
Agas
Kulirik satpam cintaku dari kaca spion. Nampak wajahnya ditekuk dengan tatapan tajam ke arahku.
"Jangan lirik-lirik! Jawab aja pertanyaan aku dengan jujur!" ternyata Tari tahu kalau aku meliriknya.
"Em.... Itu My, tadi Wira yang ledekkin. Aku mah enggak, bener deh! Cewek kayak gitu mah bukan tipe aku. Tipe cewek idaman aku tuh kayak Mommy Tari. Cantik, asetnya mendukung, seksi, goyangannya mantap dan pintar. Dia mah enggak ada seujung kukunya dibanding Mommy Tari yang hebat!" pujiku panjang lebar.
Biasanya cewek tuh kalau lagi ngambek jalan keluarnya cuma satu, dipuji. Diangkat ke langit lalu dielu-elukan. Namun wanita cantik di sampingku ini kan lain dari yang lain. Sudah hafal watak suaminya yang nackal ini.
"Oh ya? Masa sih Om Ganteng?" sindirnya sarkas.
"Bener, My. Kapan Abi godainnya coba? Abi sibuk menjaga Wira." jawabku.
"Oh ya? Bukannya tadi Wira menghilang ya?" sindir Tari.
Deg... Tau darimana dia?
"Itu...." kali ini jawab apalagi ya? Memang Wira, anak itu yang buat masalah masa sih Abi-nya yang membereskannya?
"Kenapa enggak dijawab?"
"Bukan enggak dijawab. Wira tadi bukan hilang, My. Wira lagi mengeksplore isi Mall. Anak kayak Wira tuh rasa ingin tahunya tinggi. Semua ingin dicari tahu. Abi hanya menemaninya saja." alasan yang muter-muter. Pasti Tari makin curiga deh!
"Masa sih? Aku lihat loh saat Abi celingukan mencari Wira?! Sengaja aku lihat bagaimana cara Abi menjaga Wira. Abi asyik dengan telepon Abi dan membiarkan Wira menghilang dari pengawasan Abi. Lalu Abi mencari ke toko pakaian dan mendapati Wira sedang ngikutin cewek seksi tadi kan? Karena itu kalian saling kenal?!"
Wah... Ternyata Tari tau loh!
"Kamu... Tau?"
"Iyalah aku tau. Aku juga mengikuti Abi. Namun aku balik sebentar ke toko kue saat Abi menemukan Wira. Abi ngobrol dulu sama cewek seksi itu kan? Memang sudah Tari duga, kelakuan Wira itu asal muasalnya dari Abi! Tari kan bilang, jangan mengajari anak kita sesuatu yang belum pantas dilakukan anak seusianya! Abi mau nanti Wira mengikuti jejak Abi?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak!"
"Nah itu tau! Jangan diajari yang bukan-bukan lagi! Sebentar lagi kita akan punya anak kedua. Aku pasti lebih tidak fokus lagi dengan Wira karena harus mengurus bayi. Aku minta Abi lebih fokus dengan Wira. Kursus-ku akan selesai sebelum aku melahirkan. Jadi ajari Wira hal-hal baik mulai sekarang!"
"Iya, My." kataku dengan penuh rasa bersalah.
Kami pun ke rumah Oma dan merayakan ulang tahunnya dengan sederhana. Melihat kedatangan Tari, Oma sangat bahagia. Apalagi ada Wira yang lucu dan menggemaskan. Tiada kado seindah keluarga bagi Oma.
__ADS_1
****
"Aku pergi kursus dulu, Bi. Ingat, jangan diajari macam-macam anak kamu!" ancam Tari.
Aku mengangguk. "Iya, My. Hati-hati di jalan!" kataku seraya mengantar Tari pergi dan masuk kembali ke dalam rumah untuk menjaga Wira.
Hari ini aku tidak ke showroom. Tari ada jadwal kursus dan aku harus menjaga Wira. Anak itu tidak begitu suka dengan Mbak yang menjaganya. Alasannya sepele: Mbak jeyek!
Tau kan apa artinya?
Bukan karena Mbak-nya galak atau tidak sabaran. Murni karena Wira yang pemilih.
Aku mengupasi Wira apel dan menaruhnya dalam mangkuk plastik. Kutemani Ia yang sedang asyik menonton film kartun di TV.
"Pak, ada temannya!" kata Mbak Inah padaku.
"Siapa? Riko atau Sony?" tanyaku.
"Mas Sony."
