakin dengan kesuburanku. Dulu saja dengan Tara aku tak bisa menghamilinya. Aku selalu menganggap akulah penyebabnya.


"Om...Tari tak kuat lagi! "


Aku belum mau berhenti, aku tahu Ia pasti lelah. Aku ganti posisi dan menidurinya di jok belakang, kini giliranku yang bekerja keras memuaskannya.


Aku terus melakukan penyatuan sampai aku mencapai batas dan... ah... leganya.


Aku tak buru-buru melepas milikku. Aku terkulai lemas diatas tubuh Tari yang begitu memukau.


"Kamu keren!" kukecup bibirnya. "Hari ini aku sangat puas!"


Tari tersenyum. "Jangan mencari kepuasan di tempat lain lagi ya, Om!"


"Kalau kamu memuaskanku terus seperti ini, aku tak butuh yang lain!" kataku menggodanya, namun Ia menganggap serius perkataanku.


"Bagaimana kalau Tari tak bisa memuaskan Om lagi seperti ini? Apa Om akan mencari kepuasan di tempat lain?"


Aku bangun dan duduk di sampingnya. Kasihan tubuhnya jika terus tertindih tubuhku yang berat dengan otot ini.


"Aku enggak mengatakan seperti itu." jawabku sambil memakai pakaianku yang kini sudah kusut.


"Tadi Om bilang kalau aku memuaskan Om, maka Om tak butuh yang lain. Berarti kalau aku tidak memuaskan Om, maka Om akan mencari yang lain?"

__ADS_1


Pintar sekali si lugu ini kalau sudah berbicara. "Jangan kamu pikir dalam otakku cuma ada hal itu saja! Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Banyak hal yang bisa dilakukan dan tak harus berakhir dengan bersenang-senang seperti tadi. Yang membuat aku puas juga bukan hanya goyangan kamu saja, masakan kamu dan cara kamu memanjakanku juga termasuk dalam hal yang memuaskanku!"


Kini Tari tersenyum lebar. Ia duduk tegak dan memeluk tubuhku erat. "Baiklah. Kalau begitu Tari akan selalu membuat Om puas! Pokoknya Om enggak boleh mencari kepuasan di tempat lain. Janji ya!"


"Dari tadi kamu ngomong begitu terus sih? Memang ada hal yang mengganggu kamu? Masalah Cici? Sudah jangan kamu pikirkan!" aku memakaikan bra milik Tari untuk menutupi asetnya yang selalu menggodaku untuk aku sentuh.


"Bukan. Mbak Cici sih tidak begitu mengusik Tari. Tari tahu kalau sejak awal Mbak Cici tak pernah ada di dalam hati Om Agas." Ia pasrah saja saat aku juga memakaikannya baju.


"Lalu?"


"Sudahlah lupakan saja! Om sadar enggak sih kalau kita tuh belum makan malam? Tari dari tadi pagi sudah beberapa kali bercinta sama Om sampai dibolak-balik segala dan Om belum membelikan Tari makan malam?" aku tahu ini caranya menghindar dari bicara terus terang.


Aku tersenyum. "Maaf, aku kalau sudah lapar pengen makan kamu, jadi lupa sama yang lain! Ayo kita makan yang kamu mau! Kamu ke toilet saja dulu, biar aku yang bereskan ini semua!"


"Oke!" Tari menuju toilet yang aku tunjukkan dan keluar dengan keadaan yang sudah rapi tak berantakan seperti tadi di dalam mobil.


"Tunggu sebentar. Aku mau ke toilet dulu!" kini gantian aku yang merapihkan dandananku. Mengelap bekas lipstik Tari yang menempel di pipi dan leherku.


Anak polos itu kalau sudah di ranjang ternyata liar juga. Mau saja aku suruh berbagai gaya. Yang pasti sekarang aku tak butuh mencari kepusan di luar sana. Aku sudah punya Tari.


Aku keluar dengan wajah yang lebih segar setelah mencuci muka. Kunyalakan lagi CCTV dan mengajak Tari keluar showroom. Tak lupa aku membawa kertas untuk alibiku pada security.


"Titip ya, Pak!" kataku seraya memberikan uang dua ratus ribu rupiah untuk security tersebut. "Buat anak Bapak jajan!"


