
Mbak Inah sempat melongokkan kepalanya melihat apa yang sedang terjadi dengan rumah tanggaku. Tari yang tiba-tiba menangis sesegukan hanya karena segelas sirup memang terkesan sangat lebay.
"Aku enggak ngatain kamu stress. Kamu dengarkan dulu dong maksud aku tuh apa. Jangan menyimpulkannya sepotong-sepotong!" kataku berusaha meluruskan permasalahan kami.
"Ya... tadi Om sendiri yang bilang kalau aku stress! Lupa?" katanya sambil mengambil tisu dan srooot... Ia menyeka ingusnya.
Ya ampun... Segitunya ya masalah sirup doang? Ampun deh!
"Iya, aku minta maaf. Aku enggak akan ngatain kamu stress lagi! Janji. Masalah es sirup juga aku minta maaf, oke? Aku buatin lagi yang baru buat kamu!" aku mengalah.
Mantan duda nackal mengalah, garis bawahi itu!
Aku dulu juga seperti ini sebelum menjadi laki-laki yang memiliki banyak pesona. Aku suka mengalah. Kelemahanku adalah air mata wanita. Rasanya tak tega kalau mereka sampai menangis. Aku lebih suka membuat mereka mendesah kenikmatan dibawah kungkunganku dibanding melihat mereka menitikkan air mata.
Aku pun pergi ke dapur, saat aku berdiri kulirik Tari sudah tidak menangis lagi. Huh, lebay akut nih!
"Kenapa Neng Tari nangis Pak? Enggak biasanya kayak gitu? Tadi Mbak Inah denger masalah sirup, bener Pak?" tanya Mbak Inah.
"Iya, Mbak. Masa gara-gara Agas minum es sirupnya dia nangis? Aneh banget kan? Biasanya Agas judesin juga santai aja. Apa ini sifat aslinya ya?" aku mengambil gelas dan sirup dari lemari es.
"Biar saya yang buatin aja, Pak!" usul Mbak Inah.
"Enggak usah, Mbak. Saya aja. Nanti dia marah lagi kalau Mbak Inah yang buatin dan malah berpikir ucapan maaf saya enggak tulus lagi!" aku pun membuatkan segelas sirup dan menambahkan es batu agar dingin.
"Mbak Inah juga ngerasa aneh, Pak. Neng Tari anaknya mandiri dan enggak cengeng. Pasti ada sesuatu yang membuat Neng Tari kayak gini deh. " bisik Mbak Inah takut Tari mendengarnya.
"Tuh, Mbak Inah juga ngerasa aneh kan? Aku suruh cerita biar enggak stress eh aku malah dikira ngatain dia stress! Ah sudahlah! Ikutin aja mau-nya apa." gerutuku.
"Bapak sekarang makin sabar ya sejak nikah sama Neng Tari. Mbak Inah senang deh dengan perubahan Bapak sekarang. Makin soleh juga!" pujinya.
Aku tersenyum, "Iya sih saya akuin. Dia bawa banyak perubahan dalam hidup saya. Bawa banyak kebaikan juga. Biarlah kalau sekali-kali dia manja dan agak aneh begini."
Kutinggalkan Mbak Inah yang tersenyum mendengarkan perkataanku. Aku menghampiri Tari yang sedang tersenyum melihat Hp miliknya.
Cepat sekali dia berubah. Dulu00 Ia sedih karena tak punya group chat dan teman di Hp miliknya. Kini, bagaikan anak muda lain Ia juga mulai kecanduan gadget sampai tak menyadari kalau aku sudah duduk di sampingnya.
"Ini sirupnya!" kataku sambil meletakkan es sirup di depannya.
"Tari udah kenyang, buat Om aja!"
__ADS_1
Doeeeeennnnggg....
Aku udah buatin, udah diomelin ambil punyanya dan sekarang dia kenyang?
"Beneran nih? Nanti aku minum kamu nangis lagi!" sindirku.
"Enggak kok. Udah ah Tari mau ngungkep ayam. Udah segar lagi."
Tari pun pergi meninggalkanku ke dapur seperti tak terjadi sesuatu sama sekali. Biasa saja. Kemana perginya emosi dan air mata yang tadi?
Dengan kesal kuhabiskan sirup yang kubuat sendiri. Tau gitu enggak usah bikin lagi deh!
****
Rumahku sudah rapi dan siap menyambut teman-temanku. Tari juga sudah memasak dan membuatkan cemilan yang lezat.
Teman-temanku datang sekitar jam setengah delapan malam. Tak lama setelah aku dan Tari menunaikan sholat isya berjamaah.
"Kirain pada enggak jadi datang! Malam banget sih!" omelku sambil menyalami mereka dengan salam khas kami. Salam tinju.
"Yaelah jam segini dibilang malam? Ini justru masih siang! Beda deh kalau udah nikah mah, biasanya jam segini tuh party malah belum mulai. Udah dibilang malam aja!" jawab Sony.
