Duda Nackal

Duda Nackal
Rumah Sakit


__ADS_3

Agas


Aku dan Tari terbangun karena kaget dengan kunjungan dari suster dan dokter. Tidurku benar-benar puas dengan adanya Tari dipelukanku.


Beberapa hari kemarin, rasanya ada yang tidak nyaman. Tidur saling memunggungi dan di rumah juga tidak saling bertegur sapa. Melihatnya datang dengan sangat khawatir membuatku sadar kalau kini aku sudah punya tanggung jawab.


Ada seorang istri yang begitu mengkhawatirkan keadaanku dan juga takut kehilanganku. Dulu, aku hanya menganggap pernikahanku dan Tari sekedar ingin menolongnya saja. Kini aku sadar kalau Tari begitu menyayangiku.


Sikapnya yang begitu lembut dan penyabar membuat aku merasa kalau inilah rumah tangga yang selama ini begitu kuimpikan. Aku terkadang masih bersikap seperti anak kecil, Tari yang justru jauh lebih muda dariku malah bersikap dewasa dengan membimbingku ke arah yang benar.


"Maaf ya Pak, Bu mengganggu waktunya sebentar. Saya harus memeriksa Bapak Agas terlebih dahulu." ujar Dokter.


"I-iya, Dok." Tari bangun dari sisiku dan berdiri dengan wajah menunduk malu.


Aku mengulum senyum melihat wajahnya yang kemerahan. Ia memelototiku dan kesal karena sudah membuatnya kesal.


"Bagaimana keadaannya Pak Agas?" tanya Dokter, suster yang bersamanya sedang mengukur tensi darahku.


"Sudah agak enakkan, Dok. Masih agak pusing dikit aja sih." jawabku terus terang.


Aku melirik ke arah Tari, terlihat raut wajah cemas menghiasi wajahnya yang kusut sehabis bangun tidur. Pasti Ia sangat mengkhawatirkan keadaanku.


"Nanti saya berikan obat penghilang pusing. Semua karena benturan yang terjadi di kepala Pak Agas. " dokter memakai stetoskop dan memeriksaku setelah suster memberi tahu berapa tensi darahku.


"Banyakkin istirahat ya, Pak. Untunglah bagian tubuh yang lain tidak ada yang terluka. Saya permisi dulu, Pak." dokter juga pamit pada Tari yang mengagguk dan mengucap terima kasih.


Tari melihat jam di Hp miliknya. "Ya Allah, Tari kesiangan lagi sholat subuhnya! Om sih nyuruh Tari tidur di sebelah Om! Tari jadi pules banget." gerutunya dengan bibir yang dimajukan. Sangat menggemaskan sekali melihatnya.


"Kamu bawa baju ganti enggak buatku?" tanyaku.


Tari menggelengkan kepalanya. "Tari hanya bawa dompet dan Hp saja. Semalam Tari panik saat mendengar kalau Om kecelakaan, enggak kepikiran bawa apapun." jawabnya terus terang.


"Yaudah kamu pulang dulu saja. Mandi, makan dan bawa baju ganti lalu balik kesini lagi. Aku mandinya nunggu kamu bawa baju ganti saja." kataku.


"Om enggak apa-apa Tari tinggal sendiri?" nampak Ia begitu khawatir mau meniggalkanku pulang.


Aku tersenyum. "Sebentar lagi sarapan akan diantarkan. Aku bisa sarapan sendiri. Kamu tenang saja. Aku tidak apa-apa kok. Kalau ada apa-apa aku akan panggil suster."


"Mau pipis dulu enggak? Mumpung Tari masih ada disini? Tari bisa anterin ke kamar mandi. Om enggak mungkin minta tolong sama susternya kan?"


Aku tertawa mendengarnya. Godain ah! "Memangnya kenapa enggak mungkin aku minta tolong sama suster? Justru suster disini senang kalau diminta sama aku buat nganterin pipis. Bisa lihat punya aku yang big itu."


"Terus mau pamer gitu ke semua orang? Mau nunjukkin ke semuanya? Sombong banget sih punya gituan gede?!" ketusnya.

__ADS_1


Kutahan ketawaku, makin seru menggodanya kalau begini. "Ya sombong dong. Kamu saja sampai merem melek kalau punyaku yang besar itu memasuki kamu."


"Yaudah mau pipis enggak? Kalau enggak mau, Tari mau pulang nih!"


Aku tertawa mendengarnya. "Mau. Selain pipis boleh?" godaku lagi.


"Ih kenapa otak Om isinya enggak bener semua sih?" omelnya.


"Enggak bener gimana? Aku tuh sekalian mau cuci muka dulu. Memang kamu mikirnya apa? Kamu saja yang mikirnya aneh-aneh! Aku tuh mau cuci muka biar tetap kelihatan ganteng."


"Dasar Om-om centil! Enggak usah cuci muka aja udah ganteng, pake cuci muka segala! Udah ayo cepetan!"


