
Agas
Kami memang tidak berlama-lama di rumah Mama dan Papa. Meski hanya dua hari saja, namun cukup membuat Tari terlihat lebih fresh dan melepaskan stressnya.
Mama sangat berat melepas kami pulang. Kehadiran Tari sudah membuatnya merasa senang dikunjungi menantu kesayangannya.
Mama merasa memiliki teman curhat, maklum aku adalah anak lelaki satu-satunya. Sejak dulu Mama ingin punya anak perempuan yang bisa diajak masak bareng, ke pasar, nyalon dan ngobrol dari hati ke hati. Kini Mama memilikinya dalam diri Tari.
Mama dan Papa mengantar kepulangan kami sampai ke Bandara. Tak lupa membekali kami dengan banyak cemilan dan bumbu pecel yang Ia buat sendiri.
"Kalau sudah sampai Jakarta kirim pesan ke Papa!" pesan Papa padaku.
"Iya, Pa."
"Jangan bikin Tari nangis lagi! Tari lagi hamil, kalau ngidam turutin aja selama masih sanggup. Dijaga istri dan calon anak kamu. Jangan nakal lagi, ingat masalah kemarin buat pelajaran kamu. Masih untung dibalas di dunia. Coba kalau dibalas di akhirat gimana?" ceramah Mama panjang lebar.
"Iya, Ma."
"Jangan iya-iya aja! Dilakuin!" omel Mama.
"Iya, Mama. Agas akan lakuin kok. Mama tenang aja. Agas akan jaga istri dan calon anak kami dengan baik." janjiku.
Kami pun pamit pada Mama dan Papa. Tari terlihat sedih harus berpisah dengan Mama. Apa daya, kami juga harus berjuang di Jakarta. Ada cafe yang harus kami mulai lagi promosinya dari awal.
Di pesawat, Tari tertidur pulas. Sejak pagi Ia sudah bangun dan membantu Mama di dapur. Ia juga sempat membantu di pabrik kecil-kecilan milik Mama. Semangat sekali Ia menjalani harinya wajar kalau sekarang Ia mengantuk. Biarlah. Isi tenaga dulu.
Sesampainya di rumah, aku langsung memesan makanan online. Kasihan Tari, Ia kelelahan dan aku nggak mau menyuruhnya untuk masak. Lebih simple dengan memesan makanan dan tinggal makan saja.
Tari mengeluarkan baju kotor dari dalam koper dan menaruhnya di tempat cuci baju. Ia tak kuizinkan mencuci baju semenjak hamil. Biarlah semuanya dikerjakan oleh Mbak Inah. Ia harus lebih banyak istirahat.
__ADS_1
"Istirahat saja, Sayang!" aku menggandeng Tari dan mengajaknya duduk di ruang tamu. "Kamu pasti capek. Masalah kerjaan rumah, enggak usah kamu pikirin. Kamu kan sedang hamil, harus jaga kondisi tubuh jangan sampai kelelahan. Sebentar lagi, makanan yang aku pesan akan datang. Kamu sabar ya. Aku juga lapar banget ini."
"Ya Bi."
Tak lama pesanan makananku datang dan kami langsung melahapnya. Setelah makan dan mandi, aku dan Tari berdiskusi tentang konsep marketing cafe yang akan kami lakukan hari sabtu besok.
Sebuah rencana sudah kami susun dengan matang. Persiapan pun sudah dilakukan dan hanya tinggal eksekusi saja. Besok, karyawanku akan mulai membagikan brosur kepada para pengendara sepeda motor dan mobil juga pejalan kaki. Dalam brosur tersebut, ada kupon yang berisi diskon makanan dan juga ada undian yang berhadiah 3 buah handphone.
Tibalah hari yang kami tunggu-tunggu. Semua persiapan kami sudah matang, dekorasi pun sudah dibuat lebih menarik lagi dibanding sebelumnya. Promosi juga sudah dilakukan besar-besaran. Sekarang waktunya untuk menyambut pelanggan kembali ke cafe milik Tari.
Tari sudah sibuk di dapur bersama para karyawannya. Membuat stok makanan yang banyak karena aku meyakinkan dirinya kalau kita berjualan, kita harus yakin dengan barang yang kita jual. Kita harus yakin, barang yang kita jual ini akan laku dan disukai oleh pembelinya. Itu namanya kepercayaan diri dalam berdagang.
Tari sempat bertanya padaku, "Kalau nggak laku gimana, Bi?"
