
Melihat istriku sangat lelah hari ini, aku semakin tidak tega rasanya. Ia menyiapkan segala keperluan untuk cafe mulai dari subuh hari dan baru bisa istirahat di malam hari.
Memang sih Tari melakukannya dengan senang hati, karena memang cafe ini adalah cita-citanya sejak dulu. Namun, keadaan dirinya yang sedang hamil membuatku tak tega melihatnya begitu bekerja keras.
Aku pun berpikir keras. Bagaimana caranya membuat pekerjaannya semakin ringan. Memegang satu cafe saja sudah selelah ini, apalagi memegang tiga cafe baru lagi? Satu-satunya cara adalah dengan persiapan matang sebelum cafe dibuka.
Selama ini, Tari dan chef di dapur yang menghandle persiapannya. Semua tertolong karena stok frozen food yang sudah mereka buat masih banyak. Tapi nanti bagaimana? Pembeli semakin banyak dan nggak mungkin mereka memasak secara langsung. Akan memakan waktu. Pembeli pun pasti lama-kelamaan akan pergi karena tak sabar menunggu.
Aku memikirkan cara agar semua bisa dihandle. Cara yang akan aku lakukan adalah membuat Tari tetap bisa stay di rumah namun bisa melakukan semua pekerjaannya. Cara tersebut adalah membuat pabrik kecil atau rumah produksi sendiri seperti yang Mama punya. Kebetulan, rumah di samping rumahku memang ingin dijual karena pemiliknya mau pulang ke negara asalnya.
Awalnya aku ragu karena harganya yang sangat mahal. Namun aku yakin kalau aku sanggup untuk membelinya. Meski tidak secara cash, aku akan mencicilnya. Uang keuntungan dari showroom dan cafe nanti akan dipakai untuk membantu membayar biaya cicilan rumah. Kalau ada uang lebih, akan aku lunasi.
Aku pun menyampaikan rencanaku pada Tari. Sesuai dugaanku, Ia keberatan. Tari bilang, biaya yang akan aku keluarkan malah jadi sangat besar nantinya. Namun, aku berusaha meyakinkan dirinya kalau rumah ini adalah investasi masa depan. Kalaupun memang tidak digunakan sebagai pabrik lagi, bisa digunakan untuk anak-anak kami kelak.
Aku bisa saja membelinya dengan cash, namun aku akan butuh banyak uang untuk memodali tiga cafe milik Tari yang lain. Meskipun, biaya pemilikan cafe dan renovasi dilakukan oleh Papanya Vira, tetap saja aku harus memodali untuk operasionalnya. Belum lagi, untuk segala biaya yang jumlahnya tidak sedikit.
Selama ini, aku menutupi semua pengeluaranku dari Tari. Semua semata-mata hanya ingin membuatnya bahagia. Sekarang, kalau sampai membiayai tiga cafe lagi aku tentu akan kesulitan.
Aku tak mau, sampai showroom milikku yang menjadi korban. Keuntungan dari showroomku tentu saja jauh lebih besar daripada keuntungan di cafe. Kalau dikorbankan, aku malah akan rugi bukan untung.
Aku pun berusaha menjelaskan pada Tari, aku bilang kalau aku tidak membelinya secara cash melainkan kredit. "Aku akan membelinya kredit, Sayang. Nanti untuk bayar angsurannya, kita bisa patungan dari uang keuntungan dari cafe dan juga uang keuntungan dari showroom. Anggap saja kita berinvestasi untuk anak-anak kita kelak. Kalau berbisnis itu harus nekat juga. Tapi harus ada perhitungannya. Aku sudah menghitungnya dan menurutku cafe kamu akan sangat menguntungkan. Karena itu, aku berani mengajukan pinjaman. Kalau pun terjadi apa-apa dengan cafe, setidaknya kita sudah menabung untuk membeli properti anak-anak kita di masa depan." kataku yang menjelaskan panjang lebar dengan sabar.
__ADS_1
Rupanya setelah dipikir-pikir Tari setuju dengan ideku. Investasi yang akan kulakukan itu demi masa depan kami juga. Akhirnya aku pun melakukan proses jual beli dengan pemilik rumah di sampingku. Bukan pabrik besar yang akan aku dirikan, melainkan UMKM yang menyerap tenaga kerja.
Aku pun meminta izin kepada Pak RT dan ternyata diizinkan. Baginya, apa yang aku lakukan itu bernilai bagi warga sekitar. Namun tetap saja, peraturan untuk masuk ke dalam komplekku ketat. Jadi hanya benar-benar karyawan yang diperbolehkan untuk masuk.
