Duda Nackal

Duda Nackal
Tari si Keras Kepala


__ADS_3

POV Tari


Takut....


Dalam hidupku, aku merasakan takut adalah saat berhadapan dengan Vira. Bapak tiriku saja berhasil aku lawan, kalau Vira....


Aku bukan wonder women. Aku hanya anak yatim piatu yang hidup seorang diri di dunia ini. Hanya Abi Agas yang aku punya saat ini.


Kini bahkan satu-satunya milikku akan diambil. Aku bisa apa?


Lemah!


Pengecut!


Terserah mau aku dikatakan apa!


Aku sudah pernah melawan Vira dan apa hasilnya?


Ibu yang seharusnya naik pangkat malah kena surat peringatan. Semua karena aku melawan Vira.


Sekarang aku punya Abi Agas, lalu kalau Vira menghancurkan hidup Abi bagaimana?


Susah payah Abi berbisnis sampai semua sertifikat tanah milik Papa dijual dan Papa tinggal di luar kota masa karena aku semua jadi hancur?


Bawa sial sekali aku jadi orang!


Bahkan Tante Irna yang katanya Tanteku pun tak kunjung datang. Apa Ia sadar kalau anak pembawa sial sepertiku tak layak menjadi keponakannya?


Aku sudah biasa ditinggalkan orang-orang di sekitarku. Aku sudah biasa dibuang. Siapa sih aku?


Kini, dalam rahim Vira ada anak Abi Agas. Aku bisa apa? Mau berebut lagi seperti dulu dan kehilangan semuanya?


Vira bisa saja berbuat nekat, kalau Ia sampai mencelakai anak dalam kandunganku bagaimana?


Setidaknya aku masih memiliki anak ini. Aku akan pergi dan menjaga anak ini dari iblis jahat macam Vira!

__ADS_1


Aku memutuskan untuk pergi dari rumah Abi. Biar Abi menyelesaikan urusannya dengan Vira.


Aku jahat? Memang!


Abi sudah pernah bercinta dengan Vira, apa itu tak menyakitiku? Kenapa harus Vira? Dari sekian banyak perempuan di luar sana kenapa harus dengan Vira? Ya Allah... Tak bolehkah aku bahagia?


Aku memasukkan baju-bajuku ke dalam koper namun Abi malah memasukkan kembali ke dalam lemari, begitu terus sampai aku akhirnya kesal dan berteriak pada Abi. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya.


Aku putus asa. Aku takut. Aku tak mau Abi mengalami nasib seperti Ibu dulu.


"Aku tak peduli! Aku akan tinggal di cafe mulai sekarang!" aku merengek layaknya seorang anak kecil. "Aku mau pergi huaaaaa...."


"Sst! Cup cup... Jangan nangis ya! Tenangin diri kamu dulu!" Abi terus saja membujuku dengan sabar. Membuatku semakin takut kalau Vira akan melukainya nanti. Jangan sampai Abi terluka nantinya... Jangan kumohon....


"Aku mau tinggal di cafe... Aku enggak mau tinggal disini!" rengekku. Abi menenangkan tapi aku malah semakin gelisah.


Abi lalu menangkupkan kedua wajahku dengan tangannya yang besar namun selalu melindungi, dan aku kini bisa melihat ke dalam matanya.


"Aku minta maaf atas semua masa laluku yang buruk. Aku minta maaf! Aku minta kamu percaya sama aku, please percayai aku kali ini. Aku tidak menghamili Vira. Aku selalu yakin kalau aku selama ini bermain aman. Percaya aku ya... Please... " mata Abi Agas berkaca-kaca.


Aku bisa melihat kejujuran dan ketulusan dari setiap tatapannya. Itu membuat aku semakin takut.


Abi melepaskan tubuhku dan mengusap wajahnya dengan kasar. Wajahnya terlihat putus asa.


"Sudah malam. Kamu enggak capek? Kamu lagi hamil loh!" katanya dengan lembut dan sangat sabar.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku mau tinggal di cafe. Aku mohon... " kataku dengan berderai air mata.


Abi menghela nafas dengan berat. Aku tahu Ia seharian lelah bekerja di cafe. Senyum bahagia karena berhasil menjual banyak menu baru hilang sudah, berganti dengan senyum penuh tekanan.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku juga akan menginap disana." Abi mengalah namun tetap ingin menjagaku. Ya Allah... Laki-laki sebaik ini akan terkena sial karenaku juga?


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak usah. Aku mau menenangkan diri disana."


