
Jujur saja mendengar perkataan Tara membuat setitik rasa bersalah menyelusup ke dalam relung hatiku. Aku dulu memang sesibuk itu.
Showroom yang kumiliki adalah showroom kecil. Persaingan semakin pesat namun modalku kurang. Mau mengajukan pinjaman sudah terpentok cicilan rumah yang lumayan besar.
Aku bertahan dari sebuah showroom kecil dan hanya seorang karyawan yang kupekerjakan. Itu pun karyawan merangkat sales sekaligus admin dan bagian bersih-bersih.
Aku pun demikian. Pemilik showroom yang merangkap sebagai sales dan karyawan. Kami berdua bekerja keras memajukan showroom milikku.
Aku berangkat pagi dan pulang sudah larut malam. Pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan hanya ingin tidur saja. Weekend pun aku kadang bekerja. Karena penjualan lebih ramai dibanding hari biasa.
Aku jarang libur. Sekalinya libur, istirahat dan baru bisa bersenang-senang dengan Tara. Benar yang Tara bilang, aku terlalu sibuk. Aku sampai melupakannya.
Aku tak pernah hadir di acara keluarganya. Aku sibuk. Aku tak tahu kalau Tara merasa sangat tertekan berada disana.
"Kini, aku sadar. Kamu memang sibuk. Kamu memang tak datang saat acara keluarga untuk membelaku. Kamu memang tak memberiku kekayaan yang melimpah. Tapi aku merasa lebih bahagia hidup dengan kamu dibanding dengan Damar. Baru kini aku menyadari, sibuknya kamu dulu karena kamu memperjuangkan cinta kita. Kamu mencintai aku dengan cara kamu. Karena itulah aku merasa sangat kehilangan kamu, Gas. Aku terlihat bahagia namun hanyalah cangkang kosong tak bertuan,"
__ADS_1
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai. Aku sudah menyadari kesalahanku selama ini sama kamu, Gas. Kita berdua salah dan kita belajar dari kesalahan kita. Tak bisakah kita kembali merajut impian kita dulu? Kamu ingat, kamu bilang kalau kamu sukses, kamu akan membeli rumah dengan pekarangan besar dan akan membuatkan sebuah rumah pohon? Impian yang membuatku terus tersenyum sampai saat ini. Kenapa harus rumah pohon? Kenapa bukan kolam renang? Kamu ingat bukan?" tanya Tara sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk tanpa senyum. Datar.
"Kamu dulu juga bilang sama aku, kita akan menua bersama sambil menjalankan bisnis showroom kita yang semakin banyak. Kamu akan punya banyak karyawan dan bisnis ini akan diturunkan secara turun-temurun untuk anak cucu kita nanti. Kamu masih ingat kan?"
Lagi-lagi aku mengangguk. Kubiarkan saja Ia membuka cerita lama yang sejujurnya masih aku impikan sampai saat ini.
"Semua ini belum terlambat, Gas. Kita masih bisa merajut kembali semua impian dan cita-cita kita dulu. Aku pernah salah. Kamu pun tak lepas dari salah. Aku menyadari kesalahanku dan aku mau memperbaiki semuanya bersama kamu. Aku bisa melihat dari tatapan kamu, masih ada nama aku dalam hati kamu. Dan kamu juga bisa lihat kan? Aku masih tetap mencintai kamu seperti dulu. Mari kita memulai semua lagi dari awal. Kamu bisa meninggalkan Tari atau kamu tetap memilikinya namun menjadikan aku yang kedua. Aku tak masalah, anggap saja ini adalah konsekuensiku karena meninggalkan kamu." kata Tara dengan penuh harap.
Seandainya perkataan ini keluar dari mulut Tara saat aku terpuruk dulu, aku tak akan berpikir dua kali dan pasti akan mengiyakan permintaannya untuk kembali rujuk dan merajut mimpi bersama. Namun, perkataan ini justru terucap setelah Tara menyesali kalau jalan yang Ia ambil salah. Perkataan ini justru terucap saat aku baru mulai mengenal sosok Tari yang sudah membawa banyak perubahan dalam hidupku.
Jalur yang terlihat mulus di awal namun ternyata setelah melewatinya justru jalanannya lebih rusak daripada jalur yang pertama. Lalu, Tara dengan seenaknya ingin berpindah lagi ke jalur yang pertama. Ia meninggalkan jalur yang sudah Ia lalui dan begitu mudah berpikir kalau dia bisa lagi kembali ke jalur pertama.
