Duda Nackal

Duda Nackal
Teror Baru


__ADS_3

Aku berusaha membujuk Tari yang sedang menangis menyalahkan dirinya sendiri. Semua bukan karena Tari. Semua karena ulahku, karena kenakalanku.


"Kamu tenang saja, biar aku yang urus semuanya. Tak apa aku sedikit lebam kayak gini. Pegang kata-kataku, berani mereka maju dan menyakiti kamu maka aku akan semakin nekat dan memutarbalikkan keadaan. Kamu menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat mencintai kamu. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi kamu dan keluargaku. Jangan menangis! Kamu berani dan kamu bisa menghadapi semua ini."


"Tapi...... hiks... Abi sampai terluka begini... Tari nggak tega ngeliatnya. Apa yang bisa Tari bantu untuk membantu Abi menyelesaikan masalah ini ?" lalu Tari seperti mengingat sesuatu. "Tari lupa, Tari punya sesuatu yang bisa membantu Abi."


Tari menghapus air matanya dan mengambil handphone miliknya yang ada di atas nakas. "Kemarin, waktu Vira mau membuat fitnah di cafe ini Tari sudah mengumpulkan bukti. Vira berusaha menjatuhkan nama baik cafe kita, dan Tari merekam semua percakapan beserta tipu muslihat yang Vira lakukan."


Tari menunjukkan video saat mereka berbicara dan apa yang dilakukan Vira dengan berpura-pura muntah namun ternyata Tari sudah mengosongkan cafe jadinya rencana Vira gagal total. Pintar sekali dia. Menjebak namun mangsanya tak menyadari kalau telah masuk jebakan yang dibuat oleh Tari.


"Yang Vira tahu hanyalah video milik salah satu karyawan cafe, Vira nggak tahu kalau sejak awal handphone Tari merekam semua percakapan kami dan Tari sembunyiin di dalam pot bunga. Simpanlah! Bisa dipakai untuk menguatkan posisi kita berdua. Kita harus bekerja sama melawan Vira. Awalnya, Tari takut. Tari nggak mau melihat Abi terluka. Namun, melihat keadaan Abi sekarang Tari sangat marah!"


"Abi benar, Tari harus berani. Selama ini, Tari terlalu takut melawan Vira dan kekuasaan Papanya. Zaman dulu enggak ada yang namanya kekuatan sosial media. Saat seseorang dijatuhkan dengan fitnah, apalagi oleh orang yang punya kekuasaan maka hidup orang tersebut bisa habis dalam waktu sekejap. Tak ada yang mempercayai ucapan orang susah macam Tari dan Ibu. Tak ada yang mendengar kebenaran yang keluar dari mulut rakyat lemah seperti kami. Semua lebih percaya pada omongan Papanya Vira yang begitu berkuasa dan punya banyak uang,"


"Melihat Abi yang berjuang seorang diri, Tari nggak bisa tinggal diam. Melihat Abi yang pulang dengan babak belur seperti ini, Tari sangat marah. Tari sudah berusaha mengalah selama ini dengan semua perbuatan Vira. Tapi saat Abi dilukai, Tari nggak bisa tinggal diam. Kalau kita bersatu, pasti bisa mengalahkan Vira dan Papanya. Tadi, Bastian cerita sama Tari apa yang terjadi. Tentunya setelah para karyawan Tari suruh keluar dulu. Tari tahu Abi berbuat semua ini karena Abi sayang sama Tari. Dan Abi merasa malu karena sejak kemarin Tari cuma kabur dan bersembunyi di balik ketakutan Tari sendiri. Abi berjuang seorang diri dan Tari sebagai seorang istri hanya diam dan begitu ketakutan,"


"Sekarang nggak lagi, Bi. Tari enggak mau selamanya hidup dalam ketakutan. Tari enggak mau selamanya melihat satu persatu orang yang Tari sayangi dihancurkan oleh Vira. Apa yang bisa Tari bantu lagi?" aku melihat keberanian dalam sorot mata Tari. Begitu cepat Ia berubah dari menangis menyalahkan diri sendiri menjadi sosok Tari pemberani seperti yang kukenal.

__ADS_1


"Yang perlu kamu lakukan adalah... pulang ke rumah dan temani aku. Aku kangen sama kamu. Aku mau kita bersama-sama terus karena kita enggak tahu kapan kita akan dipisahkan. Namun kamu tenang aja. Segala cobaan pasti akan bisa kita lewati bersama. Kita akan menjalani masa-masa sulit ini, semua bukti yang kita kumpulkan akan Abi simpan di satu tempat yang sangat aman dan gak ada seorang pun yang berpikir bisa menemukannya. Tadi tuh, hanyalah handphone jelek Abi yang Abi bawa kesana."


