
Agas
Alhamdulillah acara Aqiqah hari ini berlangsung dengan lancar. Semoga doa-doa yang dipanjatkan oleh adik-adik yatim piatu yang datang dapat dikabulkan oleh Allah.
Tari nampak cantik mengenakan hijab hari ini. Dia menggendong Wira yang sejak tadi tertidur pulas tak peduli suasana ramai di rumah karena banyak orang.
Hari Ini teman-temanku juga mendoakan dengan khusyuk. Sony dan Riko yang biasanya suka bercanda, kini mengikuti pengajian dengan tertib.
Makanan yang dibawakan oleh Mama Irna dan Oma sudah dibagi-bagikan kepada adik-adik yatim piatu dan juga tetangga sekitar. Semua kebagian, semua bisa menikmati secara adil.
****
Sebulan kemudian...
Tari yang sudah berniat ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya, pamit padaku. Ia pergi bersama Mama Irna dan Oma. Wira sengaja tidak dibawa. Stok susu miliknya masih banyak, aku bisa mengurusnya dengan bantuan Mbak Inah.
Kami memang sudah sepakat tidak menggunakan jasa babysitter. Tari yang memang sehari-harinya di rumah, bisa mengurus Wira sendiri, namun tetap saja pekerjaan rumah yang lain dipegang oleh Mbak Inah. Tak masalah, selama masih bisa dikerjakan aku ikut aja. Kalau Tari menginginkan bantuan, baru aku pesankan asisten rumah tangga untuknya.
Wira tertidur pulas saat Tari pergi. Baguslah. Semoga saja hari ini dia tidak rewel. Sambil mengawasi Wira, aku sibuk dengan laptop milikku. Memperhatikan pergerakan harga saham yang tak pernah bisa diprediksi kapan naik dan turun.
Aku juga sesekali mengecek laporan yang dikirimkan oleh anak buahku mengenai perkembangan showroom. Biasanya, aku rajin berangkat ke showroom untuk memeriksa sendiri. Namun, hari ini aku sibuk menjaga Wira.
Sedang asik-asiknya memeriksa laporan, Wira tiba-tiba menangis kencang.
Oek...oek...oek...
Aku berhenti memeriksa pekerjaanku dan melihat keadaan Wira. Kuangkat dia dari bouncer yang sejak tadi aku gerakan dengan kakiku. Aku pikir, tidur sambil diayun akan lama, ternyata kalau sudah waktunya bangun ya bangun aja.
Aku menggendongnya lalu menghangatkan ASI dalam botol kaca yang ada di dalam freezer. Ini salahku, bukannya sejak tadi aku setok ASI hangat tapi malah asyik bekerja. Wira yang tak sabaran, Ia pun menangis kencang.
Oek... oek... oek...
Anak ini makin lama nangisnya makin kencang. Aku mulai panik. Mbak Inah belum balik dari belanja di tukang sayur. Wira makin tak sabaran.
Cepat-cepat aku tuangkan susu yang masih belum hangat betul ke dalam botol miliknya. Dalam keadaan panik, aku memberikannya botol susu berisi ASI. Namun, karena terbiasa meminum dari sumbernya dan rasanya masih hangat, anak ini tak mau meminum dari botol. Ia menangis semakin kencang saja.
"Cup...cup... cup... Jangan nangis dong Sayang! Ini susu kamu, minum ya." aku berusaha untuk menenangkan Wira yang terus-menerus menangis tanpa henti.
Anak ini kenapa sulit sekali ya didiamkan? Padahal, saat ada Mommy-nya, jarang kudengar Ia menangis sekencang ini.
"Kok kamu enggak mau minum sih, Sayang? Kamu enggak haus?" Wira tak peduli dengan kata-kataku, Ia menangis makin kencang.
__ADS_1
Oek... oek.. oek....
"Kamu mau Abi shalawatin? Kamu suka kan kalau Abi shalawatin?"
Aku melantunkan Shalawat Nabi sambil menggendongnya. Berharap Wira akan anteng dan tidak menangis lagi.
Namun nyatanya...
Oek....oek...oek...
Tangisnya semakin kencang saja.
Masya Allah....
Aku harus apa ini?
"Jangan nangis dong, Sayang! Kamu enggak kasihan sama Abi? Atau kamu pup ya?" aku membawa Wira ke kamar dan memeriksa diapersnya. Bersih kok dan belum berat, artinya belum banyak pipisnya.