Apakah menurut Tara, aku adalah orang yang begitu mudah menerima kesalahan yang Ia perbuat dan menerima kembali kehadirannya yang telah membuat banyak luka?
__ADS_1
"Jujur saja, aku nggak pernah tahu apa yang terjadi dengan keluarga kamu. Di keluargaku juga sering menyindir tentang kenapa kita belum dianugerahi anak, tapi tak pernah aku tanggapi. Yang aku lakukan adalah menghindarkan kamu mendengarnya langsung. Itu cara aku untuk melindungi kamu dari rasa sakit akibat kata-kata pedas keluargaku. Bukan berarti aku tak pernah berjuang sama sekali. Aku menyembunyikannya. Aku sudah bilang sama kamu, kalau acara arisan itu begitu menyakitkan, nggak usah datang. Tapi kamu memaksa. Kamu beralasan tak ingin menjadi bahan omongan. Hasilnya apa? Setiap kamu pulang dari sana, kamu menjadi lebih sensitif dan sering memarahi aku,"
"Sebenarnya aku nggak mau lagi membahas masa lalu. Aku cuma mau meluruskan agar kamu tahu kalau aku tidak benar-benar bersikap tak peduli seperti itu. Aku sudah bilang sama kamu, aku menerima kamu apa adanya. Namun, aku selalu kurang di mata kamu. Kini, setelah kita berpisah dan kamu memiliki pasangan begitu juga dengan aku, kamu dengan seenaknya ingin melepaskan pasangan kamu dan kembali sama aku. Bagaimana dengan pasanganku? Meskipun kamu bilang kalau aku masih mencintai kamu, aku tak akan mungkin menyakiti wanita yang kini ada di sampingku hanya demi keegoisan kamu semata." kataku panjang lebar.
"Tapi kamu nggak mencintai Tari, Gas! Kamu tuh hanya kasihan sama anak kampung itu! Cinta kamu tuh cuma buat aku! Kalau kamu terus bersamanya, kamu tuh cuma ngasih harapan dan kamu cuma menyakitinya terus-menerus. Aku tanya sama kamu, apakah kamu bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan padaku?" tanya Tara dengan penuh percaya diri.
"Mungkin di mata kamu Tari hanyalah seorang gadis kampung yang tak akan mungkin aku cintai. Mungkin kamu berpikir, Tari itu bukan selera aku jika dibandingkan dengan banyaknya teman kencan aku yang lain. Dan kamu benar, aku memang masih mencintai kamu! Namun, aku nggak akan pernah melepas Tari hanya demi cinta aku sama kamu-" belum selesai aku berbicara Tara sudah memotong perkataanku.
"Ya sudah enggak usah dilepas. Kita bisa tetap menjalin rumah tangga meskipun aku bukan lagi berstatus sebagai istri pertama. Kamu bisa memiliki aku dan juga Tari secara bersamaan. Apa ruginya? Banyak laki-laki di luar sana yang melakukan hal seperti itu. Aku yakin, kamu sanggup melakukannya!" kata Tara dengan menggebu-gebu.
Aku sudah sampai di bengkel yang Tara beritahu tadi alamatnya. Aku masuk ke dalam parkiran karena aku tahu pembicaraan kami belum usai.
"Poligami? Eggak pernah terlintas dalam pikiranku untuk melakukan hal itu. Aku nggak bisa ngikutin semua kemauan kamu. Aku sudah milik orang lain meskipun Tari bukan istri yang sempurna, namun aku bahagia memiliki dia sebagai istriku. Kalau masalah cinta, sekarang saja aku sudah mulai menyayanginya. Tari adalah orang yang tulus dan layak untuk aku cintai. Hanya masalah waktu saja sampai aku benar-benar bisa menggantikan posisi kamu dengannya." aku membukakan kunci mobil. "Kita sudah sampai! Kamu turunlah!"
"Gas, kamu coba pikirkan dulu. Jangan mengambil keputusan secepat ini. Pikirkan saat kamu sudah tenang. Aku akan anggap apa yang aku dengar hari ini tak pernah ada."
__ADS_1
"Tak ada lagi yang perlu aku pikirkan. Aku sudah yakin dengan keputusanku. Jangan berharap lagi padaku. Aku sudah punya keluarga sendiri!" kataku pedas dan langsung tancap gas setelah Tara turun dan menutup pintu.
****