Aku geleng-geleng kepala mendengar gerutuannya. Kenapa lucu sekali sih kata-katanya kalau menggerutu?


Aku akhirnya dibantu Tari ke kamar mandi. Setelah pipis dan mencuci muka aku kembali dituntunnya ke tempat tidur. Ia membenarkan posisi ranjangku dan membuatku setengah duduk. Ia juga menyalakan TV agar aku tidak bosan saat Ia pulang.


"Om mau dibawakan apa aja selain baju?" tanyanya sambil memakai jaket dan bersiap-siap pulang.


"Bawa lingerie kamu. Yang paling seksi. Hmm... Bagaimana ya rasanya main di Rumah sakit? Pasti sensasinya berbeda." godaku lagi.


"Kayaknya gegar otak Om palsu deh! Buktinya otaknya masih mesum seperti biasa! Udah ah Tari pulang dulu, kalau ada apa-apa atau kalau mau minta sesuatu telepon Tari aja." pamitnya seraya mengulurkan tangan untuk salim.


Aku menarik tubuhnya mendekat dan kucium pipinya. "Bawain tab aku dan jangan lupa lingerienya ya!"


"Bodo amat ah, Om! Tari pulang dulu, assalamualaikum!" Ia keluar saat aku asyik menertawakannya.


Sepeninggal Tari suasana menjadi sepi. Aku mengganti-ganti chanel TV untuk mencari tontonan yang menarik, namun tak ada yang seseru kala aku menggoda Tari dan membuatnya malu-malu.


Kami memang belum lama menikah. Baru sebulan namun rasanya kami sudah menjadi lebih dekat lagi dan lebih akrab.


Pasti Tari punya banyak teman, sikapnya yang sabar dan menyenangkan pasti membuatnya disukai siapapun. Tak terkecuali guru kursusnya yang hobby mengantarnya pulang.


Kenapa sih plat motor miliknya lama sekali turun? Kalau saja Tari bisa bawa mobil, pasti sudah kubelikan aja dia mobil.


Tok...tok...tok...


Sarapan pagiku pun datang. Aku meminta ditaruh di dekatku agar bisa langsung kumakan. Penampilannya memang menarik. Aku membayar mahal untuk perawatan di kelas ini kalau pelayanannya kurang baik untuk apa.


Kucicipi makanan yang disajikan. Enak sih tapi masakan Tari lebih enak lagi. Aku hanya memakan sedikit dan mengambil roti yang diberikan untuk cemilan.


Rotinya tidak seenak roti buatan Tari yang sangat enak dimakan saat hangat. Ah aku kangen dengan kue dan roti buatannya.


Setelah selesai makan, aku kembali bosan. Tak ada hiburan, paling hanya main Hp. Kukirim pesan sajalah buatnya.

__ADS_1


"Kamu masih lama?" pesan pun kukirimkan.


Tak dibalas. Mungkin sibuk merapihkan baju dan menyiapkan peralatan yang hendak dibawa.


"Tari lagi di jalan, Om. Maaf tadi lagi rapihin baju. Kenapa? Ada yang mau dibawakan?"


Akhirnya pesanku dibalas.


"Belikan tisu."


"Baik."


Aku tersenyum. Dasar gadis lugu, tak tau dia buat apa tisu itu hahaha...


Setengah jam kemudian Tari datang dengan sebuah tas besar berisi baju ganti dan berbagai peralatan seperti handuk dan sebagainya.


"Om mau mandi sekarang?" tanyanya seraya memasukkan bajuku ke dalam lemari kecil.


"Boleh. Dimandiin kan?" godaku.


"Iya. Mau dielap atau di kamar mandi saja?" tanyanya.


"Hmm... Kamu maunya dimana?" tanyaku balik.


"Ish! Yang mau mandi kan Om Agas! Kenapa nanya balik Tari? Heran!" gerutunya lagi.


"Di kamar mandi aja kali ya. Lebih privat." kataku sambil tersenyum penuh arti.


"Lebay deh. Ayo aku mandiin." Tari menuntunku ke kamar mandi.


"Mandiin loh ya!" kataku lagi.


"Iya, Om. Iya! Anggap aja aku lagi mandiin kucing... Kucing garong ha...ha...ha..." Ia berani menertawaiku. Aku pun ikut tertawa dengan ledekkannya.


"Selain mandiin aku, kalau kamu mau yang lain juga boleh." kataku malu-malu.


"Yang lain? Sunatin Om maksudnya?" Ia tertawa meledekku.


"Bukan. Ya kali aja mau buat aku senang gitu. Kita kan minggu ini belum banyak bersenang-senang!" godaku lagi.


"Om, lagi sakit. Inget ya! Ini juga di rumah sakit."


"Ini di kamar mandi istriku sayang! Ayo dong! Kamu aja yang bergerak, aku terima beres." kataku sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Huft... Baiklah. Daripada dosa." Tari menutup pintu dan kami pun bersenang- senang bersama.


****


__ADS_2