
Sehabis makan siang dan sholat dzuhur berjamaah, Mama mengajakku ke pabrik tempat usaha keripik Mama dibuat. Letaknya hanya di samping rumah Mama.
Bukan pabrik besar seperti yang aku bayangkan. Hanya rumah yang agak besar saja. Mama menyebutnya pabrik, seraya berdoa agar suatu hari nanti usahanya beneran akan memiliki pabrik yang besar.
Rumah ini malah lebih besar dari rumah Mama. Bagian belakang tempat menggoreng aneka keripik. Ada yang digoreng dengan minyak dan ada juga yang dengan pasir.
Pekerjanya pun lumayan banyak untuk usaha rumahan. Kalau kuhitung, ada sepuluh orang. Wah hebat Mama, bisnis iseng-isengnya malah bisa jadi ladang mencari rejeki orang lain.
Aku jadi teringat dengan cafe milikku. Aku harus berusaha memajukan cafe milikku. Bukan tidak mungkin, kalau cafeku berkembang makin banyak pula lapangan pekerjaan yang kubuka.
Kedatanganku tentu saja menarik perhatian para karyawan Mama. Perempuan pakai kaos dan celana panjang santai dengan perut yang agak membuncit.
"Siapa, Bu?" tanya salah seorang karyawan Mama.
"Kenalin dong, ini menantu saya! Istrinya Agas!" Mama mengumumkan dengan nada bangga pada seluruh karyawannya.
"Wah cantik banget. Pinter si Agas nyari bini!" celetuk karyawan tertua di pabrik Mama.
"Iyalah pinter! Agas mah udah ganteng, soleh, penyabar juga pinter nyari pasangan! Istrinya ya gambaran Agas. Cakep, bersih, akhlaknya bagus, dan sopan lagi sama orang tua!" pamer Mama lagi.
"Lagi hamil ya, Bu?" tanya karyawan yang lain. Semua karyawan Mama adalah perempuan yang sudah dewasa dan ada yang memasuki usia senja. Tentu mereka akrab dengan Mama.
"Iya nih! Agas mau jadi Papa sekarang! Saya mau jadi nenek cantik nanti!"
Semua karyawan Mama tersenyum mendengar Mama yang over percaya diri tersebut. Ada kebanggan dalam nada suara Mama.
"Selamat ya, Bu. Moga sehat-sehat dan lancar sampai nanti proses lahiran!" doa karyawan Mama yang paling tua dan diaminkan oleh yang lain.
__ADS_1
"Aamiin."
Mama lalu mengajakku berkeliling pabrik kecil miliknya. Macam-macam cemilan dibuat disini. Ada keripik tempe, keripik bawang, usus kering bahkan ada keripik jengkol.
Mama bilang di sini the best keripik jengkol. Banyak sekali yang memesan, bahkan sampai dikirim ke luar kota. Pesanan yang datang bahkan kadang harus ditolak karena keterbatasan bahan baku.
Aku melihat segala proses produksi. Dari pembuatan sampai pengemasan. Menambah ilmu yang kuperoleh saja.
"Nanti kalau Mama dan Papa sudah tiada, kalian yang harus meneruskan usaha ini pada anak cucu kalian. Harus tetap berjalan, karena banyak yang bergantung hidup pada usaha ini." pesan Mama.
"Iya, Ma."
"Kalau bekerja, perempuan disini bisa membantu suaminya mencari nafkah. Dengan begitu beban hidup bisa berkurang. Saling bahu membahu. Inilah alasan Mama tak bisa berlama-lama di Jakarta. Proses produksi dan jumlah pesanan yang semakin banyak membuat Mama sibuk. Mama bahkan harus turun tangan buat membantu kalau mereka lagi kejar target." cerita Mama.
" Mama keren banget! Tari harus banyak belajar dari Mama. Cafe Tari sekarang sepi, baru mau mulai lagi dari awal. Doakan ya Ma, semoga Tari bisa seperti Mama. Membuka usaha dan membantu orang sekitar mencari nafkah. Karena sejatinya berbisnis itu bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk membantu orang sekitar kita. "
"Tentu, Ma. Doakan kami selalu ya, Tari percaya doa Mama pasti akan diijabah oleh Allah. "
"Tentu, Nak."
Mama kembali mengajakku ke bagian packing produk. Di sana ada mesin vakum dan sealler yang akan mengemas produk sehingga awet meski tanpa pengawet buatan.
