Duda Nackal

Duda Nackal
Dibalik Layar Usaha Agas-2


__ADS_3

Flashback


Tari masih belum mau pulang ke rumah. Ada hikmahnya juga. Aku jadi bisa fokus beribadah dan mencari bukti kebohongan Vira.


Setelah berjanji pada Damar kalau aku akan membantunya, aku pun pergi ke showroom pertamaku. Tentunya setelah mampir ke cafe sebentar untuk melihat keadaan Tari.


Kulihat Tara sedang menawarkan mobil pada salah seorang pembeli potensial. Kenapa kukatakan potensial? Aku bisa tahu mana yang beneran akan membeli dan mana yang hanya nanya-nanya doang.


Sambil memeriksa laporan aku menunggu Tara selesai menawarkan beraneka jenis mobil. Benar dugaanku, pembeli tersebut akhirnya membeli sebuah mobil SUV secara cash. Meski keuntungan yang Tara peroleh tak sebesar kalau pembeli membeli dengan cara kredit, namun lumayan untuk menambah target penjualannya dalam sebulan.


"Tumben kesini, Gas?!" sapa Tara yang datang menghampiriku.


"Mau ngomong sama kamu." jawabku seraya menutup laporan yang sedang kuperiksa. Tak ada masalah, laporan tersebut lalu kukembalikan pada bagian keuangan.


"Sama aku? Mau ngomong apa?" tanya Tara.


"Sambil ngopi mau?"


Mata Tara berbinar-binar mendengar ajakanku. "Mau."


Aku pun mengajak Tara ke cafe dekat kantor. Memesankan kopi kesukaannya beserta cake untuk cemilan.


"Kok kamu jarang kelihatan sih Ra?" tanyaku berbasa-basi padahal aku sudah tau penyebab Tara tak ada di rumah dari Damar.


"Aku pulang ke rumah Mama."


"Loh, kamu udah baikkan?" lagi-lagi aku pura-pura tidak tau.


Tara mengangguk sambil tersenyum kecil. "Mama marah karena aku mau gugat cerai Damar. Habis aku dimarahi panjang lebar. Mama kepikiran dengan masalah yang kualami. Mama sampai naik tensi darahnya dan jatuh di kamar mandi. Untung saja aku lagi di rumah dan sigap saat mendengar suara orang jatuh, aku langsung bawa Mama ke rumah sakit. Mama mendapat pertolongan pertama dan selamat. Dokter bilang, kalau aku telat sedikit saja mungkin Mama.... Mama sudah tiada..."

__ADS_1


Tara menitikkan air mata. Ia bukan tipikal cewek cengeng yang mudah menangis. Jadi saat Ia menangis aku tahu kalau hatinya sangat sedih.


Kuberikan selembar tisu pada Tara dan Ia menerimanya. Ia menghapus air matanya dan kembali menatapku. "Katakan, ada apa? Enggak biasanya kamu ngajak aku ngopi begini kalau tidak ada maksud dan tujuannya."


Sudah kuduga, Tara pasti tau aku ada udang dibalik batu. Dia cerdas, tak bisa semudah itu percaya kalau aku tiba-tiba baik padanya.


Aku tersenyum karena sudah ketahuan punya tujuan tertentu. "Yah... Ketahuan. Aku mau minta tolong sama kamu."


"Minta tolong apa? Kalau aku bisa, pasti aku bantu."


"Hmm... Tolong cabut gugatan cerai kamu pada Damar." aku tak suka berbasa-basi. Aku lebih suka langsung ke tujuan.


"Kamu minta aku batalin gugatan cerai, kenapa? Damar yang minta sama kamu?!" Tara sangat terkejut dengan permintaanku. Ini bukan urusanku dan aku memasuki ranah yang bukan kapasitasku untuk ikut campur.


"Huft... Aku benar-benar tidak bisa membohongimu. Sebenarnya, bukan Damar yang meminta aku untuk bicara sama kamu. Ini inisiatif aku sendiri. Kamu tahu, saat ini rumah tanggaku juga tidak dalam kondisi baik-baik saja." Tara terlihat terkejut dengan pengakuan jujurku.


"Apa yang kamu lihat baik-baik saja, belum tentu di dalamnya seperti itu." aku menjawab rasa penasaran Tara sebelum Ia bertanya. "Namanya rumah tangga, ada aja ujiannya. Kalau bukan masalah terhadap pasangan, masalah anak, masalah uang dan bisa aja masalah dari orang ketiga. Yang kamu hadapi dengan Damar adalah masalah terhadap pasangan. Kalian hanya belum saling mengenal dan pada akhirnya kalian saling menyakiti satu sama lain. Kalau aku dan Tari, masalah kami adalah orang ketiga."


Aku tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Cepat sekali kamu menyimpulkan sesuatu. Percayalah, tidak seperti itu keadaannya. Kamu pernah lihat kan mahasiswa yang waktu itu keluar dari rumahku?"


