
Utari
Hatiku kini bagai taman bunga yang dihiasi dengan beraneka bunga cantik yang sedang bermekaran dengan indahnya.
Kalau digambarkan, aku seperti sedang menari sambil meloncat gembira. Bahagia tiada tara.
Melihat Om Agas mulai cemburu dengan kedekatanku dan Pak Adi membuatku yakin kalau kini sudah ada namaku di dalam hatinya Om Agas. Meski kini jumlahnya sedikit namun aku yakin suatu hari nanti akan banyak.
Aku memajukan diriku dan mencium pipinya. Melihat wajahnya yang tampan jadi memerah malu membuatku ikut tersenyum. Menggemaskan banget sih Om Agas ini.
Kumajukan lagi tubuhku dan mencium pipinya sekali lagi. Wajahnya makin memerah.
"Udah ah, Ri! Aku lagi nyetir nih! Jadi enggak konsen nih!" protes Om Agas.
Aku tersenyum senang. Seorang mantan Duda Nackal baru dicium pipinya saja sudah malu-malu kucing seperti itu.
"Kalau Tari bergelayut di lengan Om bolehkan?" aku mendekatkan diri lagi siap bergelayut manja di lengan kekar Om Agas.
"Please ya! Bahaya kamu godain aku lagi nyetir begini! Awas aja! Nanti kamu aku habisin di rumah!" ancam Om Agas.
"Enggak bisa weeekkk! Ada Mama dan Papa. Kita enggak boleh berduaan di kamar terus. Nanti Mama nyariin aku! Aku ya yang dicariin sekarang, bukan Om Agas lagi!" kataku penuh rasa bangga.
"Ish! Sombong sekali mentang-mentang sudah punya pembela seperti Mama! Hm... Gimana kalau kita check in di hotel siang ini?" usul Om Agas.
"Mama udah nungguin, Om! Nanti malah nanya macem-macem deh! Udah kita pulang aja dulu. Nanti malam kalau Om mau mengambil jatah Om, Tari siap kok!"
Om Agas tersenyum senang mendengar akan aku ijinkan mengambil jatahnya. Lucu sekali sih. Aku tuh makin gemas saja dengan tingkahnya.
"Loh kita kok enggak pulang sih, Om? Bukannya kita biasa putar balik didepan?" aku takut Om salah belok karena sejak tadi kami mengobrol.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu. "
"Kemana?" tanyaku penasaran.
"Ih aku jadi penasaran? Apa jangan-jangan Om mau bawa aku ke hotel seperti rencana Om semula?" tanyaku lagi karena Om tak kunjung menjawab.
"Udah pokoknya surprise deh buat kamu!"
__ADS_1
Aku jadi makin penasaran dibuatnya. Aku sabar menunggu sampai akhirnya Om Agas memberhentikan mobilnya di sebuah cafe yang sepi.
"Om mau makan dulu? Atau mau minum kopi aja?" tanyaku lagi.
Om Agas hanya tersenyum tak menjawab . Ih beneran ya Om ini! Aku makin penasaran kalau diginiin!
Om lalu mengajakku turun. Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam cafe yang sebenarnya bagus hanya saja seperti kurang terurus. Dekorasinya juga bagus. Hanya perlu ditambah sedikit dan juga beberapa spot foto biar instagramable, itu yang kupelajari dari instagram.
Cafe ini bercat hitam putih dengan bagian depan dikhususkan untuk pengunjung yang lebih menyukai menghirup udara segar dibanding di dalam. Kursinya pun unik. Ada yang berbentuk kubus dengan warna hitam dan putih, ada pula yang seperti ayunan.
Bagus sebenarnya cafe ini. Anak muda banget. Tapi kenapa sepi ya?
Aku mengikuti Om Agas yang masuk ke dalam cafe. Pemilik cafe menyambut kedatangan Om Agas.
"Ini istrinya, Pak?" tanya pemilik cafe.
Aku masih memperhatikan dekorasi dalam cafe. Hiasan dindingnya unik, sebuah lukisan abstrak yang membuat kesan nyaman dalam cafe. Ada tangga untuk menuju lantai dua, entah bagaimana dekorasi di atas, aku juga penasaran dibuatnya.
"Iya. Ini istri saya." jawab Om Agas. Om Agas lalu bertanya padaku. "Gimana cafenya? Bagus enggak dekorasinya?"
Om pun ikut mengangguk setuju. "Hanya tinggal sedikit renovasi dan semua jadi lebih bagus lagi."
"Jadi Bapak setuju membeli cafe ini?" tanya pemilik cafe yang membuatku amat terkejut.
