
"Apa yang mau kamu tau dari aku? Sifat aku ya kayak gini. Nackal. Suka senang-senang. Dibilanginnya susah! Hm... Apa lagi ya? Banyak jeleknya deh!" kataku terus terang.
"Padahal Om tuh laki-laki paling tampan dan ganteng menurut Tari loh!" wow... aku dipuji oleh gadis polos ini!
"Masa sih? Banyak yang lebih ganteng dari aku di TV. Artis sinetron, model dan bintang K-Pop banyak yang lebih keren." kataku merendah.
"Itu kan di mata mereka! Kalau di mata Tari tetap Om yang paling tampan! Tari tuh kadang suka enggak kenal loh dengan sifat asli Om yang selalu Om tutupi. Tari pikir dulu Om hanya nackal saja, setelah kenal ternyata Om punya hati yang baik. Hati yang seluas samudera baiknya."
Aku tersenyum. Nih anak kenapa kalau memuji tuh lebay banget ya? Mana mungkin hatiku seluas samudera? Lebay ah!
"Aku enggak sebaik yang kamu pikir. Di mata kamu aja baik, padahal aslinya urakan. Bandel. Nackal. Banyak perbuatanku yang tak layak untuk ditiru." kataku dengan jujur.
"Kalau tak banyak ditiru, kenapa Om masih melakukannya? Kenapa Om malah merugikan diri Om sendiri?" kali ini aku menyangsikan apakah Ia bertanya dengan lugunya atau sedang menyindirku.
"Karena Agas yang baik sudah lama menghilang dari dunia ini. Berganti Agas si Duda Nackal yang terkenal se-antero club bersenang-senang di Jakarta." kataku dengan bangganya.
"No...no....no!" Tari menggerakkan jari telunjuknya. "Duda Nackal udah berakhir. Sekarang Om udah bukan duda lagi! Om suami Tari. Lalu sebutan Nackal udah enggak layak Om sandang lagi."
"Loh kenapa?" tanyaku heran.
"Karena Si Nackal ini perlahan-lahan mulai bertaubat. Mulai mengurangi kegiatannya yang penuh maksiat. Mulai melaksanakan sholat meski masih bolong-bolong!"
Loh kok dia tau aku sholatnya bolong-bolong? Apa dia punya mata-mata di kantor? Ah enggak mungkin!
"Jangan terlalu berharap banyak dariku. Nanti kamu kecewa. Aku sudah berbahagia dengan duniaku saat ini. Dunia dimana banyak menawarkan kebahagiaan dibanding air mata. Dunia dimana aku lebih banyak tertawa dibanding merenungi nasibku yang malang."
"Masih lebih malang mana nasib Om dibanding nasibku? Kalau enggak ada Om yang baik hati, mungkin aku sekarang sudah berdandan menor dengan pakaian seksi dan harus memasang senyum menyambut pelanggan yang akan memakai jasaku," Tari kini menatapku dengan lekat. Aku pura-pura menyetir namun sesekali aku masih melirik ke arahnya.
"Om memang tersenyum disana, tapi percayalah itu hanya sebuah senyum palsu. Sama jika Tari akhirnya menjadi PSK, senyum Tari palsu hanya untuk menyenangkan pelanggan. Om pun tersenyum hanya untuk terlihat bahagia di depan teman-teman Om, nyatanya Om malah makin merasa kesepian. Benar bukan?"
Aku menyunggingkan seulas senyum. Ia memang pandai bicara. Pandai membuatku harus berhati-hati kalau tak mau perkataanku dipatahkan seperti ini.
"Ya... Mungkin!" jawabku singkat. "Dimana warung seafoodnya?" tanyaku.
Tari menunjuk warung seafood dengan tenda yang terbuat dari terpal berwarna biru. "Itu, Om!"
__ADS_1
Ternyata tak begitu jauh dari showroom milikku. Aku tak tahu karena kalau berada di showroom ini aku tak pernah sampai malam.
Aku memarkirkan mobilku di pinggir jalan, tempat biasa mobil parkir. Sebenarnya tak boleh parkir begini, namun bukankah peraturan dibuat untuk dilarang?
Tari sudah membuka pintu dan turun tanpa menungguku membukakan pintu untuknya. Wajahnya terlihat agak gugup.
"Tari deg-degan nih, Om! Kalau mereka nanya, Tari bilang apa?" tanya Tari.
"Ya bilang aja lagi ditraktir makan sama aku! Beres! Jangan kebanyakan memberi orang lain bahan gosip. Enggak dikasih tau saja mereka suka berasumsi sendiri!" jawabku.
"Iya, Om."
Aku dan Tari masuk ke dalam warung seafood yang agak ramai tersebut. Kehadiran Tari yang berpenampilan beda membuat pemilik warung seafood dan karyawan disana terpukau.