"Biarin woy! Itu namanya dia udah tobat! Enggak kayak lo berdua!" ujar Bastian beraksi membelaku.
"Mentang-mentang lo bentar lagi mau melepas masa lajang!" sindir Riko.
"Oh ya? Kapan? Wah gue ketinggalan info nih! Ayo masuk semuanya!" aku meminta mereka bertiga mengajak pasangan mereka hari ini masuk.
"Seminggu lagi." jawab Bastian mantap.
"Ah gila loh! Dadakan banget! Apa...." aku tak meneruskan perkataanku, Bastian tau maksudku apa.
"Sialan lo! Udah sering gue bela tetap aja lo mikir gue tekdungin anak orang! Lo enggak inget kalau pernikahan lo juga dadakan? Kalau udah jodohnya mah disegerakan, Man! Jangan kayak dua orang ini! Belum nemuin yang pas gitu!" sindir Bastian pada Sony dan Riko.
Percakapan kami terhenti kala Tari memintaku membakar ayam di garasi. Mobilku sudah dipindahkan tentunya, dan motor Tari letaknya jauh jadi bisa kami gunakan untuk barbeque.
"Kita di depan aja ya. Biar cewek-cewek ngobrolnya di dalam aja!" ajakku.
"Bilang aja lo enggak mau mereka nguping, Gas!" sindir Riko.
__ADS_1
"Iya sih. Udah ayo bantuin gue!" ajakku.
Sambil membakar ayam, kami pun melanjutkan obrolan kami.
"Gas, lo mau denger gosip baru enggak?" tanya Sony sambil menurunkan suaranya. Sony melirik ke dalam rumah dan nampak para cewek sedang asyik mengobrol.
"Gosip apaan?' tanyaku penasaran.
"Damar. Gue ngeliat dia mabok melulu di club. Kadang rusuh lagi! Pas gue duduk di sebelahnya eh dia curhat tanpa gue tanya. Dia bilang katanya Tara udah ngajuin gugatan cerai di pengadilan. Stress berat tuh anak!" cerita Sony.
"Iya. Gue juga beberapa kali ketemu dia. Sendirian aja sambil minum. Matanya kosong gitu kayak kebanyakan pikiran!" tambah Riko.
"Gue sih udah lama enggak ke club. Gue gak tau infonya, Gas. Terakhir ke club ya waktu mau ngenalin cewek gue sama kalian." ujar Bastian.
Aku diam saja tak menanggapi gosip yang Sony katakan. Hal itu membuat Sony makin curiga padaku. "Wah, lo udah tau ya? Apa diem-diem lo ke club lagi?"
"Sialan lo! Enggak perlu ke club buat tau berita begitu doang! Tuh di depan rumah gue sering kasih lihat tontonan live pertengkaran mereka. Terus ya, Tara malah udah ngajakkin gue rujuk setelah cerai dari Damar. Gila kan?" kataku.
"Serius lo? Segitunya? Jangan bilang lo mau!" ujar Riko.
"Enggak lah! Udah gila kali gue! Lo pikir gue mau gitu dijadiin ban serep? Balik sama gue kalau butuh doang, ih ogah!" jawabku setengah emosi.
"Ya kan lo cinta sama dia, makanya gue mikir kayak gitu! Apa sekarang lo udah lupa karena udah punya Tari?" kata Riko merasa tak enak hati.
Aku menghela nafas dalam. "Dulu memang itu doa gue. Melihat rumah tangga mereka hancur, tapi setelah kejadian eh gue malah merasa biasa aja. Tari ngajarin gue buat ikhlas dan tak lagi mendoakan orang yang buruk-buruk. Lama kelamaan gue jadi terbiasa."
"Gila ya, Tari beneran bawa perubahan dalam hidup lo banget Gas. Awalnya gue heran lihat lo enggak pernah ke Club lagi eh ternyata bukan hanya kebiasaan aja, sifat lo juga dia ubah. Jangan lo sia-siain perempuan kayak gitu, Gas." ujar Riko.
"Tumben lo bener!" sindir Bastian.
"Yaiyalah, dulu nyokap gue pernah bilang begini: kalau gue ketemu cewek yang bisa membawa hidup gue ke jalan kebaikan, pertahankan. Bisa jadi dia memang jodoh terbaik yang Allah kirimkan." ujar Riko dengan puitis.
"Wuidih! Jarang-jarang nih anak bener, Gas!" sahut Bastian.
"Takut hujan deres gue nanti malam. Alam suka kaget liat lo tiba-tiba waras!" ledek Sony.
Kami pun menertawakan Riko, si bandel tapi sok puitis. Tawa kami lenyap saat...
"Wah kalian lagi barbeque ya? Aku boleh ikutan enggak?" yang baru diomongin pun datang. Yah... Makanya jangan diomongin! Jadi dateng beneran kan?!
__ADS_1
****