
"Mm...Iya... Terus..."
Tari terus bergerak diatasku. Rasa kangen ini akhirnya tersalurkan. Sampai kami mendengar suara suster.
"Permisi, Pak!"
Aku membekap mulut Tari dengan ciumanku. Ia diam baru aku lepaskan.
"Saya di kamar mandi!" teriakku.
"Obatnya saya taruh di atas meja ya, Pak!" teriak suster tersebut agar aku mendengarnya.
"Iya. Makasih." jawabku.
Lalu pintu ruanganku pun tertutup.
"Huft... Om sih! Hampir aja ketahuan!" omel Tari.
"Udah lanjutin lagi! Lagi enak-enaknya nih!" kataku sambil menepuk pahanya.
"Tapi-" sebelum Tari protes aku memberinya pancingan agar Ia kembali bergerak liar diatasku.
Pancingan berhasil dan kami pun kembali meneruskan bersenang-senang. Setelah memandikanku, Tari masuk kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sendiri.
Sudah ada beberapa suster yang datang dan memeriksa keadaanku. Tari yang keluar dengan rambut basah sehabis keramas memeototiku yang menahan tawa sejak tadi.
"Terima kasih, Pak." ujar Suster setelah memeriksa keadaanku.
"Terima kasih, Suster." jawabku sambil tersenyum.
Tari sejak tadi berdiri saja dan memanyunkan bibirnya.
"Kenapa sih Neng cemberut aja?" aku menepuk sisi tempat tidurku yang kosong.
"Aku kan malu tau, Om. Kalau ketahuan mereka kita habis bersenang-senang gimana?" keluhnya seraya duduk di samping tempat tidurku.
"Loh memangnya kenapa? Disini enggak ada CCTV. Nanti malam kita lanjut diatas ranjang ini. Kalau dijadikan novel judulnya: Ranjang Panas Rumah Sakit Bersama Om Agas dan Goyangan Maut Utari." aku tertawa dengan lawakanku sendiri.
"Enggak lucu! Jangan macam-macam ya, Om! Om tuh disini lagi sakit! Mana ada pasien kebanyakan maunya kayak Om?" omelnya seraya memukul pelan dadaku.
"Loh memangnya kenapa? Hormon bahagia itu malah buat aku semakin cepat sembuh. Memangnya kamu enggak mau aku cepat sembuh?"
"Sembuh karena otak ngeresnya mengobati gegar otaknya sendiri. Ih aneh banget aku mah."
Aku kembali tersenyum mendengar perkataannya. Entah sudah berapa kali aku tersenyum hari ini sejak kedatangannya.
Pertengkaran kemarin membuatku tak nyaman, aku merindukan hal-hal receh yang Ia lakukan sampai membuatku tertawa. Aku rindu gerutuannya. Aku rindu goyangannya diatas tubuhku yang bisa membuat darahku berdesir cepat dan detak jantungku bertalu dengan kencang.
__ADS_1
Bahkan aku sudah tak tertarik lagi dengan kesenangan yang ditawarkan para gadis seksi di diskotek kemarin malam. Termasuk tawaran Tara yang mengajakku balikan lagi setelah Ia bercerai dengan Damar.
Melihat sikap sederhananya membuatku ingin mempertahankan senyum itu terus, membuatku ingin melindunginya dari dunianya yang kejam. Apakah aku sudah mulai menyukai... malah sudah mencintainya?
"Sini dong! Kita bobo siang! Nanti malam kan mau merealisasikan judul novel yang aku buat!" godaku lagi.
"Jangan aneh-aneh ah! Om minum obatnya dulu. Mau pakai air hangat enggak?" tanya Tari.
"Enggak usah. Air biasa aja." jawabku.
Tari mengambil minum dan memberikan padaku agar bisa minum obat.
"Obatnya pahit." kataku dengan manja. "Kasih yang manis dong!" aku memajukan bibirku sebagai isyarat agar Ia menciumku.
"Kalau yang manis itu gula! Godaan cewek-cewek seksi juga manis! Tapi obat itu meski pahit menyembuhkan. Gula dan cewek-cewek seksi meski manis justru mendatangkan penyakit!" Ia malah menceramahiku.
"Ish... Enggak peka jadi perempuan!" aku menariknya mendekat agar duduk di tempat tidur. Aku mau memeluknya seharian.
Ia pun menurut. Ia memilih tontonan yang bagus di TV dan pilihannya adalah Upin dan Ipin.
"Enggak ada film dewasa apa?" protesku.
"Ini bagus, Om. Banyak pesan moral didalamnya." jawabku.
Aku teringat kalau aku tidak banyak tahu tentang hidupnya selain dia anak yatim piatu dan Bapak tirinya mau menjualnya. Hanya tempat kerjanya yang aku suka.
