Duda Nackal

Duda Nackal
Aku Akan Merubah Om Agas


__ADS_3

Utari


Entah apa maksud perkataan Mbak Tara yang mengatakan kalau Ia belum sepenuhnya move-on? Apakah mau memanas-manasiku dengan kenyataan kalau mereka memang punya hubungan cinta sebelumnya?


"Apakah Mamanya Agas setuju kamu menikah dengan anaknya? Seingat aku, mantan Mama Mertuaku itu adalah orang yang masih mementingkan bibit, bebet dan bobot dalam mencari menantu. Oh iya sampai lupa, orangtua kamu bekerja dimana? Punya perusahaan?"


Aku tahu pertanyaannya sengaja untuk menyakiti hatiku. Tak bisakah Ia melihat mana yang berasal dari orang yang terlahir kaya dan orang yang terlahir susah sepertiku?


"Aku... Anak yatim piatu." jawabku jujur.


"Oh... Kenal sama Agas dimana?" tanyanya lagi.


"Di... Showroomnya." kembali aku menjawab dengan jujur.


"Waktu kamu beli mobil? Wah kok bisa sama sih dengan kisah aku ketemu Agas dulu?" sindirnya. Kenapa juga dia harus membuka kisah lamanya padaku? Mau membuatku cemburu?


"Bukan. Waktu mengantarkan pesanan." kisahku beda, jadi jangan asal menyamakan dengan kisah kalian!


"Pesanan? Kamu kerja di perusahaan apa? Di showroom mobil atau perusahaan pembuat mobil?"


Aku menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskannya pelan tanpa Ia tahu kalau aku sedang mengisi stok sabar dalam diriku. "Aku mengantarkan pesanan soto yang Om Agas pesan."


"Soto? Om Agas? Kamu punya usaha soto? Kenapa masih memanggilnya Om? Kayak hubungan kalian masih sebatas orang luar saja dan bukan suami istri!" katanya dengan pedas.


"Aku bekerja di warung soto. Sebagai pelayan. Bukan pemilik usaha. Dan mengenai panggilan kami, itu hanya panggilan saja kok, malah Om Agas senang dengan panggilan yang kuberikan. Kesannya hubugan kami sebagai suami istri seperti film-film dewasa hihihi..." aku tersenyum menutupi kegusaran hatiku. Jangan sampai kalah taktik. Wanita di depanku jelas tidak akan memuji tapi menghina.


"Oh... Aku pikir kamu salah satu mahasiswa yang suka dibawa pulang oleh Agas. Ternyata cuma pelayan warung soto toh? " tuh kan benar, wanita ini ingin menghinaku setelah tau siapa aku.


"Bukan. Saya cuma gadis sederhana yang beruntung bisa menikahi Om Agas. Mengenai mahasiswa itu, Om Agas janji akan berubah kalau kami menikah." bohong. Aku harus berbohong demi menutupi kebiasaan buruk suamiku.


Bahkan sebelum kami menikah, Om Agas masih saja bermain dengan wanita di luar sana. Aku bukan wanita yang Ia cintai, sekeras dan segalak apapun aku mengomelinya pasti Om Agas tak akan mendengarkanku.


"Oh ya? Kalau dulu waktu sama aku sih Agas tak pernah tuh bermain-main dengan wanita lain. Mungkin karena di hatinya hanya ada aku seorang. Hati-hati ya. Kalau Ia masih bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana, berarti kamu bukan satu-satunya yang ada di dalam hati Agas. Aku memberitahu kamu sebagai sesama perempuan." kata-kata yang terdengar bijak namun memiliki arti yang sangat menusuk. Palsu.


Aku jadi heran, inikah wanita yang selalu Om Agas idam-idamkan? Terlihat baik padahal menutupi kebusukan hatinya?! Bahkan Om Agas sampai salah mengucap nama wanita ini saat ijab kabul.


Aku kembali memasang senyum. "Aku harus kembali. Harus menyiapkan makan malam untuknya." aku berdiri dan sebelum keluar rumah aku berhenti.


"Mungkin Mbak Tara dulu sangat beruntung mendapatkan Om Agas yang masih lugu dan lelaki baik-baik. Namun sayang, Mbak Tara menyia-nyiakan lelaki baik seperti Om Agas. Kini, aku akan mengembalikan Om Agas menjadi laki-laki yang baik kembali, karena apa? Karena Om Agas beruntung mendapatkanku. Terima kasih jamuannya. Assalamualaikum!"


