Duda Nackal

Duda Nackal
Resepsi Pernikahan Bastian


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Aku hari ini akan mengantar Tari ke cafe. Sudah ada pekerja disana yang kubayar untuk mendekor ulang cafe sesuai keinginan Tari.


Aku membawa banyak barang yang waktu itu kami belanjakan. Membantu menatanya di cafe sebelum cafe dibuka.


Tari sudah membuka lowongan untuk karyawan cafe. Aku mewawancarai dan Ia bertugas mengetes kemampuan karyawan yang lolos seleksiku.


Aku sengaja membuat Tari sibuk dengan cafe agar tidak terus menerus sedih karena memikirkan Mama Irna yang sudah membuatnya bermimpi memiliki keluarga namun menghilang tanpa kabar.


Aku bisa saja menghubungi Mama Irna. Namun buat apa? Seakan Tari mengemis minta kabar keluarganya yang selama ini menelantarkannya. Huh...


Tari sudah bahagia hidup denganku. Tak akan kubiarkan Ia sedih lagi. Aku memang banyak membuatnya sedih, tapi ada orang lain yang akan menambah kesedihannya membuatku tak terima.


"Om, jangan melamun aja dong! Ayo bantuin!" ujar Tari menyadarkanku dari lamunanku.


"Iya!" jawabku. Aku kembali membantunya mendekor cafe. Sebenarnya aku membuat cafe ini tanpa perencanaan. Tari saja belum lulus kursus tapi aku sudah nekat membuatkannya usaha.


Aku hanya yakin, Tari memiliki kemampuan. Pasti cafe ini akan sukses pada akhirnya.


Aku menaruh kasur kecil di dalam ruangan yang ada di bagian belakang cafe. Sengaja aku menaruhnya agar kalau Tari lelah bisa beristirahat sejenak.


Beberapa hari kami habiskan mendekor cafe. Meski memakai jasa design interior tetap saja aku dan Tari turun tangan. Cafe yang menjadi cita-citanya harus sesuai dengan apa yang Ia inginkan. Bukan sekedar bagus saja.


Aku sudah menceritakan pada Tari tentang keputusanku menerima Tara bekerja di perusahaanku. Tari bilang tak apa dan memberikanku kepercayaan sepenuhnya.


Sifat ini yang aku suka dari Tari. Ia membebaskanku asal aku bisa menjaga kepercayaan yang Ia berikan.


"Kamu bahagia?" tanyaku setelah semua karyawan yang mendekor sudah pulang. Cafe ini sudah jauh lebih keren dari sebelumnya. Ada hiasan lampu kelap kelip membuat suasana terlihat lebih hidup dan pastinya akan menarik perhatian banyak pengunjung.


"Bahagia sekali. Om memang baik sekali. Demi cita-cita Tari, Om sampai mengeluarkan banyak uang!" ujarnya dengan mata berbinar-binar.


"Uang bisa dicari. Membuat orang lain bahagia belum tentu. Apalagi membuat kamu bahagia. Itu yang aku mau."


Tari menyandarkan kepalanya di lenganku. "Makasih banyak, Om. Menikah dengan Om adalah kebahagiaan dan anugerah terbesar yang Tari miliki."


"Sama sepertiku, menikahi kamu adalah hal yang patut aku syukuri. Aku tak menyesal sama sekali dengan keputusanku. Kamu banyak membawa perubahan baik dalam hidupku. Aku tak bisa bayangkan, jika tidak dengan kamu mungkin hidupku masih berkecimpung dalam kehidupan penuh dosa." kataku sambil membelai rambutnya yanga halus.

__ADS_1


Kami menatap cahaya kerlip lampu di lantai atas cafe. Layaknya dua orang yang saling mendukung satu sama lain.


****


Tari mengenakan kebaya yang aku belikan sebelum menikah. Kebaya seksi yang awalnya untuk pernikahan kami akhirnya Ia gunakan untuk menghadiri pernikahan Bastian.


Timbul rasa tak rela saat melihat belahan dad* Tari terlihat begitu menggoda siapapun yang melihatnya. Mau bagaimana lagi, memang bentuk tubuh Tari yang seksi membuatnya terlihat semakin seksi saja.


"Kita enggak usah kondangan aja kali ya! Kita ngamar lagi aja gimana?" godaku. Tari begitu cantik malam ini. Meski Ia terlihat agak kurusan namun tak mengurangi kecantikan alaminya. Make up minimalis yang Ia pakai hari ini membuat kecantikannya semakin terpancar.


"Om ih! Ini pernikahan sahabat Om loh! Masa sih enggak datang? Ngamar sih nanti saja! Masih bisa kapan-kapan kok!" tolaknya.


