Duda Nackal

Duda Nackal
Sakit Malas


__ADS_3

Utari


Bohong kalau aku tak khawatir tentang Om Agas yang mau menolong Mbak Tara. Aku khawatir setengah mati. Aku takut Mbak Tara akan menggoda Om Agas lagi.


Mengizinkan Om Agas memang itu yang terucap dalam bibirku, namun dalam hatiku timbul banyak ketakutan. Akankah aku menyesali keputusan yang aku buat?


Aku bisa apa?


Menikah dengan Om Agas adalah sebuah anugerah. Aku sadar kalau kami berbeda jauh. Menjadi istri Om Agas seharusnya aku sudah tau konsekuensinya. Termasuk menerima kalau nantinya Om Agas akan meninggalkanku demi wanita lain yang lebih menarik hatinya.


Mengekangnya bukanlah jalan keluar yang benar. Aku hanya akan membuat Om Agas merasa nyaman berada di dekatku. Yang bisa kulakukan ya memberi kepercayaan. Sesuatu yang kutahu amat mahal harganya.


Aku menghapus butiran air mata yang menetes di wajahku setelah Om Agas pergi dengan kecupan lembut di keningku. Aku tau, kebahagiaanku dengan Om Agas selalu menjadi ancaman. Kapan saja, kebahagiaanku bisa hilang dalam sekejap.


Aku harus menyiapkan mentalku. Cobaanku amat berat dan kekuatan cinta kami begitu timpang. Aku yang sangat mencintai Om Agas namun entah bagaimana posisi aku dalam hatinya.


Sudahlah....


Lebih baik disini dengan segala ketidakpastian daripada dijual Bapak dan mungkin aku sudah mengakhiri hidupku karena malu.


Aku batalkan niatku untuk tidur kembali. Aku malah duduk dan mengambil segelas air putih yang aku taruh di atas nakas. Kuminum dan kini aku lebih tenang.


"Assalamualaikum! Neng Tari ada di kamar?" tanya Mbak Inah di luar kamarku.


"Iya, Mbak. Aku di kamar. Masuk saja tidak dikunci kok!" kataku.


Mbak Inah masuk dan terlihat mengkhawatirkan keadaanku. "Neng sakit? Kok di tempat tidur aja jam segini? Ibu dan Bapak sudah pulang ya Neng?"


"Iya. Mama dan Papa udah pulang semalam. Papa ditelepon suruh pulang secepatnya karena ada urusan pekerjaan. Aku agak meriang ini! Badanku sakit semua rasanya!" Aku meregangkan tubuhku yang terasa enakkan meski masih terasa agak linu.


"Mau Mbak Inah kerokin?" tanya Mbak Inah.


Dikerokin? Kayaknya enak juga ya.


"Boleh deh Mbak. Atasnya aja. Punggung aku yang terasa pegel." kataku mengiyakan.


"Sebentar, Mbak Inah ambil minyak kayu putih dulu ya Neng." Mbak Inah pun keluar kamar dan masuk kembali dengan membawa uang koin dan minyak kayu putih.

__ADS_1


Ia pun mulai mengerok punggungku. Rasanya memang lebih enakkan. "Atasnya aja, Mbak. Bawahnya enggak usah. Aku yang pegal hanya atasnya aja." kataku.


"Iya, Neng. Habis ini Mbak Inah buatkan susu jahe ya Neng. Biar badannya lebih enakkan!"


Aku mengangguk. "Makasih ya, Mbak."


Sehabis dikerok, aku tertidur pulas dan mendapati susu jahe diatas nakas milikku. Aku memegangnya dan sudah tak lagi panas, hanya hangat sedikit.


Aku meminumnya sampai habis. Merasakan di dalam tubuhku hangat saat air jahe mengalir. Enak sekali rasanya.


Aku mengambil Hp milikku dan terkejut saat melihat jam. Sudah jam 1 siang. Aku belum sholat.


Ada pesan dari Om Agas beserta beberapa panggilan tidak terjawab darinya.


"Gimana keadaan kamu? Mau ke dokter enggak?" tanya Om Agas.


"Kamu baik-baik aja kan? Kok aku telepon enggak diangkat?"


"Tari, kamu kenapa enggak angkat telepon aku? Aku khawatir nih sama keadaan kamu!"


"Aku udah telepon Mbak Inah, kamu tidur ya habis dikerokin? Yaudah tidur saja ya yang pulas. Kabarin aku kalau kamu sudah bangun!"


Aku meneleponnya. Om Agas terlihat lega saat tahu kalau keadaanku baik-baik saja. Om Agas lalu menceramahiku kalau aku sakit karena terlalu lelah. Aku tak boleh masak dulu. Aku diminta Om untuk istirahat saja. Om bahkan mengancam kalau aku masih sakit, maka nanti sore Ia akan membawaku ke dokter.


