Duda Nackal

Duda Nackal
Si Polos yang Tak Mudah Dibohongi


__ADS_3

"Jangan, Om! Jangan akhiri! Cici enggak mau kehilangan Om. Oke. Cici enggak akan menuntut Om lagi. Tapi tolong, jangan akhiri hubungan kita." mohon Cici.


Seharusnya aku langsung mengakhiri hubungan kami, namun aku juga membutuhkan Cici untuk memenuhi kebutuhan batinku.


"Kamu sudah punya pekerjaan, Ci. Insentif kamu dari penjualan mobil juga sudah cukup untuk membiayai hidup dan uang kuliah kamu. Kamu bahkan tak lagi mengharapkan kiriman uang dari orangtuamu di kampung. Dan mengenai hubungan kita, memangnya apa sih hubungan kita? Kita hanya partner bisnis. Kita tak ada hubungan lebih dari itu." kataku sedikit kejam.


"Tapi Cici mencintai Om. Bagi Cici, Om adalah segalanya. Om adalah dunia Cici. Cici mau Om juga membalas perasaan Cici. Salah jika Cici mulai serakah dan menginginkan hubungan kita lebih dari saling memberi keuntungan?" sudah pintar membalasku rupanya dia.


"Aku enggak mencintai kamu, Ci. Sejak awal aku hanya berniat membantu kamu dan kamu sendiri yang menawarkan sama aku untuk memberikan kepuasan sebagai balas budi. Maka, jangan pernah menuntutku lagi, karena aku tak akan pernah memberi apa yang kamu mau!" kurasa aku sudah cukup jelas memberikan batasan diantara aku dan Cici.


Aku berdiri sebelumnya kumatikan dulu komputer milikku. Aku membawa kertas yang aku print dan keluar dari ruanganku.


Cici mengikutiku dari belakang. Aku mengunci ruanganku dengan Cici yang menekuk wajahnya.


Kejam memang aku ini, Cici sudah memuaskan hasratku namun aku membalasnya dengan ucapan yang menyakiti hatinya.


Aku tak menoleh lagi ke belakang dan berjalan menuju mobilku. Tari sudah menunggu kedatanganku sejak tadi.


"Maaf lama." kataku seraya memakai seat belt dan mulai mengemudikan mobilku.


Tari terus memperhatikanku namun Ia hanya diam tak bersuara sama sekali. Aku yang merasa risih diperhatikan seperti itu.


"Kenapa?" tanyaku.


"Om... Habis begituan ya sama Mbak Cici?" tanya Tari terus terang.


"Enggak!" elakku. "Aku habis ngeprint pekerjaan dan mengirimkan draftnya ke email di laptopku." aku mengangkat kertas yang kutaruh di atas dashboard sebagai bukti.


"Itu!" Tari menunjuk ke resleating celanaku. "Masih kebuka!"

__ADS_1


Aku mengikuti arah yang Tari tunjuk dan benar saja aku lupa menaikkan resletingnya. Aku memang mengancingi celana dan kemejaku, namun aku lupa menaikkan resletingnya. Bodoh Agas! Bodoh!


"Oh... Aku habis pipis!" aku memberikan alasan bodoh.


Tari mengambil sehelai tisu dan mengusap lembut bibirku. Aku mengelak namun karena memegang kemudi tak bisa memberiku banyak ruang gerak.


"Bekas lipstik Mbak Cici. Masih membekas di sudut bibir, Om."


Aku kalah. Tari seperti seorang detektif yang bisa melihat apa yang aku sembunyikan.


"Iya. Aku habis bersenang-senang sebentar tadi dengan Cici." aku mengakui perbuatanku, seperti anak kecil yang ketahuan membeli jajanan di abang-abang oleh Mamanya.


"Tari minta, nanti Om kurangi ya melakukan itu dengan wanita lain." pinta Tari dengan suara lembut.


"Memangnya kenapa? Aku selalu bermain aman kok dengan yang lain. Selalu memakai pelindung. Kalau dengan Cici, ya seperti yang kamu lihat. Aku tak pernah meniduri Cici, hanya aku menerima service yang Ia berikan." kataku membela diri. Lagi-lagi seperti anak kecil yang takut diomeli Mamanya.


Tak kusangka Tari malah tersenyum. "Nanti kalau sudah menikah dengan Tari, Om enggak perlu pakai pelindung lagi. Om bebas. Tari tak pernah disentuh laki-laki manapun, jadi Tari bersih dan tak akan menularkan Om penyakit In sha Allah. Apa yang Mbak Cici lakukan juga akan Tari lakukan. Om tolong kurangi ya kebiasaan Om."


