Duda Nackal

Duda Nackal
Ajakan Poligami


__ADS_3

Poligami? Sudah gila kali Tara memaksaku untuk melakukan poligami! Aku enggak akan melakukannya!


Aku heran, kenapa sih Tara tuh enggak pernah ada puasnya? Dulu, bilang aku laki-laki lemah. Sekarang, sudah punya Damar yang katanya kuat di ranjang juga kaya raya masih saja ada kurangnya! Aku mulai sebal dibuatnya.


Mungkin bagi Tara hal yang mudah untuk menyingkirkan Tari dalam hidupku. Tapi tidak seperti itu, disaat Mama semakin dekat dengan Tari, justru dia datang dan ingin mengembalikan hubungan kami seperti semula. Tidak bisa seperti itu, gelas yang sudah pecah sulit untuk disatukan kembali. Akan ada bekas retakan yang mungkin saja akan terjadi kebocoran dan akhirnya gelas itu pecah lagi. Jadi, aku sudah tak mengharapkan lagi hubunganku dengan Tara akan kembali bersama.


Aku semakin yakin kalau aku cuma ingin melihat Tara menderita. Aku tak menginginkan lagi hubungan bersamanya karena aku tahu persis, hubungan yang udah gagal susah untuk dipersatukan lagi.


Penyebab kegagalan pernikahan itu banyak. Kalau tidak cocok alasannya, bisa saja mencari jalan tengah agar kedua perbedaan pendapat itu jadi satu dan menemukan kecocokan pada akhirnya.


Jika masalahnya tentang uang, masih bisa bekerja keras untuk mencari uang tersebut. Jika masalahnya tentang keperkasaan di ranjang, masih bisa konsultasi dan berobat di dokter atau dikomunikasikan. Namun, kalau alasannya adalah selingkuh itu hal yang tidak bisa dimaafkan.


Pernikahan sejatinya adalah hubungan yang sakral. Kalau sudah dirusak dengan perselingkuhan, nilai pernikahan itu sudah semakin tercoreng. Apalagi, aku melihat sendiri Tara dan Damar sedang bercinta di depan mataku. Susah bagiku untuk menerimanya kembali.


Sepanjang jalan pulang aku terus memikirkan tentang perkataan Tara. Bukan karena aku ingin kembali padanya, melainkan karena ucapannya kalau aku ini terlalu sibuk bekerja sampai Ia melampiaskan kesepiannya dengan Damar.


Apakah Tari akan melakukan hal seperti itu juga? Tari semakin bersinar sekarang. Bahkan guru kursusnya pun dengan senang hati mengajaknya pulang bareng. Aku tak mungkin bisa terus-menerus menjemput Tari, aku juga punya pekerjaan dan aku sibuk.


Bagaimana kalau Tari pulang lagi dengan guru kursusnya? Aku memutuskan tak jadi pulang ke rumah. Aku berhenti di sebuah cafe dan bekerja dari sana. Rencanaku, aku akan menjemput Tari nanti. Pokoknya, jangan sampai guru kursusnya mengantar Tari pulang! Aku tak rela!


Cafe yang aku datangi terlihat sepi. Apa karena nggak laku ya? Ya sudahlah, hanya cafe ini yang sudah buka. Sambil menunggu, aku memesan es kopi dan juga cake sebagai cemilan.


Aku memilih duduk di tempat ber-AC sambil memperhatikan layar laptop milikku yang sedang menampilkan deretan harga saham yang fluktuatif. Kusetel alarm di Hp milikku agar tidak terlambat menjemput Tari. Maklum, kalau sudah fokus melihat harga saham aku tak akan melihat waktu. Asyik sendiri dibuatnya.


"Maaf, Pak! Cakenya tidak datang hari ini. Sebagai bonus, ukuran kopi Bapak saya ganti jadi large." ujar pelayan yang mengantarkan kopi milikku.


"Oh tak masalah. Jangan dikasih bonus! Nanti cafe ini rugi!" tolakku.


"Sebenarnya cafe ini memang sudah merugi, Pak. Rencananya malah mau saya tutup dan jual. Sudah tidak mendatangkan keuntungan." jadi pelayan ini adalah pemiliknya? Pantas saja sepi, sudah mau bangkrut ternyata. Kalau Tari jual makanan di cafe ini pasti enak deh.


Iya! Ini adalah impian Tari. Mau punya toko kue!

__ADS_1


"Sudah ada yang mau beli Mas cafenya?" tanyaku.


Pemilik cafe pun menggelengkan kepalanya. "Belum, Pak. Susah nyari yang mau beli. Cafe ini saja sepi!"


"Boleh tau mau dijual berapa? Kayaknya Mas bisa duduk deh agar kita bisa ngobrol lebih akrab!"


