
Aku dan Tari sampai di Bank untuk membuka tabungan untuknya. Security menyambut kedatanganku dengan senyum ramah lalu menekan menu untuk customer service dan memberikan kertas berisi nomor antrian padaku.
Aku mengajak Tari duduk di sofa. Aku memang bukan nasabah bank prioritas di bank ini. Aku nasabah di bank sebelah yang lebih bagus pelayanannya.
Tak lama nomor antrianku dipanggil. Kusebutkan kalau aku hendak membuatkan rekening baru untuk istriku. Tari menunduk malu saat aku mengucap kata 'istriku'.
Proses pembuatan rekening tidak berlangsung lama. Setelah mendapat kartu ATM aku mengajari Tari cara bertransaksi di ATM dan juga memasang aplikasi mobile banking di Hp miliknya.
Tari cepat mengerti apa yang aku ajari. Ia orangnya tipikal mudah mempelajari sesuatu. Sepintar apa Ia saat sekolah dulu?
Pulang dari bank, aku mengantar Tari ke tempat kursus memasak dan membuat kue. Tempat kursus ini lumayan ramai dan tempatnya juga bagus.
Aku mendaftarkan nama Tari sebagai anggota kursus. Besok Ia sudah mulai bisa kursus disini. Tari mengambil kelas kue tart dan aneka roti, kalau nanti Ia mau ngambil lagi aku persilahkan. Mungkin mixer yang kubelikan waktu itu membuat Ia merasa harus mempelajari lebih banyak lagi.
"Tempat kursusnya bagus sekali, Om! Makasih!" ujar Tari.
"Iya. Sama-sama. Belajar yang benar untuk menambah ilmu kamu. Aku akan antar kamu pulang setelah itu aku akan ke showroom ya!" ujarku seraya mengemudikan mobil ke arah rumah.
"Om mau ke showroom?"
"Iya. Ada keperluan penting. Tadi ada di hubungi oleh karyawanku untuk mendaftarkan showroom kami di salah satu event penjualan mobil. Lumayan kalau ikut event tersebut, pembelinya adalah pembeli potensial dan pasti akan meningkatkan penjualan nantinya."
Tari mengagguk-angguk mengerti. "Aku drop di depan rumah ya dan enggak turun dulu."
"Iya, Om!"
Setelah mengantarkan Tari, aku kembali ke showroom dan melakukan aktivitasku seperti biasanya.
****
Utari
Hari ini Om Agas mendaftarkanku untuk kursus. Aku bertekad agar aku belajar sungguh-sungguh. Aku akan buktikan kalau Om Agas tak akan sia-sia membiayaiku.
Keesokan harinya aku diantar Om Agas ke tempat kursus. Om Agas bilang hanya bisa mengantarku dan tak bisa menjemput karena harus ke showroom.
Aku mengiyakan, alamat rumah Om Agas sudah aku catat dan aku akan pulang naik taksi saja untuk pertama kali. Besok aku akan belajar naik ojek online. Aku pasti bisa.
__ADS_1
Keinginanku untuk maju semakin besar. Om Agas sangat jauh terjangkau olehku yang hanya mantan pegawai warung soto. Kalau aku tidak pintar dan bisa membawa diri, aku akan berakhir menjadi pasangan yang memalukan di mata Om Agas. Aku tak mau itu.
Ibu dulu pernah mengatakan padaku saat masih ada, kita harus memantaskan diri dengan pasangan kita. Kalau punya pasangan pintar ya kita juga harus belajar lebih pintar lagi agar bisa menyeimbangkan kepintarannya. Bisa nyambung saat diajak mengobrol. Jadi rumah tangga kami bisa mengasyikkan.
Sayang Ibu tak mengikuti perkataannya sendiri dan memutuskan menikahi Bapak yang bermulut manis. Ibu tidak bahagia di akhir hidupnya dan menderita sakit. Harta yang Ibu kumpulkan perlahan habis tak bersisa karena suami barunya.
Aku tak mau seperti ibu. Om Agas memang nackal, karena itu aku berusaha merubahnya.
Aku pernah berkata kalau setelah berumah tangga nanti Om Agas bebas dengan kehidupannya dan bebas memperlakukanku. Kutarik kembali kata-kataku.
Papa mertuaku berpesan, aku harus bisa menyembuhkan Om Agas dari pengaruh akibat perceraiannya yang menyakitkan. Papa memintaku mengembalikan Om Agas yang baik setelah kami menikah.
Aku pun bertindak tegas. Melarang Om Agas keluar malam untuk bersenang-senang maka aku akan melayaninya dengan sepenuh hati.
