
Tak lama pintu ruangan kamar Tari diketuk oleh perawat. Perawat tersebut sambil mendorong kereta bayi berisi anakku, Wira. Tari sudah tak sabar ingin segera menggendong anaknya. Begitupun denganku, ingin melihat anak yang sejak dalam kandungan sudah sering kali mengerjai Abi-nya ini.
" Permisi... Pak... Bu..." ujar Perawat yang datang. "Mau anterin dede bayi yang haus nih minta susu."
"Akhirnya datang juga. Sini langsung saya gendong aja, Sus!" ujar Tari dengan penuh semangat.
"Abi dulu yang gendong ya, Sayang!" pintaku.
"Aku dulu, Bi. Aku mau susuin. Kasihan dia haus." Tari sangat protect dan tak mau aku menggendong anakku duluan. Huft.. Aku harus mengalah.
"Kasih Mommynya dulu, Sus!"
Mendengar aku mengalah, Tari tersenyum puas. Setidaknya Ia tak lagi sensitif seperti saat hamil dulu yang sebentar-sebentar nangis.
Perawat tersebut pun memberikan bayi kami pada Tari. "Sudah bisa menyusui, Bu?" tanya Susternya. Tari menggelengkan kepalanya. Maklum, biasa menyusui bayi gede yang mandiri pasti beda dengan menyusui bayi kecil.
Perawat tersebut lalu menjelaskan cara menyusui pada Tari. "Nanti area areola (Areola merupakan area melingkar di bagian tengah payu dara yang berwarna lebih gelap dibandingkan warna kulit sekitarnya. Source: alodoctor.com) juga dimasukkan ke dalam mulut bayi ya Bu. Jangan hanya pucuk pu tingnya saja. Agar tidak lecet dan bayi bisa menyusu dengan sempurna."
Tari pun memulai praktek seperti yang perawat lakukan. Ia membuka payu daranya yang makin membesar dan menggemaskan saja. Wow... Aku nanti dibagi enggak ya sama Wira? Boleh kali nyicipin sekali saja. Mumpung masih ada isinya. Biasanya kan kosong. Hanya casingnya saja.
Perawat juga mengajarkan posisi anak sehabis disusui. Juga cara menepuk-nepuknya agar bersendawa. Akhirnya sesi pembelajaran selesai. Kini saatnya aku gendong anakku.
"Abi gendong ya sekarang, Mommy!" aku mengulurkan kedua tanganku. Aku mau gendong anak gantengku lagi.
"Udah tidur, Bi. Kasihan jangan digangguin!"
Yah....
Gagal lagi dong gendong Wira?
"Yaudah di taruh di kereta bayi aja ya, My?" setidaknya kalau di kereta bayi aku bisa memandangnya terus dan sesekali menciuminya.
"Enggak ah. Disini aja. Di samping Tari." Tari meletakkan Wira di sampingnya. Ia memeluk anak kami dan sesekali menciumnya.
"Abi boleh cium ya?" aku mendekatkan wajahku pada Wira dan berhasil menciumnya. Wangi sekali. Wangi khas bayi. Rasanya mau menciumnya lagi.
__ADS_1
"Udah ah jangan diciumin terus. Kasihan Wira lagi bobo. Tuh kan jadi kaget dia!"
Huft.... Baru cium sekali udah enggak boleh lagi hiks... Apes banget. Tari tuh kayak Ibu beruang yang anaknya enggak boleh dicolek. Atau kayak Ibu kucing yang kalau anaknya disentuh bakalan marah dan mencakar siapapun.
Aku pun mengalah. Menjadi seorang Abi artinya harus banyak mengalah. Harus banyak bersabar. Harus banyak istighfar.
"Kamu enggak istirahat aja, Sayang? Biar aku yang jaga Wira. Kamu enggak capek habis ngelahirin? Kamu habis ngeluarin banyak tenaga loh! Tadi teriak-teriak, mengejan, juga banyak keluarin darah. Pasti tubuh kamu lelah. Istirahat dulu ya!" kataku dengan lembut.
"Enggak mau! Nanti Abi pasti mau gendong Wira deh!"
Aku tersenyum sambil menahan sabar. "Enggak. Abi janji! Abi cuma pandangin Wira aja dari sini."
"Bener ya? Jangan digendong! Liatin aja!"