Aku memanyunkan bibirku. "Maunya sekarang! Enggak tahan liat kamu secantik ini!" kataku merajuk manja.


"Sudahlah! Ayo kita berangkat nanti kesiangan!" Tari mengandeng lenganku.


Kami pun pergi ke acara resepsi Bastian yang diadakan di salah satu hotel bintang lima secara meriah. Wajar saja, Bastian memang berasal dari keluarga kaya raya. Sifatnya yang tidak sombong dan sering membelaku membuat persahabatan kami semakin dekat saja.


Tari menggandeng lenganku dan memandang sekeliling ruangan ballroom yang disulap menjadi pesta pernikahan paling megah yang pernah Ia datangi. Aku jadi merasa tak enak hati. Pernikahan kami hanya ijab kabul saja, tanpa ada teman dan pesta seperti ini.


Aku melirik ke arah Tari. Tak ada kesedihan dalam wajahnya, malah Ia begitu terpukau. Sunggu polos hatinya, tak ada rasa iri ingin seperti orang lain.


Aku menahan tawa mendengarnya. "Mahal yang pasti!" balasku.


Ia lalu membisikkan sesuatu lagi. "Sayang ya uangnya! Bisa buat beli rumah daripada pesta mewah cuma sehari saja."


"Udah jangan dipikirin! Ayo kita kasih ucapan selamat pada Bastian!"


Aku dan Tari pun mengantri ingin memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Bastian terlihat gagah dengan setelan jas warna silver yang sama warnanya dengan gaun pengantin pasangannya.


"Congrats, Bro!" kataku sambil memeluk Bastian.


"Makasih, Gas! Semoga gue bisa serukun kalian ya!"


Aku tersenyum. Tari pun ikut mengucapkan selamat.


"Kamu mau makan apa?" tanyaku setelah kami sudah sampai di bawah singgasana pengantin.

__ADS_1


"Apa ya? Makan dimsum aja deh, Om."


"Tunggu disini, biar kuambilkan!" aku mengambil dua porsi dimsum dan ikut antrian yang tidak begitu ramai ini.


Sambil mengantri aku mengawasi Tari. Ada beberapa cowok yang mengajaknya bicara namun Ia tak menanggapi. Pasti kecantikannya membuat kumbang lain ingin menikmatinya.


"Bini lo banyak yang godain, Gas!" ujar Riko yang datang menghampiriku untuk menyapaku.


"Yoi! Gue lagi perhatiin nih. Kalau ada yang mau bawa kabur nanti gue sleeding!" kataku.


"Posesif bener. Tapi gue akuin memang bini lo tuh cantik. Lo kayak nemuin intan yang belum digosok. Semakin terlihat cantik saat lo mengenalnya." komentar Riko.


"Ya begitulah. Semakin hari, gue semakin mengaguminya. Kepribadiannya, kepintarannya, kecantikannya dan berbagai kelebihan lainnya yang Ia miliki namun tidak dimiliki wanita lain." pujiku dengan bangga.


"Percaya gue. Lo udah punya bini begitu harus dijaga. Kalau gue ada di posisi lo, udah taubat gue. Hidup gue makin bener! Jarang ada perempuan seperti bini lo!" nasehat Riko.


Perkataan Riko sangat benar. Aku pun mengamini perkataannya. "Iya. Makanya hidup gue lebih bener sekarang."


"Eh Gas, itu bukannya Damar ya yang deketin bini lo?" tanya Riko saat aku mengambil dua porsi dimsum. "Sok akrab bener sama bini lo!"


Aku tak bisa diam kalau Damar yang deketin. Aku pun menghampiri Tari dan berdehem untuk memberitahu keberadaanku.


"Ehem!" aku berhasil mengalihkan perhatian keduanya sampai melihat ke arahku. "Maaf ya Sayang lama. Antri." kuberikan dimsum yang kubawa pada Tari satu.


"Makasih, Om."


Aku menatap Damar dengan sinis. "Diundang juga ke acaranya Bastian? Kirain Bastian udah ogah kenal sama lo!" sindirku.


Damar tersenyum malas. "Bukan Bastian yang ngundang. Istrinya Bastian masih sepupu gue."


"Sayang, kita pindah yuk! Aku agak gerah nih disini!" ajakku.


Tari melihatku dan Damar bergantian. "Mas Damar kalau mau ngomong sama Om Agas, ngomong aja!"


Damar mau bicara denganku? Apa lagi yang mau dia bicarakan? Aku tak mau bicara kalau tak ada Tari di dekatku.


"Gas, gue mau ngomong sama lo!" ujar Damar.

__ADS_1


****


__ADS_2