Aku lalu membuka lemari nakas di samping tempat tidur Tari. Handphone sebenarnya milikku tersimpan di sana. "Kamu nggak usah khawatir, aku nggak menyimpan barang bukti di sini. Enggak ada yang tahu aku menyimpannya dimana. Kirimkan bukti kamu ke handphone aku, lalu aku akan menyimpan di tempat yang sangat aman dan tak ada seorang pun yang tahu."


"Dimana?" tanya tari penasaran.


"Ada deh. Kamu nggak perlu tahu. Semakin sedikit informasi yang kamu tahu, maka kamu akan semakin aman. Nanti, saat terjadi apa-apa denganku atau saat aku memberikan perintah maka orang tersebut akan mengupload semua barang bukti ke media. Kamu tenang aja. Meskipun kita gak sekaya Vira dan tidak seberkuasa Papanya, tapi kita punya sahabat yang mau membantu kita di saat susah."


Tari mengangguk dan setuju dengan perkataanku. Namun ternyata, rasa khawatir kami tak bisa begitu saja hilang. Suara gaduh di depan membuat kami cepat-cepat keluar. Dengan menahan rasa sakit di tubuh, aku keluar untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.


"Ada apa?" tanyaku pada salah seorang karyawan yang terlihat panik.


Wajah karyawan Tari terlihat ketakutan juga. "Itu pak, ada yang melempari kaca depan dengan batu."


"Hah? Mana orangnya?" aku baru saja hendak menghampiri ketika lenganku ditarik oleh Tari.


"Abi jangan kemana-mana! Abi Lagi terluka. Tari enggak mau Abi tambah terluka lagi nantinya!" larang Tari dengan wajahnya yang sangat khawatir. Aku juga nggak akan membiarkan Tari ke depan. Aku akan berada di sampingnya dan melindungi istri dan anakku.

__ADS_1


Semua pengunjung bubar dan meninggalkan Cafe dengan ketakutan. Bastian yang ternyata belum pulang, kembali dengan nafas tersengal dan penuh keringat di wajahnya.


"Ada apa Bas?" aku langsung menanyai Bastian yang baru saja datang.


"Ada orang yang lempar kaca cafe dengan batu. Tuh, kamu lihat di depan, kaca berserakan. Batu sebesar kepalan tangan dilemparin. Untung saja tidak ada yang terluka. Cuma, pengunjung jadi takut dan semua berlarian. Gue baru mau pulang, baru aja keluar dari cafe eh itu batu melayang di samping gue. Gua lihat orangnya dan gue kejar. Ternyata di depan temennya udah nunggu naik motor. Nggak bisa gue kejar. Security juga udah bantu ngejar, namun ternyata kita berdua kehilangan jejak. Tapi CCTV sempat nangkep nomor plat nomornya sih. Ada kamera di dalam mobil gue juga yang sempat merekam aksi orang itu. Gue bakal bikin laporan ke kantor polisi udah lo di sini aja. Lo masih terluka. Lebih baik lo jaga Tari. Saran gue, cafe ini tutup dulu. Percuma juga, pengunjung juga enggak mau datang karena takut. "


"Sialan! Siapa yang udah main kotor kayak gini? Bakalan gue cari orangnya! Makasih banyak ya Bas. Kalau bukan karena lo, mungkin orang itu bakalan berlaku lebih nekat lagi di cafenya Tari." kataku penuh emosi.


"Gue bakalan nyuruh anak-anak buat nyari tahu siapa pelakunya. Sony dan Rico juga udah gue kabarin tentang apa yang terjadi sama lo. Mereka bakal bantu lo kok. Sekarang lo pulang aja dan lo jaga Tari. Lo juga jangan emosi, fisik lo masih lemah. Enggak bisa buat melawan. Kalau bisa sih, lo pergi aja dulu ke luar kota. Tapi, gue yakin mereka akan tetap mengejar lo sih."


"Enggak, Bas. Bakalan gue hadepin disini. Gue udah dapat barang bukti lagi tentang rencana Vira buat ngejatuhin Cafe ini. Kali ini, gue yakin yang nyuruh untuk meneror cafe Tari adalah Vira. Motifnya pun sama. Biar gue yang bales dia."


Aku pun mengirimkan video yang dikirimkan oleh Tari. Aku potong video tersebut tepat di saat Vira berpura-pura muntah. Aku beri tulisan di bawahnya: Aku tahu kamu yang mengirimkan orang untuk membuat kerusuhan di cafenya Tari. Kalau kamu melakukan hal ini lagi, maka video kamu akan aku sebar!"


Bastian lalu mengantarku dan Tari pulang ke rumah. Ia tak membiarkan kami berdua pulang sendiri dengan kondisi tubuhku yang seperti ini. Malam harinya, Rico dan Sony datang ke rumah dan menanyakan apa yang sudah terjadi. Kuceritakan semuanya dan mereka mau membantu. Mereka juga menginap di rumahku untuk menjagaku dan Tari.


****

__ADS_1


__ADS_2