
POV Author
Sudah seminggu cafe berjalan, selama itu pula semua semakin terkendali. Tari mulai bisa membagi waktu antara membuat menu cemilan dengan membuat stok bahan yang tinggal diolah saja.
Karyawannya mulai Ia ajari membuat stok makanan dikala cafe senggang. Jika memang memungkinkan, Tari akan membuat risol frozen karena sejak kemarin banyak pelanggan yang mau membeli dalam kemasan beku yang tinggal goreng kapan pun mereka mau.
Cafe juga semakin ramai saja. Pengunjung meski berkurang karena hari kerja tetap saja pemasukan cafe banyak. Tari beruntung, susah memulai usaha yang langsung berhasil. Jika bukan karena Agas yang menjadi managernya mana mungkin? Agas mencari lokasi yang bagus dan mengeluarkan modal yang besar makanya cafe Tari langsung berhasil.
Waktu makan siang dan pulang kerja biasanya adalah waktu dimana cafe banyak pengunjungnya. Menu nasi tim buatan Tari memang tetap paling favorit diantara yang lain, namun Tari tak mau berpuas diri.
Tari sadar, dalam membuat usaha seperti sebuah curva. Awal rendah lalu menanjak naik dan kalau tidak dijaga bisa turun nantinya karena kalah saing dengan banyaknya bisnis cafe yang kini bertebaran dimana-mana dengan konsep yang lebih bagus pula.
Tari terus berkreasi membuat menu baru. Rencananya Ia akan membuat chicken katsu dengan taburan nori diatasnya. Hasil modifikasi yang Ia lakukan bersama chef di dapur.
Menu tersebut dipilih karena dirasa mudah dalam penyimpanan. Tak mungkin setiap mau bikin harus dibuat dulu. Ada proses dimana bumbu-bumbu harus dimarinasi agar meresap sampai ke dalam.
Maka, mulailah Tari memperkenalkan menu baru tersebut saat weekend tiba. Stok ayam yang sudah dimarinasi dan ditepungi siap untuk digoreng. Tari sudah membuat stok frozennya.
Agas pun membantu dengan membuat banner iklan di depan cafe. Ada balon yang menghiasi sehingga menarik perhatian calon pembeli.
Promo Menu Baru: Chicken Katsu Nori Diskon 20%. Grab it fast, Darling!
Agas sengaja hanya memberi diskon 20% agar cafe terkesan tidak terlalu membanting harga. Kalau sudah tau kualitas, diskon 20% sudah besar tentunya.
Seperti biasa, Agas membantu Tari kalau weekend. Ia tak mau istrinya kelelahan melayani banyak pembeli. Tari sudah lebih segar dan tidak lemas lagi seperti sebelumnya. Vitamin yang diberikan rupanya mampu membuatnya agak napsu makan. Meski tak banyak yang penting Tari mau makan, tidak seperti sebelumnya yang malas makan dan terlalu sibuk bekerja.
Musik pun dinyalakan dari speaker yang tersebar di beberapa titik. Musik pop kombinasi lagu Indonesia asli dan Barat pun berkumandang. Pertanda cafe sudah dibuka.
Karyawannya masih santai karena belum banyak bekerja, namun tidak demikian dengan Tari. Ia sibuk membuat kue untuk dipajang di etalase.
Menu pukis aneka rasa miliknya rupanya sukses menarik minat pembeli. Apalagi stok yang dibuat tidak banyak, harus langsung pesan kalau mau kebagian.
Pembeli pertama mereka hari sabtu ini adalah satu keluarga dengan dua anak. Mereka memilih outdoor dekat dengan arena bermain anak.
"Pagi! Sudah siap memesan?" tanya Agas dengan ramah.
__ADS_1
"Hmm... Menu hari ini chicken katsu nori ya Mas yang lagi promo?" tanya istri pengunjung.
"Betul, Bu. Menu ini dibuat setelah dimarinasi dahulu, jadi bumbu-bumbunya meresap sampai ke dalam dagingnya. Tepungnya juga ada potongan nori dan ada taburan nori diatasnya. Ibu akan menjadi yang pertama memesan menu ini hari ini, baru saja diluncurkan!" Agas membuat seakan pengunjung ini adalah pelanggan paling beruntung.
"Oh ya? Baik, saya mau! Kamu mau?" Ia lalu bertanya pada suaminya yang juga mau menu yang sama. "Jadi dua ya chicken katsu nori dengan kentang dan dua lagi nasi tim. Minumnya es teh tarik satu, es kopi mocca satu dan dua susu hangat."