"Terima kasih, Pak Agas! Hati-hati di jalan!"


Aku kembali mengemudikan mobilku dan berhenti di sebuah restoran pecel ayam. Tari yang minta makan di pinggir jalan. Ia sangat suka pecel ayam.


"Tari paling suka pecel ayam, Om. Nasi goreng abang-abang juga Tari suka. Rasanya beda kalau bikin sendiri. Lebih gurih dan wangi." ujarnya sambil menikmati seporsi pecel ayam dengan lahap. "Ini sambalnya juga enak."


"Iya. Makanlah yang banyak. Kamu pesan lagi saja kalau kurang! Ngomong-ngomong tentang nasi goreng, nasi goreng buatanmu enak loh! Aku suka!" melihat Tari makan dengan lahap membuat aku ikut lapar. Anak itu rupanya kelaperan karena sejak tadi aku suruh melayaniku terus.


Kupikir Ia akan minta makan yang mahal karena sudah melayaniku seharian, ternyata hanya minta seporsi pecel ayam yang harganya hanya dua puluh lima ribu sudah termasuk es teh manis. Tulus sekali dia jadi orang.


Tari menghabiskan seporsi pecel ayam miliknya dan terlihat kekenyangan. Aku tersenyum melihat eskpresinya.


"Enggak jadi nambah?" ledekku.


"Nyerah Om! Memangnya Tari Portugal?!"


"Portugal?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Porsi Tukang Gali! Ah masa Om enggak tau sih? Enggak gaul ah!"


Loh kenapa sekarang jadi aku yang dikatakan tidak gaul sama anak yang semula sangat gaptek ini? Wah anak ini sudah berani rupanya ya meledekku?!


"Kalau bukan Portugal berarti kamu itu Belanda."


"Belanda? Apa itu?"


"Enggak tau kan? Berarti kamu enggak gaul!" balasku.


"Ih apaan sih, Om? Kasih tau dong Belanda apa?"


"Beneran mau tau?"


"Iya! Ayo cepet kasih tau!"


Aku pun membisikkan sesuatu di telinganya. "BELAhaN DAdanya menggoda!"


"Ih ngaco itu mah! Om ngaco!"


"Ha...ha...ha..." aku tak kuat lagi dan menertawakan ekspresi wajahnya yang lucu.


Tanpa aku sadari, sejak aku menikahinya aku jadi sering tertawa. Apakah aku memang bahagia setelah menikah dengannya? Apakah ini yang kubutuhkan? Seseorang yang membuatku bahagia?


Kami sampai di rumah sudah hampir jam 2 pagi. Kami tak peduli waktu, mau pulang jam berapapun tak ada yang melarang.


"Kenapa? Mikirin apa? Bukannya tidur!" tanyaku saat Ia gelisah dan sejak tadi bolak balik di tempat tidur.


"Tari lagi mikirin tentang mobil yang tadi kita pakai buat bercinta, Om!"


"Ngapain kamu jadi mikirin mobil?" tanyaku penasaran. Aku tak jadi mengantuk dibuatnya. Pasti ini akan menarik deh nantinya. Aku ingin tau apa yang Ia pikirkan, kenapa sampai tak bisa tidur segala.


"Tari kasihan sama yang beli. Itu kan jok belakangnya sudah bekas kita. Jadinya dia enggak beli mobil baru dong? Kasihan kan? Niatnya mau beli mobil baru eh malah dapet bekas orang bersenang-senang lagi di jok belakangnya!" keluhnya.


Tuh kan, apa aku bilang! Pasti akan lucu. Aku saja sampai menahan tawa mendengarnya. Ngapain mikir sampai sejauh itu coba?


"Mobilnya udah aku bersihkan, tenang saja!" kataku sambil menahan tawa.


"Tetap saja kasihan, Om. Si pemiliknya jadi beli mobil bekas! Nanti kasih diskon ya Om!"


Aku tak kuat lagi menahan tawa. "Ha...ha...ha... Kenapa aku harus kasih diskon? Kalau tadi kita bersenang-senang di semua mobil, berarti aku harus diskon semua mobilnya dong? Aku buka showroom atau obralan di pasar ya?"

__ADS_1


****


__ADS_2