Duda Nackal

Duda Nackal
Setuju


__ADS_3

Tari tak bisa menyembunyikan sorot mata berbinarnya saat mendengar aku setuju untuk menikahinya. Ya, lagi-lagi aku menyetujui tanpa pikir panjang. Sisi manusiawiku kembali menguasai.


Aku pikir Agas yang baik sudah lama hilang dan terkubur dalam diriku, ternyata sisi baikku masih ada. Kini, saat perasaan tak nyaman dan tak tega menguasaiku aku bagai kembali menjadi Agas yang dulu.


Keputusan yang entah akan aku sesali atau tidak, yang pasti aku menyerah dengan sikap bersalah yang mungkin akan menderaku kalau aku tak melakukan hal ini. Pernikahan, hal yang tak ingin kulakukan lagi namun ternyata takdir berkata lain.


"Om jadi nikahin Tari?" tanya Tari seraya mengambil tanganku dan mendekapnya penuh harap.


"Ya mau bagaimana lagi." jawabku dengan malas.


"Ya Allah, Om... Makasih Om... Makasih... Tari janji, Tari akan jadi istri yang baik buat Om dan ibu yang baik juga buat anak-anak kita!" ujar Tari dengan mata berbinar-binar.


"Tunggu, anak-anak kita?" tanyaku sambil mengerutkan keningku.


Tari mengangguk dengan yakin. "Daripada Om terus berbuat dosa dengan Mbak Cici, lebih baik Tari yang melayani Om. Kapanpun Tari siap!" jawabnya dengan yakin.


"Kamu bicara kayak gini seakan kamu tuh udah pengalaman loh! Saya jadi mikir yang enggak-enggak jadinya!" kulihat Tari dari ujung kepala sampai ujung kaki seakan sedang menyelidikinya lebih jauh lagi.


"Enggak Om! Sumpah Tari masih perawan! Ya sebagai seorang istri kan tugas Tari melayani suami Tari. Jadi ya nanti daripada Om mencari kepuasan di luar lebih baik Tari yang melayaninya." jawab Tari dengan polosnya.


Ya ampun anak ini, apa dia tidak tau yang dia hadapi adalah aku? Agas si Duda Nackal? Apa Ia akan sanggup melayaniku kelak?


"Bagaimana kalau meski kamu sudah melayaniku, aku tetap belum bisa meninggalkan dunia gemerlapku nanti?" aku sengaja mengetesnya, aku juga tak tahu bagaimana kehidupanku setelah menikah nanti. Aku sudah berkecimpung di dunia happy-happy seperti ini hampir dua tahun lamanya, benar kata Papa akan sulit disembuhkan.


Tari terdiam. Ia mungkin tak menyangka kalau aku akan berkata seperti itu.


"Kenapa? Kamu mau berubah pikiran? Aku menikahi kamu untuk menolongmu saja. Masalah masa depanku ingin seperti apa ya terserah aku. Kamu enggak berhak mengatur hidupku. Kalau kamu mau berubah pikiran dan mencari laki-laki baik di luar sana silahkan saja. Mumpung belum ada ikatan diantara kita." kataku dengan tegas. Aku tak mau Tari terus berharap pada hubungan diantara kita berdua.


Kami menikah bukan dilandasi oleh cinta. Pernikahanku dengan Tara yang dilandasi cinta saja bisa kandas, apalagi yang hanya dilandasi rasa kasihan? Aku sendiri menyangsikan keberhasilannya.


Pegangan tangan Tari mengendur untuk sejenak namun Ia kembali menggenggam tanganku dengan erat. "Tari siap! Seperti kata Tari sebelumnya, lebih baik melayani Om seorang daripada harus dijual ke mucikari dan melayani banyak laki-laki hidung belang! Kalau masalah Om suka berganti-ganti pasangan, Tari akan selalu mendoakan Om agar Om dibukakan pintu hatinya sama Allah dan menyadari kesalahan yang Om lakukan."


Ini jawaban yang tak pernah aku sangka dari seorang Tari. Ia bukannya memaksa aku setia, memohon aku tidak melakukan kebiasaan burukku tapi malah memilih untuk mendoakanku agar aku menyadari kesalahanku. Entahlah sampai kapan Ia akan bertahan menghadapiku.


Tari kembali ke dalam kamarnya dengan tersenyum lega. Masalahnya kini telah terselesaikan, tinggal aku yang belum selesai.


Aku memutuskan untuk mandi di malam hari ini. Mengguyur kepalaku yang terasa penuh dengan pikiran. Berharap setiap guyuran air mampu membawa pergi segala beban pikiranku.

__ADS_1


Menikah...


Aku akan menikah lagi...


Bayangan buruk kembali melintasi benakku. Sekelebat bayangan saat Tara sedang mendesah penuh kenikmatan dibawah kungkungan Damar seakan trauma yang sulit aku hapus.


