Duda Nackal

Duda Nackal
Agastya Wisesa Dilawan!


__ADS_3

"Kami tulus meminta maaf pada Agas dan Tari. Kalau masalah kompensasi hanyalah itikad baik dari pihak kami saja." Papanya Tari berusaha meredam emosiku.


Aku tak bisa berkata apa-apa dan memikirkan apa yang harus kulakukan. Orang di depanku tak tahu kalau semua bukti tak hanya berada padaku tapi sama orang kepercayaanku. Apa ya yang bisa kulakukan untuk membalas orang sombong ini?


Ayah dan anak di depanku ini sudah menyakiti Tari dari Tari masih kecil. Sudah menimbulkan luka yang besar di hatinya, belum trauma yang Tari rasakan. Tak mudah hilang dan terus melekat.


Apalagi mereka juga sudah menghancurkan cafe impian Tari...


Tunggu,


Cafe impian?


Aku punya rencana!


"Oke, aku akan menganggap permasalahan kita selesai tapi aku punya persyaratan!"


"Persyaratan? Apa? Kalau kami bisa pasti akan kami kabulkan." ujar Papanya Vira penuh semangat, merasa ada secercah harapan aku akan memaafkan semua dan menyelesaikan dengan jalan damai.


"Pertama, aku mau kalian membuat pernyataan di atas materai kalau kalian tak akan menggugat padaku lagi tentang masalah kehamilan Vira dan menuliskan kalau anak dalam kandungan Vira bukanlah anakku."


Vira mengangguk setuju. "Baik. Akan aku lakukan." jawab Vira tanpa pikir panjang. Papanya Vira juga mengangguk setuju. Kulanjutkan lagi dengan syarat berikutnya.


"Kedua, aku mau Vira meminta maaf langsung pada istriku, Tari. Minta maaf dengan penuh penyesalan agar Tari mau memberikan maafnya sama kamu! Ingat ya, kamu udah jahatin dia sejak SD! Berapa banyak luka dan trauma yang sudah kamu berikan?" aku menatap Vira dengan tajam dan penuh kebencian. Setiap mengingat kalau Tari disakiti olehnya, emosiku langsung keluar. Ingin aku bejek aja mukanya!


Vira mengangguk lemah. "Iya. Aku akan minta maaf."


Dua syarat yang menurutku masih mudah. Tidak semudah itu lolos dari jangkauanku Ki Sanak!


"Lalu ketiga..." aku menatap Papanya Vira, si Bapak Menteri berkuasa dan suka menindas orang dengan uang yang Ia miliki. "Anak Bapak sudah menghancurkan cafe milik Tari."

__ADS_1


"Saya akan ganti rugi! Cafenya akan saya renovasi!" ujar Papanya Vira dengan cepat dan penuh kesombongan. Belum hilang juga kesombongan yang dimilikinya! Lihat saja, apakah nanti dia akan tetap sombong?


Aku tersenyum mengejek. "Itu sih gampang Pak. Udah saya renovasi. Masalahnya adalah pengunjung sudah trauma! Tak ada yang mau datang lagi!"


"Saya akan kirim keamanan untuk menjaga cafenya." lagi-lagi mau tunjuk kehebatan dan kekuasaan. Oke, lo jual gue beli!


"Bukan itu yang saya minta." aku melipat kedua tanganku di dada, serasa menantang Papanya Vira agar tambah emosi lagi.


"Lalu apa?"


"Saya minta Bapak memberi 3 buah cafe baru untuk Tari. Untuk lokasinya di samping showroom saya!" kataku dengan tegas.


"Tiga?" mata Papanya Vira terbelalak mendengar permintaanku.


"Iya. Kalau Bapak protes, saya akan naikkan. Jangan lupa semua diubah atas nama Utari Putri!"


"Kamu udah gila! Kamu memeras saya itu namanya!" protes Papanya Vira dengan nada tinggi. Emosi tingkat dewa ternyata hahaha... Agastya Wisesa dilawan!


Vira terus menundukkan wajahnya, sementara Papanya terlihat beberapa kali memijat kepalanya yang pusing. Jelas saja pusing, aku meminta bukan satu tapi tiga buah cafe. Aku meminta di dekat showroomku, yang artinya cafe itu berada di lokasi dimana harga tanahnya mahal. Rasakan itu!


"Bagaimana kalau satu buah cafe saja?" nego Papanya Vira. "Boleh di samping showroom Agas yang mana saja!"


"Satu? Aku kan bilang, kalau tidak setuju maka jumlah penawaran akan aku naikkan. Kalau begitu 5 buah cafe!" ancamku.


Wajah Papanya Vira memucat. "Lima?" tanyanya dengan mata terbelalak. Papanya Vira sampai garuk-garuk kepala karena pusing.


