
Agas
Tari terlihat sangat bahagia melihat dekorasi cafenya yang baru. Semua sesuai dengan apa yang Ia cita-citakan. Semua yang ada dalam angan-angannya kini sudah terwujud.
Untuk lebih membahagiakannya lagi, aku berinisiatif untuk mengajak Tari jalan-jalan dahulu ke Mall. Rasanya, aku sudah lama tidak mengajaknya ke Mall. Apalagi kemarin kami mengalami masalah yang cukup berat, jangankan mikir tentang jalan-jalan, memikirkan tentang masa depan rumah tangga kami saja terasa sedih.
Maka aku pun melajukan mobilku menuju salah satu Mall terbesar di dekat cafe Tari. Setelah turun dari memarkirkan mobil, aku merangkul bahu Tari yang Ia balas dengan merangkul pinggangku. Kami benar-benar layaknya sepasang suami istri yang saling menyayangi.
"Kamu mau beli apa? Mau beli baju, sepatu, tas atau make up?" biarlah Tari memilih sendiri apa yang Ia mau. Bebas. Itung-itung sebagai hadiah karena sudah bersabar menghadapi karma masa laluku.
"Beli apa ya? Boneka boleh?"
"Boneka? Kamu nggak salah? Ada yang ulang tahun mau kamu kadoin?"
Tari menggelengkan kepalanya. "Buat Tari dong, Bi. Waktu pergi sama Pak Adi, Tari pengen banget punya boneka yang lucu itu, yang bisa pipis dan nangis. Tapi, waktu itu Tari enggak punya uang dan enggak enak juga kalau dibeliin sama Pak Adi. Ya udah, Tari tahan aja deh. Sekarang, mumpung ada Abi boleh kan Tari minta beliin boneka?"
Tari memang berbeda dibanding cewek yang lain. Sementara cewek lain ingin minta diberikan perhiasan atau barang-barang branded lain, Tari malah minta boneka. Memang sih boneka yang Ia inginkan harganya lumayan mahal. Namun tak apalah, demi menyenangkan hatinya.
"Boleh dong. Kamu mau minta apa terserah. Ambil aja yang kamu suka nanti Abi bayar! "
"Makasih! Abi emang baik banget. Abi adalah laki-laki yang terbaik di mata Tari. Hebat,hebat, hebat! Udah ganteng, baik, itunya gede lagi ha...ha...ha..." Tari puas sekali menertawaiku.
"Oh udah berani yang ledekin aku? Apaan tuh yang gede? Pasti pikiran kamu kemana-mana nih?! "
"Ih Abinya aja yang mikirnya kejauhan! Maksud Tari tuh, Abi gede semangatnya. Semangat untuk berusaha, semangat untuk berbisnis, semangat untuk mengajak orang lain dalam berbuat kebaikan dan semangat untuk membahagiakan Tari." Wah... anak ini, sudah pintar berkelit rupanya dia!
Aku mencubit pipinya dengan gemas, "Pinter ya... Pinter kamu sekarang! Bisa banget jawabnya! Udah kayak politisi aja kamu, pinter ngeles!"
"Iya dong! Yang ngajarin Tari kan Abi Agas, yang kalau ngomong pelan namun kaya di gas, ngomongnya santai tapi bisa bikin orang yang kayak dibantai. Ngomongnya tegas tapi kata-katanya pedas. Kadang ngomongnya manis namun artinya sadis ha...ha...ha"
Aku dan Tari sama-sama tertawa terbahak-bahak. Kata-kata yang Tari ucapan itu hebat banget, nyambung dan menyindir sekali!
"Pinter banget sih kamu ya ampun! Untung ya, aku nikahin istri sepintar kamu. Jadi, nanti anak aku pasti akan sepintar mamanya. Kalau laki-laki tampan seperti aku dan kalau perempuan cantik kayak kamu . Namun, sifatnya sebaik kamu tentunya. Kalau pinter nyari duitnya, kayak aku dong!"
"Aamiin... Yang pasti anak-anak kita nanti akan jadi ahli surga. Kita ajari tentang agama sebagai pondasi yang kokoh."
__ADS_1
"Setuju. Jaman udah makin edan. Laki-laki sukanya sama laki-laki. Perempuan sukanya sama perempuan. Prostitusi semakin mudah. Orang berbuat zina malah bangga. Abi dulu memang kayak gitu sih, tapi sekarang Abi udah sadar. Kalau anak-anak kita enggak kuat pondasi agamanya, bagaimana nanti menghadapi dunia yang makin gila saja?" kataku dengan penuh semangat.