Aku penasaran dan ingin mencoba. Mama mengijinkan dengan syarat aku harus hati-hati. Rupanya, melakukan pekerjaan seperti ini seru juga. Karyawan Mama orangnya ramah-ramah dan banyak yang kami bicarakan. Obrolan mengenai kehidupan mereka, mengenai produk Mama yang semakin laku terjual dan bahkan cerita tentang awal mula Mama merintis usaha dan hanya beberapa karyawan yang ikut bergabung.
Aku terus membantu sampai adzan ashar berkumandang. Aku harus menunaikan shalat dan akhirnya berpamitan untuk pulang ke rumah. Mama sudah pulang lebih dahulu, alasannya adalah harus mengurus keripik yang sedang dijemur, takut hujan turun dan akhirnya usaha mereka menjemur selama beberapa hari sia-sia.
Aku mencari keberadaan Abi, namun ternyata suamiku itu sedang tertidur lelap di halaman belakang. Udara yang sejuk membuatnya mengantuk. Aku tersenyum melihatnya tidur dengan memakai sarung. Apapun yang aku minta, Abi selalu menuruti. Benar-benar suami idaman yang membuat banyak istri merasa iri.
__ADS_1
"Bangunin aja, Ri! Udah dari tadi Agas tidur!" ujar Mama yang sedang membantu karyawannya mengangkat keripik. Ternyata hujan tak jadi turun, namun karena sudah sore keripik harus diangkat dahulu.
"Iya, Ma."
Kubangunkan Abi yang tertidur lelap sekali. "Bi, bangun! Kita sholat ashar dulu!" ajakku.
Abi terbangun saat merasakan tubuhnya diguncang-guncang olehku. "Aku ketiduran ya? Udah jam berapa? Kamu mau apa? Mau makan? Mau minum?"
Baru bangun tidur saja Abi sudah begitu mengkhawatirkanku. Aku ibarat seorang bayi yang harus Ia jaga dengan ekstra hati-hati.
"Kita shalat dulu yuk! Habis itu, kita jalan-jalan. Aku mau melihat-lihat daerah sekitar sini."
"Oke! Siap, Bos!"
Selesai shalat berjamaah dan mandi sore, Abi mengajakku berkeliling daerah sekitar rumah Mama dan Papa. Abi memintaku memilih, mau naik mobil atau motor saja?
Tentu saja, aku memilih naik motor. Aku mau menikmati udara yang segar dengan pemandangan yang kulihat langsung bukan dari kaca mobil tentunya.
Ya... anggap saja dua anak alay lagi jalan-jalan. Bonceng dua gitu. Abi pun naik motor milik papa apa yang biasa digunakan kalau mengunjungi daerah sekitar sini. Jangan berpikir, motornya yang keren macam Nmax atau X-max. Ini adalah motor Honda Supra. Tentu saja masih manual. Bukan motor matic.
Karena tidak membawa celana lebih selain untuk pulang, Abi tetap memakai sarung. Tak apa, aku suka melihatnya seperti itu. Aku pun melingkarkan tanganku di pinggang Abi. Dengan hati-hati dan membawa dalam kecepatan rendah, Abi mengajakku ke kampung sebelah.
Rupanya di kampung sebelah sedang ramai, ada pernikahan yang rencananya akan menampilkan pertunjukan wayang kulit. Sayangnya, Abi tak mau malam-malam pergi ke kampung sebelah. Alasannya, orang hamil enggak boleh malam-malam berkeliaran di luar!
Aku menurut saja. Untunglah, ada orang berjualan meski pertunjukannya belum dimulai. Aku turun dan melihat-lihat barang apa saja yang dijual. Rupanya, ada gelang hasil kerajinan tangan yang dijual di sana. Ketika aku bertanya, harganya menurutku sangat murah bila dibandingkan dengan harga gelang di kota. Aku pun membeli dalam jumlah banyak, aku akan bagi-bagikan untuk para karyawanku dan juga teman-teman di tempat kursus tentunya.
Aku juga mencoba jajanan khas daerah sana. Aku benar-benar suka dan nyaman berada di sini. Sebelum maghrib, Abi sudah mengajak aku pulang. Abi takut, Ia akan diomelin oleh Mama jika mengajak menantu kesayangannya pulang lewat dari maghrib.
__ADS_1
****