Duda Nackal

Duda Nackal
Mimpi Buruk


__ADS_3

Utari


Mungkin karena lelah...


Mungkin karena tepukan lembut di punggungku yang membuatku nyaman hingga mengantarkanku ke alam tidur...


Semua membuat aku mengantuk dan pada akhirnya tertidur lelap...


Aku ingin melupakan semua permasalahan yang ada. Melupakan segala rasa benci terhadap takdir kejam hidupku...


Saatku memejamkan mata, aku ingin melihat tempat yang indah. Tempat yang penuh dengan bunga bermekaran. Tempat dimana udara terasa segar. Aku bahkan bisa menghirup udara sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paruku.


Impianku terwujud. Aku berada di sebuah taman bunga. Sekelilingku penuh dengan bunga bermekaran.


Dimana ya Hp milikku? Aku ingin mengambil foto diriku bersama bunga-bungaan ini. Aku memeriksa baju yang kupakai, sebuah dress tanpa satu pun kantong. Yah... Aku enggak bawa Hp. Baiklah, kunikmati saja pemandangan indah ini dengan mata tel*nj*ng.


"Mommy!" terdengar suara anak kecil memanggilku. Aku pun berbalik badan.


Seorang anak perempuan cantik bertubuh subur berlari ke arahku. Wajahnya cantik namun garis wajahnya mirip sekali dengan Abi. Reflek aku membuka tanganku, menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat.


"Mommy!" Ia memanggilku.


Oh... Jadi ini adalah anakku.


"Kamu sama siapa? Mana Abi?" tanyaku.


Anak itu lalu menunjuk ke arah belakang. Aku agak silau melihatnya karena sinar matahari memantul ke arahku. Kutengadahkan tanganku menghalangi sinar matahari yang menyilaukan.


Aku melihat Abi sedang berjalan mendekat. Abi tidak sendiri. Ia berjalan sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki tampan.


Anak laki-laki itu juga menggandeng seseorang di sebelahnya. Seorang perempuan.... Tunggu, bukankah itu Vira?


Deg....


Jadi itu adalah anak Abi dan Vira?


Aku menahan air mataku yang hendak menetes. Aku sembunyikan dari anakku yang terus menatapku lekat.


"Aku sama Abi, Umi dan adik. Lihat deh Mommy, Umi cantik kan? Adikku juga lucu kan?"


Deg....


Anakku memanggil Vira dengan sebutan Umi?


Tidak! Itu tidak boleh!

__ADS_1


"Kamu enggak boleh manggil dia Umi! Dia bukan Umi kamu! Mama kamu cuma Mommy!" kataku sambil mencekal tangan anakku dan memaksanya menuruti perintahku.


"Aku enggak mau sama Mommy! Mommy jahat! Aku mau sama Umi! Uwaaaa... Umi..." anak itu menangis terus. Ia berontak dan terus berontak ingin pergi.


Sekuat apapun aku menahan, Ia akhirnya berhasil kabur dari cekalan tanganku. "Tunggu! Jangan tinggalin Mommy! Tunggu! Tunggu!" teriakku.


Aku melihat anakku kini bergandengan tangan dengan Abi dan Vira.


"Tolong... Tolong jangan ambil anakku! Tolong!" pintaku sambil menangis meraung-raung.


"Jangan ambil anakku! Jangan ambil anakku!"


Aku berlari mengejar namun mereka semakin jauh saja. "Jangan! Jangaaaan! Jangan ambil anakku!"


Aku lalu membuka mataku. Nafasku masih menderu. Keringat sebesar bulir jagung membasahi wajahku.


Ini dimana?


Aku berusaha mengingat dimana aku berada dan menyadari kalau aku berada di kamarku yang berada di cafe.


Aku berusaha duduk dan menahan rasa pusing yang tiba-tiba menderaku. Sudah tertidur berapa lama aku kali ini?


Kuambil Hp milikku yang berada di atas meja kecil di samping kasur. Kasur ini hanyalah kasur kecil. Sesuai dengan ukuran ruangan yang tak terlalu besar.


Jam 2 siang. Wah... Pantas saja mimpiku aneh. Sudah terlalu lama tertidur aku rupanya!


Perutku berbunyi. Minta diisi rupanya. Aku memutuskan untuk sholat dzuhur dulu baru ke dapur untuk makan.


Baru saja aku melipat mukena, Abi datang membawa sebuah nampan berisi makan siang lengkap dengan susu cokelat untukku.


"Kamu sudah bangun? Aku bawakan makan siang buat kamu!" Abi meletakkan nampan tersebut di atas karpet.


"Kenapa enggak bangunin aku lebih awal? Aku tidur terlalu lama jadinya." kataku sambil duduk dan meminum susu cokelat hangat.


