
Utari
Keputusanku untuk tinggal sementara di cafe memang terkesan seperti kekanak-kanakan. Aku yang seharusnya mendampingi suamiku malah memilih untuk menyendiri di cafe. Aku tahu Abi begitu kesepian dan merindukan kebersamaan kami, aku pun juga demikian. Karena itu, aku membalas ciumannya, karena aku memang menginginkan hal itu.
Hasrat yang menggebu ditambah dengan rasa kangen membuat kami hampir saja bersenang-senang di dapur. Kami hampir melupakan fakta kalau ini bukan di rumah melainkan di cafe. Untunglah anak buahku datang dan menyadarkan kami, kalau tidak pasti kami sudah mempermalukan diri kami sendiri karena hasrat menggelora yang tak bisa ditahan lagi. Maklum sudah lama tidak bersilahturahmi, jadi seperti itu deh he...he...he...
Setelah libur kursus selama seminggu, aku pun mulai kursus kembali. Abi mengantarkanku lalu Ia pergi entah kemana.
Pak Adi datang menyambutku dengan penuh senyuman. Ia mengucapkan selamat atas keberhasilanku mendirikan cafe. Menurut Pak Adi, aku termasuk salah seorang muridnya yang berhasil mendirikan sebuah usaha dan membuat pengunjung mau kembali lagi ke cafe dengan senang hati.
"Membuat usaha itu kalau punya banyak uang memang mudah. Tapi membuat usaha yang sukses dan bertahan lama itu yang susah. Pengunjung yang awalnya datang membludak namun pada akhirnya akan memilih tempat lain karena ketidakmampuan usaha tersebut mempertahankan pengunjung setianya. Di sini aku lihat cafe kamu mampu mempertahankan pengunjung meski baru dibuka dalam waktu 1 minggu. Hebat!" puji Pak Adi.
"Ah, Bapak mah bisa saja. Aku juga masih banyak belajar, masih usaha untuk mendapatkan banyak pengunjung. Alhamdulillah, menu yang aku buat banyak yang menyukai. Aku justru belajar dari Pak Adi tentang konsep cafe yang ramai. Terima kasih banyak Pak atas ilmunya." kataku dengan tulus.
"Sama-sama. Itulah tujuan saya mengajar di sini. Berbagi ilmu agar ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat untuk orang lain. Oh iya, saya akan mengajak teman-teman tongkrongan saya ke cafe kamu sekalian bantu kamu promosi karena lebih efektif promosi dari mulut ke mulut. Jujur aja saya tuh suka dengan masakan buatan kamu. Rasanya pas dan dan setiap saya perkenalkan dengan teman-teman saya, mereka pasti menyukainya. Jadi, rekomendasi saya tuh di mata mereka adalah rekomendasi yang valid."
"Wah... aku jadi merasa tersanjung nih mendapat pujian terus dari Pak Adi. Padahal aku masih butuh banyak belajar, dengan modal nekat akhirnya aku bikin sendiri sebuah cafe dengan pengalaman yang minim ini." kataku merendah.
Aku masih mau ngobrol sebentar dengan Pak Adi sebelum akhirnya kelas dimulai dan aku mengikuti seluruh materi yang diajarkan hari ini. Abi datang menjemput tepat waktu. Kami tak langsung pulang ke cafe, Abi mengajakku makan siang dahulu di suatu tempat yang lumayan ramai.
"Kita makan disini aja ya? Aku dengar katanya makanan disini tuh enak. Ya... meskipun harus antri tapi kalau enak kan jadi worth it."
"Iya, Bi."
__ADS_1
Abi lalu memesan menu kesukaannya dan menanyakan apa yang mau aku pesan. Kami menunggu pesanan datang tanpa banyak berbicara. Terlihat Abi sibuk dengan Hp miliknya. Entah apa yang dia kerjakan.
Selesai makan Abi mengantarku sampai ke cafe lalu pergi lagi. Aku tak tahu apa Ia mau kembali ke showroom atau melakukan kerjaan lain. Abi nggak bilang tapi aku tahu kalau ada sesuatu yang Ia ditutupi, apapun itu pasti Abi melakukan yang terbaik buatku karena kini aku mengandung anaknya.
Mendengar pengakuan cinta dari Abi membuatku yakin kalau laki-laki tersebut sangat mencintaiku. Abi bukanlah seorang yang gampang mengumbar kata cinta. Selama ini Ia lebih suka menyembunyikan perasaannya dan terlalu larut dengan rasa sakit hatinya. Mendengar Abi mengucapkan kata cinta di telingaku, membuatku menjadi terharu. Membuatku menjadi sedih sekali. Kenapa harus saat ini? Kenapa sekarang? Di saat semuanya terasa tak begitu pasti.
"Bu, ada tamu yang nyariin Ibu Tari di depan!" ujar salah seorang karyawanku mengagetkanku yang sedang melamun.
"Siapa?" tanyaku.
"Seorang cewek, Bu. Enggak bilang sih siapa tapi kalau dilihat dari penampilannya sih seperti anak orang kaya."
Deg... Apa jangan-jangan itu Vira? Bagaimana ini? Aku takut menghadapinya! Tapi, kalau aku menghindar, bukankah aku sama saja dengan seorang pengecut? Yang diperjuangkan olehku kali ini adalah rumah tanggaku, kebahagiaanku. Apakah aku bisa kuat melawannya?