"Tari? Ya Allah udah lama enggak dateng, sekalinya dateng cantik banget!" ujar pemilik warung seafood yang datang menghampirinya.
Aku memilih kursi kosong dan duduk disana. Tari masih berdiri, tak enak meninggalkan orang yang menyapanya, tak sopan.
"Ibu bisa saja! Maaf ya Bu, Tari enggak bilang dulu sama Ibu kalau Tari berhenti kerja!" ujar Tari.
"Enggak apa-apa. Ngeliat lo dateng kesini dan baik-baik aja udah bikin gue tenang. Dari kemarin gue kepikiran pas tau rumah lo dijual Bapak lo yang sinting itu! Gue mikirin lo tinggal dimana? Lo udah makan apa belum?" Tari lalu berjalan dan duduk di sampingku. Pemilik warung ikut duduk bersama kami.
"Iya. Gue bisa liat lo baik-baik aja. Syukurlah. Gue bisa tenang sekarang. Eh iya sampai lupa, lo mau pesen makan apa? Lo kan tamu yak malam ini, malah gue ajak ngobrol!" pemilik warung seafood terlihat menyayangi Tari.
Sebuah menu yang dilaminating pun diberikan padaku dan Tari. Harga disana sudah banyak yang diubah dan ditempel sticker dan ditulis harga terbaru diatasnya.
"Tari mau pesen apa? Biar gue yang masakkin khusus buat Tari!" ujar pemilik warung.
Aku yang menyebutkan menu untuk kami berdua karena sejak tadi Tari kembali menjadi sosoknya yang pemalu.
"Tunggu bentar ya!"
Pemilik warung itu pun membuatkan makanan pesananku sesuai janjinya.
"Dia sayang sama kamu!" aku menunjuk pemilik warung yang sibuk memasak.
__ADS_1
Tari mengangguk. "Iya. Tari tau. Ibu Eni seorang janda yang menghidupi dua anaknya seorang diri sampai sukses. Ibu Eni harus menghemat pengeluaran agar anak-anaknya bisa bersekolah. Kalau seafood jarang Ia bagikan, kalau ayam Ia suka kasih kalau ada sisa. Ibu Eni yang menyuruh Tari bekerja untuknya agar Tari punya uang lebih. Salah seorang yang masih peduli dengan Tari."
Ternyata dunia Tari tak seburuk yang aku kira. Masih ada orang baik yang menyayanginya.
"Katakan padanya kalau kamu sudah menikah denganku!" kataku sambil berbisik. "Tapi bilang, cukup dia aja yang tahu!"
Tari membelalakkan matanya. "Om serius? Om bukannya mau menyembunyikan pernikahan kita?"
"Kata siapa? Kalau aku menyembunyikan pernikahan kita, kamu tak akan kubiarkan satu langkah pun keluar rumah. Aku kurung dan aku umpetin ha...ha....ha...." aku membayangkan kalau aku sekejam itu sampai mengunci anak orang di rumah.
Ibu Eni tak lama datang dan membawakan pesanan kami. Tari mencegahnya pergi dulu setelah semua makanan dihidangkan. Tari membisikkan sesuatu yang membuat Bu Eni terbelalak kaget.
"Hah beneran?"
Aku tersenyum saat Ia melihat ke arahku.
"Cuma Bu Eni yang Tari kasih tau." ujar Tari.
"Iya. Gue bakal jaga baik-baik berita ini. Ya Allah Tari, nasib lo beruntung banget. Ganteng begini! Kalo gue jadi lo, bakalan gue kekepin di rumah aja, enggak gue kasih keluar rumah!" ujar Bu Eni sambil memandangku layaknya seorang artis.
"Udah ah, Bu. Tari malu!" ujar Tari sambil menunduk.
"Yaudah lo makan yang kenyang ya." ujar Bu Eni. "Om ganteng! Selamat makan!"
Aku tersenyum mendengar sapaannya. "Iya, Bu."
Bu Eni pun meninggalkan kami berdua.
"Ayo makan! Coba kepiting ini juga!" kutaruh sebuah kepiting di atas piring kosongnya.
"Wah! Kepiting!" Tari mulai memakan makanannya dengan lahap. Aku bahkan harus mengambilkan tisu untuk mengelap wajahnya yang belepotan saus.
"Enak?" tanyaku meski kutahu dari lahapnya Tari makan pasti enak.
Ia mengangguk. "Enak banget Om. Daging kepitingnya manis bercampur saus yang pedas. Nanti Tari buat ah di rumah!"
__ADS_1
Keinginan belajar anak ini patut kuacungi jempol. Aku hanya mengangguk saja. Tak mau merusak kebahagiaannya dengan mengatakan kebanyakan makan seafood cuma bikin kolesterol naik. Biarlah, pelan-pelan anak itu pasti mengerti.
***