Duda Nackal

Duda Nackal
Andai Bisa Kembali ke Masa Lalu


__ADS_3

Agas


Aku bisa merasakan ada buliran air mata yang menetes dari kedua mata Tari. Perpaduan antara tangis bahagia dan tangis sedih.


"Aku percaya, Allah pasti akan mempersatukan cinta kita lagi. Bersabarlah!" kataku dengan lembut, aku berusaha menenangkannya dan memberinya dukungan.


Tari mengangguk dan menghapus air matanya. "Abi mau sarapan dulu? Mau Tari buatkan apa?"


"Nanti saja. Biarkan aku memeluk kamu sedikit lebih lama lagi!" kataku seraya membenamkan wajahku mencium aroma tubuhnya yang wangi sehabis mandi.


"Jangan begitu! Nanti keburu kesiangan. Antar aku pergi kursus mau?" tanya Tari.


"Kamu mau pergi kursus? Enggak lelah semalaman begadang dan harus kursus hari ini?" tanyaku, kini kulepaskan pelukanku dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Kuperhatikan tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya.


"Aku semalam tidur pulas. Sehabis Abi pulang, kulihat stok makanan di freezer masih ada. Hari senin biasanya tak seramai weekend. Jadi aku putuskan kembali tidur dan baru bangun saat adzan subuh berkumandang. Aku sudah cukup tidur dan sudah segar kembali." jawabnya jujur.


Aku memperhatikan wajahnya yang terlihat berbeda selama hamil. Terlihat begitu cerah dan auranya seakan keluar. Terlihat makin cantik.


Kumajukan tubuhku dan mencium bibirnya dengan lembut. Merasakan rasa manis bak gula yang selalu membuatku ketagihan. Aku mau lebih. Sudah beberapa hari kami tak melakukan hubungan suami istri.


Aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya diatas kitchen set. Bibirku tak lepas terus mencium dirinya dengan penuh gelora.


Tari mengalungkan tangannya di leherku. Ia membalas setiap ciumanku. Kami saling meluapkan rasa rindu yang selama ini terpendam.


Lalu aku mendengar suara pintu depan cafe terbuka dan suara tawa para karyawan yang sudah berdatangan. Meski enggan kulepaskan ciumanku agar tidak ketahuan oleh yang lain dan menurunkan Tari dari atas kitchen set.


Wajah kami berdua pasti memerah karena malu. Hasrat yang tak tertahan dan menuntut untuk disalurkan namun terbentur keadaan. Huft...


"Aku akan hapus CCTV dulu. Kamu buatkan aku sarapan yang simple saja ya! Aku akan antar kamu kursus!" kataku memecah ketegangan diantara kami berdua.


"Iya."


Aku lalu masuk ke dalam kamar Tari dimana CCTV terpasang. Cafe ini tidak terlalu luas, kamar Tari seakan ruangan serbaguna dimana semua bisa disimpan didalamnya.


Kamar ini rapi, tentu saja kalau ada Tari semua pasti rapi dan bersih. Anak itu akan merawat barang-barang di sekitarnya.

__ADS_1


Aku menyalakan komputer dan mulai menghapus video kami saat di dapur. Tapi tunggu, aku lihat dulu ah. Aku zoom sedikit dan melihat wajah Tari yang bersemu merah.


Hmm... Apa malam ini aku menginap di cafe saja ya? Siapa tahu kami bisa....


"Udah, Bi?" tanya Tari yang masuk ke dalam kamar. Cepat-cepat kuhapus video tadi. Untung enggak ketahuan kalau aku malah menonton video kami sendiri.


"Udah. Ini baru saja aku hapus. Kamu enggak ganti baju?" tanyaku.


Tari melihat ke arahku. "Aku enggak akan berbuat apa-apa kok sama kamu. Sekarang. Tapi nanti aku enggak janji ya!" godaku sambil mengulum senyum.


Tari mengambil dress warna kuning dari dalam lemari. Aku suka kalau Ia memakai baju warna kuning. Terlihat cerah di kulitnya.


Tanpa sadar aku memperhatikan Tari saat Ia mencopot bajunya. Perutnya sudah mulai menonjol sedikit. Aku tersenyum. Ada anakku didalam sana. Ah... Jadi pengen nengokin deh!


"Kenapa, Bi? Kok liatin aku terus? Aku jadi malu nih!" protes Tari.


Aku tersenyum, kutunjuk perutnya. "Udah mulai ada yang menonjol dikit. Biasanya perut kamu rata."