"Di luar bu. Di dekat taman bermain anak-anak, belum lama datang dan pesan jus buah beserta cemilan. Ia berpesan kalau Ibu disuruh datang ke tempatnya."
"Baiklah. Aku akan datang ke sana. Biar aku yang bawakan saja pesanannya nanti!"
Aku lalu membawakan pesanan Vira yang telah dibuatkan. Aku berusaha melawan rasa takutku. Mengetahui kalau Abi begitu mencintaiku, timbul setitik keberanian dalam diriku. Aku enggak mau kehilangan semua milikku hanya karena seorang perempuan berhati jahat ini!
"Permisi, ini pesanannya!" aku menaruh pesanan Vira di atas meja. Aku tahu, Ia sedang menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menilai bagaimana rupaku sekarang. Aku tak peduli dan tetap melakukan pekerjaanku.
"Ternyata, lo dari dulu nggak pernah berubah ya?! Tetap saja jadi jongos buat gue! Mau lo di kehidupan yang lalu ataupun saat lo udah menjadi istri dari pemilik cafe ini tetap aja lo tuh adalah seorang jongos. Kasihan, takdir lo kayaknya nggak pernah berubah ya?" belum mengobrol saja Ia sudah mengucapkan kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati.
__ADS_1
"Ada yang mau dipesan lagi? Kalau tidak, saya akan masuk ke dalam." aku lebih memilih bersikap seperti seorang karyawan di kafe ini.
Ia mengacuhkan pertanyaanku. "Duduklah!" perintahnya sambil memberitahu lewat isyarat matanya padaku agar aku duduk di kursi tepat di seberangnya. Selalu bersikap sok bossy dimanapun dia berada!
"Lo udah tau semua kan? Saat ini, gue lagi hamil anaknya Om Agas. Gue juga tau kalo lo tuh istrinya Om Agas. Baru dinikahin, itu pun karena kasihan." aku mengernyitkan keningku, tahu dari mana dia? Seberapa banyak yang Ia tahu? Apa selama ini dia mencari informasi tentangku?
"Lalu?" tanyaku sambil menyembunyikan segala ketakutan dan kekhawatiran yang kumiliki dengan bersikap tenang. Kulipat kedua tanganku di depan dada seperti seseorang yang tak merasa gentar menghadapi orang menyebalkan ini!
"Gue mau anak dalam kandungan gue punya seorang Papa. Om Agas adalah Papa anak gue yang sebenarnya. Jadi, karena gue nggak mau Papanya anak gue punya perempuan lain, gue minta sama lo untuk pergi dari hidupnya Om Agas!" perintah Vira dengan seenaknya padaku.
Perkataannya membuatku menyunggingkan seulas senyum tanpa bisa kutahan lagi. Apa? Menyuruhku pergi? Enak saja! Aku tuh bukan pembantunya Abi, aku tuh istrinya dan sedang mengandung anaknya juga! Seenaknya saja dia mengusirku!
Rasa marah dalam diriku pun timbul. Perlahan rasa marah tersebut menggeser rasa takut yang selama ini aku rasakan. Aku sudah kehilangan semuanya, teman-temanku semua sudah diambil oleh Vira. Namun, jangan pernah berharap Ia akan mengambil laki-laki yang amat aku cintai beserta rumah tangga yang dengan susah payah aku bangun diatas kerja kerasku selama ini!
"Oh ya? Apa itu memang anaknya Om Agas? Terus, apa aku harus menuruti apa yang kamu katakan? Apa semua perintahmu adalah titah raja yang harus selalu aku turuti gitu? Maaf, Om Agas adalah suami aku. Meskipun kamu menyuruh aku meninggalkannya, aku akan tetap berada disisinya! Justru malah kamu yang seharusnya pergi dan jangan mengganggu rumah tangga kami lagi!" kataku dengan penuh keberanian.
"Oh ya? Kamu masih akan tetap berada di sisi-nya setelah aku menghancurkan kehidupannya?" ancam Vira padaku.
Ini yang aku takutkan. Ia akan menggunakan kekuasaan yang Ia miliki untuk menghancurkan setiap orang yang tidak Ia sukai karena menghalangi tujuan yang sudah Ia rencanakan. Akan ada yang terluka karena ulahnya ini.
"Apa hak kamu untuk menghancurkan setiap kehidupan orang lain? Apa semua yang kamu inginkan harus selalu dituruti? Aku pikir setelah semua yang kamu miliki selama ini, akan membuat kamu puas. Namun ternyata kamu tuh seperti meminum api panas dari neraka, setiap kamu minum tak pernah menghilangkan rasa haus dan malah membuatmu semakin terbakar saja. Nggak pernah ada rasa puas sama sekali dalam diri kamu,"
"Aku selama ini nggak pernah punya apa-apa. Jadi, saat aku memiliki sesuatu dan kamu mengancam untuk merebutnya, maka aku akan memperjuangkan milikku tersebut. Meskipun kamu mengancamku berkali-kali kali lebih baik aku hancur bersamanya daripada aku menyerah." tantang aku balik dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
****