"Kamu nggak usah mikirin. Rezeki itu yang kasih Allah, tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Biar Allah yang akan menentukan kita untung atau rugi. Jangan mendahulukan kehendak Allah. Apapun yang terjadi pasti itu yang terbaik buat kita. Kalau untung alhamdulillah. Kalau rugi, kita sedekahin yang sudah kamu buat pada masyarakat yang membutuhkan. Enggak ada ruginya sama sekali kok. Dua-duanya kita untung." rupanya perkataanku membuat semangat Tari kembali datang.
Senyum optimis di wajahnya kembali terlihat. Dia pun kembali bersemangat memasak di dapur. Kami siap menyambut pengunjung yang datang.
Tari pun tidak terlihat khawatir seperti sebelumnya. Ia terlihat tenang dan sama sepertiku, sesekali membaca doa agar hari ini Cafe kami ramai.
Satu jam kemudian, mulai berdatangan satu per satu. Awalnya, cuma seorang mahasiswa yang sedang janjian dengan temannya. Ia membawa brosur berisi promo yang sudah dibagikan oleh karyawan kami sebelumnya. Ia pun memilih tempat duduk di outdoor dan menikmati kopi serta cemilan sambil menunggu temannya.
10 menit kemudian datanglah temannya, bukan hanya satu melainkan 5 orang. Yang berarti, sudah ada 6 orang pengunjung yang datang.
Para mahasiswa itu mengobrol dan semuanya memesan makanan di cafe milik Tari. Awalnya hanya es kopi dan cemilan. Namun salah seorang mengusulkan untuk memesan menu yang sedang diskon, yakni nasi tim. Lalu, mulailah nasi tim buatan Tari menggugah selera keenam orang tersebut. Alhasil, nasi tim, kopi, dan cemilan terjual dalam waktu singkat.
Senyum di wajah Tari mulai mengembang. Kepercayaan dirinya yang sempat hilang, kini mulai timbul. Ia yakin, kalau hari ini promosi yang kami lakukan akan berhasil.
Meski, yang berdatangan baru satu atau dua orang lagi setelah mahasiswa yang pertama, Tari dan para karyawannya tetap semangat. Setidaknya, Cafe mulai terlihat hidup.
__ADS_1
Setengah jam sebelum makan siang, kami dikejutkan dengan kedatangan banyak orang di cafe milik Tari. Rupanya, mereka adalah teman-temannya Cici. Sesuai janji, Cici mengajak teman-temannya ke cafe milik Tari. Cafe yang tadinya sepi, mulai ramai seperti dahulu. Karyawan sibuk bolak-balik mengantarkan makanan dan menu, Tari juga sibuk di dapur membantu chef memasak.
Aku kembali menjadi pelayan dadakan. Dengan sigap mengambil menu dan bertanya pada pengunjung yang datang mau pesan apa.
"Sudah siap memesan?" tanyaku dengan ramah.
"Siap aku, Mas. Siap!" jawab mahasiswi yang memakai baju kotak-kotak.
"Aku juga siap, Om!" sahut mahasiswi yang pakai kemeja putih.
"Pesan apa Om? Tempat resepsi?" jawab Mahasiswi yang memakai dress warna hitam.
Baru akhirnya aku pun tersadar kalau aku sedang digombalin anak mahasiswa. Ternyata pesonaku belum luntur. Ternyata daster dan sarung tak membuatku kehilangan karisma. Aku masih punya pesona yang membuat para wanita luluh.
"Heh! Suami orang itu!" omel Cici pada teman-temannya.
Aku tersenyum ramah kepada semua fansku. Kalau dulu, fans harus dimaintain. Sekarang sih.... senyumin aja say!
"Emang kita ngapain sih, Ci? Kita kan jawab pertanyaan si Om!" sahut mahasiswi yang memakai dress warna hitam.
"Ah modus aja kalian! Udah cepetan mau pesan apa?!" omel Cici.
"Pesen si Om boleh? Bawa pulang ke rumah nih kalau boleh sekarang juga ha...ha...ha...." mahasiswi kemeja putih makin agresif saja.
"Hush! Ada bininya! Bandel ih!" omel Cici lagi. "Aku yang pesenin aja lah kalo gitu!" ancamnya.
"Jangan! Kayak tau aja lo selera kita kayak apa?!" protes mahasiswi baju kotak-kotak.
"Yaudah cepetan!" akhirnya setelah Cici ngomel, para mahasiswi centil itu memesan juga.
__ADS_1
Aku membawakan menu ke dalam, namun saat aku berbalik badan aku melihat Tari sedang menatapku tajam. Tangannya terlipat di dada dan bibirnya dimanyunkan. Mati aku...
****