Senang rasanya ada yang perhatian denganku. Setelah Ibu meninggal, yang perhatian padaku tinggal sedikit. Hanya ibu penjual seafood dan pemilik warung soto yang menanyakan dimana keberadaanku karena warung sedang ramai dan kekurangan karyawan.


Aku turun dari tempat tidur dan mengambil wudhu. Menunaikan sholat dzuhur lalu berniat memasak untuk Om Agas nanti.


Rasanya malas sekali memasak hari ini. Maunya aku tiduran terus. Apakah karena masih enggak enak badan ya? Manja sekali tubuhku ini! Dulu mana pernah kayak gini? Lagi sakitpun harus bekerja, kalau tidak nanti makan apa?


Aku paksakan tetap memasak untuk Om Agas. Setelah masakan jadi, aku masukkan ke dalam wadah plastik dan ku simpan di kulkas. Nanti tinggal menghangatkan di dalam microwave saat Om sudah pulang. Setelah itu, aku kembali ke kamar dan tidur lagi.


Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul 5 sore. Ya Allah, aku belum shalat ashar. Tadi shalat dzuhur hampir terlewatkan, sekarang shalat ashar. Benar-benar ya hari ini aku tuh males banget. Semoga, besok aku sudah pulih lagi. Aku harus pergi kursus besok.


Om Agas pulang sehabis maghrib. Setelah mandi dan shalat berjamaah, aku menemaninya makan malam. Om menanyakan bagaimana keadaanku dan aku jawab saja sejujurnya kalau aku merasa nggak enak badan dan pengen tidur. Nggak Biasanya aku sampai tertidur dua kali hari ini. Om bilang, kalau aku masih sakit besok tak perlu masuk kursus.


Keesokan harinya tubuhku terasa lebih segar namun rasa malas masih menghinggap. Aku lawan rasa malas tersebut dengan menyiapkan sarapan untuk Om juga bekal untuk makan siangnya nanti. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk pergi kursus.

__ADS_1


Hari ini pertama kalinya aku membawa motor ke tempat kursus. Om sudah membelikan helm baru beserta jaket yang warnanya sama dengan helm yang aku kenakan. Kami berangkat bersama dan berpisah saat keluar komplek karena arus lalu lintas sudah mulai padat. Aku memarkirkan motorku di tempat khusus parkir motor lalu menitipkan helm pada security. Jangan sampai, helm baruku hilang. Bisa kena omel nanti aku.


"Tari!" kudengar namaku ada yang memanggil.


Aku menengok ke belakang dan mendapati Pak Adi sedang berjalan ke tempatku.


"Pagi, Pak!" sapaku dengan sopan.


"Pagi! Kamu naik motor hari ini?" tanya Pak Adi.


"Iya, Pak. Mulai sekarang saya naik motor sendiri."


"Tidak diantar... suami kamu?" tanyanya dengan nada ragu.


"Enggak, Pak. Om sebenarnya mau antar, tapi nanti daripada pulangnya sudah ya Tari bawa motor aja deh!"


"Kemarin beneran suami kamu?" tanya Pak Adi. Kami berjalan bersama menuju gedung tempat kursus.


"Iya, Pak."


"Bukannya itu Om kamu? Kamu bilang kamu tinggal sama Om kamu!" Pak Adi masih belum percaya rupanya kalau Om Agas adalah suamiku.


"Iya Tari memang tinggal bareng sama Om Agas, Pak. Tari memang masih manggil Om. Biar lucu dan terlihat beda aja. Om Agas juga enggak mempermasalahkan panggilan dari Tari." jawabku dengan jujur.


"Oh... Kamu sudah lama menikah?" tanya Pak Adi.


"Hm... Sudah 2 bulan, baru ya berarti."


"Iya. Masih baru. Kalian beda umurnya jauh ya, makanya kamu memanggilnya Om? Eh maaf aku enggak bermaksud ingin mencampuri urusan rumah tangga kamu!"


"Enggak apa-apa kok, Pak. Santai aja! Aku sekarang 21 tahun. Kalau Om Agas 35 tahun. Ya, beda 14 tahun Pak. Makanya aku manggilnya Om. He...he...he...."


"Kalian dijodohkan?"


"Mm... Iya. Dijodohkan sama Allah." kataku sambil tersenyum.


"Kamu bahagia dengan pernikahan kamu?" pertanyaan Pak Adi kali ini menghilangkan senyum di wajahku.

__ADS_1


Dengan mantap kukatakan. "Aku bahagia." meski aku tak tahu berapa lama kebahagiaan ini akan aku rasakan.


****


__ADS_2