Duda Nackal

Duda Nackal
Memeriksa Cafe Baru


__ADS_3

Tari


Cici terlihat sangat terkejut dengan alasan yang aku kemukakan. Ia pikir, Abi sejak awal menikah denganku karena memang sangat mencintaiku. Namun kenyataannya, pernikahan kami tidak dilandasi dengan cinta. Abi baru mencintaiku setelah kami hidup bersama dan saling mengenal satu sama lain.


"Kamu pernah hampir dijual? Aku nggak menyangka kalau hidup kamu bahkan lebih menyedihkan dari kisah hidup aku! Setidaknya, meskipun orang tuaku bukanlah orang tua yang berkecukupan namun mereka sangat sayang padaku dan bekerja keras agar aku bisa menyelesaikan kuliahku tepat waktu,"


"Aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Om Agas memang sangat baik. Kalau bukan karena Om Agas, aku sudah pulang ke kampung dan mungkin dinikahkan dengan siapa aja yang mau. Maklum, kalau di kampung itu usiaku sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Sudah dianggap sebagai perawan tua yang sudah seharusnya menikah. Om Agas yang meyakinkanku untuk melanjutkan kuliahku. Meskipun kami punya masa lalu yang buruk, aku banyak belajar dari Om Agas tentang kebaikan dan bagaimana menjalani hidup yang benar,"


"Aku justru yang mau meminta maaf sama kamu. Aku sempat menjadi orang yang egois dan menginginkan Om Agas. Kini aku sadar, Om Agas tak pernah mencintaiku. Aku yang selama ini menawarkan kenikmatan padanya. Itu pun tidak diambil semua sama Om Agas. Ah sudahlah! Kita enggak usah membahas masa lalu lagi. Kita bahas masa sekarang aja. Kamu sibuk apa sekarang? Cuma jadi Ibu rumah tangga aja? Aku enggak yakin! Kamu kan orangnya rajin, pasti enggak bisa diem deh mau melakukan sesuatu." tanya Mbak Cici.


"Sekarang sih belum ada kesibukan. Namun kemarin, aku sempat membuka Cafe. Sayangnya, karena ada yang menebar teror jadinya pengunjungnya pada pergi deh. Sekarang cafe kesayanganku sepi. Rencananya, weekend besok kami akan mulai promosi ulang. Terus, aku juga mau membuka cabang, di dekat sini juga ada. Tapi nanti, masih dalam proses renovasi. Sekarang sih aku fokus sama cafe yang sepi aja dulu, mau meramaikan lagi."


"Cafe? Dimana? Kasih aku alamatnya. Kamu lupa kalau aku ini mahasiswa yang suka nongkrong? Akan aku kerahkan massa untuk meramaikan cafe kamu!" kata Cici dengan penuh semangat.


"Beneran Mbak? Wah aku senang banget Mbak mau membantu aku. Makasih banyak loh Mbak. Aku sebenarnya enggak enak sama Abi. Belum balik modal sudah sepi cafenya." kataku dengan sedih.


"Aku kan harus membalas jasa Pak Agas. Weekend ya promonya? Aku kirim chat dulu ya sama teman-temanku. Aku ramaikan cafe kalian. Siapin stok makanan yang banyak ya! Teman-temanku banyak yang anak orang tajir kok, tenang saja!"


Aku tersenyum senang, pantas Abi begitu menjaga Mbak Cici selama ini. Mbak Cici memang baik dan anaknya asyik. Untunglah Abi tak mencintai Mbak Cici, bisa jadi saingan beratku nanti kalau Mbak Cici dan Abi saling suka!


Pembeli pun mulai berdatangan, aku tak mau mengganggu Mbak Cici yang harus bekerja. Aku pamit dan pergi ke lantai atas. Aku mengetuk pintu ruangan Abi dan masuk saat Abi mengijinkan.


"Udah ngobrolnya?" tanya Abi yang hanya sekali mengangkat pandangannya dan kembali sibuk dengan laporan yang sedang diperiksanya.


"Udah. Di bawah udah mulai ramai, enggak mau gangguin Mbak Cici kerja." aku duduk di sofa dan memainkan ponselku. Menunggu tanpa melakukan sesuatu itu membosankan. Lebih baik belajar menu-menu baru untuk cafe nanti.


"Mau pergi sekarang? Aku selesaikan ini dulu ya sebentar."


"Iya, tenang aja. Abi kerjain aja dulu."


Aku kembali memainkan Hp dan melihat menu soto. Aku jadi kepengen makan soto namun Abi yang jadi pelayannya. Kayaknya enak deh.


"Bi!" panggilku.


"Kenapa Sayang?" tanya Abi.

__ADS_1


"Aku mau sesuatu nih!"


Abi langsung menjatuhkan pulpen yang Ia pegang, wajahnya terlihat tidak semangat.


