
Aku ingat pertama kali membeli lingerie adalah saat ingin membawakan seserahan pada Tara sebelum kami menikah dulu. Tara mempersilahkan aku memilihkan untuknya.
Dengan senang hati kupilihkan lingerie untuknya. Kupilih lingerie merah dengan g-string dan bra satu paket.
Tara benar saja mengenakannya saat malam pertama kami. Seksi dan sensual menurutku.
Sayangnya saat Tara meninggalkanku dengan Damar seusai kupergoki perselingkuhanku justru aku menemukan lingerie yang kubelikan dulu untuknya.
Rupanya Tara mengenakan lingerie pemberianku untuk memuaskan lelaki lain selain aku. Bisa dibayangkan betapa makin hancurnya hatiku.
"Om! Kok malah bengong sih?" Tari membuyarkanku dari lamunanku tentang masa lalu.
"Oh... Sorry. Aku enggak suka dengan lingerie merah. Kalau yang hitam aja gimana? Atau yang pink?" aku memberikan usulan warna lain.
"Hitam aja ya Om. Aku suka warna hitam. Enggak terlalu terkesan seksi." ujar Tari.
"Iya. Belilah apapun yang kamu suka. Pilih juga pakaian dalam lain untuk ganti-ganti kamu nanti! Aku ke bagian sana ya!" aku menunjuk tempat dress dan blouse wanita.
"Iya, Om!"
Sementara Tari sibuk dengan pakaian dalam dan lingerie yang dia suka, aku lebih memilih untuk memilihkannya dress. Tari cocok dengan dress yang aku pilihkan, aku jadi suka memilihkanya lagi.
Tari harus kelihatan elegan. Ia akan bertemu dengan Tara cukup sering. Tara pasti akan penasaran dengan wanita seperti apa yang kunikahi.
Tari tak boleh terlihat memalukan di depan Tara. Aku memilih beraneka dress. Kupilihkan mulai dari motif garis-garis, polkadot dan bunga-bunga. Pokoknya dress yang menurutku akan membuat Tari terlihat menarik.
Meskipun pernikahan kami tanpa dilandasi dengan cinta, setidaknya aku memperlakukan istriku dengan baik.
Aku juga memilih beberapa blouse yang kurasa cocok dikenakannya. Blouse yang membuat Tari terlihat elegan dan lebih terlihat mahal.
Tari menghampiriku dengan nota belanja yang akan kubayar sekalian dengan baju yang kupilih.
"Itu untuk siapa, Om?" tanya Tari menunjuk tumpukan baju di tanganku.
"Buat kamu lah!" jawabku sambil memilih dress batik buat acara resmi.
"Sebanyak itu?" tanya Tari tak percaya.
"Tentu! Yang kamu nikahi siapa? Kamu juga harus menjaga nama baik aku dengan berpakaian yang pantas juga." kataku.
Tari mengangguk-angguk setuju.
"Kamu coba sana! Ukurannya pas atau tidak sama kamu!" aku memberikannya dua buah baju dan Ia mencobanya bergantian di kamar pas.
__ADS_1
Hebatnya aku, semua yang kupilihkan pas di tubuhnya Tari. Iyalah, aku sudah pengalaman dengan lekuk tubuh wanita. Setelah tau ukurannya dibalik kaos kebesaran yang biasa Ia pakai, kini aku bisa menentukan baju mana yang pas untuknya.
Aku membayar semua baju yang kami beli. Tak kubiarkan Tari membawa semua barang belanjaan. Biar aku saja, aku kan laki-laki!
"Kita beli parfum dan alat make-up untuk kamu pakai." aku menunjuk tempat make up yang berdekatan dengan parfum.
"Make-up? Tapi Tari enggak bisa pakai make-up, Om!" protesnya. Baru kali ini Ia protes, sejak tadi manut saja apa perkataaanku.
"Belajar dari Tiktok atau Youtube. Kamu pasti bisa nanti!" ujarku tak terima sanggahan.
Aku menghampiri SPG kosmetik dan meminta satu set peralatan make-up. SPG tersebut dengan senang hati memenuhi perintahku. Aku sudah tidak melihat harga saat harus menggelontorkan uang untuk Tari.
Biarlah, uang bisa aku cari. Pernikahan yang Tari idamkan seumur hidup biar aku kabulkan. See? Aku terlalu baik untuk disakiti wanita manapun!
Tari aku suruh memilih parfum dan body butter yang Ia suka. Ia rupanya lebih suka perpaduan buah dan bunga. It's oke. Justru membedakannya dari wanita lain.