"Aku juga enggak mau kalau di akhirat nanti ditanya sama Allah bagaimana aku mendidik anakku? Akan jawab apa aku kalau anak-anakku jauh dari agama dan hidup seenaknya? Kita udah sepakat ya berarti akan mengutamakan ilmu agama dulu untuk anak-anak. Ilmu dunia juga perlu, namun harus ada pondasi agama yang kokoh diatasnya!"
"Pintar sekali istriku ini! Yaudah ayo kita pilih boneka buat kamu!" kuputuskan membelikan apa yang Tari mau.
Wajah Tari tersenyum bahagia. Langkahnya terlihat begitu riang saat kami memasuki toko mainan yang besar. Ia langsung mencari boneka yang diinginkannya. Namun saat di depan boneka Ia malah diam. Tak memilih satupun.
"Kenapa?" tanyaku.
"Enggak jadi deh, Bi."
"Loh kenapa? Kalau kamu mau, Abi beliin. Abi sanggup kok kalau cuma lima ratus ribu saja mah kecil!" kataku dengan sombongnya.
Tari menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Tari tau Abi pasti punya uang. Tari baru sadar kalau sebentar lagi Tari akan punya baby yang real. Yang beneran hidup dan bisa nangis serta pipis. Bahkan bayi Tari juga bisa menatap Tari penuh cinta. Enggak kayak mainan ini!"
"Lalu?"
"Tari mau sabar aja menanti bayi Tari lahir. Kita beli yang lain aja!"
"Beneran? Enggak nyesel?"
Perasaanku langsung tak enak. Tari bahagia biasanya musibah buatku.
"Mau beli apa? Enggak mau makan dulu gitu?" aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Berharap lupa akan sesuatu yang membahagiakannya tersebut.
"Nggak mau. Nanti aja makannya. Lebih baik kita pergi sekarang, biar bisa pilih-pilih baru habis itu kita makan." ternyata kalau Tari sudah menginginkan sesuatu, dia akan menjadi orang yang sangat keras kepala dan harus dituruti apapun permintaannya.
Aku menghirup nafas banyak-banyak dan mengeluarkannya, sekalian membuang semua rasa khawatir secara bersamaan. "Baiklah. Kamu mau beli apa?" tanyaku dengan pasrah.
"Ayo kita jalan dulu. Nanti kalau ketemu, Tari langsung beli!"
"Ok!"
Aku pun mengikuti langkah kaki Tari. Ia beberapa kali keluar masuk toko namun yang dicarinya belum ada juga.
__ADS_1
"Kamu nyari apa sih?" tanyaku penasaran. Sejak tadi Tari tidak bilang mau nyari apa, hanya celingukan lalu keluar toko dan bilang enggak ada.
Huft.... Nyari apa di Mall besar ini?
"Belum ada, Bi. Susah ya nyari di Mall orang elit kayak gini? Kalau di ITC kok bertebaran dimana-mana?!" keluhnya, tetap saja tidak memberitahuku apa yang Ia beli.
"Iya. Mau beli apa? Siapa tau aku bisa bantu?!"
"Hmm... Enggak usah! Itu disana pasti ada!" Tari menunjuk departemen store besar di depan kami.
Kayaknya mau beli baju deh. Jangan bilang mau beli daster lagi?! Mati aku... mati.... Masa sih setiap malam pakai daster?
Aku mengikuti langkah Tari sambil berdoa dalam hati. Semoga Tari tidak membeli daster.... Semoga tidak membeli daster....
Tari melewati lantai berisi pakaian perempuan dan naik ke lantai atas. Huft... Alhamdulillah... Tidak jadi beli daster... Terima kasih ya Allah...
Ternyata Tari menuju tempat pakaian pria. Wah... Mau beliin aku baju ternyata?!
Aku udah salah paham padanya. Ternyata Tari perhatian padaku....
Tari melewati tempat kaos dan celana jeans lalu berhenti di tempat baju koko dan bertanya pada pelayan di sana. "Mbak sarung dimana ya?"
Sarung?
Wah bener deh!
Dia pasti menagih janji agar aku pakai sarung selama di rumah. Ya Allah... Apakah aku akan pakai sarung terus selama Tari hamil?
"Ada Bu. Mari saya tunjukkan!" ujar pelayan tersebut dengan ramah.
Tari mengikuti pelayan tersebut dan sibuk memilih-milih sarung. "Saya beli 10 ya, Mbak. Motif ini...Yang biru doungker.... Lalu yang kotak-kotak hitam cokelat, lalu...."
Sepuluh sarung?!
Ini sih alamat tiap hari pakai sarung deh!
__ADS_1
Nasib... nasib....
****