Duda Nackal

Duda Nackal
Bak Seonggok Batu


__ADS_3

"Abi? Huahahahaha.... " Tari malah menertawakanku. Anak ini! Berani sekali dia!


"Loh memangnya kenapa? Bagus dong panggilan yang aku buat?" tanyaku penuh percaya diri.


"Umi? Ha...ha....ha...." masih menertawakanku ternyata anak itu.


"Ish! Aku udah mikirin ini semalam sampai aku enggak bisa tidur. Kamu tuh enggak bisa selamanya manggil aku dengan sebutan Om! Nanti anakku juga memanggilku Om? Enak saja!" gerutuku.


"Ya tapi enggak Umi dan Abi juga kali Om. Yang standar aja! Aku enggak mau dipanggil Umi!" tolak Tari.


"Itu bagus loh! Artinya ibu."


"Mama, mommy, bunda juga semua artinya ibu. Bisa enggak sih yang normal aja kayak orang lain? Aku enggak cocok dipanggil umi, Om!"


Aku menghela nafas kesal. Semalaman mikirin nama pangggilan eh seenaknya aja anak ini menolaknya dengan alasan enggak coocok dan minta yang normal. Kalau dalam keadaan biasa, pasti aku akan memaksakan kehendakku dan mengabaikan keinginan Tari, tapi kini? Keinginan Tari adalah titah yang harus aku turuti.


"Yaudah kamu maunya dipanggil apa?" kataku mengalah. Sekarang mantan Duda Nackal ini seperti singa yang tak memiliki taring. Tak bisa mengaum, malah mengembik seperti kambing!


"Hmm... Tari suka sih panggilan Abi, Om dipanggil Abi aja. Tari cukup dipanggil Mommy!"


"Hah? Mommy? kebarat-baratan sekali kamu!" celetukku.


"Ish! Itu keren tau Om eh Abi. Kayak anak bule yang manggilnya mommy...mommy... Keren banget enggak sih?"


Ada aja anak ini. Sejak kapan sih dia jadi suka hal kayak gini? Perasaan dulu enggak peduli deh! Apa ini karena kebanyakan nonton?


"Baiklah! Baiklah! Terserah Mommy Tari saja! Abi Agas nurut. Masih ada lagi enggak yang harus kita lakukan di cafe ini? Kayaknya udah beres deh!"


"Hmm... Apa ya? Sebentar, Tari cek dulu!"


Tak lama Tari keluar dengan menunjukkan pesan di Hp miliknya. "Kamu mau kesana?"


Tari mengangguk dengan penuh keyakinan. "Sebelum kita buka cafe ini, Om eh Bi. Kita kan harus tahu bagaimana cafe yang sebenarnya. Boleh ya Bi?"


Huft...


Aku sudah berjanji akan mengantarnya, tak bisa menghindar lagi.


"Baiklah! Ayo kita pergi sekarang!"


"Yes! Ayo!"

__ADS_1


"Pelan-pelan saja jalannya! Jangan terlalu cepat! Ingat kamu lagi hamil!"


"Iya... Iya... Abi yang bawel!"


Aku pun menyetir mobil ke lokasi yang di share oleh Pak Adi, guru kursusnya Tari. Hari ini pembukaaan cafe yang mengundang Pak Adi sebagai tamu undangannya.


Tari yang sudah beberapa kali membatalkan janji akhirnya datang juga. Ia memotret beberapa kali dekorasi cafe dan terlihat mencatat di catatan kecil yang selalu Ia bawa-bawa. Semangat sekali dia, biarlah. Asal Tari bahagia, aku ikuti saja kemauannya.


Pak Adi tampak memegang gunting untuk memotong pita yang terbentang di depan cafe. Bersama pemilik cafe, Ia pun mengguting pita dan diabadikan dengan foto.


Tari terus memuji cafe yang dimatanya sangat keren tersebut. Tari lalu memesan makanan dan minuman untuk Ia cicipi.


Kami mengambil tempat yang agak jauh dari keramaian. Tari pasti mau mendiskusikan tentang cafe ini padaku.


"Bagus ya Bi cafenya? Terkesan mewah. Tari suka deh!" pujinya.


"Coba makanannya juga! Biar kamu tau gimana rasanya!" saranku.


Tari pun mencobanya dan berbisik, "Rasanya biasa aja!"


Aku tersenyum. "Sudah aku duga sih. Cafe ini konsepnya tempat nongkrong anak muda. Dekor ruangannya dibuat dengan banyak spot foto. Kalau makanan akan di nomorduakan. Padahal makanan justru penting. Aku lebih suka cafe yang makannya enak daripada yang dekornya bagus."


"Saya setuju! Saya juga lebih menyukai rasa makanan dibanding dekorasinya." ujar Pak Adi yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraanku dengan Tari.


"Saya boleh gabung?" tak perlu jawabanku, Ia sudah menarik sebuah kursi kosong dan duduk diantara Tari dan aku.


"Silahkan, Pak." jawab Tari dengan ramah. "Makasih ya Pak undangannya. Untung saja suami saya lagi libur kerja jadi bisa nganterin saya hari ini."