Aku tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kudengar suara pintu yang ditutup dengan kencang, menandakan kegusaran hati pemiliknya.

__ADS_1


Tari... Kamu enggak boleh kalah! Om Agas akan sangat mencintai kamu! Pasti!


Dan aku harus menelan pil kecewa manakala Om Agas mengirimkan pesan yang menyatakan kalau Om Agas tidak pulang malam ini.


Tes...


Air mataku kembali menetes...


Kenapa sih Om Agas masih belum bisa melepaskan dunia gemerlap yang penuh senang-senang dan mulai membina rumah tangganya denganku?


Apa kurangnya aku dibanding Mbak Tara?


Aku memperhatikan wajahku di cermin. Kurang banyak sih. Selain baju yang sekarang lebih menonjolkan lekuk tubuhku tak ada yang berubah dalam diriku.


Aku masih terlihat seperti Tari si gadis pengantar soto. Tak ada yang berubah sama sekali. Sekarang aku malah menjadi seperti tukang masaknya Om Agas saja!


Sejak malam pertama kami, Om Agas belum lagi menyentuhku. Tepatnya setelah ciuman di depan Mbak Tara waktu itu. Om Agas seakan memilih menyenangkan diri di tempat lain dibanding memuaskan dirinya padaku.


Apa yang salah?


Apa penampilanku kurang menarik?


Baiklah, daripada sedih lebih baik aku belajar. Setelah belajar memasak dan buat kue, sekarang belajar merias diri.


Kupelajari cara make up dan berlatih dengan alat make up yang Om Agas belikan padaku. Mumpung orangnya tidak ada.


Pertama aku belajar cara memakai pensil alis, memakai bedak dan blouse on lalu aku takjub sendiri dengan hasilnya. Wow... ternyata aku lumayan cantik juga.


Hmm... ada yang kurang nih!


Oh iya! Aku kan pernah membelinya waktu itu!


Aku pun mencari barang itu di lemari dan ternyata ketemu!


Cat rambut!


Aku dari dulu mau mewarnai rambutku. Kini saatnya, pertama belajar dulu caranya lalu praktek.


Aku menggunting poniku sendri agak pendek agar aku terlihat lebih muda dan lalu mengecat rambutku agar berwarna kecoklatan. Aku berhasil.


Kupandangi wajahku dengan rambut yang sudah aku keringkan. Terlihat berbeda. Terlihat lebih awet muda.

__ADS_1


Ok. Tinggal tunggu saatnya beraksi!


Mbak Inah sampai pangling melihat penampilanku. "Cantik sekali Bu." pujinya.


"Ah bisa aja. Aku malu." jawabku sambil tersipu malu.


"Bener loh, Bu. Bapak pasti suka."


Dalam hati kuamikan perkataan Mbak Inah. Aku menyiapkan makan malam untuk Om Agas. Tak lupa aku mengganti bajuku dengan baju seksi yang pernah Om Agas belikan.


Aku memilih mini dress dengan tali satu warna putih dengan motif bunga-bunga. Om Agas suka sekali dengan motif bunga-bunga.


Sayangnya saat Om Agas datang, aku sedang menunaikan sholat isya. Om Agas langsung membersihkan dirinya dan terkejut saat melihat penampilanku yang berbeda.


"Tari?"


Aku tersenyum. "Om udah pulang? Maaf tadi Tari lagi sholat isya jadi enggak bisa menyambut kedatangan Om di rumah."


Ia mengernyitkan keningnya. Dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya Ia berjalan mendekatiku.


"Kamu ke salon?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku. "Oh ini," aku mengusap rambutku. "Ngecat sendiri, Om. Aneh ya? Enggak cocok ya?"


Om Agas sekejap terlihat terpaku dan lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak. You look so beautifull. Pangling banget!"


Aku tersenyum. "Syukurlah kalau Om suka."


Om Agas lalu tersenyum penuh arti. Aku tahu dari sorot matanya yang penuh damba. Ada gairah besar di matanya saat melihatku seperti ini.


"Kalau aku suka lalu.... " Ia berjalan mendekatiku dan mengusap lembut pipiku dengan telapak tangannya yang besar dan kokoh namun mampu membuatku merasa terlindungi dari kejamnya dunia ini.


"Lalu... Om mau makan malam?" tanyaku dengan lugunya.


Om Agas menggeleng. "Ada yang lebih penting dari makan malam."


"Oh ya? Apa itu, Om?" aku berpura-pura tak tahu. Aku tau apa yang Om Agas mau.


"Kamu."


****

__ADS_1


__ADS_2