
Aku berjalan dengan tangan kanan berisi satu paper bag full dengan sarung. Bukan baju atau tas branded melainkan sarung. Ke Mall untuk belanja sarung, padahal niat hati mengajak istri tersayang jalan-jalan menikmati waktu berdua.
"Abi senang kan Tari beliin sarung?" tanya Tari tanpa merasa berdosa sama sekali.
Aku tersenyum terpaksa. "Senang dong! Itu artinya kamu perhatian sama Abi." kataku dengan manis.
Harus sering-sering dipuji, jangan sampai sensitifnya kumat dan nangis lagi. Bisa aku repot nantinya!
"Sekarang kita makan yuk! Tari mulai lapar nih! Capek nyari sarung buat Abi!"
Bukan buat aku sih tepatnya, buat memenuhi ngidam kamu yang aneh itu.
"Mau makan apa?" tanyaku. "Di food court yang ada banyak aneka makanan atau di restoran?"
"Hmm... Dimana ya yang enak? Ada yang rasanya seger enggak? Kayak soto Betawi atau soto tangkar gitu?"
Masya Allah...
Nyari soto Betawi di Mall itu enggak segampang nyari KCF atau Mekdi!
Aku tambah yakin yang ada di dalam perut Tari adalah anakku. Rese soalnya! Mirip banget kayak aku!
Tunggu, di bawah ada restoran yang menyajikan makanan khas Betawi deh. "Aku tanya security dulu ya! Kayaknya ada soto Betawi deh!"
Aku pun bertanya pada security, benar saja ada restoran yang menjual masakan Betawi di lantai bawah. Aman ini mah!
"Ayo, Sayang! Ada nih yang kamu mau!" kataku dengan penuh semangat.
"Beneran? Ayo!" Tari menggandeng tanganku yang tidak membawa paper bag berisi sarung.
Aku dan Tari turun ke lantai bawah dan dengan mudah menemukan restoran yang menyediakan menu yang Tari idamkan. "Tuh! Ada kan? Kamu pesen deh mau apa? Bebas!" kataku sambil bernafas lega.
Ngidam kali ini mudah. Enggak ngerepotin!
"Mbak, aku pesan soto Betawi dua. Satu pakai nasi dan satu lagi enggak. Lalu minumnya es teh manis dua." pesan Tari.
"Kamu enggak pakai nasi?" tanyaku memastikan. Pesanan soto dan nasi pasti untukku karena tadi aku bilang mau pesan soto dan nasi. Lalu kenapa pesanannya tidak pakai nasi?
"Enggak mau!" Tari lalu bicara kembali pada pelayan. "Itu aja Mbak."
Pelayan itu pun mengulangi pesanan yang Tari inginkan lalu pergi sambil membawa buku menu.
__ADS_1
"Kamu memang kenyang makan soto saja tanpa nasi?" tanyaku.
Tari menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tentu enggak dong, Abi."
"Tapi kamu pesannya tanpa nasi loh!" kataku mengingatkan.
"Iya. Memang Tari pesan tanpa nasi. Tari mau makan soto pakai roti tawar! Pasti enak!"
Mati aku .....
Ngidam lagi dia...
Hadeh....
Mana ada sih makan soto pakai roti tawar?
"Kayaknya nggak enak deh, Sayang. Nanti aku bagi aja ya nasi punya aku?" aku masih berusaha nego agar Tari mengurungkan niatnya makan soto dengan roti.
Tari menggelengkan kepalanya dan wajahnya pun terlihat sedih. "Nggak mau, Bi. Tari maunya makan soto pakai roti. Itu pasti enak, Bi. Abi aja yang nggak pernah nyoba!"
Kayaknya bukan aku aja deh yang belum pernah mencoba makan soto dengan roti. Hampir kebanyakan orang juga belum pernah nyoba.
Roti meskipun judulnya roti tawar, namun ada rasa manisnya. Kalau soto kan rasanya asin dan gurih, mana cocok dipadukan dengan roti yang rasanya agak manis?
"Jadi, Abi beli dulu nih roti tawarnya?" tanyaku berbasa-basi.
Tari mengangguk dengan yakin. "Iya. Tari tunggu di sini aja ya? Tari enggak akan kemana-mana kok, Bi. Tari tungguin. Tari juga nggak akan makan duluan sebelum Abi datang."
"Yaudah, Abi beli dulu ya! Kalau ada yang mau dibeli lagi telepon Abi aja!" kataku.
"Iya, Bi."
Aku pun pergi mencari toko roti. Untunglah di ujung toko ada sebuah toko roti. Alhamdulillah, acara menyenangkan istriku dipermudah sama Allah.