"Yaudah suruh masuk aja!" kataku.
"Assalamualaikum!" ujar Sony.
"Waalaikumsalam." jawabku.
"Sayam!" kata Wira mengikuti. "Om jobyo!" Wira memanggil Sony sambil berjingkrak kegirangan.
Wira memang senang kalau Sony atau Riko datang. Mungkin karena mereka suka mengobrol sambil tertawa-tawa dan suka mengajari Wira hal baru makanya anak itu menyukai mereka.
"Heh bocil, ngatain aja jomblo! Sama aja nih anak sama Abi-nya! Om Sony tuh punya banyak gebetan dan teman bobo. Cuma belum ada yang nempel di hati aja!" ujar Sony seraya mengusap kepala Wira dengan gemas.
"Son, ah elah! Jangan ngajarin kosakata baru lagi! Kemarin nih anak buat ulah, habis gue diomelin sama Tari." omelku.
"Buat ulah apa?" Sony lalu mengajak Wira mengobrol. "Pasti ulah yang keren, iya kan boy?"
"Keyen... keyen..." jawab Wira sambil loncat-loncatan.
"Keren apaan? Ngintilin cewek seksi sambil ngeliatin pahanya yang mulus! Gue nyariin sampai panik setengah mati nih anak ngilang eh malah lagi modus!" gerutuku.
__ADS_1
"Hah yang bener ha...ha...ha... Pinter banget nih anak buah Om Sony! Cantik enggak ceweknya?" tanya Sony lagi pada Wira.
"Tantik... Sesi." jawab Wira jujur.
"Hush Wira! Masih kecil udah kenal seksi! Kamu nonton aja Coco Melon sana!" omelku.
"Coco melon! Coco melon!" Wira minta disetelin Coco Melon. Kuturuti keinginannya dan Ia langsung asyik dengan dunianya yang sebenarnya. Dunia anak-anak.
"Udah lo sama Riko jangan ngajarin yang enggak bener lagi sama anak gue! Serem banget kemarin Tari sampai marah sama gue!" omelku lagi pada Sony.
"Ya elah. Tari kalau marah paling begitu doang. Enggak sampai lempar piring kan kayak bininya Bastian?" ledek Sony.
"Ya enggak sih. Emang bener bininya Bastian kalau marah lempar piring? Habis dong piring di rumah Bastian? Kenapa dia diomelin bininya? Ketahuan selengki?" aku malah asyik menggosip tentang Bastian.
"Beli lagi lah! Duit Bastian banyak. Itu gara-gara Bastian pulang pagi. Di telpon enggak diangkat. Biasa, Bastian kalau udah fokus kerja sampai lupa waktu. Hp di silent. Bininya udah nuduh yang enggak-enggak aja. Berantem lah mereka. Bastian kaget kok bininya serem banget pas marah. Kayak orang kesurupan." cerita Sony sambil menertawakan kesusahan sahabatnya.
Kami memang begitu. Kalau ada yang kesusahan diketawain dulu baru dibantuin. Justru ini sahabat sejati. Bukan terlihat peduli namun di belakangnya nusuk.
"Assalamualaikum!" ujar seseorang yang baru datang.
"Waalaikumsalam." jawabku dan Sony kompak.
Udah bisa diduga sih siapa yang datang ke rumahku dan langsung masuk saja tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan Riko.
"Ya elah, lo berdua kumpul lagi di rumah gue! Makin banyak menyerap hal enggak bener deh anak gue!" gerutuku.
"Om Jeyek!" Wira tersenyum dan memanggil Riko seenaknya.
"Heh! Ganteng gue! Manggil jelek aja lo! Ini gara-gara Sony deh pasti, Wira jadi manggil gue Om Jeyek!" omel Riko.
"Lo juga! Gara-gara lo, Wira manggil gue Om Jobyo! Makanya lo jangan bocor duluan! Nanti gue buka aib lo depan Wira nih!" ancam Sony.
"Woy! Lo berdua mau gue usir? Jangan ngajarin anak gue yang enggak-enggak! Bisa mati gue sama Tari kalau ketahuan Wira makin terkontaminasi sama lo berdua! Yang bener mulai sekarang! Awas ya ngajarin anak gue macem-macem lagi mulai sekarang!" ancamku.
Sony dan Riko terdiam tapi kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
"Ya.... Dia takut sama bininya! Ha....ha...ha..."
"Dia udah jadi suami takut istri ha....ha....ha..."
__ADS_1
****