Duda Nackal

Duda Nackal
Pertengkaran-1


__ADS_3

Urusan dengan Cici beres, aku lalu pergi menjemput Tari. Agak mepet waktunya, aku pasti kena macet karena berbarengan dengan jam pulang anak sekolah dan waktu makan siang karyawan kantor di sekitar tempat kursusnya.


Benar saja, volume kendaraan yang meningkat namun jalanan yang ada hanya mampu dilewati dua buah mobil membuat kemacetan mulai kurasakan. Kecepatan mobilku hanya 20 Km/jam. Lambat sekali.


Belum lagi kalau ada mobil yang berhenti untuk mengangkut penumpang atau taksi yang berhenti karena anak sekolah, kadang naiknya beramai-ramai sambil tertawa cekikikan. Bikin kemacetan semakin panjang saja.


Memang sudah paling benar membelikan Tari motor. Mobil juga sudah aku belikan, namun Ia harus belajar dulu. Melewati jalur padat seperti ini butuh skill mengemudi dan pengalaman juga. Jangan sampai Tari diteriaki pengemudi lain karena menambah kemacetan di jalan.


Tempat kursus Tari sudah mulai terlihat olehku. Tetap saja aku masih berjalan dengan lambat. Huft... Perjuangan sekali untuk menjemput istri hari ini.


Aku jadi teringat perkataan Tari kalau kemungkinan Mama Irna (Mamanya Tara) adalah tante kandungnya. Tapi apa mungkin dunia sesempit itu?


Mantan istriku dan istriku saat ini ternyata adalah saudara sepupu. Seperti judul novel saja!


Aku kenal Mama Irna dan cukup akrab dengannya. Mama Irna adalah mama mertuaku yang baik dan ramah. Aku sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.


Mama Irna selalu mensupportku, memberiku dukungan dalam menjalankan usahaku yang kadang pasang surut. Beliau mendukungku dan memanjakanku layaknya anak sendiri. Memasakkan makanan kesukaanku setiap kali aku dan Tara ke rumahnya.


Mama Irna sangat sedih manakala tahu kalau rumah tanggaku dan Tara kandas. Ia terlihat malu dengan kelakuan anaknya yang kedapatan selingkuh, apalagi Tara menghinaku dengan sedemikian kejamnya.


Mama Irna tau siapa aku. Mama membelaku dan berusaha membujuk Tara, namun usahanya sia-sia. Tara begitu dibutakan oleh pesona Damar. Mama Irna yang emosi akhirnya mengusir Tara dari rumahnya.


Kini bagaimana keadaan Mama Irna setelah tahu kalau hidup Tara bersama Damar tak bahagia? Pasti akan makin sedih tentunya.


Aku senang kalau seandainya Mama Irna memang benar tante kandungnya Tari. Mama Irna pasti akan sangat menyayangi Tari. Terhadapku yang sudah mantan menantu saja masih sayang, apalagi sama keponakan sendiri? Apalagi ini adalah keponakan yang selama ini selalu Ia cari-cari.


Aku semakin dekat dengan tempat kursus Tari. Aku bahkan bisa melihat Tari yang sedang tertawa bareng dengan... guru kursusnya?


Mau apalagi sih laki-laki itu sama Tari? Bukankah dia sudah tau kalau Tari sudah menikah? Kenapa semakin mendekatinya bukan malah menjauh?


Moodku langsung ambyar. Aku tahu laki-laki itu menyukai Tari. Aku bisa merasakan ancaman terhadap kepemilikanku pada Tari.


Kupukul stir mobilku dengan kasarnya!


Lama sekali sih macet ini?!


Tak tahukah alam kalau istriku sedang digoda lelaki lain?


Arghhh...


Kalau Tari sampai kepincut gimana?

__ADS_1


Laki-laki itu lumayan tampan. Masih gantengan aku sih. Tapi tetap saja, tubuhnya yang tegap dan skill sebagai chef yang dimilikinya pasti banyak membuat ibu-ibu dan anggota kursus terpesona.


Kenapa harus dia sih yang menjadi guru kursusnya? Kenapa bukan chef cewek kayak Chef Marinka? Atau Chef Farah Queen?


Ya Allah... ini kenapa macetnya enggak jalan-jalan? Udah mau sampai ini! Bisa gila aku melihat Tari dan gurunya terus mengobrol akrab sambil tertawa bahagia seperti itu?!


Hp!


Iya, Hp! Aku akan menelepon Tari dulu. Biar dia saja yang mendatangi mobilku. Jangan lebih lama lagi ngobrol dengan laki-laki berbahaya itu!


Aku pun menelepon Tari. Awalnya Tari tak mengetahui Hp miliknya berbunyi. Lalu seakan sadar kalau ada panggilan, Ia pun mengambil Hp dari dalam tas miliknya.