Bagaimana saat itu Tara begitu menikmati perselingkuhannya. Wajar kalau aku menggila. Wanita yang kucintai dan kunikahi dengan penuh kasih ternyata berselingkuh dengan sahabatku. Hati siapa yang tak akan hancur, aku yang kuat sekalipun akan hancur.


Apalagi saat Tara mengatakan kalau aku lemah diatas ranjang. Alasan yang Ia katakan untuk membenarkan perselingkuhan yang dilakukan.


Ya, Papa benar. Aku harus menyembuhkan dua penyakitku. Penyakit takut akan menikah dan penyakitku yang suka nakal karena aku ingin membuktikan pada seluruh dunia, bukan hanya Tara dan Damar saja, kalau aku bukan pria lemah.


Brukk..


Kutinju dinding kamar mandiku.


Andai tak ada perselingkuhan itu...


Andai rumah tanggaku masih baik-baik saja...


Aku keluar dari kamar mandi dan memakai boxer saja. Rasanya malam ini terlalu gerah udaranya. Membuat rasa haus menderaku.


Aku berjalan menuju dapur, meneguk segelas air putih sampai tandas. Lampu dapur yang sudah dimatikan membuat suasana rumah terlihat gelap.


Aku baru saja hendak kembali ke kamar ketika ada yang menubrukku.


"Aww!" rintih perempuan yang tak lain adalah Tari.


Aku menyalakan lampu dapur agar Ia bisa melihat lebih jelas.


"Oh..... Om. Kirain Tari siapa." ujar Tari seraya membuang pandangannya tak mau menatapku yang hanya memakai boxer saja dengan bertelanjang dada.


"Menurut kamu siapa? Kenapa belum tidur?" tanyaku.


"Ha... Haus, Om." jawabnya dengan gugup.


Kuperhatikan lagi wajahnya yang menunduk dan memerah menahan malu. Kutahan senyumku melihat kepolosannya.

__ADS_1


"Jangan tidur malam-malam. Besok kita akan bertemu Bapak kamu dengan pengacara yang Papa utus."


Tari mengangkat wajahnya dan kembali menunduk malu saat menatap bagian atas tubuhku. Dasar gadis polos!


"Besok Om? Yaudah Tari akan tidur cepat malam ini!"


****


Aku menelepon Papa keesokan harinya, pengacara yang Ia utus sudah mengatur jadwal ketemuan antara aku, Tari dan Bapak tirinya.


Bapak tiri Tari melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti punya maksud terselubung. Seperti melihat ladang uang yang bisa Ia keruk.


Untunglah pengcara yang Papa utus adalah pengacara handal. Ia bisa membuat Bapak tiri Tari mau menandatangani surat perjanjian yang intinya tak akan mengganggu kehidupan Tari kembali.


Sayangnya, Tari kehilangan rumah milik Ibu angkatnya. Aku dan pengacaraku tak bisa berbuat apapun karena rumah itu sudah dipindahtangankan.


Aku menunjukkan foto Tari saat Ia kutemukan waktu itu. Wajahnya yang babak belur karena dipukuli Bapak tirinya kugunakan sebagai sarana untuk mengancam akan mempidanakan jika Bapaknya mengganggu Tari lagi.


Bapak tirinya Tari tak bodoh, meski Ia diancam akan dipenjarakan tak semudah itu Ia menyerah. Ia meminta ganti rugi karena seharusnya Tari sudah dijualnya pada mucikari. Alasannya sih demi kelangsungan hidupnya ke depan.


Alasan hidup apa yang menjual anak gadisnya pada mucikari demi uang? Dasar Bapak tiri gila!


Tari yang dizholimi kok aku ikutan emosi ya? Pantas saja Tari segitu keukeuh ingin aku nikahi sampai membujuk Papa segala. Laki-laki laknat ini yang Ia hadapi. Kalau aku sih sudah aku enyahkan dia dari muka bumi ini!


"Jadi anda minta berapa agar menjauhi hidup Tari?" tanyaku.


Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Ia pikir aku akan memenuhi keinginannya.


"Dua milyar!" jawabnya dengan senyum bak pemenang.


Tari yang terkejut dan wajahnya pucat. Ia berlindung di balikku dengan memegang lenganku dengan erat. Aku tahu ketakutannya kalau aku akan menyerah dan akhirnya Ia akan dijual oleh Bapaknya.


"Dua milyar kata anda? cih!" aku gantian tersenyum. "Saya bisa tuntut anda dengan pasal berlapis. Pertama tentang penganiayaan atau KDRT. Kedua karena penjualan manusia. Dan anda masih bisa tersenyum?"


"Yaudah kalau tidak mau! Dia anak saya! Suka-suka saya!"


****

__ADS_1


__ADS_2