"Tapi kamu percaya kan kalau aku enggak menghamili Vira?" tanya Abi Agas penuh harap.

__ADS_1


"Aku mau percaya jika Abi tak pernah sama sekali berhubungan dengan Vira, namun nyatanya Abi pernah melakukan hubungan itu kan? Aku serahkan semuanya sama Allah. Biar Allah yang membuka segala misteri dalam dunia ini. Biar Allah yang akan mempersatukan dan melindungi rumah tangga kita dari segala cobaan."


Abi kembali menghela nafas dalam. Mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya yang seakan mau habis karena sifat keras kepalaku. Maaf Bi, hatiku terlalu sakit dan aku terlalu takut untuk menghadapi masalah dalam rumah tangga kita ini. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku butuh waktu untuk mencari strategi dan memikirkan kelanjutan masa depan rumah tangga kita.


Aku butuh ketenangan. Yang kujaga saat ini bukan hanya diriku semata. Anak dalam kandunganku juga butuh suasana tenang dan aku tak boleh banyak pikiran.


"Baiklah. Aku akan antar kamu ke cafe. Aku akan bereskan segala permasalahan yang terjadi dan aku akan menjemput kamu pulang!" janji Abi padaku.


Aku mengangguk lemah. Kembali aku memasukkan baju-baju milikku ke dalam koper. Kali ini Abi hanya diam tak lagi mengembalikan baju yang kutaruh ke lemari.


"Apa harus sebanyak ini? Sehari saja ya nginep di cafenya?" pinta Abi dengan suara memelas.


"Apa dalam sehari semua permasalahan sudah bisa Abi selesaikan? Kalau iya, tentu aku juga akan pulang ke rumah dalam waktu sehari juga!" balasku.


Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya nampak kusut, senada dengan mukanya yang lelah sehabis bekerja seharian di cafe.


"Kalau Abi capek, aku naik taksi saja! Tak perlu mengantarku!" kataku yang akhirnya tak tega melihat suamiku terlihat kelelahan seperti itu.


"Enggak! Aku yang akan antar kamu! Aku mandi dulu biar lebih segar!" Abi lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Kuambilkan baju ganti untuknya, juga jaket agar Abi tak kedinginan dengan udara malam. Maaf Bi, aku tak bisa menyiapkan baju ganti untuk Abi lagi.


Kuhapus air mata yang menetes tanpa aku komando. Makin lama makin deras. Ya Allah.... Sakit sekali rasanya...


Aku memang sudah menyiapkan hati. Selama ini aku tak mau terlalu berharap dan terlena akan kebahagiaan rumah tanggaku. Bukan apa-apa, aku terlalu takut untuk kecewa. Aku terlalu takut merasakan rasa sakit setelah menikmati jutaan kebahagiaan dan limpahan kasih sayang yang Abi berikan padaku.


Kalau seandainya memang benar Vira mengandung anak dari Abi, mungkin Vira yang pada akhirnya memenangkan Abi. Bukan aku maupun Mbak Tara.


Aku mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Aku kembali membereskan barang-barangku. Memasukkan kosmetik dan parfum yang biasa aku gunakan juga ke dalamnya.


Abi udah selesai berpakaian. Ia memintaku menunggu di depan karena akan mengunci pintu terlebih dahulu. Aku menuruti setiap perkataannya. Aku menunggu di dekat mobil miliknya.


Hari sudah semakin malam. Biasanya, kami berdua sudah tertidur lelap sambil berpelukan. Kini, aku malah harus pergi meninggalkan semua kenyamanan yang selama ini bersifat semu.


Setelah mengantar sampai cafe, aku langsung masuk dan mengunci pintu Cafe. Suasana cafe begitu sunyi, sepi dan hanya aku seorang didalamnya. Tak ada rasa takut yang kurasakan karena aku memang terbiasa dididik menjadi anak yang berani oleh Ibu.

__ADS_1


"Kamu harus kuat ya, Sayang! Kamu harus temani Mommy menghadapi segala permasalahan yang sedang mendera kita. Kita berdoa semoga Abi bisa menyelesaikan segala masalahnya dengan baik. Apa yang menjadi fitnah, akan terungkap kebenarannya. Namun jika memang semua itu benar adanya, semoga kita berdua kuat menghadapi cobaan ini. Mommy percaya, kita pasti bisa!" aku mengelus perutku dan percaya anak dalam kandunganku akan kuat meski nantinya akan kehilangan Abinya.


****


__ADS_2