Duda Nackal

Duda Nackal
Cita-cita Tari


__ADS_3

Agas


"Tari lebih takut kehilangan Om. Entah bagaimana hidup Tari tanpa Om Agas. Tari udah enggak punya siapa-siapa di dunia ini! Hanya Om Agas yang Tari punya!"


Tari bukan perempuan pertama yang mengatakan padaku seperti ini seusai kami bercinta. Biasanya kata-kata ini agar aku mau kembali bercinta dengan mereka lagi.


Namun apa yang Tari katakan memiliki arti yang berbeda. Tari begitu takut kehilanganku. Aku di mata Tari adalah sebuah matahari, yang tanpa kehadiranku dirinya takkan hidup lagi didunia ini.


Bagaimana rasanya mendengar hal itu dari mulut seorang gadis? Jawabannya adalah aku merasa diriku begitu berarti di matanya. Tari begitu takut kehilanganku. Apakah dia punya firasat kalau aku mungkin akan meninggalkannya?


Jujur saja, apa yang dikatakan Tara tadi di rumahnya membuatku sedikit terusik. Aku merasa diriku keluar sebagai pemenangnya. Konflik antara Tara, Damar dan aku pada akhirnya dimenangkan olehku. Tara mengakui kalau aku-lah yang selama ini menjadi laki-laki terpenting dalam hidupnya. Laki-laki terbaik yang mencintainya dengan tulus.


Namun aku sadar kalau aku kini tak lagi sendiri. Aku sekarang adalah laki-laki beristri, yang selalu menungguku pulang ke rumah.


Aku yang dulu, mungkin akan mengambil kesempatan ini. Entah untuk membalaskan dendam ataupun untuk memuaskan keinginanku semata.


Tara sudah menyerahkan dirinya padaku. Ia membuang segala harga dirinya hanya agar aku kembali memilihnya. Nyatanya, aku menolaknya.


Aku merasa kalau aku kembali pada Tara dan mengiyakan ajakannya, ada hati yang terluka dan menangis karena perbuatanku. Aku tak mau itu. Aku tak mau Tari sedih.


Tari banyak berusaha untuk membahagiakanku. Melihat dari banyaknya hal yang telah Ia pelajari hanya agar bisa menyeimbangkan diri dengan diriku membuat aku sadar kalau Ia sudah banyak berkorban.


Wanita yang saat ini berada dalam pelukanku, tak layak untuk kusakiti. Sudah terlalu banyak penderitaan dalam hidupnya. Masihkah aku pantas untuk menggoreskan luka lagi di hatinya?


Aku mencium keningnya dengan penuh kasih. Mungkin, aku belum bisa mencintainya sepenuh hati. Namun, perlahan aku merasa hatiku terasa hangat saat berada bersamanya.


Gadis polos ini bahkan belajar cara menyenangkan suami. Semua Ia pelajari termasuk gerakan untuk memuaskanku di ranjang. Apapun yang Ia lakukan hanya untukku seorang.


"Kita jalan-jalan yuk! Bosan nih aku libur di rumah aja!" ajakku.


"Jalan-jalan kemana, Om?" Tari berbalik badan dan tengkurap diatas tubuhku. Kedua aset miliknya menempel diatas dadaku. Membuatku merasa rugi kalau tidak menyentuhnya.


"Ih katanya mau jalan-jalan! Tapi Om malah nyolek-nyolek Tari terus!" protesnya.


"Ya aku udah on lagi nih gara-gara kamu nempel. Kita main satu sesi dulu ya! Baru kita pergi. Kali ini aku yang memimpin permainan!"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Tari, aku pun membalik tubuhnya dan mengajarinya gaya baru. D***y style.


"Aw... Om..."


"Kamu suka?"


"Mm... Om... su... ka...."


Tak perlu waktu lama, kami pun mendapat kepuasan bersama. Tari langsung mengajakku mandi dan pergi setelah melaksanakan sholat berjamaah.


Tari pergi mengenakan salah satu dress yang kubelikan. Kali ini motif bunga-bunga berwarna kuning yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah dan bersih.


"Cantik banget sih istrinya Om Agas!" kataku seraya memeluknya dari belakang. Kuciumi lehernya yang harum, perpaduan wangi sabun dan parfum yang Ia semprotkan ke tubuhnya.


"Iya dong! Kan Tari harus menyeimbangkan suami Tari yang ganteng dan banyak menarik minat para gadis!" sudah pintar menjawab rupanya dia.


"Yaudah ayo kita berangkat, kalau telat dikit pasti aku akan mencopot dress kamu dan kita berakhir dengan mandi bersama lagi!"


"Tari sih oke aja! Bercinta dengan Om pun Tari suka. Jalan-jalan juga suka. Apapun yang Om suka pasti Tari suka!" aku membukakan pintu mobil untuknya.