"Bagus. Tari banyak belajar disana. Tari sekarang sudah bisa menghias kue dengan buttercream. Tapi besok Tari harus bolos les dulu. Om enggak ada yang jagain."
"Les saja. Selama pulangnya kamu enggak mampir ke Mall sama laki-laki itu dan makan bareng lalu sholat juga, aku ijinin."
Tari mengangkat wajahnya dan melihatku dengan terkejut. "Om kok tau sampai serinci itu sih?"
"Aku tuh kemarin niat jemput kamu. Aku klaksonin eh kamu malah naik mobil sama cowok itu. Yaudah aku ikutin aja!" kataku dengan jujur.
"Kenapa Om enggak berhenti pas Tari lagi jalan mau ke rumah? Tari teriak loh manggil Om!" protesnya.
"Sengaja. Aku sebal aja ngeliat kamu pulang kursus malah pergi sama laki-laki lain! Eh malah kamu yang tambah ngambek sama aku! Padahal aku sama Tara enggak ngapa-ngapain!" gerutuku.
"Maaf, Om. Tari enggak ada maksud apa-apa kok sama Pak Adi. Cuma niat pilihin kado aja. Enggak lebih. Tapi Om juga salah! Masih belum move on dari Mbak Tara!" tuh kan anak ini pintar sekali membalikkan keadaan.
Aku memeluk Tari dengan erat. "Tara mau bercerai dengan Damar."
"Hah? Beneran? Om tau darimana?" Ia kini duduk tegak dan menatapku tak berkedip.
"Tara yang bilang sendiri." jawabku jujur.
"Bilang sendiri? Oh... Jadi Om kecelakaan karena habis janjian sama Mbak Tara?" wajahnya memerah karena emosi.
__ADS_1
"Bukan janjian. Enggak sengaja ketemu di diskotek!" jawabku lagi-lagi dengan jujur.
"Oh... Jadi Om udah mulai ke diskotek lagi? Ngapain? Nyari cewek cantik dan seksi disana?" bukannya reda Ia makin emosi.
"Denger dulu penjelasanku sebelum emosi. Muka kamu merah kayak kepiting rebus kalo marah begitu!"
"Bodo!"
Aku tersenyum dan mengacak-acak rambutnya yang masih agak basah. "Aku kesana karena kesal sama kamu."
"Alasan! Bilang aja udah lama enggak nyari hiburan disana!" cibirnya.
"Iya juga sih. Udah lama enggak nyari hiburan disana." godaku.
"Tuh kan bener! Dasar Om-om centil! Ganjen banget!"
"Marah-marah terus aja! Aku suruh ajak kamu bersenang-senang disini, mau?"
Tari diam dan memanyunkan bibirnya. Kumajukan diriku dan mencium bibirnya pelan. "Aku udah jujur sama kamu. Aku memang niatnya mau bersenang-senang tapi aku udah sholat dulu sebelumnya. Disana ketemu anak-anak dan ditanya mau nyari cewek apa enggak, aku jawab enggak. Eh ternyata ada Tara yang juga lagi mumet. Pas aku tanya dia bilang katanya mau bercerai sama Damar. Aku enggak lama disana dan milih pulang menghadapi istriku yang jutek. Eh aku malah kecelakaan dan berakhir dengan bersenang-senang di rumah sakit deh!"
Wajah Tari sudah tak semerah sebelumnya. "Kenapa enggak mau bersenang-senang disana?" tanyanya.
"Enggak minat. Kayak aku udah tau kalau kesenangan disana tuh cuma fatamorga aja gitu. Lebih baik sama kamu. Disuruh gaya apa aja nurut. Mau keluar di dalam juga enggak masalah."
"Lalu Mbak Tara enggak bilang apa-apa lagi? Godain Om lagi enggak?" wah tajam sekali feelingnya. Ini baru namanya feeling seorang istri.
"Enggak usah aku ceritain lah. Nanti cuma bikin kamu emosi saja!" jawabku.
"Beneran Mbak Tara godain Om lagi? Terus Om mau?"
Kusentil keningnya dengan jati tengahku.
"Aww! Sakit tau, Om!" Ia mengusap-usap keningnya yang memerah bekas kusentil.
"Biarin! Aku udah bilang sama kamu tadi! Aku enggak lama disana dan pulang lalu kecelakaan!"
"Ah Tari yakin Mbak Tara godain Om!" masih keukeuh dia dengan perkataannya.
Aku terdiam. Mau merahasiakan juga percuma, kalau dengar dari mulut Tara malah lebih emosi lagi nantinya.
"Tara ngajak aku balikan kalau sudah cerai dengan Damar nanti."
Benar saja, Tari langsung menangis. Ia hendak pergi tapi aku lebih cepat menggenggam tangannya.
"Tapi aku tolak."
Tari pun menghambur ke pelukanku dan menangis di dadaku.
__ADS_1
****