"Kenapa kamu nangis aja sih Sayang? Kamu kan digendong sama Abi yang ganteng? Memangnya enggak senang digendong Abi?"
Tangisnya pun semakin kencang...
Oek... oek... oek...
Beruntung Mbak Inah datang. Ia bagaikan penyelamatku yang datang di saat yang tepat.
"Wah adek Wira nangis ya Pak. Maaf saya kelamaan di tukang sayur. Maklum ibu-ibu komplek asyik ngegosip, Pak. Saya cuci tangan dulu ya Pak." kata Mbak Inah yang datang dengan terburu-buru setelah mendengar suara tangisan Wira dari luar.
"Iya, cepet Mbak!" perintahku.
Mbak Inah lalu mencuci tangan dan menghangatkan susu yang tadi ditolak Wira. Ia pasti tahu kalau susu tersebut baru aku hangatkan.
Mbak Inah datang dan menggendong Wira. Anak itu masih menangis kencang.
"Kenapa Dek? Kok nangis digendong Papa?" tanya Mbak Inah.
Aneh! Ngapain nanya sama anak kecil? Nanya sama Bapaknya aja enggak tau jawabannya apa, ini malah nanya sama anak bayi!
Mbak Inah lalu menaruh Wira di kasur bayi miliknya dan memeriksa diapersnya. Sama seperti yang kulakukan tadi.
"Enggak pup dan pipisnya masih sedikit, Mbak." aku jelaskan kalau aku sudah memeriksanya duluan sebelum Ia periksa.
__ADS_1
Mbak Inah lalu memeriksa punggung Wira dan mengambil minyak telon. "Ini ada bentol. Kayaknya Adek digigit semu deh Pak."
Benar saja, tangis Wira mulai mereda sehabis diolesi minyak telon. Anak ini ternyata gatal. Ah... Kenapa enggak bilang? Kasih kode kek! Kalau oek.. oek aja mana aku ngerti?
Mbak Inah lalu pergi ke dapur dan membawakan susu yang sudah Ia hangatkan. Wira yang awalnya menangis kini terdiam dan meminum susunya.
Wah... Anak ini benar-benar....
"Rupanya gatal dan haus Pak. Makanya nangis sampai kencang begitu!" kata Mbak Inah menjelaskan. "Ini sekarang ketiduran karena sudah kenyang."
Iya. Aku juga tau.
Mana aku tau kalau anak itu gatal?
"Yaudah Mbak, taruh di bouncernya lagi saja. Biar Mbak Inah beresin sayuran nanti Wira saya yang jagain." perintahku.
"Baik, Pak."
Mbak Inah pun menaruh Wira di bouncer. Ia tertidur nyenyak dan aku sibuk bekerja kembali. Keadaan pun kembali stabil berkat Mbak Inah.
Huft....
Ternyata tak mudah mengurus bayi. Apalagi bayinya kayak Wira...
****
Tari
Aku pergi bersama Oma dan Tante Irna ke makam Mama. Rupanya Mama meminta dikuburkan tepat di samping makam Papa sebelum Mama menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Aku sedih sekali. Tak pernah melihat wajah Mama dan Papaku secara langsung namun hanya bisa melihat makam mereka saja.
Makam mereka bersebelahan, dengan batu nisan model yang sama pula. Rumput di atas makam mereka terawat dengan baik. Pasti Oma yang mengurusnya.
Sekuat tenaga aku menahan air mataku yang hendak jatuh. Rasanya sangat sedih sekali. Cinta Mama dan Papa sudah bersatu di alam sana.
"Naura, ini Utari. Putri kamu. Maaf, Mama baru bisa membawa Tari sekarang. Mama berusaha mencarinya Tari namun baru sekarang bisa menemukannya. Tari wanita hebat... Tari mirip dengan kamu... Maafin Mama Naura... Mama janji akan menjaga Tari menggantikan kamu... " Oma menangis sesegukan di depan makam Mama.
Aku mendekati Oma dan memeluknya. Meski baru bertemu namun aku sudah seperti mengenal Oma sejak lama. Aku sudah menyayangi Oma, menggantikan Mama yang sudah lebih dahulu pulang menghadap ilahi.
***
__ADS_1