
"Sayang, Abi parkirin mobil dulu ya!" kataku dengan sabar.
Dalam hatiku berharap semua yang ada disini tidak berpikir aku bukanlah lelaki tak bertanggung-jawab. Aku suaminya loh!
"Sebentar ya Sayang. Cuma parkirin mobil aja. Kamu sama Mbak Inah aja ya?!" bujukku.
"Enggak mau! Pokoknya Abi enggak boleh pergi! Semua karena Abi! Kalau Abi enggak ngehamilin Tari enggak akan sesakit ini!"
Kembali kulihat tatapan mata tersorot padaku. Ya Allah Sayang... Kenapa kamu jadi seperti ini? Mana Tari yang kalem dan sabar yang kukenal?
"Iya, Abi temenin kok!" kuberikan kunci mobil pada security agar dibantu memarkirkan.
"Tolong ya, Pak!" pintaku dengan sangat.
"Baik, Pak. Silahkan ditemani saja istrinya!" kata security yang mengerti sekali keadaanku itu.
Aku mendekatkan diri pada Tari. Membantu perawat mendorong brankar ke dalam ruang UGD
Malang bagiku, Tari kembali kontraksi. Tau kan saat kontraksi apa yang dicari? Yup, benar. Rambutku!
"Awww! Sakit Sayang!"
Aku berusaha membujuk Tari dan memenangkannya agar tidak teriak-teriak dan menjambakku. Namun sia-sia.
Aku harus terus mendekatkan diri dengan Tari kalau masih berharap punya rambut.
"Istighfar, Mbak!" Mbak Inah tak hentinya menasehati Lara.
"Tenangin diri kamu dulu, Sayang." ujarku sambil berusaha melepaskan diri. Tari terus menjambak rambutku selama dirinya sedang mules dan baru melepaskannya setelah mulesnya hilang.
Cepat-cepat aku menjauh saat Ia melepas rambutku. Air mata sampai keluar dari pelupuk mataku saking menahan sakit dan hanya diam tak bisa mengeluarkan suara.
Mbak Inah memberikanku tempat duduk agar aku bisa lebih menenangkan diri. Tari kini sedang diperiksa oleh perawat.
"Bagaimana istri saya?" tanyaku dengan lemah setelah Tari selesai diperiksa.
"Istri Bapak sudah pembukaan 8. Kami sudah menghubungi dokter kandungannya, kebetulan hari ini dokternya ada dan sedang bersiap untuk proses melahirkan Ibu Tari." Perawat itu terlihat kasihan dengan keadaanku. "Mohon bersabar ya, Pak. Sebentar lagi Anda akan melihat anak Anda!"
Aku mengangguk dan tersenyum lemah. "Terima kasih." jawabku singkat.
Tari lalu dibawa ke ruang bersalin. Sambil merintih kesakitan Ia memegang tanganku erat. Kini tak lagi menjambakku setelah aku memberi jarak aman.
"Abi harus ikut! Tari enggak mau sendirian di dalam sana! Abi harus tanggung jawab!" katanya dengan penuh ketakutan.
__ADS_1
Kenapa ngomong kayak gitu lagi sih Sayang? Kesannya Abi tidak bertanggung jawab saja?!
"Iya. Abi kan janji akan temani kamu!" kuusap keningnya yang berkeringat seraya menciumnya dengan penuh kasih. "Abi akan temani. Kamu tenang ya. Atur nafas dan ikuti apa yang dokternya perintahkan. Kamu masih inget kan pelajaran saat senam hamil? Jangan sampai kamu kelelahan dulu."
Tari kini mendengarkan setiap perkataanku. Ia mengangguk dan terlihat menguasai dirinya.
Aku tahu rasa mules dan sakit dalam dirinya saat ini yang tak bisa aku rasakan. Semua demi melahirkan buah hati kami tercinta.
Aku pun mendampingi Tari masuk ke dalam ruang bersalin. Dokter menyapaku dengan ramah dan siap dengan tugasnya.
Di dalam ruang bersalin, Tari kembali menjerit kesakitan. Aku selalu mengingatkannya untuk istighfar dan baca doa.
Di sela rintihan kesakitannya, Tari melantunkan doa. Membaca surat-surat pendek seraya terus menggenggam tanganku erat.
Ia lebih tenang dan mendengarkan apa yang dokter perintahkan. "Tahan dulu Bu.... Jangan mengejan dulu... Tahan...."