Tara mengangguk cepat. "Yang gayanya modis dan kelihatan banget anak orang kayanya?" tebak Tara.


"Iya. Mahasiswa itu... Hamil."


"Hamil anak kamu? Kok bisa? Aku aja enggak kamu buat hamil? Tari juga belum hamil. Bukankah kamu mandul? Kalau aku sih sehat!" cepat sekali dia membuat kesimpulan. Tak pernah berubah sama sekali.


"Tari lagi hamil. Jadi, jangan beranggapan kalau aku mandul ya!" kataku tak terima.


"Tari hamil? Beneran? Yaudah kamu hamilin aku juga dong! Biar adil!" katanya tanpa pikir panjang.

__ADS_1


"Jangan ngaco deh! Aku serius nih!"


"Iya... Iya... Sorry. Iklan dikit biar kamu enggak terlalu serius banget jadi orang. Kamu kelihatan stress banget. Kayak aku dong, banyak masalah tapi santai!" Tara malah membanggakan dirinya seperti itu.


"Percayalah, kalau kamu berada di posisiku makan dan minum pun kamu tak akan selera."


"Iya... Iya... Mahasiswa itu hamil? Terus kenapa? Nikahin aja! Beres!" lagi-lagi Tara menjawab tanpa pikir panjang. Huft... Untung aku udah berakhir dengan wanita ini. Kalau tidak... menyesal pasti hidupku!


"Aku yakin anak dalam kandungannya bukan anakku. Aku juga sudah punya buktinya. Damar yang membantuku."


"Oh... Karena itu kamu mau nyuruh aku rujuk sama Damar gitu?"


"Tuh kamu pinter!" pujiku sarkas.


"Ogah!"


"Kamu tahu kenapa aku yang tadinya tidak mencintai Tari sekarang malah sangat memujanya?"


"Entah. Aku tak tahu dan tak mau tahu!" jawabnya acuh. Tara meminum es kopi yang kupesankan untuknya. Tak lagi peduli dengan bujuk rayunya.


"Karena Tari sangat mencintaiku. Karena Tari sangat baik padaku. Itu yang membuatku luluh. Perasaan dicintai dengan tulus membuat tembok pertahananku runtuh. Bagaimana bisa seseorang yang dianggap tidak berpendidikan bisa menaklukkan hatiku? Sama seperti Damar. Dia sangat mencintai kamu, karena itu mengkhianati persahabatan kami. Apa kamu enggak bisa menilai kelebihannya dibanding segala kekurangannya? Kamu enggak diselingkuhi seperti yang aku dapatkan dari kamu. Masalah yang kamu hadapi, masih bisa diselesaikan,"


"Mungkin saja selama ini Allah belum kasih kalian anak karena dianggap belum siap dan ingin berpisah. Nanti anak kalian nasibnya gimana? Coba deh kalau kamu tanamkan sifat ikhlas. Coba lebih menghargai arti pernikahan, maka Allah akan menitipkan anugerahnya pada kalian. Mertua kamu akan menghargai kamu pada akhirnya dan masalah kalian beres. Damar tak akan KDRT lagi karena kamu sangat mencintainya. Mama Irna tak akan sakit dan kepikiran karena putrinya batal bercerai. Masalah selesai. Bersyukurlah kamu. Beda denganku, yang kuhadapi adalah anak menteri. Kalau bukan karena Damar, bisa hancur hidupku,"


"Tari akan menggugat ceraiku. Bisnisku akan hancur oleh Bapaknya Vira. Aku bisa saja dijebloskan ke penjara. Aku akan kehilangan semua yang kumiliki. Orangtuaku akan jatuh sakit karena memikirkan nasib anaknya. Pelik bukan masalahku? Selagi masalah kamu masih ringan, jangan dipersulit. Kembalilah pada laki-laki yang tulus mencintai kamu. Ajak Damar konsultasi ke dokter. Program bayi tabung kalau perlu. Uang pasti tak masalah buatnya. Allah akan menilai kamu pantas atau tidak dikasih titipan. Mertua kamu akan sayang kalau kamu juga menyayangi anaknya."


Aku menceramahi Tara panjang lebar. Anak itu tak lagi membantahku. Ia sesekali menghapus air mata yang menetes di pelupuk matanya.


"Aku sudah menepati janjiku pada Damar. Setidaknya ini caraku membalas budi pada orang yang sudah baik padaku. Tari bilang, budi baik balaslah dengan kebaikan. Sifat jahat balaslah dengan doa. Perbaiki diri kamu, maka Allah akan menolong kamu."

__ADS_1


Aku meninggalkan Tara yang masih terdiam sambil sesekali menyeka air matanya. Kubiarkan Ia berpikir panjang tentang hidupnya. Aku yakin, Tara pasti akan memikirkan yang terbaik.


****


__ADS_2