"Baik. Mohon ditunggu!"
Agas tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjual menu baru pertama hari ini. "Maaf ya semuanya, saya duluan yang jualan menu baru! Ayo dong kalian semangat! Masa sih kalah sama sales mobil macam saya!" goda Agas pada karyawan Tari.
"Ih Pak Agas curang! Seharusnya saya tuh yang nawarin duluan! Liat aja nanti, saya bakalan banyak nawarin dibanding Bapak!" kata pegawai Tari tak mau kalah.
Agas menyerahkan menu pada bagian dapur dan tersenyum mengejek. "Coba saja! Semoga menang ya!"
Lalu satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Agas seakan sedang bertanding mendapatkan banyak pesanan menu baru dengan para karyawan. Mereka juga tak mau kalah saing dan bersemangat menawarkan menu terbaru mereka.
"Ada apa sih?" tanya Tari yang baru keluar dari dapur dan hendak ke toilet.
"Itu loh Bu. Pak Agas lagi bersaing sama anak-anak buat jualan menu baru. Seru melihat mereka bersaing, Bu. Mereka menggunakan kemampuan marketing mereka masing-masing. Hasilnya Ibu lihat sendiri, banyak pesanan menu baru yang masuk kan?" jelas kasir yang sedang bertugas.
Tari pun melanjutkan langkahnya menuju toilet. Ia melewati meja pengunjung yang sedang menikmati makanan buatannya dengan lahap. Timbul rasa bahagia dan bangga yang Ia rasakan. Makanannya disukai banyak orang, padahal selama ini Ia hanya biasa masak untuk dirinya sendiri dan Agas saja.
Tari berjalan melewati sebuah figura kecil bergambar lukisan namun tiba-tiba...
Bruk...
Prang....
Figura itu tiba-tiba jatuh sendiri padahal Tari tak menyentuhnya sama sekali.
"Ibu enggak apa-apa?" tanya sang kasir yang dengan sigap menghampiri Tari.
"Saya baik-baik saja. Tolong bantu bersihkan ya! Takut kena orang lain!" ujar Tari.
Kasir tersebut dengan sigap mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan. Agas langsung datang melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa? Apa yang pecah?" tanya Agas dengan wajah khawatir.
"Ini figuranya jatuh. Aneh, padahal enggak ada angin tau-tau jatuh begitu aja. Perasaanku jadi enggak enak deh!" ujar Tari.
"Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Agas sambil memeriksa tangan putih Tari.
"Aku enggak apa-apa kok."
Agas menghela nafas lega. "Syukurlah. Sudah jangan dipikirkan. Mungkin memang pakunya saja yang sudah kendor. Kamu mau ke toilet?" tebak Agas.
"Iya."
"Sudah pergilah. Biar aku yang mengurus ini!"
Tari menurut dan meninggalkan bekas pecahan kaca pada Agas. Dalam hati Tari merasa khawatir. Figura itu tiba-tiba terjatuh. Tari yakin tak ada angin dan kalau kata Agas karena pakunya kendor dan mau copot kenapa pakunya masih ada di tembok?
"Aneh sekali!" batin Tari.
Tari tak lagi memikirkan tentang figura yang jatuh lagi. Ia sibuk dengan tugas di dapur. Pesanan membludak karena pengunjung mulai ramai dan memenuhi cafe.
Agas dan karyawannya yang gencar mempromosikan menu baru membuat penjualan menu baru naik drastis mengalahkan nasi tim. Tari sudah menduga akan seperti itu sih makanya Ia sudah menyiapkan menu chicken katsu lebih banyak.
Tari tak mau lagi cafe tutup dengan alasan kehabisan menu. Persiapan sejak senin sampai kamis dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan saat weekend.
Jam sepuluh waktunya tutup toko. Semua karyawan sudah bersiap hendak pulang, Mereka merasa lelah seharian melayani banyak pembeli.
"Makasih semuanya! Hati-hati di jalan!" ujar Tari mengantar semua karyawannya pulang.
Tari sengaja pulang paling belakangan. Itu usahanya untuk menghargai karyawannya. Meski receh namun punya arti.
"Om Agas!"
Tari dan Agas yang hendak pulang pun mengurungkan niatnya kala nama Agas ada yang memanggil. Mereka berbalik badan dan melihat seseorang yang mereka kenal.
****
__ADS_1