Sambil mengatur nafasnya dan aku yang di sampingnya ikut bagaimana Ia bernafas karena reflek dan ingin Ia mencontoh apa yang dokter suruh.
Tubuhku mulai agak lemas saat melihat darah. Aku harus kuat... Kuat... Jangan sampai pingsan...
Lalu yang kami nantikan pun hadir...
Oek...oek....oek....
Suara tangisan bayi yang kencang seakan pertanda kalau usaha kami berhasil.
"Bayinya laki-laki ya, Pak!" ujar Dokter memberitahukan.
Aku tersenyum dan menangis penuh haru. "Sayang! Kamu dengar kan? Anak kita laki-laki! Anak kita sudah lahir!"
Tari tersenyum sambil menangis haru. Ia seakan tak merasakan sakit lagi padahal justru disitu Dokter sedang bekerja. Menjahit bekas lahirannya.
"Kamu berhasil, Sayang! Kamu hebat! Mommy Tari hebat! Terima kasih, Sayang! Terima kasih!" aku menghujaninya dengan banyak kecupan di wajahnya.
Tari hanya mengangguk sambil menangis haru. Tak mampu berkata-kata lagi.
"Silahkan ini bayinya ya, Bu. Lengkap semua jari tangan dan kakinya. Tampan seperti papanya. Inisiasi menyusui dini dulu ya Bu agar bayinya bisa mengenal Mamanya."
Perawat tersebut lalu memberikan bayi kami pada Tari dan bayi mungil itu menyusui langsung dari Tari. Bibir mungilnya langsung mencari sumber kehidupannya dan syukur alhamdulillahnya Tari langsung bisa menyusui.
"Wah Ibunya sudah langsung keluar ASI loh. Bakalan banyak nih ASI-nya." komentar perawat yang mengambil bayi tersebut kembali dan memberikannya padaku. "Silahkan kalau mau di adzani dulu, Pak!"
Aku pun menggendong anakku untuk yang pertama kalinya. Anak ini begitu tampan. Mirip sekali denganku.
__ADS_1
"Pak! Silahkan di adzani dulu!" ulang perawat tersebut padaku.
"Eh... Iya."
Dengan suara bergetar menahan tangis haru aku pun mulai mengadzani anakku.
Allahu akbar, Allahu akbar
Allahu akbar, Allahu akbar
Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash shalaah
Hayya ‘alal falaah
Allahu akbar Allahu akbar
Laa ilaaha illa Allah
Anakku yang semula menangis karena dipisahkan dari sumber kehidupannya kini terlihat anteng dan mendengarkan setiap adzan yang kukumandangkan.
Aku berdoa di setiap adzan agar anakku menjadi anak yang soleh. Anak yang membahagiakan kedua orang tuanya. Anak yang sukses dunia dan akhirat. Aamiin.
Lalu anakku kembali diambil. Kali ini untuk pemeriksaan dokter anak dan segala macam yang aku tak tahu. Tari nampak masih menangis bahagia.
Aku tersenyum menghampirinya. Ia sudah selesai rupanya dijahit segala macamnya. Kugenggam lagi tangannya dengan penuh cinta.
"Selamat Mommy Tari! Anak kita tampan sekali!" pujiku.
Tari melepaskan tanganku dan mengangkat tangannya. Aku bersikap waspada namun pada akhirnya aku pasrah kalau Tari mau menjambak rambutku lagi.
"Maafin Tari ya, Bi!" ujarnya seraya mengusap rambutku dengan lembut dan penuh kasih. "Pasti sakit ya tadi Tari jambak? Maaf sekali, Bi..." katanya penuh penyesalan.
Aku tersenyum. Iya sakit banget, aku mau jawab begitu namun aku tahan. "Enggak apa-apa. Abi kuat kok. Yang penting Mommy Tari akhirnya berhasil melahirkan dengan proses normal dan selamat tanpa kekurangan satu apapun!"
Tari tersenyum lemah. "Banyak yang rontok tidak rambutnya?"
Aku tak kuasa untuk tidak tersenyum. Pake ditanya lagi. Banyak banget rontoknya. Semoga saja tidak botak permanen. Masa sih baru jadi Abi sudah botak saja rambutnya? "Lumayan ha... ha...ha..."
Tari tersenyum lemah. "Maaf ya, Bi. Maaf. Abi juga sih yang bikin Tari hamil dan melahirkan! Sakit tau." mulai deh menyalahkan aku lagi.
__ADS_1
Huft... Nasib... Nasib.... Enak bareng-bareng tetap aja aku yang disalahin.
****