
"Jangan kebiasaan! Jangan terlalu sering tebar pesona! Nanti banyak yang berpikir kalau kamu tuh ngasih lampu hijau sama mereka! Kamu juga sih yang membuka peluang." omel Tari saat kami berada di dalam kamarnya berdua.
"Iya sayang... aku kan cuma mau membuat para pelanggan kembali lagi ke cafe ini." kataku membela diri.
"Aku tahu tujuan kamu, tapi nggak gitu caranya. Meskipun tujuan kamu baik, kamu juga harus melakukannya dengan cara yang baik pula. Jangan melakukan sesuatu yang membuat orang lain jadi salah paham! Bisa saja kan mereka menganggap kalau kamu itu memang memiliki perasaan pada mereka?!" kata Tari dengan tegas.
"Iya.... iya... Aku janji nggak akan lagi melakukan hal itu." aku merasa kalah. Apa yang dikatakan Tari memang benar adanya.
"Pokoknya jangan diulangin lagi ya!"
"Iya, Mommy Tari yang paling cantik sedunia!" kalau cewek ngambek dan marah resepnya cuma satu, dipuji. Nanti akan cepat baiknya. Jangan jadi laki-laki yang tidak peka dan egois.
"Yaudah ayo kita kembali bekerja! Abi mau makan dulu enggak? Nanti Tari ambilkan dari dapur." tuh kan baik lagi. Memang istriku ini pemaaf sekali.
"Nanti saja, Sayang. Abi mau bantuin karyawan kamu yang lain saja. Ada yang sedang istirahat kan? Pasti pengunjung juga sedang ramai-ramainya. Kalau sudah sepi baru Abi makan."
"Yaudah ayo kita ke depan!"
"Cium dulu!" kupeluk pinggang Tari dan kukecup pipinya.
"Ih aku kan bau asap. Keringetan juga habis memasak di dapur!" protesnya.
"Enggak apa-apa. Abi suka. Wangi Mommy paling Abi suka. Suka....suka....suka... sekali!"
Tari tersenyum. "Iya. Yaudah ayo kita keluar."
"Ciumnya belum?!"
Tari pun berbalik badan dan mencium bibirku pelan. "Kita lanjutinnya di rumah aja ya?!"
"Nah ini yang Abi mau! Ayo kita bekerja lalu pulang untuk bekerja keras lagi!" kataku penuh semangat sementara Tari hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
Benar dugaanku, pengunjung semakin banyak saja. Karyawan yang sedikit karena sebagian sedang istirahat mulai kerepotan. Aku bak Superman datang untuk membantu.
Kuambil buku menu dan mulai mencatat pesanan yang masuk. Mengambilkan request-an pengunjung seperti minta tisu, sumpit, lada dan sebagainya.
Aku bolak-balik antar meja dan dapur. Super duper sibuk. Rencananya kami akan membuka lowongan pekerjaan lagi untuk cafe baru dan cafe ini. Tak dipungkiri ada Tari di cafe membuat menu makanan semakin enak dan beragam. Pengunjung juga sangat menyukainya dan banyak yang berdatangan.
Aku bahkan membantu pelayan membersihkan meja agar bisa dipakai pelanggan yang waitting list. Wow... Dari sepi sekarang bahkan waitting list! Amazing!
__ADS_1
Kulirik security di depan yang mengatur parkir mobil. Halaman cafe penuh dan harus parkir di tempat lain. Benar-benar hectic sekali hari ini.
"Mas! Boleh minta dibungkus?" panggil seorang ibu-ibu. Kuhampiri dan membawa makanannya yang masih tersisa banyak ke dapur.
Aku yang mengemas sendiri dalam wadah plastik dan memberikan pada pelanggan tersebut.
"Mas! Minta bill-nya dong! Dari tadi aku panggil enggak ada yang datang!" gerutu pengunjung yang sudah selesai makan.
"Baik, Bu. Mohon ditunggu sebentar ya!" kataku sambil tersenyum ramah. Aku tak membalas keluhannya. Diiyakan saja.
Aku pun meminta bill pesanan yang Ibu itu minta pada kasir lalu memberikannya. Ibu itu pun mengantri di kasir yang juga penuh.
"Aduh mau bayar aja lama!" keluh Ibu tadi.
Lama-lama aku yang emosi kalau dekat dia. Lebih baik aku melayani yang lain saja.
Pegawai yang sudah selesai istirahat pun datang dan menggantikan pegawai yang hendak istirahat. Mereka sudah kenyang, aku masih menahan lapar.