Om Agas mau membeli cafe? Mau berganti profesi menjadi pemilik cafe atau mau merambah bisnis baru? Aku semakin penasaran dibuatnya.
"Jadi! Saya setuju dengan harga yang ditawarkan. Karena istri saya menyukainya, saya minta proses jual beli diurus secepatnya ya!"
"Tentu Pak Agas! Saya akan mengurus penjualan cafe ini secepatnya"
Aku keluar cafe dengan bingung. Om sejak tadi berdiskusi dengan pemilik cafe dan langsung mengajakku pulang.
"Om mau buat cafe sekarang? Lalu bisnis showroom Om gimana?" tanyaku yang tak kuat menahan rasa penasaran yang terus berkecamuk dalam diriku.
"Bukan aku yang mau buat bisnis cafe, tapi kamu! Aku tetap mengurus showroom. Kamu yang akan pegang cafe."
"Aku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendir.
__ADS_1
"Iya, kamu! Kamu harus mengembangkan potensi yang kamu miliki. Bukankah kamu mengatakan kalau membuat cafe adalah cita-cita kamu? Aku sih sebagai suami mendukung apa yang kamu cita-citakan. Hanya ini yang aku bisa bantu, sisanya kamu yang mengembangkan cafe sepi ini menjadi cafe yang ramai dan banyak pengunjungnya!"
Aku terdiam. Cafe ini buat aku? Om membelikannya untukku?
"Beneran, Om? Ya Allah Om, Tari merasa tak layak menerima semua ini. Udah banyak sekali yang Om berikan pada Tari. Tari makin berhutang budi sama Om." kataku dengan mata yang memanas menahan air mata yang akan segera mengalir ini.
Om mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. "Wujudkan impian kamu. Aku percaya kamu lebih dari mampu untuk mengembangkan cafe ini. Jalani saja dengan kemampuan memasak kamu yang hebat itu. Nanti masalah manajemen, akan aku bantu untuk awalnya. Sisanya kamu yang handle."
"Bukannya Tari nggak bersyukur Om, Tari merasa kalau Tari sudah terlalu banyak merepotkan Om Agas. Tari nggak mau jadi orang yang menyusahkan Om saja. Kalau bukan karena Om, Tari mungkin sekarang nggak ada disini. Mungkin saja, Tari akan mengakhiri hidup Tari karena merasa Tari begitu menjijikan kalau sampai Tari dijual oleh Bapak. Mendapatkan Om adalah suatu anugerah buat Tari. Terima kasih banyak, Om. Tari janji, Tari akan membuat Om bangga!" tekadku.
"Tentu dong! Kamu harus buat aku bangga! Kamu kan pintar, pasti mudah bagi kamu untuk memajukan cafe ini. Kita bahas di rumah ya! Udah sore, semoga masih sempat sholat ashar di rumah."
Aku kembali tersenyum. Om Agas yang mengingatkan tentang sholat ashar, padahal biasanya aku.
Aku senang.... senang sekali!
Om Agas mau sholat saja aku sudah senang, ini Om Agas mau sholat bahkan mau mengingatkanku untuk melaksanakan sholat. Kemajuan sekali.
Om Agas terus memberiku kejutan demi kejutan. Mulai dari membelikanku mobil, menolak ajakan rujuk Mbak Tara, membelikanku sebuah cafe dan yang terbaru adalah mengajakku sholat.
Aku harus bersyukur atas segala nikmat yang aku rasakan. Mama juga sudah baik denganku. Rumah tanggaku dan Om Agas juga semakin ada kemajuan. Om Agas sudah menunjukkan rasa cemburunya. Semoga kedepannya rumah tangga kami semakin bahagia dan saling mencintai. Aamiin.
****
"Jadi, nanti kamu akan membuka cafe dan resto?" tanya Om Agas saat kami berunding di dalam kamar.
"Iya, Om. Rencananya sih begitu. Coba Om lihat video ini deh!" kutunjukkan sebuah video tentang promosi cafe. Disana menampilkan cafe yang konsepnya instragamable namun kekeluargaan. "Tari mau yang seperti ini, Om."
"Tapi kalau kayak gini butuh lahan luas. Tanah cafe kayaknya enggak terlalu luas deh! Jangan sampai tak ada tempat parkir dan malah membuat jalanan jadi macet nanti sama pengunjungnya!"
Benar juga yang Om Agas bilang.
"Kita buat versi mini. Di cafe harus ada masakan rumahan dan aneka kue. Tari mau bukan hanya kue buatan luar saja yang menghiasi etalase. Kue khas Indonesia juga harus ada. Tari akan berinovasi dan akan....."
Kami berdiskusi sampai akhirnya kami berdua tertidur lelah....
****
__ADS_1