"Ah masa sih?" Tari mendekati cermin dan memperhatikan perutnya. Ia tak sadar kalau belum mengenakan pakaian.


"Kamu kangen kan dengan sentuhanku?" godaku.


Tari lalu melepasakan pelukanku. "Kita udah telat. Aku pakai bedak dulu!"


Tari mengambil dress dan memakainya. Ia lalu menyisir rambutnya dan memakai lipstik tipis. Ingin rasanya aku habiskan lipstik di bibirnya dengan bantuan bibirku.


"Ayo, Bi! Nanti aku telat!" Tari yang sudah mengambil tas miliknya mendorong tubuhku keluar kamar. Ia pasti tahu kalau pikiranku sudah ke arah yang lain.


Tari berpamitan dengan karyawannya. Di dalam mobil, Ia lebih banyak diam. Ia asyik memperhatikan pemandangan indah di luar jendela.


"Pulang kursus mau jalan ke Mall dulu?" ajakku.


Tari mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatapku lekat. "Abi enggak ke showroom lagi?"


"Ya bisa diatur itu!" jawabku.

__ADS_1


"Aku yang enggak bisa diatur. Aku mau buat stok makanan buat weekend. Kalau aku bermalas-malasan dari sekarang, maka weekend cafe kita akan kehabisan stok." cara yang halus untuk menolak ajakanku.


"Hanya sebentar.... aja. Kita makan di Mall aja, enggak muter-muter. Atau makan bakso di pinggir jalan aja deh. Yang penting quality time berdua." ajakku tak putus aja.


"Quality timenya kalo masalah Abi udah selesai aja ya." tolak Tari.


"Kenapa? Aku pasti akan selesaikan masalahku kok, kamu tenang aja!" kataku penuh percaya diri.


"Justru aku enggak bisa tenang. Abi semakin jauh dariku. Bisa saja Abi akan menceraikanku dan menikahi Vira, jika memang terbukti menghamili Vira. Aku tak mau terlalu berharap. Aku mau kepastian dalam hubungan kita. Tak mau kecewa pada akhirnya."


"Ih kamu kok ngomongnya begitu sih? Aku enggak bakalan menceraikan kamu lah! Sejak awal aku sama sekali tak ada niat menceraikan kamu! Belum cinta sama kamu aja aku enggak mau menceraikan kamu, apalagi sekarang. Aku cinta sama kamu dan akan memperjuangkan rumah tangga kita. Lebih baik aku dipenjara deh daripada disuruh menikahi Vira!"


Tari menatapku tajam. Air mata mulai turun dari matanya. Namun tatapannya sarat dengan kemarahan. "Apa begini yang namanya laki-laki bertanggung jawab? Karena tak mau menikahi jadi lebih baik di penjara?"


"Ya enggak begitu juga, Sayang. Itu kan misal. Kalau. Andaikata. Aku sih berdoanya anak itu bukan anakku."


"Makanya jangan kebanyakan berzinah! Kalau disuruh tanggung jawab malah bingung sendiri!" balas Tari dengan ketus.


"Itu kan masa lalu. Andai aku bisa mengulang masa lalu, aku akan mencari kamu dan langsung nikahin kamu tanpa pikir panjang. Lalu aku akan ajak kamu tinggal di luar kota, agar tak pernah ketemu dengan Vira dan Adi, guru kursus kamu. Aku mau membuka lembaran baru berdua sama kamu!" aku mengambil selembar tisu dan membersihkan air mata di wajah Tari.


"Kalau aku bisa mengulang masa lalu, aku akan pergi jauh. Aku memilih tak mengenal Abi." jawab Tari dengan getir.


"Loh kok gitu sih?!" protesku.


"Agar aku enggak menyukai Abi. Karena aku tahu, menikah dengan Abi artinya bersedia menerima takdir kalau ada wanita yang meminta pertanggung jawaban Abi pada akhirnya."


Aku memanyunkan bibirku. "Aku udah tobat, Sayang. Aku enggak akan lagi senang-senang di luar sana. Kamu masih aja meragukan aku!"


Tari tak menjawab dan kembali menatap ke luar jendela. "Meski aku kembali ke masa lalu, meski aku pergi menjauh, meski aku mengelak takdir aku yakin kalau Abi satu-satunya pria yang aku cintai. Jadi, meski aku menjauh aku pasti akan kembali. Jadi, Abi selesaikanlah masalah Abi agar aku bisa kembali."


Aku memberhentikan mobilku di depan tempat kursusnya.


"Aku kursus dulu, assalamualaikum!" pamit Tari seraya mencium tanganku.


****

__ADS_1


__ADS_2