Aku menertawakannya dalam hati. Tanah di sekitar showroom milikku tak ada yang murah. Di pinggir jalan dan juga jalan raya besar. Enggak ada yang seharga 5 Milyar, lebih!


"Iya. Lima. Mau sepuluh?" aku kembali mengancam Papanya Vira. Wajahnya semakin pucat saja. Kalau aku terus menaikkan jumlah penawaranku, bisa habis hartanya dia dalam sekejap.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dua?" rupanya Papanya Vira tak putus asa. Ia berusaha mengurangi biaya yang harus Ia keluarkan untuk mengganti rugi. Namun, bukan aku namanya kalau semudah itu menyerah.


"Boleh saja dua, tapi aku minta kalian konferensi pers di depan media dan menyatakan kalau apa yang terjadi adalah ulah kalian. Gimana? Masih mau nego nih?" aku kembali menantang Papanya Vira. Kalau masalah bisnis dan negosiasi, aku lebih jago. Jangan sebut Agastya Wisesa si pemilik showroom kalau begitu saja tidak bisa!


Papanya Vira terlihat menarik nafas banyak-banyak dan menghembuskannya dengan kasar. Aku tahu dalam kepalanya pasti sedang berpikir keras. Berapa biaya yang akan dikeluarkan nantinya?


Aku melihat ke arah Bastian yang menahan senyumnya sejak tadi. Anak itu sudah tahu bagaimana tabiatku, semakin diancam maka aku akan mengancam balik. Aku tak akan terpengaruh dengan ancaman dari pihak musuh, kalau aku sudah berani menggeretak balik maka posisiku sudah di atas awan. Bisa dipastikan aku akan menang.


"Baiklah. Tiga cafe di samping showroom milik kamu. Jadi kapan kamu akan menghapus semua barang bukti yang kamu miliki?" akhirnya Papanya Vira menyerah juga. Sudah kubilang, Agas dilawan! Enak aja semudah itu lolos. Tiga cafe itu bukan jumlah yang sedikit. Rasakan! Memang enak?!


"Setelah sertifikat pembuatan Cafe atas nama Tari telah saya terima. Kalau masalah kapan, tergantung Bapak mau kapan membelikannya kepada kami. Kalau kalian mau cepat, ya sudah selesaikan dengan cepat juga." jawabku dengan santai.


"Anak buah saya akan urus secepatnya. Dan mengenai surat pernyataan, lebih baik kita tanda-tangani sekarang saja. Biar semua cepat selesai dan kalian bisa menghapuskan semua barang bukti yang kalian miliki." Papanya Vira akhirnya menyerah. Wajahnya terlihat lelah karena mengurus masalah yang ditimbulkan oleh putri kesayangannya tersebut.


Akhirnya perundingan kami pun berjalan dengan lancar. Sudah tentu kemenangan ada di pihakku. Begitulah kalau Allah sudah membuka suatu kebenaran, meskipun tertutupi oleh lumpur sekalipun kebenaran itu akan tetap terlihat. Kebenaran akan menunjukkan pada semua orang kalau Ia masih tetap ada. Mau berusaha ditutupin seperti apapun juga tidak akan bisa membungkam kebenaran tersebut.


Aku bersama ketiga orang sahabatku pulang dengan senyum di wajah. Misi kami berhasil dan permasalahanku juga kelar. Semua berkat bantuan sahabatku dan juga sepasang suami istri lucknut itu.


****


Flashback


Aku sedang memikirkan cara untuk membalikkan keadaan. Menghadapi orang tua Vira itu tidak mudah. Faktor kekuasaan bermain di dalamnya. Salah langkah sedikit saja, hukum taruhannya.


Aku menunggu Bastian mendapatkan rekaman CCTV dari diskotek langganan kami. Namun, membuka CCTV pada orang umum itu bukanlah hal yang mudah. Biasanya, perusahaan atau badan usaha tidak semudah itu memberikan pada orang lain. Terhadap polisi pun harus ada surat tugasnya. Apalagi aku mau mengusut kasus tentang hal yang menyangkut seseorang yang penting di negeri ini.


Aku tak kaget saat Bastian datang dengan tangan kosong. Wajahnya ditekuk sedih karena tak bisa berbuat apa-apa. "Maaf Gas, gue enggak bisa bantu lo. CCTV di sana nggak bisa segampang itu gue dapetin."


Bastian gagal ternyata. Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan CCTV yang merupakan salah satu barang bukti paling penting yang harus kumiliki?

__ADS_1


****


Caranya dengan vote yang banyak ya 🤣. Likenya juga jangan turun dong! 🤗🤗🤗


__ADS_2