Duda Nackal

Duda Nackal
Wira Hilang!!


__ADS_3

Agas


Sehabis makan es krim, kami lalu pergi ke toko dan memilih kue yang sesuai dengan selera Oma. Tari sedang memilih kue sementara aku dan Wira asyik melihat-lihat beraneka kue yang terlihat enak dipajang di etalase toko. Handphone-ku berdering dan terdapat sebuah panggilan masuk, ternyata dari si galau Sony yang yang berniat curhat tentang kegalauan hatinya lagi.


Aku mendengarkan cerita Sony sambil mengawasi Wira. Tapi, saat Sony menceritakan kalau Ia bertemu lagi dengan mantan kekasihnya, aku mulai fokus mendengarkan ceritanya dan mulai lengah.


Kupikir Wira masih asyik melihat beraneka macam kue di etalase. Sejak tadi, Ia berteriak-teriak menyebut tokoh kartun kesukaannya yang ada di di hiasan kue. Beraneka tokoh kartun ada di sana, contohnya Thomas, Spongebob, Doraemon dan Mickey Mouse.


Aku yang lengah tidak memperhatikan kalau Wira sudah tidak ada di dekatku. Saat aku berbalik badan, aku terkejut karena tak ada lagi suara kecil miliknya yang asyik menyebut nama-nama tokoh kartun kesukaannya.


Tari juga masih sibuk dengan hiasan kue yang Ia inginkan. Ia ingin yang spesial untuk Oma. Tari tidak memperhatikan kalau anaknya menghilang. Mungkin karena Ia pikir Wira dalam pengawasan ku.


Aku pun berlari keluar toko. Aku menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan anak kecil yang sudah lancar berjalan bahkan sanggup berlari cepat itu.


Dimana anak itu? Mati aku kalau sampai Tari tahu aku sudah membuat Wira hilang lengah dari pengawasanku!


Aku pun mencari ke sudut sebelah kanan. Aku melihat beberapa toko dan ternyata tidak ada anak itu. Kemana dia? Kenapa sih larinya cepat sekali? Kayaknya nggak mungkin deh!


Mungkin aku salah jalan, bukan ke sudut sebelah kanan tapi ke sudut sebelah kiri. Aku pun kembali ke toko kue dan mengendap-endap agar Tari tidak melihatku. Aku lalu berlari ke sudut sebelah kiri.


Aku membuka mataku lebar-lebar dan berjalan pelan sambil menelusuri toko yang sekiranya menarik perhatian Wira. Pasti dia nggak akan jauh-jauh.


Wira bukan anak yang tertarik pada mainan. Ia lebih tertarik pada cewek cantik. Jadi kuputuskan untuk masuk ke toko pakaian yang letaknya tak jauh dari toko kue tempat tadi kami berada.


Toko baju ini lumayan luas. Sayangnya, tidak ada karyawan yang menyambut di depan pintu. Kalau ada, pasti Wira tidak akan bisa masuk ke dalam sini tanpa pengawasan dari orang tuanya.


Di mana anak itu? Susah sekali mencari anak sekecil itu di antara banyak baju seperti ini.


Aku menurunkan pandanganku dan mencari keberadaan Wira di antara sela-sela baju dan rak-rak tempat Ia bisa saja bersembunyi.

__ADS_1


Wira masih belum aku temukan. Berarti, aku harus mencari di titik kelemahannya yaitu cewek-cewek cantik.


Aku memanjangkan leherku dan mencari cewek paling cantik di toko ini. Dapat!


Cewek itu berambut panjang. Ia mengenakan tanktop dan rok jeans pendek di atas lutut. Ia mengenakan tas yang Ia pakai di sebelah kanan.


Aku kini mencari ke bagian bawah cewek tersebut. Ternyata benar dugaanku. Wira sedang berdiri di samping cewek tersebut. Tampaknya, cewek itu terlalu asyik memilih pakaian sampai tidak menyadari kalau Wira berdiri di sampingnya.


Aku segera mendekat. Tampaknya, Wira sedang duduk dan melihat ke arah paha mulus milik cewek seksi tersebut


Sebentar lagi, aku akan sampai ke Wira. Akan aku gendong dan bawa anak itu keluar dari toko ini.


Sayang, cewek seksi tersebut membawa beberapa baju dan masuk ke dalam ruang ganti. Ia juga tak menyadari kalau sejak tadi Wira terus mengikuti langkahnya.


Sekarang, Wira berada di dalam kamar ganti. Bagaimana aku bisa membawanya keluar? Kenapa Wira lama sekali berada di dalam sana?


