Duda Nackal

Duda Nackal
Pulang Kampung Dadakan-2


__ADS_3

Tari


Rumah Papa dan Mama sangat besar dan nyaman. Sejak di perjalanan dari Bandara menuju rumah Mama, aku sangat menyukai pemandangan yang tersaji di depanku.


Hamparan sawah dengan padi yang menguning, dari kejauhan juga terlihat pegunungan yang berdiri dengan kokoh. Udaranya sejuk dan juga jauh dari bising khas kota Jakarta.


Aku mengerti mengapa Papa dan Mama tak lagi mau tinggal di Jakarta. Kehidupan kota Jakarta yang keras dengan persaingan dalam mencari nafkah membuat tingkat stress tinggal di sana begitu tinggi. Aku merasakannya.


Mendirikan cafe mulai dari nol, lalu cafeku mulai terkenal dan akhirnya dihempaskan jatuh. Aku kembali lagi ke nol dan harus merangkak lagi agar bisa memajukan cafeku. Semua butuh usaha dan pasti siapapun yang mengalaminya akan stress.


Rencana dadakan Abi untuk pulang ke rumah Papa dan Mama sangat aku dukung. Aku juga pengen tahu rumah Papa dan Mama seperti apa. Aku tak menyesal pergi ke sini, pemandangan indah dan udara yang segar langsung aku dapati.


Tak perlu waktu lama berkendara dari bandara menuju rumah Papa dan Mama. Ternyata Papa dan Mama juga tinggalnya masih di kota tapi dengan pemandangan yang tentu saja jauh dengan hiruk pikuk kota Jakarta.


Rumah Mama dan Papa sudah aku duga pasti akan sangat besar dan terlihat bedanya dibanding tetangga sekitar. Papa dan Mama adalah orang yang pintar berbisnis, wajar kalau masa tua mereka dihabiskan dengan menikmati hasil kerja keras mereka selama masih muda.


Di depan rumah Mama, halaman luasnya dipenuhi dengan kripik yang sedang dijemur. Abi bilang, semua keripik yang dikirim Mama adalah buatan Mama sendiri. Bahkan, sekarang usaha Mama sudah sampai terjual ke pelosok daerah. Hebat sekali Mama dan Papa. Tetap bisa berusaha dan bekerja meski usia tak lagi muda.


Mama menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka. Senyumnya yang hangat membuat mataku berkaca-kaca. Aku merindukan Ibu. Memeluk Mama, aku seperti berada dipelukan Ibu.


Aku tak kuasa menahan air mataku. Aku bahkan tak sadar kalau sudah mengucapkan kata-kata yang pada akhirnya membuat posisi Abi tersudutkan.


Mama mengajakku ke dalam dan memintaku bercerita apa yang sudah terjadi. Papa dan Mama mendengarkan ceritaku sambil sesekali merasa gemas dengan kelakuan anaknya.


Sial bagi Abi, rencana liburannya malah berakhir menjadi ajang nasehat tanpa henti. Mama dan Papa pun mengomel panjang lebar pada anaknya. Omelan penuh kasih sayang tentunya.

__ADS_1


Aku menatap Abi penuh penyesalan. Aku juga tak tega melihatnya di sidang seperti itu. Rasanya sudah cukup hukuman yang diterima akibat kenakalannya. Abi udah tobat dan Ia buktikan dengan perbuatannya.


Setelah Mama dan Papa capek menasehati Abi, mereka terlihat lega dan menyuruh aku dan Abi untuk ke kamar dahulu. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung meminta maaf kepada Abi.


"Maafin Tari ya, Bi. Tari nggak bermaksud ngadu sama Mama dan Papa. Entah mengapa saat memeluk Mama, Tari merasa seperti memeluk Ibu. Tari juga tiba-tiba sedih dan keluar air mata tanpa bisa Tari tahan lagi. Tari sadar, selama hamil Tari jadi semakin sensitif. Kadang, tiba-tiba nangis dan marah. Gara-gara Tari, Abi jadi diomelin deh sama Mama dan Papa." kataku penuh penyesalan.


"Sudahlah nggak usah kamu pikirin! Abi enggak masalah kok diomelin sama Mama dan Papa. Semakin Abi dewasa, Abi mulai menyadari kalau kebersamaan dengan orang tua itu waktunya semakin sedikit. Dinasehati oleh Papa dan Mama tidak membuat Abi kesal. Malah Abi merasa bersyukur. Kenapa? Kalau mereka sudah tiada, siapa yang akan menasehati Abi lagi? Siapa yang akan mengingatkan Abi untuk tetap berada di jalan yang benar? Itulah mengapa, Abi nggak marah. Abi malah senang bisa mendapat nasehat dari mereka!"


