Duda Nackal

Duda Nackal
Permintaan Maaf


__ADS_3

Siasat pun mulai kami susun. Cafe untuk sementara tetap buka dan dijaga oleh Riko. Tari bilang stok makanan masih banyak jadi aman meski tanpa kehadirannya.


Sengaja aku dan Tari tidak ke cafe. Aku harus memulihkan kondisi tubuhku dan Tari harus selalu dalam pengawasanku.


Riko dan Sony bilang, cafe harus tetap buka. Untuk menunjukkan pada Vira kalau kami tidak takut dengan ancamannya. Aku setuju.


Sony yang bertugas memperbaiki cafe milikku. Aku dan Tari cukup di rumah saja dan mengunci pintu rapat-rapat. Karena bisa saja security di depan juga dibobol.


Vira tak membalas pesanku. Aku melihat tanda centang biru pertanda Ia sudah membaca pesan yang kukirim.


Keesokan harinya Riko mengabariku kalau cafe sepi. Tak ada pengunjung yang datang. Kejadian kemarin membuat rumor kalau cafe milikku tidak aman dan bisa saja ada yang berbuat onar datang lagi. Membuat pengunjung ketakutan.


Aku tak masalah. Aku masih ada showroom yang menghasilkan uang dan aku di rumah terus trading saham. Uang tetap mengalir di rekeningku.


Namun tidak dengan Tari. Cafe impiannya yang Ia bangun dengan susah payah eh dengan mudahnya dihancurkan oleh Vira. Lagi-lagi Vira pelakunya.


Apa salah Tari sampai Vira segitu membencinya? Kasihan sekali istriku.


Tari duduk di depan ruang TV. Tatapannya kosong tak menatap TV yang sejak tadi menyiarkan pertandingan bola. Bahkan apa yang Ia tonton saja tak Ia perhatikan. Pikirannya pasti sedang memikirkan cafe miliknya.


3 hari sudah berlalu dan cafe benar-benar tak ada pengunjungnya. Tari semakin sedih dibuatnya. Ia yang biasanya sibuk memasak di dapur kini hanya berdiam diri. Tak tahu mau melakukan apa.


"Kamu mau tinggal di rumah Mama dan Papa dulu untuk sementara?" tanyaku yang tak tahan melihatnya terus menerus bersedih. "Anggap saja sedang liburan. Jangan pikirin cafe dulu. Aku masih punya penghasilan kok untuk menghidupi kita berdua. Jangan terus bersedih diri. Tak baik untuk anak kita."

__ADS_1


Kuusap perut Tari dan kucium dengan penuh cinta. "Masalah ini enggak akan bikin cinta aku ke kamu semakin memudar. Masalah yang kita hadapi nggak akan membuat rumah tangga kita menjadi hancur berantakan. Justru dengan adanya masalah ini kita akan semakin sayang, semakin cinta dan menghargai setiap kebersamaan yang kita miliki. "


Kini aku menatap Tari dengan lekat. Matanya berkaca-kaca mungkin sejak kemarin air matanya terus Ia tahan dan kini Ia pun mulai meneteskan air mata miliknya. Aku menariknya ke dalam pelukanku dan mengusap lembut rambutnya. Kucium pucuk kepalanya dengan penuh kasih. Kubiarkan Ia mencurahkan semua air matanya di dadaku. Aku menepuk punggungnya dengan penuh rasa kasih sayang. Tanpa kata kubiarkan dia terus menangis sampai merasa lega.


Setelah Tari lebih lega dan sudah mulai berhenti menangis aku pun mulai berkata. "Aku pernah mendengar salah seorang yang sukses berkata: Kalau memang gagal ya coba lagi. Kalau memang rugi ya usaha terus biar jadi untung. Begitu pun dengan bisnis kamu nanti. Nanti kita akan buat lagi, kita akan bangun cafe yang lebih besar lagi. Kita akan bangkit lagi. Semua ada waktunya. Cafe impian kamu akan kita bangun kembali. Biarkan kita dihancurkan tapi kita bisa bangkit lagi. Namun kalau mereka hancur, aku nggak yakin mereka bisa bangkit seperti yang kita lakukan. "


"Abi sudah rugi banyak banget. Abi udah keluar uang banyak tapi cafenya belum balik modal sudah sepi." ujar Tari dengan suara yang sangat sedih.


"Untung dan rugi dalam bisnis itu udah biasa. Aku juga sebelumnya suka rugi. Tapi, kita akan jadi lebih dewasa. Kita jadi orang yang lebih berpengalaman dan pastinya akan lebih hebat lagi dengan dunia bisnis. Akan ada waktunya kita melawan. Saat ini, kita cukup berdiam diri sambil menunggu. Aku yakin tak akan lama lagi hasil tes DNA keluar dan membuktikan kalau aku bukanlah ayah dalam kandungan Vira.


Usaha sudah, berdoa pun tak pernah putus aku lakukan. Semua demi mengharap pertolongan dari Allah. Aku percaya Allah nggak pernah tidur. Allah akan mendengar setiap doa yang kami panjatkan dengan sungguh-sungguh.


Hanya tinggal menunggu waktu dan pasti doa kami akan dikabulkan. Cafe akhirnya aku tutup untuk sementara. Karyawan aku persilahkan jika ingin mencari pekerjaan lain namun aku tetap memberi gaji terakhir mereka. Mereka bilang, mereka masih ingin bekerja di cafe milikku. Tak apa, aku kasih mereka waktu 3 bulan aku masih bisa menggaji mereka yang masih ingin tinggal.


