
Tari
"Aku sudah maafin mereka, Ma. Udah lama. Tari yang ngajarin aku buat menjadi orang yang pemaaf. Enggak ada gunanya aku menyimpan dendam terus menerus. Hidup harus tetap berjalan, dan aku nggak mau terus berkutat di masa lalu yang ujung-ujungnya hanya akan menghancurkan diri aku sendiri." ujar Abi dengan bijaknya.
"Mama sudah duga. Kamu orangnya pemaaf. Terima kasih banyak, Gas. Semoga kamu semakin bahagia lagi. Semoga anak-anak kamu juga jadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua. Aamiin." doa Mamanya Mbak Tara.
"Aamiin. Makasih ya Ma doanya, doa yang sama juga untuk Tara sekeluarga juga Mama." kata Abi lagi.
"Itu, di depan ada suara mobil! Kayaknya, Mama udah datang deh. Saya lihat dulu ya!" Mamanya Mbak Tara pun pamit untuk pergi ke depan.
Aku merasa sangat tegang, menanti apa yang akan terjadi nantinya. Bagaimana reaksinya? Apakah benar aku akan bertemu dengan nenekku sendiri? Apakah benar, Mamanya Mbak Tara adalah tanteku? Semua masih menjadi teka-teki.
"Kamu tenang aja ya, Sayang. Jangan terlalu stress. Anggap saja, kalau memang benar kamu adalah keponakannya Mama Irna, mungkin ini udah takdirnya. Kamu nggak usah mikirin macam-macam. Ada aku di sini. Siapapun keluarga kamu, kamu tetap istri aku." kata Abi menenangkanku.
"Betul itu yang Agas bilang. Kamu, tetap menantu kesayangan Mama." Mamanya Abi juga mendukungku. Aku kini merasa dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangiku. Berbeda sekali dengan dulu, hidup seakan sebatang kara tak ada yang peduli sama sekali.
Aku mengangguk sambil tersenyum sedih. "Makasih ya, Abi dan Mama. Ada kalian berdua, hidup Tari semakin lengkap. Tari mulai mengenal keluarga dan arti dicintai saat berada di dekat kalian. Masalah nanti Tari sebenarnya keponakan Mamanya Mbak Tara atau bukan, Tari enggak mau ambil pusing. Kalaupun tidak, ya udah."
"Bagus! Mama setuju banget. Terkadang, tidak tahu lebih baik daripada tahu." kata Mama menenangkanku. "Itu sepertinya mereka lagi jalan ke sini deh. Biar Wira Mama yang pegang ya?!" ujar Mama.
Kebetulan sekali, Wira sudah selesai menyusu padaku. Ia tertidur pulas karena kekenyangan. Aku pun memberikan Wira pada Mama, yang Mama bawa ke dalam kamar. Bagaimanapun, Wira masih terlalu kecil untuk bertemu banyak orang. Selain itu juga berpengaruh dengan masalah kesehatannya.
"Assalamualaikum!" salam beberapa orang di luar sana.
__ADS_1
Abi yang bangun dan langsung menghampiri juga menjawab salam. "Waalaikumsalam!"
"Wah! Agas rupanya?! Apa kabar kamu Gas?" ujar suara yang terdengar lebih lembut dan dengan nada karismatik.
"Kabar Baik, Oma. Oma apa kabar? Sehat?" Abi balas bertanya balik. Kalau dipanggil Oma, berarti yang di depan itu adalah Mamanya Tante Irna. Yang kemungkinan besar adalah nenekku. Tapi, aku nggak mau berharap ah. Aku takut terjatuh setelah berangan tinggi.
"Alhamdulillah Oma sehat. Malah Oma justru lebih sehat daripada Irna yang gampang sakit-sakitan. Kamu masih tinggal di sini, Gas?" rupanya mereka masih berbicara di luar.
Aku nunggu di sini aja deh. Aku nggak mau menghampiri ke depan. Takut dianggap sok akrab atau gimana. Toh pada akhirnya mereka juga akan masuk ke dalam.
