
Agas
Tari datang sambil clingak-clinguk melihat ke arah belakang. Ia seperti ketakutan dengan tubuhnya yang sedikit gemetar.
"Assalamualaikum!" aku yang mengucapkan salam padahal dia yang baru datang. Ada apa ini? Tak biasanya Ia sampai melupakan salam. Apakah sudah terjadi sesuatu?
"Waalaikumsalam." Ia menutup rapat pintu kamarku lalu datang mendekatiku dan salim. Tangannya dingin dan wajahnya juga pucat.
"Kamu kenapa? Datang dengan wajah pucat dan ketakutan begitu? Ada yang udah jahatin kamu? Atau kamu habis melihat setan? Katanya, di rumah sakit banyak setannya loh!" godaku sambil menahan senyum.
"Ini tuh lebih menyeramkan daripada setan tau, Om!"
"Masa sih? Ada apa sih? Kamu tuh beneran ya bikin aku jadi penasaran. Ada yang udah jahatin kamu? Atau guru kursus kamu itu ngikutin kamu sampai kesini? Bilang sama aku, meskipun aku dalam keadaan sakit begini tapi aku bisa ngadepin dia!" aku jadi ikutan terbawa emosi, aku takut Tari kenapa-napa. Tak mungkin wajahnya ketakutan begitu kalau tidak ada apa-apa.
"Tari ketemu Bapak, Om!"
Aku mengernyitkan keningku. "Ketemu dimana? Dia ngikutin kamu? Jahatin kamu? Nyakitin kamu lagi? Apa perlu aku lapor polisi?" aku jadi khawatir beneran ini. Kalau berurusan dengan Bapak tirinya yang stress itu, aku pasti langsung naik darah.
"Tadi, Tari naik taksi dari sekolah tapi agak lewat sedikit sih. Nah pas baru aja Tari mau naik taksi, Tari dengar suara Bapak manggil Tari. Pas Tari nengok, ternyata beneran Bapak. Bapak manggil Tari sambil teriak. Tari takut, Om. Tari suruh aja supir taksi ngebut. Terus se
panjang jalan, Tari berulang kali lihat ke belakang takut bapak masih ngikutin. Kalau seandainya, Bapak ngikutin Tari gimana ya Om?"
Aku menarik tangan Tari dan menyuruhnya duduk di samping tempat tidurku. "Kamu sekarang itu istri aku. Dia nggak akan berani berbuat macam-macam sama kamu. Berani dia menyentuh kamu sehelai rambut pun, aku bisa tuntut dia! Jadi, kamu nggak usah khawatir lagi. Apalagi ini di tempat umum. Kamu pasti lebih aman. Kalau terjadi apapun, kamu bisa hubungin aku. Coba sini Hp kamu! Biar aku pasang alat pelacak. Jadi, kalau kamu belum pulang aku bisa tahu kamu di mana. Tapi satu, tetap bawa Hp itu dimanapun kamu berada."
Tari menurut. Diberikan padaku Hp miliknya. "Minumlah dulu! Tenangkan diri kamu selagi aku memasang alat pelacak."
Tari mengambil minum dan setelah lebih tenang Ia merapihkan baju yang dibawanya. Kulihat ada beberapa stel baju untukku dan miliknya. Rupanya Ia akan menginap lagi disini.
Aku tersenyum. Senang rasanya ada yang menemaniku saat aku sakit begini. Merawatku dengan penuh kasih sayang dan memelukku dengan hangat.
"Ini!" kuberikan lagi Hp miliknya. "Sudah aku pasang! Mulai sekarang jauhi tempat sepi. Sebentar lagi plat nomor motor kamu akan keluar. Lalu setelah aku sehat, aku akan mengajari kamu cara menyetir mobil."
Tari mengambil Hp miliknya dari tanganku. "Menyetir mobil untuk apa, Om?"
__ADS_1
"Ya untuk bawa sendiri mobil kamu-lah! Buat apalagi? Aku enggak butuh sopir. Pekerjaanku tak mengikat waktu, kapanpun aku sempat bisa kukerjakan. Kecuali, kalau ada meeting dengan klien penting baru aku harus ontime."
"Mobil Tari? Mobil-mobilan?" kini tawa mulai muncul di wajahnya. Sudah tidak setegang sebelumnya. Baguslah. Sudah lupa dia rupanya.
"Mobil kamu yang sudah kita pakai bersenang-senang di showroom kecil milikku."
"Ih apaan sih Om? Tari enggak ngerti!" Ia agak bingung dengan apa yang kukatakan.
"Kemarin kamu minta mobil itu dikasih diskon. Aku enggak mau. Lebih baik mobil itu aku kasih buat kamu! Ada jejak peluh dan desaah kita disana. Aku enggak mau orang lain merasakan apa yang kita rasakan juga disana!"