"Iya.... Iya...."
Tari pun menurut dan kembali tertidur lelap sambil terus memeluk anak kami. Huft... Masih sensitif rupanya, meski kadarnya sudah tidak separah dulu.
Aku memakluminya. Perjuangan melahirkan yang berat dan sangat sakit membuat Tari takut kehilangan buah hatinya. Takut buah hatinya kenapa-napa. Rasa khawatirnya nanti akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Wirata Agastya...
Jangan ikutin jejak nakal Abi kamu ya, Nak. Jadi anak baik kayak Mommy kamu.
Melihat mereka berdua tertidur pulas, aku pun jadi mengantuk. Malangnya, Hp-ku berbunyi. Bastian.
Tak ingin membangunkan dua orang yang kusayangi, aku pun agak menjauh ke arah jendela. "Kenapa, Bas?"
"Tadi gue ke rumah lo, tapi sepi. Lo kemana?" tanya Bastian. Wah bisa kebetulan banget Bastian sampai mencariku ke rumah. Sahabat memang kadang punya ikatan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
"Gue ke rumah sakit, Bas. Tari udah ngelahirin anak gue."
"Hah serius lo? Wah untung aja gue kesana jadi tau duluan. Cewek apa cowok anak lo?"
"Cowok dong! Seorang Agastya sejati!" kataku dengan bangganya.
__ADS_1
"Di rumah sakit mana? Gue sama bini gue mau jenguk. Nanti sekalian gue ajak anak-anak jenguk juga."
"Biasa. Di Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting. Ini RSIA-nya ya bukan yang umum tempat gue dirawat dulu."
"Iya. Tau gue. Kemarin gue lewat lagi ada galian tuh disitu!"
"Kenapa lo enggak kasih tau gue? Habis nih rambut gue dijambak Tari gara-gara macet! Rese emang, yang ngegali siapa gue yang apes!"
"Ha...Ha...Ha... Anak lo emang dendam kesumat sama Bapaknya sejak dalam kandungan, Bro! Lo sih nyakitin emaknya melulu. Doi sebel jadinya. Mau keluar aja masih sempat-sempatnya ngerjain Bapaknya dulu. Entah gedenya kayak gimana tuh anak! Jangan mirip lo aja deh!" ledek Bastian.
"Sial lo! Jangan lah! Jangan mirip gue! Harus lebih baik dari gue nih anak! Makanya gue namain Wirata Agastya. Agar baik hati dan suka menolong."
"Makin mirip dong sama lo?! Lo kan suka nolongin Cici makanya dapet service plus-plus ha...ha...ha..." ledek Bastian lagi.
"Rese nih anak! Udah ah gue mau liatin anak gue lagi. Mau lihat cetakan yang gue buat dengan berbagai gaya dan goyangan. Lo harus coba deh banyak gaya, hasilnya ganteng kayak anak gue!" pamerku.
"Dih! Jangan ngajarin lo! Ajaran lo enggak ada yang beres! Yaudah nanti sore gue kesana pas jam besuk. Mau beli kado dulu. Lo mau dikadoin apaan?"
"Emas batangan aja yang 25 gram. Biar enggak ngerepotin lo bungkus-bungkus kado segala."
"Ogah! Mending gue beliin Tari kursi pijit biar gak pegel nyusuin anak lo. Kalo nyusuin Bapaknya mah gampang, sambil telentang juga bisa. Bapaknya aktif bener Bun ha...ha...ha..."
Aku tertawa ngakak mendengar omongan Bastian yang ngaco. Setelah menutup telepon, aku berbalik badan dan melihat Tari menatapku tajam. Wira sudah Ia gendong.
"Berisik banget sih, Bi! Wira jadi bangun tuh!" omel Tari.
"Maaf, Sayang. Sini Abi gendong aja biar Wira bobo lagi!" kubuka kedua tanganku siap menerima Wira. Namun...
"Enggak usah. Wira mau sama Mommy ya Wira. Enakkan sama Mommy ya Nak? Wira mau nen lagi?"
"Abi juga mau. Enggak ditawarin nih? Jangan Wira melulu. Yang sebelahnya masih penuh tuh takut bocor. Sini Abi bantuin!"
"Jangan ngaco deh! Kok berebutan sama anak sendiri!"
****
__ADS_1