Aku menunggu suara keributan di dalam kamar ganti. Sayangnya, apa yang aku harapkan tidak terjadi. Bagaimana anak itu bisa mengendap-endap masuk ke dalam sana tanpa diketahui? Apa karena tubuhnya yang kecil jadi tidak terlihat? Tapi tidak ah, Wira tidak sekecil itu!


Tak lama cewek seksi itu keluar dan ternyata Ia menggendong Wira. Jadi, Wira sudah ketahuan! Aduh bagaimana ini?


Kupikir, cewek seksi itu akan marah-marah tapi ternyata tidak. Malah cewek itu tertawa melihat kelucuan Wira.


"Ya ampun, Dek. Kamu tuh lucu banget?! Mama kamu mana?! Menggemaskan deh!"


Bukannya menjawab, Wira malah menunjuk-nunjuk belahan dad* seksi cewek tersebut. "Nen... Nen..."


Cewek malah tertawa makin kencang. Ia tidak tahu kalau Wira tidak seperti yang Ia pikir! Anak itu sudah mengerti mana yang seksi dan mana yang tidak.


"Ha... ha... ha... Kamu haus ya? Dimana Mama kamu? Kamu mau minum?" cewek seksi itu pasti berpikiran kalau Wira haus karena melihat aset miliknya yang menggoda. Bila saja Ia tahu Wira punya kegemaran melihat belahan dad* yang begitu menggoda pasti Ia akan sangat marah.

__ADS_1


"Kok enggak jawab sih Kakak tanya sama kamu?" tanya cewek seksi itu lagi. Wira bukan menjawab Ia malah terus asyik menunjuk-nunjuk aset milik cewek seksi tersebut. Matanya tak pernah lepas dari belahan perempuan itu.


Wah anak itu adalah bikin malu saja! Kenapa sih, harus nunjuk-nunjuk aset perempuan itu? Aku kan jadi malu dibuatnya!


Lalu aku dikagetkan dengan dering handphone milikku yang berbunyi. Tari ternyata. Pasti Ia sedang mencari keberadaanku dan Wira. Aku harus cepat-cepat membawa Wira ke Tari. Kalau tidak, Ia akan curiga dan marah kalau sampai tahu anaknya hilang!


Dengan terpaksa aku harus mengambil Wira dari tangan cewek seksi tersebut. Anak itu tidak bisa dibiarkan terlalu dekat dengan cewek seksi. Tangannya suka menunjuk ke sesuatu yang menonjol.


"Wira!" aku memanggil namanya. "Kamu kemana aja sih? Dari tadi Abi nyariin kamu. Tadi ada suara kamu eh Abi lengah sedikit langsung jadi kabur!" omel aku pada Wira yang seakan tidak peduli saat mendengar suaraku. Matanya masih tertuju pada aset berharga milik perempuan tersebut


"Maaf, anak saya merepotkan ya?" tanyaku pada cewek seksi tersebut.


"Jadi Om itu Papanya anak lucu ini ya? Pantas saja anaknya lucu dan menggemaskan, Papanya juga ternyata!" goda cewek seksi itu padaku.


Hal yang tidak terduga kemudian terjadi. Wira yang mendengar aku digoda oleh cewek lain tiba-tiba mengangkat tangannya dan....Plak! Cewek itu dipukul bibirnya oleh tangan mungil Wira. "Janan centil!"


Mati aku! Pasti cewek itu akan marah! Aduh aku harus siap-siap minta maaf dan membawa kabur Wira dari sini. Anak itu ya suka tiba-tiba tidak terduga seperti ini.


Ternyata yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaan. Cewek itu bukannya marah tapi malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Wira. "Ya ampun Dek, kamu tuh lucu banget! Jadi Kakak enggak boleh centil ya sama Papa kamu? "


Dia mengangguk. "Janan centil!" omel Wira lagi.


"Iya... Iya... Kakak enggak centil lagi!" janji cewek seksi itu.


Cepat-cepat aku menggendong Wira dan meminta maaf atas kelakuannya. Aku pun langsung keluar toko dan mencari Tari. Bahaya ini... bahaya! Anak ini nggak bisa ditinggal sendirian! Bisa terjadi perang dunia ke-3 nih kalau Tari sampai tahu!


****


Mohon maaf dikarenakan kesibukan author jadi waktu update agak berantakan. Aku usahakan tetap update tiap hari ya! Mohon dukungannya dengan vote, like dan komen. Makasih!!!

__ADS_1


__ADS_2