Aku lalu mengambil nasi dan capcay goreng buatan chef. Pasti Abi yang meminta dibuatkan. Ada chicken katsu buatanku juga diatasnya.


Aku memakan capcay goreng. Hmm... Enak sekali! Kenapa sayuran ini terasa begitu segar di lidahku?


"Aku sengaja enggak bangunin kamu. Biar kamu tidurnya cukup. Rencananya aku mau bangunin kamu agar tidak terlewat sholat dzuhur saja eh kamu udah bangun duluan." Abi melihatku makan dengan lahap. "Pelan-pelan saja makannya! Kalau kurang nanti aku minta buatkan lagi!"


Aku benar-benar menikmati makananku kali ini. Aku lapar. Aku lupa kapan terakhir kali aku makan. Kayaknya kemarin siang atau sore ya? Entahlah!


"Gimana keadaan cafe?" tanyaku.


"Ramai sekali! Menu chicken katsu buatan kamu laris manis. Memang kamu ini pintar sekali! Aku bangga deh sama kamu!" Abi mengacak-acak rambutku penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Nanti malam pulanglah! Jangan menginap di mobil lagi! Selain bahaya juga akan membuat badan kamu pegal-pegal!" kataku sambil menghabiskan capcay milikku.


"Aku menginap disini juga boleh? Aku... Enggak bisa tidur kalau enggak ada kamu!" aku Abi.


"Enggak usah! Tidur di rumah saja. Biasakan! Pasti bisa kok!" jawabku dengan dingin.


Aku jadi teringat mimpiku. Kalau memang Abi nanti akan bertanggung jawab pada Vira, aku akan mempertahankan anakku disisiku. Tak akan kubiarkan anakku diambil!


"Kenapa sih kita jadi begini? Seharusnya kita tuh menghadapi masalah ini bersama-sama. Bukan malah saling menghindar seperti yang kita lakukan saat ini!"


"Ya sudah, Abi selesaikan saja masalah Abi dengan Vira. Ini kan masalah kalian. Apapun hasilnya nanti, aku akan terima dengan ikhlas!" kataku menyembunyikan isi hatiku yang sebenarnya.


Mana ada sih manusia yang ikhlas kehilangan orang yang dicintainya dan merelakannya untuk iblis berkedok sahabatnya? Enggak ada! Begitu pun denganku! Aku tak akan rela tapi aku bisa apa?


"Hasil apa sih? Aku tuh sangat yakin kalau aku tidak menghamilinya! Kenapa sih kamu enggak bisa mempercayaiku? Aku bisa melihat mana perempuan yang baik, mana yang hanya untuk bersenang-senang saja. Vira, dulu bagiku hanya untuk bersenang-senang saja! Aku akan berhati-hati, aku tak mau terkena masalah karena menghamili perempuan seperti itu!"


Aku menaruh sendok diatas mangkok capcay yang sudah kosong. Nasi yang dibawakan untukku masih utuh, ayam katsu saja masih banyak. Belum aku makan sama sekali. Aku sudah kehilangan selera makan jadinya.


"Nyatanya sekarang Abi terkena masalah kan? Abi tau siapa Vira? Siapa orangtuanya Vira? Apa yang bisa dilakukan oleh kedua orangtuanya?"


Abi mengernyitkan keningnya. "Aku enggak tau, aku saja lupa kapan aku bercinta dengannya! Satu yang pasti, aku enggak peduli siapa orangtuanya! Aku yakin kalau aku bukan ayah dari bayi yang dikandungnya!"


Abi kini menatapku dengan lekat. Matanya menyorotkan kecurigaan. "Kamu sudah sangat mengenal Vira. Aku jadi curiga, apa hubungan kamu dengan Vira?"


"Enggak ada! Hanya kenal aja!" bohongku.


Abi makin menatapku lekat, mencari kebenaran dalam sorot mataku. "Apa dia yang membully kamu waktu sekolah dulu?" tebak Abi.


Deg...deg...deg....deg...


Jantungku bertalu cepat.


Abi bisa menebaknya. Hebat sekali!


"Benar?" Abi mengulangi pertanyaannya karena aku tak juga menjawabnya.


"Bukan!" jawabku sambil membuang pandanganku.


"Jangan bohong! Aku bisa melihat kamu menutupinya. Aku bisa melihat ketakutan di mata kamu! Dia kan yang sudah menghancurkan hidup kamu?"


Aku terdiam tak berani menjawab lagi.


"Aku tak akan biarkan dia menghancurkan hidup kamu lagi!"


Abi lalu pergi dan meninggalkanku seorang diri di kamar.

__ADS_1


****


__ADS_2