Aku dan pemilik cafe pun mulai berdiskusi tentang cafe miliknya. Berapa harga yang ingin Ia jual beserta alat-alatnya.


Wow... Lumayan tuh mesin pembuat kopinya. Kalau Tari buka usaha disini, aku yakin cafenya akan ramai.


"Bisa kurang dong harganya!" negoku.


"Bisa, Pak! Saya akan kurangi kalau Bapak mau membelinya. Saya memang tidak berbakat mungkin ya Pak. Banyak yang bilang kopi disini hanya mahal saja tapi rasanya sama seperti kopi kekinian. Padahal saya membuatnya dari biji kopi pilihan loh!"


Aku tersenyum, "Mungkin belum hoki disini, Mas! Tetap semangat! Hmm.... Saya setuju dengan penawaran yang Mas tawarkan. Nanti kita bahas jual beli di depan notaris!"


"Yang bener Pak? Ya Allah akhirnya cafe saya laku! Terima kasih banyak, Pak."


Aku tersenyum. Pasti Tari akan menyukai kejutan yang aku berikan padanya. Sambil menunggu, aku mencicipi kopi yang kupesan. Ternyata benar, rasanya biasa saja. Pantas cafenya sepi.


Untunglah aku jalan lebih awal. Aku melihat Tari sedang berdiri di depan tempat kursusnya dan berhenti.


"Om Agas? Om jemput Tari?" tanya Tari dengan senyum mengembang di wajahnya.


Aku keluar dan hendak membukakan pintu untuknya, saat baru keluar mobil aku mendengar namanya dipanggil.


"Tari!" panggil seorang cowok tampan yang lebih cocok menjadi artis.


"Ada apa Pak?" Tari berbalik badan.


Aku diam saja melihat apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Spluit kamu ketinggalan! Ini!" guru kursusnya memberikan sebuah cetakan besi kecil berbentuk corong kecil pada Tari. "Kamu mau pulang sekarang?"


"Makasih, Pak. Iya, Tari mau pulang. Tuh!" Tari menunjuk ke arahku. "Udah dijemput!"


Guru kursusnya mengangguk padaku dengan sopan. "Saya baru mau menawarkan bareng kalau kamu belum pulang."


"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya sudah menjemput Tari." kataku yang tak tahan untuk ikut campur dalam percakapan mereka. "Ayo kita pulang, Sayang!" ajakku.


Guru kursusnya Tari terlihat bingung. "Tari, ini Om kamu kan? Yang tinggal bareng sama kamu?"


"Iya, Pak. Ini Om Agas. Kenapa Pak?" tanya balik Tari dengan lugunya.


"Sayang! Ayo cepat! Mama sama Papa nunggu di rumah!" kataku lagi.


"Maaf, Pak. Tari pergi dulu! Assalamualaikum!"


Tari masuk ke dalam mobil dan aku menutup pintunya. Aku hampiri guru kursus Tari seraya tersenyum. "Terima kasih Pak sudah menjaga istri saya!"


Kutinggalkan guru kursus Tari dengan wajahnya yang bingung campur kecewa.


"Kamu enggak bilang kalau aku suami kamu?" tanyaku saat sudah di dalam mobil.


"Tari bilang kok kalau tinggal sama Om Agas. Kayaknya Pak Adi pikir Om Agas adalah paman Tari deh bukan suami Tari."


"Kenapa kamu enggak jelasin lebih lanjut agar dia enggak salah paham dan berpikir bisa melihat peluang untuk dekatin kamu?" tanyaku dengan kesal.


"Bukan enggak mau jelasin, Om. Toh memang Pak Adi sama Tari enggak ada hubungan apa-apa. Peluang itu kalau Tari yang memberi kesempatan, Om. Tari hanya menganggapnya teman enggak lebih. Om tenang aja ya! Jangan khawatir, Ok?" Tari berusaha menenangkanku seraya mengusap-usap lenganku dengan lembut. Dia tersenyum meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Pokoknya, aku nggak mau ya kalau dia deketin kamu! Kamu yang harus jaga jarak! Aku saja jaga jarak dengan Tara! Awas aja kalau kamu malah deket sama dia!" ancamku dengan sungguh-sungguh.


"Iya, Om... Iya. Aduh sekarang Om udah mulai cemburuan ya sama Tari? Ya Allah, Tari senang banget ngedengernya!" Tari memajukan tubuhnya dan mencium pipiku. Muach. "Tari sayang sama Om Agas."

__ADS_1


Kenapa aku jadi deg-degan begini ya? Apa benar aku cemburu? Berarti aku sudah mulai mencintai Tari tanpa aku sadari dong?


****


__ADS_2