"Ehem!" aku berdehem untuk membasahi tenggorokanku. "Kita ke Mall dulu ya. Stok baju kamu pasti sudah habis. Tak perlu kembali lagi ke rumah itu. Semua barang kamu juga sudah dibuang saat pemilik rumah itu membelinya."


Senyum di wajah Tari memudar, berganti dengan kesedihan yang tak bisa Ia tutupi. Mungkin ada banyak kenangan di rumah itu yang masih membekas dalam dirinya.


"Nanti aku temani kamu ke rumah itu. Siapa tahu pemiliknya masih menyimpan barang-barang milik kamu!" aku tak tega dan berusaha menghibur hatinya yang sedih. "Tapi nanti, jangan sekarang. Keadaannya tidak memungkinkan. Bapak tiri kamu mungkin saja menaruh dendam dan bisa berlaku nekat karena kamu berani melawannya. Berdiam diri di rumahku adalah tempat yang aman buat kamu."


Tari mengangguk patuh. "Tari cuma mau foto Ibu saja. Sisanya hanya barang lusuh yang akan membuat rumah Om terlihat jelek saja nantinya."


Aku mengusap rambut gadis polos itu. "Nanti aku temani kesana, oke?"


Senyum manis kembali menghiasi wajah Tari. "Janji ya, Om?"

__ADS_1


"Janji!" aku menautkan jari kelingkingku dengan jari kelingking miliknya. "Sekarang kita ke Mall dan belanja untuk baju sehari-hari kamu dan seserahan. Aku juga mau memesan kebaya untuk kamu serta jas untukku."


"Hari ini, Om?" Tari tak percaya dengan perkataanku.


"Belanjanya hari ini. Kalau nikah, secepatnya. Papa dan Mamaku akan segera ke Jakarta. Untuk itu kita siapkan barang-barang yang dibutuhkan."


Tak disangka, Tari merangkul lenganku dan bergelayut dengan manja padaku. "Meski pernikahan kita berdasarkan asas tolong menolong, namun Tari yakin kalau Tari akan mencintai Om dalam sekedipan mata. Om laki-laki yang baik. Siapapun yang sudah meninggalkan Om adalah perempuan yang merugi!"


Aku tersenyum mendapat pujian tulus darinya. "Kalau aku baik, tak mungkin aku diceraikan oleh mantan istriku." kataku dengan getir dan pelan namun Tari mendengarnya. Ia masih bergelayut manja di lenganku wajar kalau mendengar setiap kata yang keluar dari mulutku.


"Tari yakin, wanita itu kini telah menyesali perbuatannya. Sayangnya saat itu terjadi, Om sudah jadi suami Tari. Tak akan Tari lepaskan dengan mudahnya." percaya diri sekali Ia mengatakan itu? Sudahlah, aku tak perlu merusak kebahagiaannya.


Kuparkirkan mobilku di lahan parkir yang tersedia. Kuajak Tari memasuki Mall dan wajah noraknya langsung membuatku tersenyum.


"Kamu belum pernah masuk Mall?" tanyaku.


Tari menggandeng tanganku seakan takut ada yang mengambilku, karena sejak tadi ada saja mata gadis-gadis yang melirik untuk menggodaku. Naluri Tari bisa membaca kalau miliknya terancam akan didekati oleh yang lain.


"Pernah. Tapi bukan Mall cuma Ramayana Robinson. Ibu dulu mengajak Tari kalau mau lebaran, membelikan Tari baju baru dan sandal baru. Biasanya sandal merk Carvil yang beliau berikan. Itu pun kalau THR Ibu keluar."


"Ibu kamu kerja sebagai apa?" tanyaku. Penasaran juga aku dengan kisah hidupnya.


"Ibu seorang guru agama di salah satu SD Negeri. Kalau Ayah hanya pekerja serabutan. Ayah meninggal karena penyakit waktu aku kecil. Ibu lalu menikah lagi dengan Bapak dan meninggal tiga tahun silam. Uang pensiun Ibu dihabiskan oleh Bapak untuk berjudi. Aku harus bekerja untuk menghidupi diriku dan membayar utang Bapak."


Sedih sekali hidup Tari. Masih muda namun sudah berat cobaan hidupnya. Pantas Ia sopan dan ilmu agamanya bagus, Ibunya yang mengajarinya semua itu.


Aku memilihkan beberapa setel baju yang Ia sukai. Aku menyingkirkan baju kebesaran yang Ia pilih. "Kalau sudah punya suami tak perlu lagi pakai baju kebesaran!" kataku.


"Berarti aku boleh beli baju itu dong, Om?" Tari menunjuk lingerie merah tipis yang menggoda dilengkapi dengan bra dan celana berenda yang membuatku berfantasi liar dalam sekejap.

__ADS_1


****


__ADS_2