"Assalamualaikum, Om. Om dimana? Tari udah di depan nih!" jawabnya.


"Aku bisa lihat kamu! Aku udah deket. Kena macet!" jawabku.


Tari lalu memanjangkan lehernya dan mencari keberadaanku. Akhirnya Ia melihat mobilku dan melambaikan tangannya padaku.


"Kamu kesini aja! Jangan kelamaan ngobrol sama laki-laki lain!" kataku dengan tegas.


"Iya, Om." Tari lalu pamit dengan guru kursusnya. Karena belum ditutup teleponnya, aku bisa mendengar apa yang Tari katakan.


"Oh ya? Dimana? Nanti saja tunggu sampai sudah di depan tempat kursus." jawab gurunya yang sangat membuatku sebal. Apa haknya melarang Tari yang hendak menghampiriku?


"Kasihan Om kena macet, Pak. Tari samperin aja!" bagus Tari, tolak terus lelaki gatel kayak gitu!


"Iya. Jangan lupa nanti datang ya! Kalau suami kamu tak bisa mengantar, aku yang akan antarkan kamu!"


Wah... wah....wah...


Mulai berani nih orang ngajak bini orang lain!


Apa aku turun saja buat kasih dia pelajaran?


Woy! Itu bini orang! Main ngajak aja seenaknya!


"Enggak usah, Pak. Kalau Om tak mengantar, maka Tari tak akan pergi." istri pintar. Jangan sampai tergoda dengan laki-laki kecentilan kayak gitu! Tolak terus ajakannya!


"Baiklah. Mau aku antar sampai mobilnya? Jalanan ramai sekali!"


Ya Allah nih orang ya! Ngapain nganterin bini orang, Malih! Itu banyak anggota kursus lain enggak lo anterin! Kenapa bini gue yang lo anterin!

__ADS_1


Arghhh...


"Dekat kok, Pak. Tenang aja. Tari bisa. Tari pamit dulu ya Pak. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Huft.... Akhirnya aku bisa bernafas lega. Tari mampu menolaknya. Sekarang sih mampu nolak, tapi nanti gimana?


Pasti cowok kayak begitu akan terus penasaran dan mengejar-ngejar Tari! Apa aku pindahin aja ya kursusnya? Tapi dimana?


Tempat kursus ini sudah yang paling bagus di sekitar sini. Jaraknya dengan rumahku juga tak terlalu jauh. Kalau pindah tempat nanti Tari nyasar gimana?


Apa aku harus pindah rumah agar dekat dengan tempat kursus Tari yang baru? Kok rasanya enggak logis ya? Paling Tari kursus cuma sebentar saja! Ah kesal aku jadinya! Kayak enggak bisa melawan akan sesuatu gitu rasanya!


Tari mengetuk jendela mobilku. Menyadarkanku yang sejak tadi memikirkan tentang memindahkan lokasi kursusnya.


Aku membukakan pintu dan Tari langsung masuk sebelum semakin banyak yang mengklaksonku dari belakang. Ia menyodorkan tangannya untuk salim lalu memakai seat belt setelah aku membalas tanganku.


"Macet banget ya Om?" tanya Tari.


"Iya. Tadi aku juga agak lama keluar dari kantornya, habis membicarakan sesuatu dengan Cici."


Tari terlihat agak terkejut saat aku menyebut nama Cici.


"Mbak Cici? Ngobrol atau 'ngobrol' nih? Kok bisa sampai telat jemputnya!" tanyanya penuh rasa curiga.


"Ya... Ngobrol. Ngobrol doang. Enggak kayak kamu yang ngobrol sambil ketawa-ketiwi sama cowok lain!" balasku tak kalah menyebalkannya.


"Loh kok malah bahas Tari? Tari mah memang beneran ngobrol. Om lihat sendiri kan Tari lagi ngobrol dari tadi!" jawabnya dengan ketus.


"Ya aku juga ngobrol." jawabku tak mau kalah.


"Tapi Tari enggak bisa lihat. Beneran ngobrol atau ngapain!" lalu Tari menghapus air matanya dengan kasar.


"Aku beneran ngobrol. Enggak ngapa-ngapain! Ya memangnya aku harus merekam semua kegiatan aku sama kamu?!" balasku dengan ketus.


"Enggak usah! Itu sih kesadaran Om aja! Mau ngobrol beneran atau yang lain juga Tari enggak akan tau!" kini Ia mengambil tisu dan menghapus air matanya yang semakin banyak.


"Kalau aku ngapai-ngapain, kenapa aku cerita sama kamu kalau aku habis ngobrol sama Cici? Aku diem aja juga kamu enggak akan tau!" balasku lagi, bukannya meredam emosi malah membuat suasana makin memanas saja.


****

__ADS_1


__ADS_2