"Kalau Abi sibuk enggak usah aja." aku jadi tak enak hati. Meski bayangan memakan soto dengan Abi sebagai pelayannya membuat perutku kerucukan.


"Kalau buat kamu, Abi enggak pernah sibuk Sayang. Mau apa?" Abi memasang senyum di wajahnya. Aku tahu senyum itu pasti senyum terpaksa.


Aku ragu-ragu mengatakannya. Tak mau mengganggu Abi yang sedang bekerja. Abi tahu apa yang kupikirkan, Abi lalu menutup laporannya dan berjalan menghampiriku. Abi pun duduk di sampingku. "Apa yang kamu mau? Bilang saja. Kalau Abi bisa, pasti Abi kabulkan."


"Aku... Mau makan soto."


"Soto di depan? Tempat kamu kerja dulu?" tanya Abi memastikan.


Aku mengangguk. "Iya. Tari mau itu."


"Yaudah Abi pesankan dulu ya!" Abi baru saja hendak menelepon anak buahnya ketika aku memberhentikan langkahnya.


"Tari mau... Abi yang mengantarkannya. Abi jadi pelayannya!"


"Oke! Siap, Bos! Abi beliin dulu ya." Abi pergi tanpa banyak protes dan tak lama kembali dengan nampan berisi soto dan nasi.


Ini yang aku mau. Melihat Abi datang membawa nampan soto. Aku pun makan dengan lahap, padahal tadi aku sudah sarapan di rumah. Sekarang aku jadi lapar lagi.


"Makannya pelan-pelan Sayang. Abi enggak minta kok. Abi kerja lagi ya!"


Aku mengangguk dan sibuk menghabiskan makananku yang terasa amat lezat ini. Dulu aku sampai bosan mencium baunya, kini malah makan dengan lahap. Maklumlah, bumil maunya makan yang enak-enak dan bergizi tentunya.


Selesai makan aku menunaikan sholat dzuhur berjamaah. Ternyata pekerjaan Abi masih belum selesai. Sudah lama tidak ke kantor membuat pekerjaan Abi menumpuk.


Tanpa kusadari, aku ketiduran di sofa. Tidurku begitu pulas karena perut kenyang. Abi tak membangunkanku, namun saat pintu ruangan Abi ada yang mengetuk aku terbangun.


"Maaf, Pak. Ini berkas tambahannya." ujar salah seorang karyawan Abi.


"Baik terima kasih."

__ADS_1


Abi lalu menatap ke arahku dengan perasaan bersalah. "Maafin Abi ya. Sedikiiit lagi selesai ya!"


"Sedikit terus! Tari pulang aja ya kalau ganggu Abi?!"


"Jangan! Jangan pulang dong! Abi minta 10 menit ya! Baru kita pergi!"


Lalu kembali aku merasa sensitif. Air mata mulai membasahi wajahku dan aku merasakan kesedihan. "Abi bohong terus hiks..." kataku sambil terisak.


Abi berdiri dan membawa berkas yang belum diperiksanya. "Kita pergi sekarang! Abi enggak suka bohong kan? Cup cup... Ayo kita lihat cafe!"


Aku tersenyum. Abi baik sekali sih...


Abi mengajakku ke cafe baru milikku. Ya, milikku. Cafe ini sudah atas namaku. Aku tak menyangka bisa punya 3 buah cafe dalam waktu singkat. Semua berkat kepintaran Abi dalam bernegosiasi.


Cafe masih dalam proses renovasi. Aku mengajukan konsep cafe yang sama seperti sebelumnya. Cafe keluarga. Papan nama cafe sudah dipesan. Rencananya sama dengan yang sebelumnya.


TARBI CAFE


Perpaduan nama Tari dan Abi. Aku mengusulkan nama AGTAR CAFE alias Agas Tari namun Abi tolak. Abi lebih suka nama Abi dibanding Agas. Lebih beriman katanya. Terserah Abi-lah.


Meski konsepnya sama namun dekorasinya berbeda. Di cafe ini ada mural di dindingnya yang membuat cafe tetap bisa menjadi spot foto yang menarik.


Lokasinya meski tidak di samping showroom Abi, namun tidak terlalu jauh. Masih satu deretan.


"Suka?" tanya Abi. "Aku sendiri yang memastikan kalau cafe ini sesuai dengan selera kamu."


Aku mengangguk dan tersenyum senang. "Suka banget. Makasih ya Bi. Kalau bukan karena Abi, mana mungkin impian Tari akan menjadi kenyataan seperti ini?"


Abi mengusap rambutku. "Sama-sama, Sayang. Impian kamu adalah kebahagiaan buat Abi."


****


Hi Semuanya... Jangan lupa vote, like dan komen ya! Ayo komen yang banyak nanti aku pilih komen terbaik yang aku umumkan di IG aku: Mizzly_


Maacih semua 🙏😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2