"Mas! Bisa tolong dibersihkan?" panggil ibu-ibu yang anaknya menumpahkan es krim di lantai.
Huft...
"Baik, Bu."
Kuambil kain pel dan membersihkan bekas es krim. Belum selesai bekerja sudah ada yang memanggilku lagi.
"Mas! Boleh pesan minum lagi? Anak saya kepedesan nih! Air mineral saja!"
"Baik, Bu!"
Sabar Gas... Sabar...
Selepas karyawan shift kedua selesai istirahat, gantian aku yang istirahat. Aku masuk ke dalam kamar Tari dan tiduran di kasur untuk meluruskan kakiku yang terasa pegal sehabis menjadi gangsing.
Tak lama Tari datang membawa makanan untuk kami berdua. "Udah sholat dzuhur, Bi?" tanya Tari seraya menaruh makanan di atas karpet.
"Udah tadi. Pas adzan Abi langsung sholat di musholla." jawabku.
"Yaudah ayo kita makan bareng!" ajak Tari.
__ADS_1
Dengan malas aku pun duduk dan memakan makanan buatan Tari. Ia membuatkanku teh tarik juga rupanya. Kuminum untuk membasahi tenggorokanku yang kering. Dinginnya es membuatku terasa lebih segar.
"Tari suapin ya!" Tari tahu betapa lelahnya aku.
Aku mengangguk dan menerima suapan demi suapan darinya. Lelah namun mendapat perlakuan manis darinya seperti ini membuatku bersemangat lagi.
"Abi tiduran aja dulu kalo capek. Mau dibangunin jam berapa?" seakan tahu lelahnya aku, Tari malah menawariku istirahat.
"Enggak usah. Abi cuma sebentar aja kok. Abi malu sama kamu, Sayang. Kamu yang lagi hamil aja semangat sekali. Kenapa Abi malah bermalas-malasan?"
"Kata siapa Abi bermalas-malasan? Abi tuh rajin! Tari tadi lihat Abi bantuin pel lantai yang ketumpahan es krim, bungkusin pesanan yang mau dibawa pulang, nurutin kemauan pembeli dengan sabar. Padahal Abi sebagai owner bisa saja menyuruh pegawai lain, tapi Abi malah melakukannya sendiri. Apa namanya kalau bukan Abi rajin?"
Aku tersenyum mendengar pujiannya. Terdengar jujur dan membuatku tambah semangat jadinya.
"Abi mau ke depan lagi! Abi akan buktikan sama Mommy Tari kalau Abi adalah SuperAbi, ya.... masih sepupunya Superman-lah!"
Tari tergelak mendengar ucapanku. "Ih Abi mah ada-ada aja! Yaudah kalau gitu aku jadi SuperTari juga deh! Tapi aku enggak pakai koloor di depan loh ha...ha...ha..."
"Ha...ha...ha..."
****
Cafe ditutup jam 10 malam. Semua lelah dan semua senang. Setelah sekian lama cafe bagaikan mati suri, kini Tarbi Cafe kembali ramai.
Bisa dipastikan besok akan ramai kayak sekarang, mengingat antrian waitting list hari ini yang membludak dan banyak yang cancel karena tidak kebagian tempat.
Meski lelah, wajah karyawan Tari semua happy. Mereka tak jadi pindah kerja di tempat lain. Tak lagi kehilangan majikan sebaik Tari.
Semua lelah terbayar. Pemasukan cafe dalam sehari sangat banyak. Stok makanan mulai menipis. Tari dan para chef harus mengisinya lagi besok.
Semua bersemangat, Tari pun demikian. Ia yang kelelahan sampai tertidur di mobil saat kami berkendara pulang. Kubuka pintu mobil dan pintu rumah lalu menggendongnya ke dalam kamar.
Aku lalu kembali ke bagasi mobil dan mengeluarkan box kosong bekas kue yang Tari buat. Aku tahu seharusnya aku menagih janji Tari tadi siang, namun melihatnya lelah rasanya tak tega hati.
Untung saja tadi sore kami sempat mandi dulu di cafe agar lebih segar dan wangi. Tak mungkin melayani pelanggan dengan tubuh bau keringat, jadi sekarang tinggal tidur saja setelah cuci muka.
Kupandangi wajah malaikat cantikku. Seraya dalam hati terus bersyukur karena telah dipertemukan dengannya.
****
__ADS_1