Aku langsung tancap gas dan tak memperdulikan keberadaannya.


"Cita-cita tuh bagi orang susah macam Tari adalah hal yang mahal, Om. Bisa makan dan tidur dengan nyenyak saja sudah bersyukur!" jawabnya jujur.


"Ya sekarang kan kamu sudah bisa makan dan tidur nyenyak. Masa sih kamu enggak punya cita-cita sekarang?"


"Tari mau punya anak yang banyak dari Om. Tari mau punya anak yang mukanya mirip Om Agas semua. Kalau Om mau, Tari malah mau tiap dua tahun sekali melahirkan!" jawabnya dengan penuh semangat.


Aku geleng-geleng kepala dibuatnya. Benar-benar aku tuh di mata Tari seperti pusat dunianya. Apapun selalu tentang aku.


"Cita-cita yang lain. Selain tentang aku! Cita-cita yang kamu pengen wujudkan!" kataku.


"Hm... Apa ya Om? Tari selama ini merasa hidup Tari sudah cukup asal ada Om. Sebentar, Tari pikirin dulu! Oh iya, dulu Tari pengen jadi dokter, Om! Tari mau jadi dokter yang bisa nyembuhin Ibu. Biar Ibu masih ada di dunia ini dan menemani Tari."


"Tuh kamu punya cita-cita!"

__ADS_1


"Ya seperti yang Tari bilang, cita-cita tuh bagi orang miskin kayak Tari adalah hal yang mahal, Om. Sekolah kedokteran kan mahal. Uang dari mana? Anggap saja itu bunga tidur, bukan cita-cita!"


"Yaudah kalau kedokteran memang agak susah ya. Kecuali kamu mau mengulang dari awal masih mungkin, tapi nanti kamu enggak bisa ngurusin aku lagi dong kalau jadi mahasiswa? Terus akan banyak cowok tampan yang ngajak kamu pacaran dong?" godaku.


"Tenang aja Om. Tari enggak mau kuliah lagi! Jadi enggak ada mahasiswa yang suka sama Tari! Tari akan tetap ngurusin Om kok!"


"Ih aku kan cuma becanda! Coba kamu pikirin kamu mau jadi apa gitu?" tanya Om Agas.


"Hmm... Tari pikirin dulu!" kubiarkan Ia asyik dengan pikirannya dan aku juga sibuk dengan menyetir mobil. Aku juga bingung mau mengajaknya kemana. Tadi aku mengajaknya pergi biar aku tidak seharian mengajaknya bercinta, kini otakku malah mau membawanya ke hotel hahaha... Otak Nackalku masih bekerja rupanya.


Sebuah pesan masuk di Hp milikku. Dari Riko.


"Gas, ke tempat biasa! Bastian bawa ceweknya nih!"


Bastian punya pacar? Wah penasaran juga aku!


Enggak apa-apalah aku ajak Tari. Sekalian mengenalkan Tari pada teman-temanku! Aku pun memutar arah dan pergi ke salah satu club tempat tongkrongan kami.


"Tari udah tau Om cita-cita Tari apa! Enggak ada tentang Om disana!"


"Oh ya? Apa?" saking asyiknya dia berpikir, tak menyadari kalau aku sudah putar balik.


"Tari mau belajar yang rajin di tempat kursus. Tari mau membuat toko kue. Jadi nanti kalau toko kuenya besar, kan Tari bisa buka di samping showroom milik Om. Jadi tempat bisnis kita bisa berdekatan kayak kita berdua yang selalu berdekatan, gimana Om?"


Aku hanya bisa tersenyum. Tetap saja dalam cita-citanya selalu ada aku didalamnya.


"Boleh! Aku dukung kamu! Kamu belajar yang pintar lalu rajin latihan. Nanti aku akan buatkan sebuah toko kue buat kamu. Nanti kamu yang mengembangkan sendiri bisnis kamu. Sampai akhirnya toko kamu bisa berdiri di samping showroom aku!"


"Beneran Om? Siap! Tari akan rajin belajar dan akan berlatih juga. Tunggu Tari ya Om! Pasti Tari akan bisa menyeimbangkan kesuksesan Om!"


Aku mengusap lembut rambutnya. "Good! Harus punya semangat terus dalam hidup! Aku yakin kamu punya kemampuan! Selama kamu masih mau belajar, tandanya kamu mau berusaha selangkah lebih maju dibanding orang lain!"


"Iya dong! Eh tapi kita mau kemana nih Om? Tempat apa ini?" tanya Tari yang terlihat kebingungan.


"Aku mau ngajak kamu party! Welcome to the club!"

__ADS_1


****


__ADS_2