Duda Nackal

Duda Nackal
Bukan Teh Ini Tapi Teh Itu


__ADS_3

Kami pulang ke rumah setelah adzan maghrib. Tari memutuskan untuk menunaikan shalat ashar dahulu di cafe, baru deh mau aku ajak pulang.


Sepanjang jalan pun dia terus bercerita tentang cafe impiannya. Aku sih senang-senang saja karena aku bisa melihat melalui matanya yang berbinar kalau Ia sangat bersemangat untuk merealisasikan cita-cita yang selama ini hanya dianggap sebagai impian yang jauh dari kata terwujud.


Aku bahkan harus mengingatkan dia untuk minum vitamin yang diberikan oleh dokter. Untunglah Tari tipikal anak yang penurut. Ia meminum vitamin dan kembali berceloteh tentang rencana cafe miliknya lagi.


"Nanti, aku mau buat semacam cafe drive thru. Letak cafe kita kan di depan ya, Bi. Nanti pembeli yang mau pesan bisa sekalian berhenti tanpa harus turun dari mobil." cafenya saja belum buka, eh Ia sudah punya ide baru membuat cafe lagi!


"Bukannya sudah ada banyak fastfood yang membuka konsep kayak gini ya? Memangnya bisa bersaing dengan mereka?" tanyaku menyangsikan idenya.


"Justru disana peluang kita, Bi. Fastfood itu biasanya kan hanya menjual menu junkfood saja. Ayam goreng dan kentang. Bosen lama-lama! Kalau cafe kita nanti, akan menjual makanan siap santap namun selera orang Indonesia. Misalnya pagi-pagi kita jual nasi ulam, bukan nasi uduk kayak di fast food terkenal itu namun rasanya agak aneh! Atau kita jual ketupat sayur gitu! Kita buat menu sarapannya tiap hari berbeda. Menu makan siang dan malam juga kita bedakan. Jadi lebih bervariasi."


"Benar sih. Tapi berapa sih jumlah karyawan kamu? Jangan bandingkan dengan restoran fastfood yang karyawannya banyak. Kamu baru merintis usaha. Laporan keuangan kamu saja masih minus."


Tari tak menyanggahku. Ia terdiam ternyata. Aku baru saja hendak melirik ketika kumendengar isak tangisnya.


Ya Allah... Dia mellow lagi!


Bagaimana kalau bayiku ikut bersedih?


"Sayang... Maafin Abi ya! Abi enggak bermaksud menghancurkan impian kamu! Abi minta maaf oke? Abi salah! Nanti kita buat cafe drive thru sesuai yang kamu mau!" aku berusaha membujuk Tari. Jangan sampai Ia terus bersedih.


"Enggak... hiks... Usah. Tari tau.... hiks... Ide Tari memang....kampungan hua...... Maklum aja... hiks... Tari kan anak kampung... hiks... Mana ngerti tentang cafe... huaaaaa...." pecah sudah tangisnya.


Aduh... Ini bawaan bayi kali ya? Sensitif sekali, senggol bacok!


"Enggak kok, Tari idenya cemerlang. Abi aja yang kampungan. Abi kurang memahami maksud Tari. Yaudah kita buat seperti yang Tari mau ya!" bujukku lagi.


"Enggak usah bohong deh, Bi! Tari memang kampungan!"


Kami akhirnya tiba di rumah, Tari langsung turun dan menutup pintu mobilku dengan kencang.


Wah... Tari marah lagi nih!


Aduh... Cara membuatnya tidak marah lagi gimana ya?


Aku terus berusaha membujuk Tari yang sejak tadi tak berhenti menangis. Aku sudah curiga sejak awal, Tari bukan tipikal cewek cengeng. Jadi, saat Ia berubah menjadi gadis cengeng yang hobby sekali menangis pasti ada sesuatu. Dan hamil adalah alasan paling masuk akal.


"Tari mau Abi pijitin kakinya?" tanyaku setelah Tari tak lagi menangis tapi wajahnya masih ditekuk kesal.


"Enggak usah!" jawabnya ketus.

__ADS_1


"Mau minum susu hangat enggak? Abi buatin deh khusus untuk bumil cantiknya Abi." biarlah sedikit gombal, asal Ia tak lagi marah-marah.


Tari menatap ke arahku lalu mengangguk pelan. "Susu cokelat aja! Jangan banyak-banyak!"


"Oke! Siap Bos!"


Aku tersenyum, lumayan usahaku membuahkan hasil. Jangan ngambek terus ya, Sayang!


Aku menuangkan susu cokelat ke dalam gelas lalu menghangatkannya di microwafe. Tak lupa aku mengambil cemilan untuk Tari makan.


Sejak tadi Ia terus ngambek sampai tak mau ikut makan malam yang sudah aku belikan. Pasti Ia lapar. Untunglah ada cake hasil percobaannya di dapur. Kuambil sepotong dan kuhidangkan bersama susu hangat.