Pak Adi melihat ke arahku lalu menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah. Aku membalasnya dengan senyum datar


"Kebetulan sekali hari ini saya lagi ada jadwal pembukaan. Bisa menambah ilmu kamu kan?" tanyanya pada Tari.


"Iya, Pak. Nanti hadir juga ya Pak di pembukaan cafe kami!" tanpa ijinku, Tari mengundang laki-laki nyebelin itu.


"Kamu mau buka cafe? Kapan? Dimana? Pasti saya datang. Wah saya senang kamu akhirnya mau buka usaha. Kamu tuh yang paling cerdas loh di antara yang lain. Paling rajin belajar dan mudah diajarkan. Pasti cafe kamu akan sukses nantinya!"


Ih ngapain sih muji-muji istri orang di depan suaminya? Memangnya sopan gitu? Aku juga tahu kalau Tari pintar, tapi enggak usah lebay gitu kali!


"Enggak jauh dari tempat kursus kok, Pak. Rencananya buka seminggu lagi. Bukan cafe kayak gini, tapi cafe keluarga Pak. Nanti datang dan kasih masukkan ya, Pak." ajak Tari dengan ramah.


"Oh tentu! Nanti saya akan ajak para pengajar di tempat kursus untuk datang juga. Biar cafe kamu ramai. Saya suka dengan konsep cafe punya kamu. Selama ini saya sering datangi cafe yang konsepnya tempat nongkrong anak muda, kayak begini nih." Ia menunjuk cafe yang baru saja diresmikan. "Sesekali saya mau lihat yang konsepnya keluarga. Nanti kamu yang masak menunya?"

__ADS_1


"Resepnya sih dari Tari ya, Pak. Tapi enggak mungkin Tari pegang semuanya sendiri. Jadi Tari ngajarin karyawan Tari dulu sampai mereka jago. Tenang saja, bumbu rahasianya Tari yang pegang. Jadi kerahasiaannya tetap terjamin!" ujar Tari dengan penuh percaya diri.


"Waduh... Kok kamu sampai kepikiran sejauh itu ya? Asli keren dan terencana dengan baik. Saya suka. Bukan asal membuat cafe tanpa perhitungan dan perencanaan sama sekali. Cafe juga bisa jadi bisnis jangka panjang kalau kita menaintain dan selalu berinovasi terus."


"Tentu. Tari banyak belajar dari Pak Adi." puji Tari.


"Ah saya cuma mengajarkan ilmu yang saya punya saja kok. Sisanya memang karena kamu pintar dan rajin belajar saja." cih! Dia sok merendah!


Aku sudah seperti seonggok batu yang duduk diam memperhatikan dua orang di depanku mengobrol dengan asyiknya. Aku meminum minumanku sampai sudah hampir habis. Mereka masih saja asyik bertukar pikiran.


Sabar.... Gas... Sabar....


Tari lagi hamil. Biarkan Ia bahagia. Jangan marah... Sabar...


Sabar.... sabar....


Sampai kapan ini sabarnya?


Liat bini sendiri ketawa cekikikan sama cowok lain rasanya tuh kesal sekali! Huh!


Apa begini ya yang dirasakan Tari saat melihatku bersama Cici dan Tara? Memang aku semenyebalkan itu?


"Jadi menu yang Tari tawarkan sudah menarik dan cocok ya Pak?" tanya Tari.


"Iya. Untuk konsep keluarga memang cocok. Biasanya mereka lebih mementingkan makan bersama keluarga dengan menu khas rumahan. Kamu malah menyediakan cemilan untuk mereka setelah makan. Bagus itu! Konsep kamu pokoknya sudah sangat matang! Pasti akan banyak yang mampir ke cafe kamu nanti!"


"Aamiin! Eh Pak, kayaknya Bapak dipanggil deh!" Tari menunjuk seorang laki-laki yang sejak tadi memanggil nama Pak Adi.


"Oh iya. Saya kesana dulu! Selamat menikmati ya!" Pak Adi mengangguk padaku sebelum pergi. Kubalas dengan anggukan tak ikhlas.


"Seru sekali ngobrol sama Pak Adi sampai makanannya jadi dingin." ujar Tari tanpa merasa bersalah sama sekali telah bersikap cuek padaku.


Aku hanya mengangguk dan menunjukkan gelasku yang kosong. "Iya. Seru sekali ya? Sampai minumku kosong tak bersisa." sindirku.


"Maaf ya, Bi. Aku soalnya harus banyak diskusi sama orang yang berpengalaman macam Pak Adi. Aku kan punya tanggung jawab memajukan cafe yang kamu buat untuk aku. Aku enggak mau kamu sampai rugi karena ketidakbecusanku mengelola cafe."


Kalau sudah begini aku bisa apa? Ditambah Tari sedang hamil anakku pula!


"Iya, enggak apa-apa kok Sayang. Aku akan nunggu kamu. Aku dukung kok semua yang kamu lakukan. Jangan khawatir ya!" kataku seraya memasang senyum lebar. Jangan sampai kelihatan wajah beteku.


Huft...

__ADS_1


****


__ADS_2