Mulailah aku mengisi rumah sebelah dengan peralatan untuk membuat kue dan stok makanan. Aku membeli oven dalam ukuran besar, mixer dalam ukuran besar, beraneka macam loyang dan alat-alat masak lain. Semua Tari yang mengaturnya.
Kami juga mulai merekrut karyawan, dan mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk pembukaan 3 cafe berikutnya. Ternyata, jika semua pekerjaan dilakukan dari sebelah rumah, Tari bisa lebih banyak waktu untuk beristirahat. Ia tak perlu lagi kelelahan karena bolak-balik cafe dan rumah.
Kalau di cafe, tanggung jawab diserahkan pada manajernya, bagian dapur tetap dipegang oleh chef. Ia hanya tinggal menyajikan makanan yang sudah disediakan dalam bentuk frozen dan menghidangkannya kepada pengunjung yang datang.
Maka dimulailah pembukaan cafe kedua ketiga dan keempat. Tari hanya cukup datang sebagai pemilik dan sesekali mengontrol kekurangan dan kelebihan cafe miliknya.
Setiap bulan, aku rajin mengantar Tari untuk memeriksakan diri di dokter kandungan. Aku melihat anakku yang tumbuh besar mulai dari sebesar biji polong sampai kini sudah beratnya 2 setengah kilo. Mama juga rajin menghubungi Tari dan menasehatinya untuk menjaga kesehatan. Jangan sampai terlalu lelah mengurus cafe.
Tak hanya itu saja, Mama dan Papa sering datang berkunjung untuk melihat keadaan Tari secara langsung. Yang dipikirkan oleh Mama dan Papa sekarang adalah Tari terus dan bukan aku. Biarlah, aku senang mereka perhatian dan sayang dengan istriku.
Tari sekarang hanya fokus dengan cafe dan mengurus rumah tanggaku. Ia sudah lulus kursus dengan nilai yang bagus. Iyalah, pemilik cafe masa sih nilainya jelek?
Kehamilan Tari semakin lama sebagian besar saja. Ia sudah mulai kesulitan untuk mengerjakan banyak pekerjaan karena merasa pinggangnya mulai pegal.
"Untung aja Tari nurutin kata-kata Abi untuk membuka pabrik di samping rumah. Kalau tidak bagaimana nasib Tari sekarang? Semua karena Abi yang penuh dengan perhitungan dan perencanaan matang. Sekarang di trimester ketiga kehamilan bisa sedikit santai. Tari hanya perlu menyiapkan diri untuk menghadapi proses persalinan pertama, yang jujur saja membuat Tari takut." ujar Tari setelah kami melakukan ibadah di hari kamis malam. Tau kan ibadah macam apa? Ibadah senang-senang, yang membuat adik kecilku dan anakku bisa bertemu secara langsung.
__ADS_1
"Iya dong. Abi kan sudah memperhitungkan semuanya. Abi mau, kamu banyak istirahat, apalagi kamu sudah memasuki detik-detik menjelang HPL. Kamu gak usah mikirin masalah cafe. Kamu fokus aja dengan proses persalinan. Dan jangan takut nanti Abi akan menemani kamu selama proses persalinan. Abi janji kamu enggak akan sendirian."
Kata-kataku membuat Tari menjadi sedikit lebih tenang. Ia tak lagi begitu cemas memikirkan proses persalinan yang semakin dekat.
Setiap pagi hari, aku menemani Tari berjalan kaki keliling komplek. Semua yang kami lakukan tujuannya agar Tari bisa melahirkan secara normal.
Perutnya yang sekarang mulai membesar justru makin membuatku semakin sayang terhadapnya. Dia rela membuat tubuh indahnya menjadi gendut dan meninggalkan bekas hanya untuk mengandung anakku. Segala bekas dalam tubuhnya yang tersisa akan membuat aku terus mengingat jasanya terhadapku.
Habis berjalan-jalan biasanya kami mengobrol di ruang tamu. Aku sibuk bermain saham dan Tari sibuk mengurus stok makanan di laptop yang aku berikan.
Suara ketikan di laptop yang ramai tiba-tiba menghilang berganti dengan suara rintihan yang membuatku mengalihkan perhatian dari layar berisi grafik dan harga saham.
"Kamu kenapa?" aku langsung menghampirinya yang terlihat pucat
"Bi... Perut Tari sakit!" rintihnya
Waduh...
Apakah ini waktunya?
****
__ADS_1