"Sayang! Susunya datang! Aku bawain cemilan juga loh buat kamu." aku menaruh nampan di dekat Tari. Ia melirik namun tak mengambil susu yang aku buatkan.


"Ayo dimakan! Kamu pasti lapar kan?" tebakku.


Ternyata tebakkanku salah. Tari menggelengkan kepalanya. "Tari maunya teh manis hangat aja, Bi. Ngeliat susu kok kayaknya enggak enak ya?"


"Dicoba dulu! Kamu kan belum nyoba makanya bilang enggak enak. Kalau kamu nyoba pasti kamu tau deh kalau susu buatanku tuh enak banget!" aku berpromosi layaknya seorang marketing. Pasti ini berhasil! Aku kan dulu marketing yang handal!


"Enggak ah, lebih baik Tari tidur aja daripada nyobain susu enggak enak kayak gitu!" tolaknya.


Aku salah perkiraan. Anak itu menolak mentah-mentah susu hangat buatanku? Siapa sih ayah anak dalam kandungannya? Ngeselin banget!


Oke, tenang dulu. Jangan emosi. Bagaimanapun anak itu adalah anakku. Sifatnya pasti enggak jauh beda denganku makanya Tari jadi jutek dan nyebelin. Ya, aku sadar sih selama ini aku nyebelin kayak gitu. Sabar.... Sabar...


"Aku buatin teh manis hangat ya buat kamu!" Aku menaruh nampan yang kubawa diatas nakas. "Kamu bisa makan cemilannya supaya enggak lapar."


"Oke!" Tari tersenyum, berarti marahnya sudah reda.


Aku pun ke dapur dan membuatkan teh manis hangat. Sengaja kubuatkan teh mahal yang biasa digunakan di hotel berbintang. Pasti Tari suka!


Aku pun membawakan teh buatanku. Tari tersenyum senang melihat dari kejauhan gelas berisi teh yang kubuatkan sepenuh hati.


Tari menerimanya dengan mata berbinar. Ia menghirup harum teh lalu senyum di wajahnya menghilang. "Teh apaan ini, Bi? Kok wanginya beda?"


"Teh mahal yang biasa Mbak Inah buatkan untukku. Teh ini harganya bisa 5x lipat lebih harga teh pada umumnya." kataku penuh kesombongan.


"Enggak ah! Tari enggak mau teh kayak gini! Tari mau teh yang biasa aja! Teh apaan kayak gini? Enggak enak baunya!" Tari mengembalikan lagi cangkir yang dipegangnya.


"Ini wangi bunga chamomile, Sayang. Harum. Bukan bau!" lagi-lagi aku berusaha membujuk Tari.

__ADS_1


"Tari enggak mau, Bi! Tari tidur ajalah kalau kayak gitu!" ancamnya lagi.


"Oke! Abi buatin lagi buat kamu! Sesuai request dari tuan putri ya! Tunggu aku!"


Aku menaruh cangkir teh diatas nakas. Bersebelahan dengan susu cokelat hangat yang tadi kubuat. Kulirik kue yang di piring kecil. Sudah Ia makan, syukurlah. Setidaknya perutnya tidak kosong.


Aku lalu pergi ke dapur dan membuat teh yang biasa Mbak Inah buat untuk tamu. Teh kemasan warna biru yang ternyata lebih Tari inginkan dibanding teh mahal milikku.


Semoga kali ini Tari mau minum!


Aku masuk ke dalam kamar. Tari sedang bermain Hp dan mengangkat wajahnya saat aku datang. "Akhirnya datang juga! Mm... wanginya sudah bisa Tari cium!"


Aku tersenyum meski dalam hati menahan sabar. "Iya dong! Ini teh spesial buat bumil!"


Tari menerima teh buatanku dan seteguk.... lalu ditaruhnya diatas nakas. "Udah. Makasih ya, Bi!"


Seteguk...


Hanya seteguk saja?


Aku bolak balik ke dapur dan Ia hanya minum seteguk saja?


"Tari bobo duluan ya, Bi. Nanti habiskan saja minumnya. Sayang, mubazir!" Tari menaruh Hp miliknya diatas nakas, menarik selimut menutupi tubuhnya dan tertidur pulas.


Aku terdiam...


Aku terdiam...


Ini serius?


Cuma seteguk aja?


Lalu itu susu cokelat, teh aroma chamomile dan teh yang sudah diminun seteguk buat siapa?


Ya Allah... Sabar... Sabar.... Agas kecil, kamu kok demen banget ngerjain Abi kamu ya?


Kuambil cangkir diatas nakas lalu kuhabiskan satu per satu. Mubazir. Oke, tahan aja Gas... Tahan...


Aku menaruh ketiga cangkir dan piring bekas cemilan lalu pergi ke toilet. Kebelet pipis. Terlalu banyak cairan di tubuhku. Sabar Gas... Itu anakmu. 100% anakmu! Yakinlah itu!


****

__ADS_1


__ADS_2