Tak ada teror ataupun kejadian yang terjadi. Semua seakan mereda karena perintah seseorang yang berkuasa. Ya siapa lagi kalau bukan Papanya Vira.


Papanya Vira akhirnya meneleponku dan meminta bertemu. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, aku minta kami bertemu di satu ruang publik. Aku nggak mau sampai satu restoran di booking lagi seperti kemarin.


Papanya Vira menyetujui persyaratan yang kuberikan. Aku juga meminta untuk datang bersama ketiga orang temanku. Bagaikan personil F4, aku, Bastian, Rico dan Sony mendatangi tempat pertemuan yang dijanjikan.


Papanya Vira menepati janjinya. Restoran yang Ia pilih sebagai tempat pertemuan kami ramai oleh pengunjung, namun tetap saja Ia meminta satu ruang eksklusif. Aku masuk bersama ketiga orang sahabatku. Di dalam sana sudah ada Vira dan Papanya yang menunggu kedatanganku.


Vira menunduk tak berani menatap wajahku. Aku dipersilahkan duduk dan kini aku dan Papanya Vira saling berhadapan.

__ADS_1


"Terima kasih kamu sudah meluangkan waktu kamu untuk bertemu dengan saya hari ini. Sebelumnya, saya mau minta maaf dengan apa yang sudah terjadi. Dengan aksi saya merampas barang bukti yang kamu miliki. Lalu putri saya juga ingin minta maaf karena sudah menebarkan error di cafe kalian. Tujuan pertemuan kita kali ini adalah untuk mencapai iktikad damai. Tak perlu lagi ada pertikaian yang terjadi yang hanya bisa merugikan kedua belah pihak. Hasil tes DNA sudah keluar. Sebelumnya Vira juga sudah mengakui bahwa anak dalam kandungan nya bukanlah anak Agas,"


Aku menghela nafas lega seraya bersyukur atas informasi yang kudengar. Alhamdulillah. Makasih ya Allah... Engkau bukakan kebenaran atas semua fitnah pada hamba ya Allah.


"Namun saya nggak percaya sebelum hasil tes DNA keluar. Ternyata memang benar, Agas bukanlah ayah dari anak yang dikandung oleh Vira. Jujur saja, saya menginginkan Agas untuk jadi menantu saya. Makanya saya membiarkan Vira berbuat semena-mena. Namun ternyata, kebenaran justru datang. Laki-laki yang menghamili Vira dengan gagah berani datang ke rumah dan ingin bertanggung jawab atas perbuatannya,"


"Benar yang Agas katakan, kalau sampai saya menikahkan Vira dengan Agas, maka saya malah justru menambah dosa dan menutupi kebenaran. Agas sudah mengajarkan saya untuk menjadi orang yang lebih jujur dan menerima keadaan. Dari dalam lubuk hati saya yang terdalam, saya minta maaf atas semua yang terjadi. Saya minta segala kesalah pahaman yang terjadi diantara kita diselesaikan sampai sini. Tak ada lagi dendam ataupun amarah."


"Apakah Bapak janji enggak akan melakukan segala hal yang merugikan saya lagi?" tanyaku memastikan sekali lagi.


"Saya janji. Kami nggak akan mengganggu kalian lagi. Saya minta, semua barang bukti yang ada di kalian tolong dihapuskan. Vira juga akan meminta maaf secara langsung pada kamu Gas." Papanya Vira lalu menyikut tangan anaknya agar berbicara langsung padaku.


Vira mengangkat wajahnya namun kembali menunduk lagi karena merasa sangat malu. "Vira mau minta maaf... sama Om Agas. Maaf... om. Vira udah berbuat jahat dan memfitnah Om. Om mau kan maafin Vira?"


Aku tersenyum mengejek. "Kok mudah sekali ya bagi orang seperti kalian untuk meminta maaf dan menganggap semua ini tak ada artinya begitu saja?" kataku dengan nada sinis. "Setelah semua yang kalian lakukan padaku dan istriku, kalian meminta maaf dan kalian pikir semuanya selesai gitu? Kalian juga minta bukti dimusnahkan dan seakan semua baik-baik aja gitu? Oh itu nggak bisa! Kalian udah mengusik keluarga saya. Enggak segampang itu kalian bisa minta maaf dan melupakan semua yang sudah terjadi!"


"Saya akan memberi kompensasi atas semua kerugian yang sudah terjadi." ujar Papanya Vira.


Beginilah orang kaya kalau menyelesaikan suatu masalah. Semuanya pakai uang.


"Kalian pikir semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang? Ada hal-hal ya nggak bisa dibayar dengan uang. Rasa trauma yang dialami oleh Tari selama ini salah satunya. Ia dibully dan dijauhkan oleh teman-temannya karena siapa? Karena perbuatan putri anda sejak Ia masih kecil. Setelah dia dewasa pun Vira masih saja mengganggu hidupnya. Vira bahkan berencana merebut suaminya yang sangat ia cintai dan kalian pikir maaf saja cukup? Mohon maaf nih, nilai maaf kalian tuh gak berharga di mata saya!" Agas si Pedas Lidah is back.


****

__ADS_1


Huft.... Akhirnya...


Yang nunggu konflik ini selesai siapa? Ayo vote siapa yang nungguin konflik ini selesai ya 😁


__ADS_2