Aku pun mengambil sebuah roti tawar dan membayarnya di kasir. Aku lalu kembali dan ternyata semua pesanan kami sudah terhidang di atas meja.
"Cepat sekali, Bi! Dekat ya belinya?" tanya Tari.
"Iya. Enggak jauh. Di ujung sebelah kanan ada toko roti." aku membukakan klip roti untuk Tari.
Seperti apa yang Ia katakan, Tari menyelupkan roti tawar ke kuah soto lalu memakannya. Aku menatapnya sambil mengerutkan kening. Mana enak?
__ADS_1
"Abi mau?" tawar Tari.
Aku menggeleng cepat. "Abi makan soto pakai nasi aja." tolakku. Jangan sampai aku dipaksa makan soto pakai roti.
"Yaudah kalau enggak mau! Padahal enak banget ini!"
Tari pun memakan soto campur roti dengan lahap. Ternyata menuruti keinginannya saat ngidam tidak buruk juga. Wajah bahagianya adalah bayaran atas kesabaranku menghadapinya.
Benar saja, Tari menghabiskan semangkuk full soto Betawi dengan dua lembar roti. Porsi yang lumayan banyak juga untuk dirinya yang kalau makan tidak begitu banyak. Ternyata orang hamil itu kalau ngidamnya dipenuhi, makannya juga lebih lahap. Semoga, kalau Tari ngidam lagi tidak yang terlalu sulit untuk aku wujudkan.
Sehabis makan, kami tak langsung pulang. Kali ini, aku yang memaksa agar Tari mengikuti kemana tujuanku.
Aku mengajak Tari memasuki kembali departement store. Aku berjalan menuju tempat pakaian wanita. Kupilihkan beberapa dress yang menurutku nyaman dikenakan karena perutnya yang sudah mulai membuncit.
Baju lamanya yang agak ketat, pasti lama kelamaan tidak akan nyaman dipakai. Aku sengaja memilihkan dress yang ukurannya agak besar, agar Ia bebas bergerak dan tidak merasa kesempitan. Aku juga membelikan celana hamil dan pakaian dalam untuk ibu hamil.
"Udah beli dari sekarang ya, Bi?" tanya Tari. "Bukannya nanti aja?"
"Ini untuk kamu pakai sehari-hari. Kalau perlengkapan bayi, nanti saja saat kamu sudah trimester ketiga. Kalau sekarang, aku cuma mempersiapkan kebutuhan kamu. Pasti, nanti kamu enggak akan nyaman memakai baju yang terlalu ketat. Kamu nggak akan bebas bergerak dan pasti rasanya mulai sesak. Aku baca-baca di internet, yang dibutuhkan ibu hamil itu selain baju yang agak longgar juga pakaian dalam yang ukurannya lebih besar. Kalau kamu memang merasa sekarang masih kebesaran, enggak apa-apa. Simpan saja buat nanti. "
Tari ternyata terpukau dengan pengetahuan yang kumiliki seputar ibu hamil. "Abi sudah baca sampai sejauh itu? Tari saja belum mikirin sampai ke situ! Tapi benar sih Bi, lama kelamaan baju yang Tari pakai mulai tidak nyaman. Tari merasa takut robek karena perubahan bentuk tubuh sekarang. Lalu, dress yang Tari sering pakai biasanya bahannya tidak melar. Kalau tidak hati-hati, nanti malah beneran robek. Yaudah Tari pilih dulu ya!"
Tari memilih beberapa baju yang menurutnya bagus. Sesekali Ia meminta pendapatku. Kebanyakan sih aku setuju karena rupanya Ia tahu mana yang menjadi seleraku dan mana yang tidak.
Aku membayar semua pesanannya dan kami pun pulang ke rumah dengan hati senang. Kami memang butuh liburan. Bagaimana kalau mengajaknya liburan ke luar kota ya?
Kalau aku pikir-pikir, sejak kami menikah belum pernah sekalipun Tari kuajak liburan. Sebuah ide tercetus di pikiranku.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah Papa dan Mama? Sekalian kita liburan?" usulku.
"Ke rumah Mama dan Papa? Kapan? Minggu besok kita kan harus mulai promosi cafe, Bi!" kata Tari mengingatkan.
"Besok. Kita menginap dua hari lalu kembali hari jumat. Masih sempat menyiapkan promosi bukan?" usulku.
"Beneran? Dadakan sekali!"
"Justru yang dadakan itu yang akhirnya terwujud. Coba kamu lihat acara reuni, kebanyakan wacana ujung-ujungnya gagal. Tapi kalau dadakan malah terwujud."
"Hmm...."
****
__ADS_1