
Tari seperti mengenang masa lalunya yang getir saat Juan mengingatkannya meminta maaf atas perbuatannya di masa malu. Lalu seperti yang sudah kuduga, Tari mengangguk. Ia memang baik hati dan tidak menaruh dendam anaknya.
Kuraih tangan Tari dan menggenggamnya penuh kasih. Aku support apa pun yang Ia lakukan. Perlu keberanian untuk meminta maaf, namun perlu rasa lapang dada untuk memaafkan.
Juan lalu menyikut lengan Vira. Menyuruh Vira untuk meminta maaf secara langsung.
"Gue... Juga mau minta maaf sama lo, Ri. Gue sangat mencintai Juan. Gue cemburu saat tahu kalau Juan suka sama lo. Sejak dulu, gue iri sama semua yang lo miliki. Ibu yang perhatian dan sayang sama lo. Otak yang pintar tanpa harus ikut les tambahan yang bikin stress. Kecantikan alami tanpa harus perawatan mahal di klinik. Lo punya semua yang buat gue iri. Gue yang tertekan dengan semua ekspektasi yang kedua orang tua gue harapkan melampiaskannya ke lo. Karena gue tau, lo enggak akan mampu melawan gue. Tapi gue salah. Lo berani melawan balik dan gue merasa makin tak mau kalah. Ibu lo... yang jadi korban. Gue nyesel dan gue kembali iri sama lo. Penyesalan gue terasa hilang, berganti kebencian yang setiap hari semakin besar saja,"
"Gue ngejar-ngejar cinta Juan. Namun Juan mutusin gue karena pernah melihat lo di warung seafood. Hidup lo begitu susah, Juan merasa semua salahnya. Juan terus menatap gue dengan kebencian membuat gue yang tau kalau gue hamil anak Juan jadi frustasi dan menghabiskan waktu semalaman bersama Om Agas. Niat gue agar anak ini keguguran, namun anak ini kuat dan tumbuh subur. Gue berusaha ngajak Juan balikan namun gagal. Gue takut bokap gue marah dan akhirnya melimpahkan semua ke Om Agas yang baik dan lembut,"
"Setidaknya kalau dengan Om Agas gue akan hidup dengan lelaki baik. Tak disangka Om Agas adalah suami lo. Cerita selanjutnya lo udah tau. Gue tertekan karena Papa terus marah sama gue, makanya gue teror lo agar lo nyerah dan kasih Om Agas buat gue. Ternyata pada akhirnya Om Agas-lah yang mampu membujuk Juan untuk bertanggung jawab. Gue... Mau minta maaf atas semua kesalahan gue sama lo. Maafin gue, Ri. Maaf...." Vira menunduk sambil menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Sambil meminta maaf, Ia terus meneteskan air mata penyesalan.
Tari terdiam, air mata sudah menggenangi matanya. Wajahnya memerah menahan amarah. Tangannya bergetar.
Tak disangka, Tari berdiri lalu...
Plakkk... Tari menampar pipi Vira.
"Ini untuk penderitaan Ibu gue!"
Tak berhenti sampai disitu...
Plakkk... Tari kembali menampar pipi Vira yang satunya.
"Ini untuk segala fitnah dan perbuatan jahat lo sama gue dan keluarga gue! Lo tuh manusia paling licik, paling jahat, paling enggak punya hati!" Tari berbicara dengan sangat emosi sambil sesekali menghapus kasar air mata yang menetes di wajahnya.
__ADS_1
"Lo tau, gue tuh sangat bahagia punya sahabat seperti lo. Gue selalu memamerkan sama Ibu semua barang yang lo kasih. Gue selalu bilang sama semua orang kalau lo adalah sahabat baik yang sudah seperti ibu peri buat gue. Tapi apa?"
"Lo...." Tari menunjuk muka Vira dengan jari telunjuknya. "Lo dan sifat iri hati lo udah merusak karir Ibu gue! Ibu harus kerja keras membiayai Ayah yang sakit-sakitan dengan uang gajinya yang pas-pasan. Semua karena siapa? Karena lo!" Tari menunjuk wajah Vira yang menangis sesegukan.
"Andai... Ibu gue bisa mengobati Ayah, pasti Ibu gue enggak akan menikah dengan Bapak yang tega menjual rumah dan gue ke mucikari! Kalau bukan... Kalau bukan karena Om Agas nyelametin gue, enggak bakalan gue masih ada di dunia ini. Seakan kurang puas, lo bahkan mau merebut Om Agas dari gue! Memang udah gila otak lo! Masih kurang puas penderitaan yang lo kasih di hidup gue?" kubiarkan Tari meluapkan amarahnya.
"Maaf... Gue salah... Maaf... Hiks..." Vira mengatupkan kedua tangannya memohon ampunan pada Tari.