Aku membelikan parfum, body butter, body lotion, dan cream tangan. Tari tak lagi protes. Anggap saja ini barang seserahanku saat kami menikah nanti.
Seharusnya aku menyiapkan seserahan dan keluarga Tari menerima seserahan yang keluargaku bawakan. Seperti adat istiadat pada umumnya.
Sayangnya, Tari yang anak yatim piatu tak memiliki lagi sanak saudara sebagai penerima seserahan, jadi tradisi itu otomatis dihilangkan. Makanya aku memberikannya sekarang, semua bisa Tari gunakan.
Aku mengajak Tari ke toko perhiasan. Memilihkannya cincin pernikahan yang sederhana namun jika cincin milikku dan cincin miliknya disatukan maka akan terbentuk bentuk love.
Aku mengajak Tari makan di luar, tidak di dalam Mall. Sebuah cafe yang kutahu makanannya enak kupilih untuk mengisi perut kami.
"Aku pesan spaghetti dan lasagna." kataku pada pelayan cafe. "Kamu mau pesan apa?"
Tari terlihat kebingunan. Menu makanan yang ditawarkan sangat asing untuknya.
"Samakan saja dengan pesanan saya. Minumnya dua lemon tea!" aku membuat keputusan cepat. Tari terlihat menyukai sikapku yang menentukan sesuatu dengan cepat.
Beberapa cewek mulai melirik ke arahku dengan tatapan seakan minta aku goda. Tari mengikuti pandanganku yang melihat balik cewek-cewek itu.
"Om hebat ya." pujinya.
"Hebat kenapa?" tanyaku.
"Kemanapun Om pergi selalu saja ada cewek yang melirik Om."
"Kenapa? Kamu tak siap dengan semua itu?"
Tari tersenyum. "Justru Tari sudah siap, Om. Tari sudah sangat siap. Sekarang Tari siap. Tapi nanti saat Tari sudah terlalu cinta dengan Om, Tari tak yakin apa Tari akan kuat menerimanya."
__ADS_1
"Ya jangan jatuh cinta sama aku-lah!" jawabku dengan entengnya.
Tari kembali tersenyum. "Cewek disana saja baru bertemu Om sekali sudah ingin menggoda Om karena tertarik sama Om. Bagaimana aku yang tau kalau Om baik dan meyelamatkan hidup aku? Kalau mereka ada di posisi aku juga mereka akan memohon cinta Om pastinya."
Aku merasa tersanjung. Bisa-bisanya Tari membuatku terbang melayang dengan rayuannya?
"Bisa aja kamu! Udah ah jangan muji aku terus! Nanti aku besar kepala!"
Tepat sekali makanan yang kupesan datang. Tari menyukai makanannya.
"Ini apa Om namanya? Sapigeti?" tanyanya dengan polos.
Aku tertawa ngakak mendengarnya.
"Spaghetti, bukan sapigeti!" kataku mengoreksi kesalahannya.
"Oalah! Aku salah toh! Pantas saja aku cari-cari daging sapinya kok hancur dan cuma ini tipis-tipis doang, rasanya kayak dendeng."
Aku kembali tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Itu namanya smoke beef bukan dendeng. Kayak dendeng sih tapi kalau dendeng daging sapi asli, ini ada olahannya. Daging cincangnya dicampur dengan saus bolognese. Enak?"
Tari mengacungkan jempolnya. "Enak banget. Bisa ya mie dibikin kayak begini. Nanti Tari belajar deh cara buatnya Tapi belajar dimana ya Om?"
"Di Youtube dan Tiktok bisa." kunikmati makan siangku sebelum dingin.
"Iya. Itu adanya dimana?"
Kini aku menjatuhkan sendok yang kupegang diatas piring. Jangan bilang Tari enggak ngerti sosial media.
"Di Hp."
Tari mengeluarkan Hp miliknya. Hp jadul yang hanya bisa telepon dan sms. Ya Tuhan... Tahun sudah canggih dan dia masih pakai Hp jadul? Ampun deh aku mah!
Aku menghela nafas dalam. Beneran gadis dari planet mana sih nih anak?
"Oke. Nanti habis kamu makan, kita beli Hp. Kita ganti Hp kamu yang smart ya biar kamu ikutan smart. Sekarang habiskan dulu makanan kamu baru kita pergi beli Hp."
Tari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa harus beli Hp baru? Memangnya Hp Tari rusak apa?"
Aku tak jawab. Aku tak jawab! Aku harus tahan! Aku harus sabar!
Tapi aku mau teriak, BUKAN RUSAK TAPI SUDAH KETINGGALAN JAMAN NENG!!!
__ADS_1
*****