Hasilnya? Berhasil. Om Agas melakukan seperti yang aku minta. Untuk menghargai usahanya aku membuatkannya makanan yang Ia suka.
Ilmu memasakku tidak banyak. Menonton di youtube kadang kala dengan praktek tidak sama. Adonannya kurang matang atau malah matangnya tidak merata. Hal itu yang membuatku berbinar saat ditawarkan untuk kursus.
Om sudah tidak pulang malam, selanjutnya mengajak Om sholat. Aku mulai dengan sholat subuh, kupancing Om Agas dengan gairahnya dan berhasil lagi.
Pertama kalinya aku melihat Om Agas sholat. Wajahnya bersinar dan terlihat begitu khusyuk. Lantas mengapa Ia meninggalkan sholatnya selama ini?
Aku diperkenalkan dengan rekan satu kursusku, kebanyakan adalah mahasiswa sekolah memasak yang ingin mempertajam kemampuannya. Karena usia kami sebaya maka aku cepat akrab dengan mereka.
"Hi! Perkenalkan namaku Utari. Bisa dipanggil Tari!" aku memperkenalkan diri di depan kelas.
"Hi Utari!" sapa yang lain.
"Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Adi. Saya yang mengajar di kelas ini." ujar lelaki tampan yang lebih cocok sebagai model dibanding tenaga pengajar.
"Tari bisa bergabung dengan yang lain." aku menurut dan duduk di meja yang disediakan untukku. Sudah ada bahan makanan yang tersedia di mejaku.
"Hari ini kita akan membuat kue bolu. Resep dasar membuat bolu untuk kue ulang tahun. Resepnya seperti yang tertera di kertas. Kalian bisa mengikuti saya untuk contoh membuatnya." ujar Pak Adi.
Aku memperhatikan bagaimana Pak Adi membuat dan aku mengikuti sambil membaca resep.
Sungguh mengasyikkan acara kursus hari ini. Waktu berlalu dengan cepat tanpa sadar kursus hari ini berakhir.
__ADS_1
Aku memandangi kue bolu buatanku. Hasilnya lumayan meski belum terlalu rapi. Hari ini hanya mempelajari hiasan sederhana yang penting membuat bolu yang utama.
Aku membawa pulang hasil belajarku sambil tersenyum bangga. Akan kutunjukkan pada Om Agas kalau aku pasti bisa.
"Tari belum pulang?" tanya Pak Adi yang ternyata saat didekatnya aku baru menyadari kalau Ia sangat tinggi. Aku yang lumayan tinggi saja melihatnya tinggi apalagi yang semampai?
"Iya, Pak. Sejak tadi taksinya penuh terus." jawabku dengan jujur.
Pak Adi melihat jam di pergelangan tangannya. "Oh wajar. Jam segini taksi pasti penuh karena berbarengan dengan jam selesai makan siang. Biasanya karyawan kantoran makan didekat sini dan pulangnya naik taksi makanya agak susah."
Aku mengangguk mengerti. "Pantas saja sejak tadi taksinya penuh terus ya Pak?!"
"Memangnya rumah kamu di daerah mana?" tanya Pak Adi.
"Di daerah xxx, Pak." jawabku.
"Kebetulan saya mau ke restoran dan searah. Biar saya antar saja! Kamu nunggu taksi disini bisa sampai sore. Pesan online juga lama."
Aku ragu. Terima atau tidak ya ajakannya? Tapi aku belum masak makanan untuk Om Agas makan malam. Kalau tidak pulang sekarang kapan sampai rumahnya?
"Hmm... Boleh kalau Bapak tidak repot." jawabku malu-malu.
"Tentu saja tidak repot! Ayo silahkan!" Pak Adi mengajakku naik mobil miliknya. Mobilnya sedan dan berwarna silver. Aku naik setelah Pak Adi membukakan pintu untukku.
"Tari sebelumnya sudah pernah kursus atau baru pertama kali?" tanyanya membuka percakapan selama di perjalanan.
"Baru pertama, Pak."
"Ah masa sih? Tapi meihat hasilnya kamu kayak sudah profesional loh! Bagus dan rapi, hanya teknik menghiasnya yang harus diperhatikan lagi."
"Iya, Pak. Saya akan mencoba belajar lagi di rumah."
"Kamu tinggal sama siapa?" tanya Pak Adi lagi.
"Sama.... Om-" belum selesai aku bicara Pak Adii sudah menyelaku.
"Aku putar balik di depan kan?" tanya Pak Adi.
__ADS_1
"Iya." jawabku. Entah apa dia akan menangkap maksud perkaaanku, biarlah. Toh aku tinggal dengan siapa juga bukan urusannya.
***