"Maaf? Lo pikir maaf lo bisa ngembaliin hidup gue lagi kayak dulu? Enggak! Lo pikir maaf lo bisa hidupin Ibu gue lagi? Enggak!" Tari mengambil gelas minum miliknya dan...
Byuuuurrr....
Tari menyiram wajah Vira.
Wow....
Tak kusangka Tari si polos kalau marah sangat menyeramkan...
Aku dan Juan yang terpukau hanya bisa diam tak mencegah Tari menyiram wajah Vira. Setelah kejadian baru aku dan Juan bertindak.
Juan mengambil tisu dan mengeringkan wajah dan tubuh Vira yang basah. Sedangkan aku memeluk Tari dan menenangkannya.
"Sabar Sayang... Sabar... Ingat kamu sedang mengandung!" Vira terkejut saat tau Tari juga sedang hamil. Penyesalan terlihat di matanya. Mungkin sesama ibu hamil bisa merasakan empati yang sama.
Kupegang tangan Tari yang terasa dingin dengan sorot matanya yang penuh kebencian. "Istighfar Sayang... Istighfar... astaghfirullah hal adzim... Ayo.. Ikutin. Jangan biarkan setan menguasai kamu dengan kebencian yang kamu miliki."
__ADS_1
Tari pun seakan tersadar dari amarah yang melingkupinya. Ia duduk kembali dan mulai mengusap dadanya seraya istighfar, seperti yang aku sarankan.
Aku menyuruh salah seorang karyawan Tari untuk mengambilkan minum. Setelah minuman datang, Tari langsung meminumnya tanpa aku suruh. Ia terlihat lebih tenang sekarang, tidak emosional lagi seperti sebelumnya.
Aku dan Juan saling tatap. Kami sama-sama bingung mau melakukan apa. Kedua orang musuh bebuyutan di depan kami ini sulit untuk disatukan. Aku bertanya pada Juan lewat isyarat mata yang dibalas Juan dengan mengangkat kedua bahunya. Yah... sama-sama tak ada solusi.
Ternyata solusinya ada pada Tari. Ia yang bicara terlebih dahulu setelah sejak tadi hanya ada keheningan yang mencekam.
"Pulanglah dan jangan pernah menampakkan wajah lo lagi di depan gue! Gue bukan malaikat, gue cuma manusia biasa. Sulit untuk memaafkan semua perbuatan lo. Gue nggak mau ngebales semua yang udah lo lakuin ke gue dan keluarga gue. Apa bedanya gue sama lo kalo gue ngelakuin apa yang lo lakuin sama gue? Tapi lo tenang aja, gue bukan manusia sombong yang merasa kedudukannya lebih tinggi dari Allah. Allah aja mau maafin kesalahan umatnya, kenapa gue nggak? Waktu yang akan membuat gue lupa sama semua kesalahan lo. Jadi, biarkan waktu yang akan menghapus semua dosa lo. Jangan lo lakuin lagi semua kesalahan lo. Tobatlah, sebelum Allah memanggil!" ujar Tari dengan dinginnya.
Gila... Istriku ini keren abis!
Tadi nampar anak orang bolak balik. Terus disiram pake air. Eh sekarang diceramahin layaknya ustadzah kasih ceramah sama ibu-ibu pengajian. Mantap dah!
Vira mengangguk. "Sekali lagi gue minta maaf. Gue enggak akan ganggu hidup lo lagi."
Dengan tubuh basah kuyup sehabis disiram air dan pipi memerah ditampar bolak balik, Vira pun pergi. Tak ada senyum seperti saat Ia datang pertama kali. Wajahnya murung, penyebabnya adalah Tari sudah berhasil membuat rasa bersalah yang selama ini hilang dalam dirinya kembali lagi.
Tari membenamkan wajahnya di pelukanku dan menangis sesegukan. Kubiarkan Ia mengeluarkan segala kekesalan, kesedihan dan perasaan berkecamuk dalam dirinya bersama air mata yang mengalir.
Aku hanya mengusap kepalanya dengan lembut dan memberinya pelukan erat. Seraya dalam hatiku berdoa, agar mulai sekarang hidup Tari selalu dilimpahi kebahagiaan.
Setelah bajuku basah dengan air mata, Tari baru menyadari berapa lama Ia menangis. "Baju Abi basah. Maaf."
Aku tersenyum. "Udah lega? Kalau udah, kita pulang yuk. Biar adik kecil aku yang hibur kamu. Mau?"
__ADS_1
Tari tak kuasa menahan senyumnya mendengar perkataanku. Sekarang adikku bisa bebas lagi nih bersilahturahmi. Biar adikku dan anakku kenalan dan lebih akrab he...he...he...
****