Abi memang semakin bijak. Ia bertekad untuk berubah agar panggilan Abi dalam dirinya sesuai dengan perilakunya sehari-hari. Ini yang membuat aku kagum pada dirinya dan merasa kalau setiap hari aku semakin mencintai Abi.


"Abi ngerti kok. Pasti kamu kangen kan sama Ibu kamu? Abi bisa lihat kalau kamu tuh tadi sangat sayang sama Mama. Kamu bahkan bisa curhat sama Mama. Itu hal yang nggak bisa dilakukan kalau kamu nggak deket sama seseorang. Jangan dipikirin ya! Lebih baik, kamu cuci tangan, cuci kaki dan kita siap-siap untuk makan makanan yang udah Mama sediain."


Abi lalu mengganti celana panjangnya dan baru tersadar kalau tak ada celana selain untuk Ia pakai pulang. Aku melihat Abi menghela nafas panjang. Abi akan pakai sarung lagi. Aku suka deh ngeliatnya! Kelihatan ganteng banget!


Kami berdua keluar kamar dan menghampiri Mama yang sedang berada di halaman belakang. Mama memang menyuruh kami pergi ke halaman belakang karena sudah tersedia makanan di sana.


Ternyata halaman belakang rumah Papa dan Mama tak kalah luasnya dengan halaman depan. Bedanya, di halaman belakang yang dijemur adalah padi sedangkan di halaman depan adalah kripik buatan Mama.


Mama dan Papa menatap heran saat Abi datang dengan memakai sarung. Papa yang paling jahil langsung mengomentari penampilan Abi. "Mau shalat apa kamu? Waktu Zuhur masih 1 jam setengah lagi!"


Abi duduk dan mencomot sepotong bakwan lalu memakannya. Dengan mulut yang penuh oleh makanan, Abi menjawab pertanyaan Papa. "Papa mau tahu? Itu karena menantu Papa lagi ngidam!"


Aku duduk di samping Abi dan kini aku yang mendapat tatapan dari Mama dan Papa. Rupanya, Abi secara tak langsung menyuruh aku yang menjawab pertanyaan Mama dan Papa.


"Itu... Abi pakai sarung karena Tari yang minta Pa, Ma. Tari enggak suka ngeliat Abi pakai celana panjang atau celana pendek. Kelihatan jelek, tapi kalo ngeliat Abi pakai sarung kok kayaknya ganteng banget. Makanya Tari cuma bawain Abi satu celana ganti. Sisanya sarung semua."

__ADS_1


Mama dan Papa selalu saling bertatapan dan tak lama mereka tertawa terbahak-bahak. "Ha...ha...ha... kena juga tuh Agas sama anaknya sendiri! Masih di dalam perut saja sudah ngerjain abis-abisan, gimana kalau udah lahir?" ujar papa disela tawanya.


"Betul, Pa. Biar Agas rasain. Bandel sih dia selama ini! Anaknya sendiri yang ngerjain ha...ha...ha... Mungkin biar Papanya adem makanya disuruh pakai sarung!" ucapan Mama malah membuat tawa Papa dan Mama tak henti-hentinya.


"Soalnya punya Papanya panas, mau senang-senang melulu. Anaknya tau dan Papanya disuruh pakai sarung biar adem dan enggak macem-macem lagi ha...ha...ha..." Papa dan Mama terus meledek Abi.


Abi tak peduli. Asyik menikmati teh poci dan kini memakan sukun goreng. Aku jadi tersenyum melihatnya.


Aku senang berada dalam keluarga Abi. Penuh kehangatan. Mama dan Papa yang suka bicara pedas namun lucu sekali kalau sudah meledek orang.


"Berisik aja nih buyut! Anak Abi nanti kaget!" celetuk Abi.


Lalu...


Sebuah bakwan melayang dan mengenai wajah Abi. Aku mencari pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Papa.


"Enak aja manggil buyut! Kakek! Papa masih awet muda! Liat aja nanti Papa bakalan sering perawatan biar awet muda!" gerutu Papa.


Aku tak henti tertawa. Bakwan yang dilemparkan malah dimakan oleh Abi. Dasar... Bapak dan anak sama aja!


****


Hmmm... Mana nih yang belum vote Abi Agas? Ayo vote biar aku kasih liat foto Abi sebelum tobat ya!


__ADS_1


__ADS_2