"Buang-buang uang aja, Om! Tari enggak bisa nyetir!" tolaknya.
"Ya belajar! Nanti aku ajarin! Sebenarnya aku waktu itu nyuruh kamu memilih mobil yang kamu suka, bukan hanya untuk bersenang-senang saja! Aku memang ingin membelikan kamu mobil. Biar kamu enggak kepanasan saat pulang kursus."
"Bukan karena sindiran Mbak Tara yang bilang Om enggak mampu membelikan Tari mobil?" sindirnya.
Aku tersenyum. "Aku punya banyak uang, Sayang! Membelikan kamu enggak akan membuatku miskin. Aku tahu kamu enggak bisa nyetir mobil, makanya belum aku belikan! Aku mau ajarin kamu dulu, sayangnya waktu aku sangat sibuk. Aku enggak peduli Tara mau bilang apa. Biarkan sajalah!"
"Kalau aku enggak capek, pasti aku langsung nyuruh kamu bergoyang diatasku lagi! Aku agak pusing, nanti saja kalau aku sudah sehat lagi." kataku jujur.
"Om sakit lagi? Pusing lagi? Udah bilang dokter belum? Kata dokter apa?" Ia memberondongku pertanyaan dengan wajah khawatirnya.
"Kata dokter wajar, memang efek dari benturan saja. Aku mau tidur tapi kamu enggak ada, makanya dari tadi aku hanya nonton TV sambil kerja." kataku dengan manja.
"Oh iya, aku bawa kue nih Om. Buatan aku sendiri loh! Om coba ya! Habis makan nanti Om bisa tidur. Tidur dengan perut kenyang lebih pulas loh, Om!" Tari mengeluarkan wadah plastik yang dibawanya dan menyuapiku kue buatannya.
"Enak enggak, Om?" Ia selalu meminta pendapatku setiap membuat sesuatu. Bukan karena ingin aku puji namun Ia menerima kritik.
"Enak. Manis kayak kamu!" godaku yang membuat wajahnya merah merona dalam sekejap.
"Bisa aja mantan Duda Nackal kalau ngegombal! Habiskan ya!"
"Nyerah deh aku disuruh habisin kue kayak gitu! Kenyang! Dua suap lagi udahan ya."
__ADS_1
"Iya. Om, Papa dan Mamanya Om Agas udah dikabarin belum? Kok mereka anteng aja belum kesini?" tanya Tari.
"Oh iya! Aku lupa! Udah ada kamu aku pikir ya enggak usah dirawat sama Mama lagi. Aku telepon dulu!"
"Sama orangtua sendiri aja lupa!" gerutunya saat aku sedang menelepon Mama.
Aku memberitahu Mama dan Papa kalau aku kecelakaan. Mama langsung menangis dan terdengar panik, Papa merebut telepon dari Mama dan kuberitahu kalau aku baik-bail saja.
Papa dan Mama akan secepatnya ke Jakarta. Hari ini juga mereka akan terbang. Mama yang merengek ingin cepat melihat keadaanku.
****
Aku sudah makan malam dan minum obat. Dokter juga sudah datang memeriksa keadaanku. Karena aku masih pusing, jadi aku belum boleh pulang ke rumah dulu.
"Aku ngantuk nih!" kataku karena sejak tadi Tari duduk di samping ranjangku sambil mengusap-usap rambutku dengan lembut.
"Yaudah bobo aja! Udah sholat isya ya bobo!" jawabnya.
"Maunya sambil peluk. Kalau kepalaku nempel di itu kamu!" Aku menyentuh buah sintal miliknya yang selalu menggoda. "Pasti aku pules deh."
"Bener ya cuma tidur aja? Om masih pusing jangan bersenang-senang dulu!" ancamnya.
"Iya. Kali ini kepala atasku beneran pusing. Kalau kemarin kepala bawahku yang uring-uringan enggak ketemu sama punya kamu." godaku lagi.
"Ish! Dasar Om-om mesum! Udah ayo tidur! Tari matikan lampunya dulu ya!" Tari berdiri dan mematikan lampu kamar, hanya tinggal lampu downlight yang menyala.
Kusandarkan kepalaku diantara tempat nyaman itu dan tak lama aku pun terlelap. Asli, ini tuh candu banget buatku. Seharian tak bisa tidur, tapi cuma nempel sebentar aja aku bisa tidur pulas.
"Agas, kamu enggak apa-apa?" suara Mama membangunkanku dari tidur pulasku. "Loh katanya sakit? Kok malah kelonan begini sih?"
Aduh Mama.... Gangguin aku lagi kelonan kayak anak bayi aja deh! Huh...
*****
__ADS_1