"Masih dong Oma. Agas kan betah tinggal di sini. Kata orang, rumah pertama jangan dijual. Ya, Agas nggak jual deh. Setelah Agas nikah lagi, kami mutusin untuk tinggal di sini." jawab Abi dengan santai. Rupanya Abi malah menceritakan tentang masa lalunya yang pernah bercerai dengan Tara. Ia terlihat santai saja menjawab pertanyaan dari Oma.
"Syukurlah! Kamu sudah punya anak katanya ya? Boleh Oma melihatnya?"
"Tentu dong! Ayo, Oma masuk dulu ya ke dalam rumah. Nanti Agas kenalin sama istri Agas, namanya Tari." Abi lalu mempersilahkan para tamu masuk ke dalam rumah. Aku terdiam dan menunggu mereka masuk ke dalam.
Oma terlihat masih cantik di usianya yang sudah senja. Pakaiannya pun terlihat sopan, memakai celana bahan dengan blus atasan yang sederhana namun terlihat begitu wah saat dikenakannya.
Oma dan aku saling pandang. Tampak Oma sangat terkejut. Ia bahkan menjatuhkan tasnya yang sudah sejak tadi Ia pegang.
"Irna! Irna!" Oma memanggil Mamanya Mbak Tara yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
"Kenapa Ma?" tanya Mamanya Mbak Tara.
__ADS_1
"Ini Tari yang kamu ceritakan itu?" tanya Oma.
Mereka membicarakan aku?
"Iya Oma benar. Bagaimana menurut Oma?" tanya balik Mamanya Mbak Tara.
Aku reflek berdiri dan menyambut kedatangan Oma. Oma lalu berjalan tanpa sadar menghampiriku. Beliau bahkan melupakan tasnya yang jatuh, yang sudah Abi ambilkan. Oma lalu merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang sudah keriput. Tangan yang terasa hangat meski tak lagi kuat dan kokoh.
"Bagaimana mungkin? Kenapa kamu bisa mirip sekali dengan saya di waktu muda?" ujar Oma dengan mata yang kini sudah berlinang air mata.
Benarkah? Benarkah aku mirip dengan Oma? Apa mungkin? Kenapa aku masih ragu ya? Mungkin saja kan Oma salah mengenali?
"Oma....Oma duduk dulu yuk?!" Abi pun mencairkan suasana. Meminta Oma duduk agar bisa membicarakan semuanya dengan tenang.
Oma pun menurut. Ia duduk dan matanya tetap menatapku lekat. Aku juga duduk tapi bingung mau berbuat apa. Semua mata menatap ke arahku seakan aku ini adalah sebuah benda asing yang tiba-tiba ada dan ditemukan oleh seorang ilmuwan. Semua memandang aneh ke arahku. Memangnya, apa yang aneh di wajahku?
"Ini Tari, Oma. Istrinya Agas. Ibu dari anak Agas juga. Seperti yang Oma lihat, katanya Tari mirip ya sama Oma waktu masih muda?" Abi pun berbicara mewakili kedua belah pihak.
Oma mengangguk. Oma tetap menatap ke arahku dengan lekat. Membuatku jadi risih dibuatnya. "Mirip. Mirip sekali. Seperti Oma saat sedang bercermin. Waktu itu Irna cerita, katanya istrinya Agas itu mirip sekali dengan Oma saat Oma masih muda. Awalnya Oma enggak percaya, Oma minta buktinya. Sayang, Irna jatuh sakit dan gak bisa merawat Oma untuk sementara waktu. Akhirnya, Oma harus bersabar dan terus berdoa semoga Oma masih dikasih kesempatan untuk bertemu langsung dengan istrinya Agas. Alhamdulillah, hari ini Oma ada kesempatan buat bertemu langsung dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Irna. Istrinya Agas benar-benar mirip sekali dengan Oma."
"Benarkah Oma? Di dunia ini kan banyak yang mirip. Mungkin, karena Oma terlalu merindukan cucu Oma, makanya Oma menganggap kalau Tari sangat mirip dengan Oma." ujar Abi.
"Enggak. Oma yakin kok. Sebelum meninggal, anak Oma udah bilang sama Oma di mana Ia meninggalkan anaknya. Kita bisa cek nanti. Kini hanya tinggal membuktikan aja, kalau benar ada tanda lahir itu, pasti istrinya Agas adalah cucu Oma."
__ADS_1
Tanda lahir? Maksudnya apa?
****